KTA'S 15 - Separate

2152 Kata
"Makan dulu. Baru kita jalan. Aku udah bawain makanan buat kamu." Laisa mengambil bingkisan yang ia simpan di nakas. "Kamu udah makan?" Nanta membalas tatapan lekat itu. "Udah." "Bener?" "Sejak kapan aku bohongin kamu?" "Sejak dulu. Kamu selalu bohongin saya. Nggak cuma saya, tapi diri kamu sendiri, La." Nanta menarik ujung hidung Laisa dengan gemas. "Aduh! Duh! Duuhhh! Nan, sakit!" Laisa memekik berusaha melepaskan diri. "Kamu sendiri gimana? Kamu juga suka bohongin diri sendiri," balasnya setelah terbebas. "Please, lah. Kalo ada calon suami ngomong tuh didenger, Ya Tuhan!" Nanta mencubit pipi Laisa dengan gemas. Mendengar perkataan Nanta yang rupanya mampu menjadi euforia membuat Laisa memajukan bibirnya dan berusaha menahan panas yang timbul di kedua pipinya. Dalam beberapa detik ia pun harus menahan napas. "Udah. Kamu makan, ya. Aku tungguin." Ia mendorong Nanta menuju tempat duduk. Nanta hanya bisa menurut untuk menghabiskan makanannya. *** "Emang bisa, ya, kamu jadi suami aku kelak?" tanya Laisa pandangannya tertuju pada pantai lepas. Nanta menoleh, menatap gadisnya dari samping. "Hanya Tuhan yang tahu, La," responnya. "Kamu sendiri yang bilang kalau Tuhan itu sesuai dengan bagaimana prasangka hamba-Nya." Nanta menarik napas. Desir angin pantai terasa damai menguraikan helaian surainya. "Seperti yang pernah saya bilang ke kamu. Kalo kita ini ibarat dua insan yang ada di persimpangan. Kita nggak mungkin bisa sejalan, sebab kita memiliki tempat berpulang yang berlainan. Kamu ke Utara, saya ke Selatan. Kamu kembali ke pelukan Bunda Maria, saya kembali pulang dalam dekapan Allah. Kecuali ada di antara kita yang berani mengambil resiko untuk menyeberangi persimpangan jalan itu." Laisa menghela berat. Erat-erat ia memeluk lututnya, sementara angin laut terus berdesir lembut menyentuh tubuhnya. Retinanya tertuju pada cahaya jingga di kejauhan sana, yang perlahan menyelam tepat di ujung dermaga. "Dan secepatnya saya harus memberi kepastian buat kamu, La." Nanta menatap Laisa. "Bukan kamu yang harus ngasih kepastian, tapi aku." Laisa mengambil jeda. Memberi waktu hembusan angin untuk menerpanya. "Kamu udah ngasih kepastian dari awal, Nan. Kalo kamu emang nggak bisa ikut aku. Sedangkan aku, selalu bimbang buat memilih jalan mana yang harus aku tempuh." "Saya nggak akan maksa kamu, La. Saya juga nggak akan menakuti-nakuti kamu dengan resiko apa yang akan kita terima kelak. Tapi saya akan tenang kalau kamu sudah menemukan laki-laki baik yang tulus buatmu." Nanta diam sejenak. "Dan waktu kita harus putus, lalu kamu jadian dengan Roger. Saya cukup tenang, karena saya tau Roger orang baik. Andai Roger masih ada, mungkin kisah kita nggak akan pernah sampai sejauh ini, ya, La." Nanta terkekeh kecil seraya menahan perih yang mendadak terdera di dadanya. Sedangkan Laisa hanya mampu mengulum senyum. "Jadi apa kepastian kamu, La?" Laisa mengedikkan bahu. "Mungkin aku harus siap-siap buat ikhlasin kamu." "Bukan kamu, tapi kita. Kita harus sama-sama ikhlas." Laisa menggigit bibir bawah. Menahan perih sekaligus sesak yang kian mendesak relung hatinya. "Entahlah, aku belum bisa ngasih kepastian sama kamu. Apalagi Mama masih suka sensi banget kalo sama kamu." Ia tertawa sumbang. Nanta ikut tertawa. "Kita memulai semuanya dengan baik dan saya harap suatu saat nanti kita bisa selesai dengan damai." "Ya. Tapi perdamaian macam apa yang mampu membuat perayaan di antara perpisahan?" Laisa menatap retina Nanta lekat-lekat. "Seenggaknya kita bisa selesai dengan cara yang baik." "Udah, ah. Bahas yang lain aja. Lagipula jalan kita masih panjang." Laisa menyudahi. "Oke, oke." Nanta menepuk-nepuk bahu Laisa pelan. "Jadi, kamu abis ngapain ketemu sama Panji?" Nanta merentangkan jeda sejenak sebelum menjawab pertanyaan Laisa. Dalam sekejap ia mengatur air mukanya. "Nggak ngapa-ngapain, sih. Cuma, ya, dia bilang soal diskusi interaktif yang kemarin itu," jawabnya kemudian dengan sedikit bumbu kebohongan. "Bilang apa emangnya?" "Cuma ngasih ucapan selamat. Sisanya ngobrolin tentang, ya, energi panas bumi tersebut." "Ada sesuatu yang lagi kamu sembunyikan dari aku?" Nanta menggelengkan kepala. "Nggak." "Nan." Raut Laisa berubah memohon. "Nggak ada, La," jawab Nanta berusaha menyakinkan dan menganggap semuanya baik-baik saja. Lain halnya dengan badai yang mulai menyelimuti di sekujur benaknya. Laisa menghela napas. "Oke." Lantas bangkit dari duduknya. "Nggak semuanya harus aku ketahui, kan?" lanjutnya menatap Nanta dengan senyum terpaksa. "Bukan gitu maksud saya, La." Nanta bangkit lalu meraih pergelangan tangan Laisa. "Saya akan cerita kalo saya udah siap." "Oh, jadi bener kalo ada sesuatu yang kamu simpan sama Panji?" Laisa menatap manik mata Nanta dengan lekat. Nanta mengusap wajah. "Iya," ucapnya menyerah. Dalam dadanya pun sudah enggan berontak dan memilih pasrah. Ia kalah. Berusaha membohongi Laisa adalah hal yang sia-sia. "Selama ini aku bertahan karena kejujuran kamu dalam hubungan. Tapi kenapa sekarang kamu berusaha bohongi aku dengan menyembunyikan sesuatu dari aku?" Laisa menggeram. Tanpa disadari giginya bergelatuk bersamaan dengan gemuruh badai di d**a. Hujan yang sempat reda dalam beberapa hari belakangan sepertinya telah siap untuk kembali ditumpahkan. "Oke. Saya akui saya salah. Tapi saya mohon, La, untuk mengerti kalau saya nggak berhak buat bilang semuanya." "Tolong jelasin apa yang sebenarnya Panji bilang ke kamu?" Laisa menekan. Perlahan rintik hujan di matanya Nanta menggeleng. Diraihnya tangan Laisa lantas menggenggamnya dengan hangat. "Nggak semuanya harus dijelaskan dengan kata-kata, La. Waktu pun butuh kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Saya cuma minta kamu untuk selalu siap menerima segala hal yang nggak pernah menjadi kehendak kita." Senyum itu mengembang. Senyum yang diselimuti dengan berbagai arti tersembunyi. "Kamu paham, kan, maksud saya?" tanya Nanta dengan suara lembut. Laisa mengangguk. Kedua tangannya bergerak menangkup wajah berusaha menghalau hujan yang membasahi pipinya. "Kita memang kerap terlalu takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang di masa depan. Tapi percayalah, semuanya bisa kita hadapi bagaimanapun keadaan kita nanti." Nanta memberikan pelukan hangatnya. "Nggak ada yang perlu kita takutkan, La," bisiknya kemudian dengan kian merengkuh tubuh Laisa. Membiarkan gadisnya tenggelam dalam pelukan hangatnya. "Dingin, ya, La?" tanya Nanta saat melihat hujan di mata gadisnya mulai mereda. Laisa mendongakkan wajahnya dan menatap Nanta. "Saya lupa nggak bawa jaket." Nanta terkekeh. Kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pulang, yuk?" ajaknya. Lalisa menggelengkan kepala. "Laper," rengeknya di sela isak kecil yang tersisa. Nanta meraih lengan Laisa dan menatap jarum jam yang menunjuk tepat pukul enam. Pantas saja senja di ufuk barat sudah tenggelam. "Saya salat dulu. Abis itu kita makan," putus Nanta menggandeng Laisa yang hanya menurut saja. Langkah Laisa berhenti tepat di pelataran musala yang tidak begitu luas dan duduk pada bangku panjang. Samar-samar terdengar seruan yang cukup menggetarkan hati, dibarengi dengan gerakan sujud. Tanpa disadari senyumnya tersungging tipis. Ada secercah rasa bangga di hatinya tatkala melihat Nanta menunaikan ibadah sebagaimana mestinya dengan agama yang dianutnya. "Ternyata yang aku butuhin itu laki-laki yang mampu bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan sadar akan kewajibannya," gumamnya dengan pandangan tidak lepas dari sosok Nanta yang ada di barisan tengah. Saat salat usai, Nanta tampak tidak langsung berhambur dari safnya. Ia memilih duduk tenang dengan kepala menunduk, seolah tengah berkomunikasi batin dengan Tuhannya. Laisa membiarkannya, meski perut lapar sudah seperti panggilan alam yang harus segera ia penuhi. Tapi melihat Nanta yang seperti ini adalah hal yang mustahil untuk ia lewatkan. Hujan yang sempat membasahi pipinya kini seolah mengering diterpa angin sejuk yang datang untuk menenangkan resahnya. Ia tersenyum melihat Nanta beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju teras musala. "Mau makan apa?" Adalah pertanyaan yang keluar dari sepasang bibir Nanta untuk mengawali pembicaraan. "Apa aja." Jawaban Laisa membuat Nanta lantas mendesah panjang. "Nggak ada makanan apa aja," balas Nanta gemas. Tidakkah mengerti bahwa dua kata yang Laisa ucapkan itu membuatnya nyaris memilih untuk berhenti berpikir? "Ya udah deh. Aku mau sea food," putus Laisa tanpa berpikir panjang. Nanta menarik napas. Berharap isi dompetnya masih memiliki sisa usai makan malam. Namun kecemasan perihal isi dompetnya seakan terbayar lunas saat melihat Laisa yang lahap menyantap makanannya. "Ini enak banget, Nan." Laisa mengawang bersama makanannya. Sungguh, baru kali ini Nanta melihat gadisnya makan selahap ini. "Tambah lagi, lah," ujar Nanta lantas menyuapi makanan ke dalam mulutnya. "Nanti gendut." Raut Laisa berubah sedih. "Nggak apa. Daripada kurang gizi," celetuk Nanta dengan asal. Laisa berdecak sebal. "Ya, nggak kurang gizi juga. Tapi kan, kalo kebanyakan juga nggak baik, Nan. Gimana, sih, kamu," omelnya. Nanta hanya menoleh sambil tertawa kecil. Bunyi dering ponsel membuat perhatiannya lantas teralihkan pada benda pipih yang ia simpan di atas meja. Nomor yang seingatnya tadi siang mengirim pesan kembali tertera pada bar notifikasi. "Nggak kamu angkat?" tanya Laisa membuat Nanta kembali terjaga pada kesadarannya. "Oh, iya. Sebentar, ya. Saya angkat telepon dulu," pamit Nanta menghindari rasa curiga dari Laisa. Gadisnya hanya mengangguk saja. Membiarkan dirinya mengambil jarak beberapa langkah. "Di mana lo?" Pertanyaan yang dibuat terdengar garang merambat ke telinganya. Nanta tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya bergerak awas ke arah Laisa. "Gue tunggu lima menit di lokasi. Lebih dari itu, jangan harap keluarga lo selamat." Tut! Panggilan diakhiri sepihak. Tanpa pikir panjang jemari Nanta bergerilya mengirim pesan singkat pada Teddy. Ia kembali menghampiri Laisa dan berusaha untuk tetap tenang di tengah badai yang melanda dirinya. "La," panggilnya lembut seraya tersenyum hangat. "Ya." Laisa menyahut. Tatapannya terlihat begitu jenaka. "Kamu pulang sama Teddy, ya? Saya mendadak ada urusan," ucap Nanta bersedia menerima segala protes dari gadisnya. "Kok tiba-tiba banget, sih?" "Iya. Saya baru ingat kalo malam ini ada janji sama orang yang mau beli hape ini." "Kamu mau jual hape ini?" Laisa menginterogasi. Nanta mengangguk. "Kenapa?" Interogasi Laisa masih berlanjut. "Mau ganti yang baru," jawab Nanta berharap dapat meyakinkan Laisa. "Oh, aku pikir kamu lagi butuh uang." Laisa melanjutkan santapannya. "Nggak." Nanta tersenyum. Tangannya mengusap puncak kepala Laisa dengan penuh rasa sayang. "Aku ikut," putus Laisa. Nanta berusaha tetap tenang. "Nggak usah, ya. Orang yang mau beli hape ini orangnya agak aneh." "Aneh?" Nanta mengangguk kembali. "Aneh gimana?" "Ya gitu deh. Nanti saya ceritain pas pulang, ya." Pesan dari Teddy menyusul. Ok sobat. Jangan lupa traktirannya juga "Sebentar lagi Teddy dateng. Kamu jangan kemana-mana, ya. Kalo ada sesuatu telepon saya aja. Saya on the way dulu." Tanpa menunggu persetujuan Laisa, Nanta berlalu menghampiri kasir lantas pergi begitu saja. Tepat di pintu masuk kedai ia berpapasan dengan Teddy. "Eh, Ncing! Nyelonong aja." Teddy berseru pada Nanta yang sama sekali tidak melihatnya. "Mana buat gua?" tanya Teddy kemudian saat tatapan Nanta jatuh kepadanya. "Ntar, pas pulang," jawab Nanta tidak ingin ambil pusing. "Oke. Laisa di mana?" "Di dalem. Meja nomor 28." "Wih! Spesial amat. Milih nomor mejanya aja pake tanggal jadian." Nanta berdecak. "Udahlah, ya. Saya titip Laisa." "Beres." Teddy mengangkat ibu jarinya. "Kalo genting jangan lupa hubungi gue atau temen-temen yang lain," lanjutnya. Nanta segera berlalu seraya mengangkat ibu jarinya ke arah Teddy. Ia melesat membelah jalanan remang yang dipadu cahaya dari deret lampu jalanan. Laju kendaraan membawanya pada serentang jalanan lengang dan berakhir pada sebuah halte tua yang terletak di dekat kampus. Nanta berhenti lalu melepas helm. Pandangannya mengedar ke sekeliling yang yang sepi. Ia merogoh kantong belakang. Mengambil sebungkus kretek dan lantas menyelipkan salah sebatangnya di antara bibir. Lantas menyalakan pemantik api dan membakar ujung rokoknya. Asap mengepul ke udara diikuti dengan gumpalan pekat rasa resahnya. Namun lagi, untuk dirinya yang tercipta sebagai makhluk yang tak pandai berekspresi, semuanya seakan tampak baik-baik saja seperti tanpa adanya hadir badai yang sebenarnya siap menggulung tubuh ringkihnya. Nanta duduk pada bangku panjang di halte. Tangannya kembali masuk ke dalam saku celana dan mengambil ponselnya. Pesan singkat tampak kembali mengisi bar notifikasi dan tertera identitas kontak si pengirim yang hanya ia beri emoji bunga matahari. Kalo udah pulang kabarin lewat Teddy, ya. Aku udah pulang. Kedua sudut bibirnya terangkat. Satu pesan singkat yang Laisa kirimkan seakan mampu meredakan badai yang sedaritadi bergemuruh. "Iya, Sayang," balasnya melalui pesan suara. Nanta menghela dengan mengepulkan asap rokok ke udara. Kepalanya tertoleh tatkala terdengar deru motor meraung-raung tak jauh dari tempatnya duduk. Sekelompok orang tampak menatapnya tajam. Sekali lagi Nanta menghisap tembakau gulungnya. Lantas bangkit seraya mengepulkan asap ke udara. Dengan tenang ia menghampiri orang-orang itu. Mereka turun dari tunggangan motor lantas berdiri dengan kedua netra tak lepas menatap Nanta. Langkah Nanta berhenti tepat di jarak satu meter dengan orang yang ia yakini sebagai komplotan dari sekelompok orang-orang itu. Tangannya terjulur menepuk pelan bahu bos di antara mereka. Namun dengan jengah orang itu menangkisnya. Nanta hanya tersenyum tipis. "Saya nggak mau ada perkelahian lagi," ujarnya mengawali. Tanpa sengaja matanya tertuju pada orang yang beberapa hari lalu memukulinya dengan kayu balok. "Namun, ada yang perlu kalian pahami dan harus kalian sampaikan pada orang yang membayar kalian siapapun itu. Bahwa saya pasti akan mengakhiri hubungan saya dengan Laisa. Cepat atau lambat." Mereka saling melempar tatap. "Jadi, tolong beri saya waktu untuk menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Saya tidak ingin adanya permusuhan. Apalagi jika itu antara saya dengan Laisa." "Gue pegang omongan lo dan kalo ingkar, gue nggak segan buat ngasi lo perhitungan!" tegas orang yang tepat berdiri berhadapan dengan Nanta. Nanta menarik simpul senyum tipis di bibirnya. "Ya, kamu bisa pegang omongan saya sampai akhir hidupmu." Lalu menepuk pundak keras di hadapannya. Ia pun beranjak tanpa berkata apa-apa lagi. Deru motor kembali merambat ke Indra pendengarnya. Menggerung seperti mobil tua yang dipaksa untuk tetap bekerja dan membuat getar aspal yang dipijaknya. Mereka melesat seolah setara dengan kecepatan angin. Nanta menghela napas. Menyelesaikan hubungan dengan melerai segala kenangan adalah dua hal yang berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN