KTA'S 16 - Jealous

2171 Kata
Tangannya terjulur menyentuh dingin dari air hujan yang berjatuhan seakan kembali menuju tempatnya berpulang. Sambil menelengkan kepala, mengapit ponsel di antara telinga dan bahunya Laisa mendengarkan segala wejangan yang sang papa beri melalui panggilan seluler. Sementara tangannya yang lain malah sibuk bergerak mengambil sebatang lipstik dari dalam tas saat terdengar seruan salam pertanda berakhirnya jam mata kuliah dari dalam kelas. Lantas dengan cekatan mengoleskan pada bibirnya sebelum Nanta muncul. "Haduh, La. Itu bibir atau cabe di kebun? Seger banget." Suara yang merambat secara tiba-tiba itu nyaris mengejutkan jantungnya. Laisa yang hampir terlonjak memegang dadanya sendiri, berusaha menenangkan debar jantungnya. "Mana lagi hujan lagi. Jadi makin seger." Teddy menambahkan. Namun Laisa tidak peduli, saat ini ia ingin mengomel pada laki-laki berparas manis yang kini ada di hadapannya. "Nggak bisa gitu, negur aku dengan kata-kata yang lebih baik? Kaget tau!" omelnya kesal. "Maaf, maaf." Nanta mengelus punggung Laisa. "Papa, nih, nelpon. Mau ngomong sama kamu." Laisa menyodorkan ponselnya pada Nanta sambil memasang raut cemberut penuh rasa kesal. "Bibirnya jangan manyun gitu, dong." Dengan ujung jari telunjuknya Nanta mengusap lembut tepi bibir Laisa yang terdapat noda merah dari lipstiknya. Laisa yang baru menyadari segera membersihkan noda merah di bibirnya. "Halo, Nan. Gimana kabar kamu?" tanya Andrean di seberang tepat ketika Nanta menempelkan ponsel Laisa ke telinganya. "Baik, Om. Om sendiri gimana?" Nanta melirik ke arah Laisa. Berharap Andrean tidak memprotes caranya memanggil. "Om lagi? Udah Papa bilang, panggil aja Papa." Harapannya pupus. Nanta menghela napas singkat. "I-iya, Pa. Maaf, suka kelupaan." Lantas terkekeh canggung. "Anggap aja seperti ayah kamu sendiri, ya. Apalagi ayah kamu punya jasa yang besar di hidup Papa." Ah, soal itu. Apakah ini yang membuat Andrean menerimanya? "Tapi tenang aja. Papa menerima kamu bukan karena ayah kamu yang pernah menolong Papa. Tapi karena Papa yakin kamu bisa menjaga Laisa dengan baik." Andrean melanjutkan seakan ia tahu dengan isi pikiran Nanta yang sempat dipenuhi tanda tanya besar. "Iya, Pa. Makasih banget udah percaya sama Nanta," sahut Nanta. "Oh iya, Papa lupa belum jawab pertanyaan kamu. Kabar Papa di sini baik, doakan pekerjaan Papa lancar, ya." "Insyaallah selalu, Pa." "Tadi Papa dengar kalian berantem, kenapa?" "Oh, nggak, Pa. Cuma masalah kecil. Ya, biasalah. Laisa suka pake lipstik terlalu tebal." "Oh iya, iya. Dia memang persis seperti mamanya. Suka banget dandanin wajah sampe nggak tau lagi, Papa sendiri bingung." Andrean tertawa dan dari tawanya seakan merambatkan bahagia. Lantas Nanta ikut tertawa, sukses membuat raut Laisa berubah penuh tanya. "Ngomongin aku, ya?" Laisa memicing. Nanta tidak menjawabnya langsung. Ia menatap gadisnya yang tampak kebingungan. "Ya udah, Papa masih ada pekerjaan lain. Papa titip Laisa, ya. Lain waktu kita bisa ngobrol lagi." "Iya, Pa. Insyaallah Nanta jagain dengan baik. Papa jaga kesehatan, ya." "Iya, kamu juga. Jangan merokok lagi." Nanta terkekeh. "Papa tau, Nan. Papa juga tau kamu seperti ini karena apa." Ucapan Andrean membuat Nanta menghela napas untuk kedua kalinya. Ia tertawa hampa tanpa mampu membalas kata-kata yang Andrean ucapkan. "Ya udah. Papa lanjut kerja dulu. Kamu baik-baik di sana, ya." "Iya, Pa. Papa juga." Sambungan terputus sepihak. Nanta mengembalikan benda pipih itu pada empunya. "Khem!" Teddy berdeham keras. "Mantap jiwa, udah kayak sama bapak sendiri sama calon mertua," ucapnya. "Iya, gue aja manggilnya masih om." Rezky menimpali. "Apalagi gue, boro-boro ada yang dipanggil." Teddy mengeluh seraya merangkul Rezky. "Biar nanti Tuhan yang manggil." Maul yang baru saja datang ikut menceletuk. Seketika membuat Teddy melebarkan kedua matanya dengan kesal ke arah Maul. "Lo temen gue bukan, sih?" Tanpa segan Teddy menempeleng Maul. "Bukan," jawab Maul enteng. Ia lantas melenggang pergi dengan santai tanpa memedulikan Teddy lagi. "Sialan." Teddy menggeram sebal. Dengan tiba-tiba ia lantas mengalungkan lengannya di leher Nanta. "Hujan-hujan gini kayaknya makan mie rebus di warung Abah enak, nih," ujarnya. "Boleh. Yuk." Rezky menyetujui. "Nggak!" Namun dengan tegas Laisa melarang. "Kamu nggak boleh makan mie!" "Udah, Nan. Nggak usah lo dengerin. Yang ada ntar lo nggak bahagia. Dia nggak tau, sih, gimana nikmatnya makan mie rebus buatan Abah yang dimakan pad lagi hujan-hujan gini." Teddy menyahutnya tanpa memedulikan kemurkaan Laisa yang dapat meletup sewaktu-waktu. "Heh, lo diem, deh!" Laisa meraung. Dengan segera Nanta melerainya sebelum pertikaian antara Laisa dan Teddy kembali berlanjut. "Udah, La, udah." "Kamu nemu temen macem gini di mana, sih, Nan?" Laisa justru berbalik mengomel pada Nanta. "Tuhan yang mempertemukan kita berdua, La." Dengan mantap Teddy kembali menyahut. Ia pun mengeratkan rangkulannya di leher Nanta. "Oke please, jangan ribut." Nanta menatap Teddy penuh peringatan. "Oke. Kali ini gue ngalah." Teddy mengangkat kedua tangannya tanpa melepaskan rangkulannya. "Saya mau soto di warung Abah. Kamu ikut?" tanya Nanta pada gadisnya. Sedangkan Laisa melirikkan matanya ke arah Teddy dengan tajam. "Oke," ujarnya kemudian. Tanpa melepaskan rangkulan Teddy, Nanta menarik Laisa dan merangkulnya hingga membuat keempatnya harus berjejer memenuhi jalan. *** "And when I felt like I was an old cardigan. Under someone's bed. You put me on and said I was your favorite." Gadis yang duduk menepi di warung Abah terdengar menyenandungkan sebuah lagu yang cukup familiar di telinga Nanta. Membuatnya yang tengah mengaduk soto buatan Abah harus menolehkan kepala ke belakang. "Fan," siapa Nanta pada cewek tersebut yang tetap fokus pada layar laptop di depannya. Mendengar sapaan Nanta, Teddy segera memalingkan wajah ke arah sosok cewek itu. Melihat siapa sosok itu Teddy terpaku, tangannya yang semula bergerak mengaduk mie rebus pesanannya kini terdiam seolah ikut membeku. "Eh, kalian." Tiffany membalas sapaan seraya mengedarkan sepasang matanya ke arah lima orang di depannya. "Di sini juga?" tanyanya kemudian yang lantas segera dijawab oleh Teddy. "Iya. Makan siang." Dalam sekejap Teddy berusaha menelan salivanya yang mengering hanya karena melihat sosok Tiffany. "Lo sendiri ngapain?" lanjutnya bertanya. "Tadi kejebak hujan. Jadi mager, deh," jawab Tiffany. "Udah makan?" Teddy kembali bertanya. Namun selang jeda satu detik ia kembali melontarkan kalimatnya. "Bareng, yuk!" Tiffany tampak terdiam dengan kedua bola mata yang justru melirik ke arah Nanta. Membuat Laisa yang melihatnya merasa jengah. "Sayang, kamu mau tambah sambelnya?" tanya Laisa mengalihkan perhatian Nanta dari seorang Tiffany. "Enggak. Udah cukup, La." Nanta mengulum bibir. "Makan, Fan. Gabung aja sini. Nggak usah malu-malu." Di balik rasa jengahnya Laisa berusaha untuk tetap bersikap ramah. "Um ... emang boleh?" tanya Tiffany agak ragu. "Boleh banget, dong!" Namun jawaban Teddy yang justru meyakinkan. "Oke. Gue gabung, ya, sama kalian." Tiffany beranjak dari duduknya lantas melangkah dan berpindah duduk tepat di depan Teddy. Ia tersenyum menyapa Laisa. "Mau makan apa? Biar gue pesenin ke Abah," tanya Teddy. "Soto, mungkin," jawab Tiffany usai melihat makanan apa yang sedang Nanta santap. "Oke, gue pesenin, ya." Teddy lantas bangkit menghampiri Abah. "Nan." Tiffany memanggil Nanta. "Ya." "Lo udah dihubungi Pak Samir belum?" Perbincangan dimulai. Nanta menggeleng pelan. "Kenapa emang?" "Nggak tau, sih. Tadi pas ketemu Pak Samir nanyain lo ke gue." "Oh." "Khem!" Rezky berdeham. Matanya kemudian tertuju pada Laisa yang memilih diam sambil memainkan makanan tanpa selera untuk menyantapnya. Dehaman Rezky sukses mengalihkan perhatian Nanta untuk tertuju pada gadisnya. "Loh, kok nggak dimakan?" Laisa yang tengah menyangga dagunya menghela bosan lalu menolehkan wajah menatap Nanta. "Udah nggak selera," jawabnya menjauhkan makanan. Sepasang mata Nanta tertuju penuh tanya pada gadisnya. "Mau saya suapin? Soto buatan Abah paling enak buat nemenin kita pas hujan gini." Nanta menawarkan. Tangannya terjulur meraih sendok di atas mangkuk milik Laisa. Namun dengan kepalanya Laisa menggeleng malas. Suasana hati yang sempat damai kini seakan mengawang ke udara tak tersemai. Ia sendiri pun tidak begitu mengerti, meski yang jelas ada rasa yang begitu aneh memburu dan seolah mencabiknya. "Atau mau makan yang lain?" Nanta masih berusaha untuk mengembalikan susana hati gadisnya. Nahas, pertanyaannya berbalas gelengan kepala Laisa. Nanta mengedarkan tatapan pada ketiga sahabatnya dengan kedua alis terangkat seolah meminta jawaban atas teka-teki yang Laisa berikan. Namun mereka membalasnya dengan mengangkat kedua bahu lalu melanjutkan aktivitasnya. "Gue duluan, ya, Bro." Maul berpamitan setelah menandaskan makanannya. Rezky menggaruk kepala dengan kedua bola mata tertuju pada layar ponselnya yang menyala. Sebuah pesan dari Eliana tertera jelas di sana. "Ah, kebetulan yang sempurna," gumamnya hanya terdengar oleh diri sendiri. Ia lantas segera menghabiskan makanannya. "Guys, gue harus jemput Eliana di stasiun. Duluan, ya." Rezky segera melesat. Nanta melemparkan pandangan pada Teddy seolah berkata, 'Kamu nggak ikut pergi, kan?'. Melihat tatapan itu Teddy tersenyum seakan memberi jawaban pada pertanyaan di benak Nanta dengan kata, 'Lo tau sendirilah apa yang bikin gue mau bertahan'. "Fan, lo tau seri Bliss Bakery?" Teddy berusaha mencairkan suasana. "Itu seri favorit gue," sahut Tiffany tanpa ragu. "Oh iya?" Teddy tampak tidak percaya. Tiffany mengangguk. "Iya. Dan gue udah beli semua serinya." "Waw. Sama dong kita." Kedua netra Teddy berbinar takjub. "Lo juga suka?" Tiffany balik bertanya. "Sure. Itu seri yang paling gue suka, karena di dalamnya mengajarkan para pembacanya bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga." "It's awesome." Tiffany tampak setuju. Nanta berdeham kecil. "Hujannya reda. Mau ikut saya ke perpustakaan?" tanyanya pada Laisa setelah menghabiskan makanan. Sejenak Laisa melirikkan matanya ke arah Tiffany lalu mengangguk. Nanta bangkit mengambil semangkuk soto milik Laisa yang baru tersentuh kuahnya saja. "Sayang kalo dibuang. Saya bungkus, ya," ucapnya lantas menghampiri Abah. Tak lama kemudian ia kembali dengan tangan membawa bingkisan. "Saya sama Laisa duluan, ya," pamit Nanta pada kedua anak manusia di sampingnya seraya menepuk bahu Teddy pelan. Dengan pasrah Teddy merelakan keputusan Nanta. Meski di sisi lain ini akan menjadi kesempatannya untuk dapat mengobrol banyak dengan Tiffany. Ia mengangguk. Nanta berlalu sambil menggandeng tangan Laisa dan perpustakaan bukanlah tujuan yang sebenarnya. Tanpa sadar ia kian mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai di tempat parkir. "Kamu bilang mau ke perpustakaan. Kok malah lewat?" tanya Laisa berusaha menyeimbangi langkahnya. Nanta menghentikan langkahnya lantas berbalik menatap Laisa yang nyaris tertinggal. "Oke, La." Ia menghela berusaha mengatur deru emosi. "Nggak ada yang perlu kamu cemburui dari saya," ungkapnya. Laisa menatap Nanta dengan aneh. Lantas tertawa. "Cemburu?" ulangnya. "Iya." "Aku nggak cemburu." Dan ia menyangkal satu kebenaran. "Kamu cemburu." "Nggak." "Nggak salah." Laisa mendesis. "Aku cuma agak kesal aja sama temenmu itu. Siapa namanya?" "Tiffany." "Iya, itulah pokoknya." Laisa membenarkan tanpa mau menyebut nama gadis yang dimaksudnya. "La, Tiffany itu orang baik. Apa sih yang salah dari dia? Kok kayaknya jealous banget." "Salahnya, dia itu suka sama kamu." "Oke. Dia semisal dia suka sama saya. Apa ruginya buat kamu?" Laisa diam. Nanta memang jarang sekali marah, namun kali ini jika dilihat dari kedua sudut bola matanya seperti ada rasa yang terselubung dalam. "Kok kamu marah?" "La, saya nggak marah." "Kamu marah." "Saya nggak marah. Saya cuma—." "Cuma? Masih ada kata cuma dibalik kata yang kamu ucapkan, artinya kamu marah." Laksa memotong cepat. Nanta menghela napas. Tanpa disadari ia sudah terburu oleh emosi yang sejak malam muncul di benaknya. "Kamu nggak suka aku cemburu?" Laisa menatap Nanta tepat di kedua netranya dengan lekat. Nanta menurunkan pandangannya. Hanya karena masalah sekecil itu ia nyaris meledak. "Maaf." "Jawab aku. Kamu nggak suka aku cemburu?" Laisa mengulang pertanyaannya. "Saya suka kamu cemburu." Diraihnya tubuh Laisa lantas dipeluk dan dikecupnya kening itu dengan cukup lama. "Tapi aku nggak suka kalo kamu bikin aku cemburu. Dengan cara sadar ataupun nggak sadar." "Itu, sih, kamunya yang cemburuan." Nanta mencubit ujung hidung Laisa pelan. "Kamunya lah, harus jaga sikap." Selalu saja dan akan selalu begitu. Nanta mengangguk. Kembali dan dengan senang hati ia mengalah. *** Laju motornya berhenti tepat di pelataran yang tidak begitu luas dan ditumbuhi rimbun berbagai jenis bunga. Seorang wanita paruh baya berdiri di teras dengan tangan bergerak-gerak mengipasi wajahnya dan wajahnya turut terarah pada Nanta. "Mas Nanta," panggil wanita itu dengan gayanya yang khas. "Oh iya, Bu. Saya lupa mau bilang kalo lusa saya—." "Ssstt." Dengan jari telunjuknya wanita paruh baya itu membungkam bibir Nanta. "Bulan ini udah lunas," lanjutnya. "Lunas?" Nanta sontak mengernyit heran. "Iya. Papa kamu yang lunasin. Kok nggak bilang, sih, kalo punya papa keren dan kaya raya gitu? Nggak usah sok-sokan mau jadi anak mandiri, deh. Apalagi urusan biaya kan memang kewajiban orang tua. Kalo kamu ya tinggal sekolah aja yang rajin," cerocos wanita itu sukses membuat kepala Nanta kian berdenyut pening. Kini ia tahu siapa sosok yang tengah dibicarakan oleh ibu kosnya. "Maaf, Bu. Salah. Itu papanya Laisa." Nanta berusaha meluruskan dan perkataannya berhasil membuat si ibu kos menarik napas dalam-dalam dengan tangan berusaha menutupi mulutnya yang terbuka lebar-lebar. "Saya masuk dulu, Bu," pamit Nanta segera berlalu dari hadapan ibu kos untuk menemui Andrean. Langkahnya terhenti tatkala melihat sesosok tubuh tengah berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar dengan kedua mata mengedar hingga ke sudut kamar. "Om." Nanta memastikan. "Papa. Jangan panggil Om." Andrean menjawab tanpa membalikkan tubuhnya. Nanta menghela berat. "Kamar kamu berantakan banget, sih, Nan." Andrean berkomentar. Dan Nanta beralibi, "Belum sempat beres-beres, Pa." Lantas melangkah masuk ke kamar. Memungut barang-barang yang berserakan tidak pada tempatnya. Buku-buku yang justru terselip di lemari pakaian seakan tata letaknya saling bertukar tempat dengan pakaiannya. Ia menghela napas panjang. Menahan lelah yang timbul dari segala resah dan selalu ia sembunyikan di balik air muka yang tampak tenang. Namun rasanya, perasaan yang tertahan kali ini akan menjadi bom waktu untuk dirinya sendiri. Meski ia pun belum tahu pasti kapan bom itu akan meledak dan membuatnya luluh lantak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN