Bab 4

1123 Kata
Malam itu terasa… aneh. Aku duduk di ujung ranjang besar yang terlalu luas untuk satu orang. Tanganku saling menggenggam, dingin, sementara pikiranku berisik sendiri. ini beneran ya… malam pertama? Pintu kamar terbuka pelan. Kenan masuk. Aku langsung menunduk, pura-pura sibuk merapikan ujung gaun yang sebenarnya sudah rapi dari tadi. Kenan berhenti beberapa langkah dariku. Hening. Sunyi. Canggung. Banget. “Zea…” panggilnya pelan. “I-iya…” jawabku tanpa berani menatap. Hening lagi. Aku bisa dengar napasnya. Aku bisa dengar detak jantungku sendiri. Bahkan… aku yakin dia juga bisa dengar. Kenan berdeham kecil. "Kenapa duduk sejauh itu? Aku nggak gigit kok.” Aku refleks menjawab cepat, “Belum tentu!” Kenan langsung tertawa kecil. Aku langsung menutup mulutku. Ya ampun, kenapa aku ngomong gitu sih?! Kenan mendekat pelan, tapi aku langsung geser lagi. Dia berhenti. Aku geser lagi. Dia maju sedikit. Aku geser lagi sampai— “Zea…” “Iya?” “Kamu mau turun dari kasur atau gimana?” Aku menoleh… dan baru sadar aku sudah hampir jatuh ke lantai. “Eh!” aku buru-buru kembali duduk tegak. Kenan menahan tawa, jelas banget dia menertawakan aku. “Lucu banget sih kamu,” katanya sambil geleng kepala. Aku cemberut. “Aku lagi tegang ini!” “Iya, kelihatan. Tegangnya sampai mau kabur dari kasur. "Aku melipat tangan. “Ya habis… ini kan… malam pertama…” Kenan mendekat sedikit lagi, tapi kali ini dia berhenti dengan jarak aman. “Aku tau,” ucapnya lebih lembut. Aku melirik pelan ke arahnya. Ekspresinya… beda. Nggak menyebalkan seperti biasanya. Lebih… hangat. "zea,” katanya lagi, “aku nggak akan maksa kamu.” Aku sedikit kaget. “Jadi… kamu boleh santai. Nggak usah takut kayak aku ini penjahat.” Aku langsung refleks, “Kamu emang sering kayak penjahat.” Kenan menghela napas panjang. “Ya Tuhan… istri aku ini.” Aku hampir tersenyum. Suasana jadi lebih ringan. Kenan lalu duduk di sisi lain ranjang, menjaga jarak. “Gini aja,” katanya santai, “kita mulai dari yang paling basic.” Aku mengernyit. “Apa" Dia mengulurkan tangan. “Kenalan lagi. Halo, saya Kenan. Suami kamu.” Aku bengong sebentar… lalu tanpa sadar tertawa kecil. Aku menyambut tangannya. “Zea… istri yang lagi takut setengah mati.” Kenan tersenyum. Beberapa menit kemudian… Kami malah ngobrol hal-hal random. Tentang masa kecil. Tentang makanan favorit. Tentang kebiasaan aneh Kenan yang ternyata suka ngomong sendiri kalau lagi mikir. “Jadi… kamu itu aneh ya,” kataku polos. "Kamu baru sadar sekarang?” jawabnya santai. Aku tertawa kecil lagi. Tanpa sadar… jarak kami makin dekat. Nggak terasa menakutkan lagi. Kenan lalu menatapku sebentar, lebih dalam. Aku langsung gugup lagi. "Zea…” “I-iya?” Dia mengangkat tangannya perlahan… Aku refleks menutup mata. Tubuhku kaku. Tegang lagi. Beberapa detik… Tidak ada apa-apa. Aku membuka mata pelan. Kenan… cuma menarik selimut dan menutup tubuhku dengan rapi. “Tidur,” katanya ringan. Aku terdiam. “Udah larut. Kamu pasti capek.” Aku menatapnya, bingung… tapi juga… hangat. “Kamu… beneran nggak akan…” aku nggak melanjutkan. Kenan tersenyum tipis. “Suatu hari nanti, mungkin iya.” jantungku langsung deg-degan lagi. “Tapi bukan malam ini,” lanjutnya. Aku menunduk, pipiku hangat. Kenan mematikan lampu, lalu berbaring… tetap menjaga jarak. “Selamat malam, Zea.” Aku menarik selimut sampai ke dagu. “…Selamat malam.” Beberapa detik hening. Lalu aku berbisik kecil. “Kenan…” “Hm?” "Makasih…” Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi aku bisa merasakan… dia tersenyum dalam gelap. Dan malam yang tadinya menakutkan itu… Berubah jadi malam yang… diam-diam manis. Cahaya matahari masuk perlahan dari sela tirai. Aku mengerjap pelan, masih setengah sadar. Tubuhku terasa hangat… terlalu hangat. Hmm… enak juga… Tapi— Tunggu. Hangat? Aku mengernyit, lalu mencoba bergerak sedikit. Nggak bisa. Seperti… ada sesuatu yang menahan. Aku menoleh pelan. Dan— "AAAAAAAAAA!!!” Aku langsung teriak sekuat tenaga. Sebuah tangan besar melingkar di perutku. Dan pemilik tangan itu— “HAH?! KENAPA?! APA?! ADA APA?!” Kenan langsung bangun dengan wajah panik, rambutnya acak-acakan. Aku menunjuk tangannya dengan gemetar. “INIIII!!” Kenan ikut melihat… lalu terdiam. Beberapa detik. Sunyi. Lalu dia mengedip. “Oh.” OH?! "OH ITU AJA?!” Aku langsung mendorong tangannya menjauh. “KENAPA TANGAN KAMU ADA DI PERUT AKU?!” Kenan mengucek matanya, masih setengah ngantuk. “Ya… karena aku tidur?” “Ya nggak gitu juga kali!!” Dia malah terlihat mikir sebentar. “Berarti… aku peluk kamu semalam?” “JANGAN NANYA AKU!!” Kenan tiba-tiba menyeringai kecil. “Wah… refleks aku bagus juga ya.” Aku melotot. “Apanya yang bagus?!” “Nyari istri sendiri pas tidur.” Aku langsung mengambil bantal dan plak! memukul lengannya. “Genit!” Kenan tertawa kecil, benar-benar terlihat belum sepenuhnya sadar tapi sudah sempat menggoda. “Aduh… pagi-pagi udah KDRT.” “Itu bukan KDRT! Itu pembelaan diri!” Kenan malah mendekat sedikit, kali ini dengan sengaja. Aku langsung mundur. “Kamu mau ke mana lagi?” tanyanya santai. “Menjauh dari kamu!” "Loh, semalam aja kamu aman-aman di sini.” Aku langsung kehabisan kata. “Semalam itu… kamu yang—” aku berhenti, malu sendiri. Kenan menatapku, senyumnya pelan, nggak usil seperti tadi. "Aku nggak sengaja, Zea,” ucapnya lebih lembut. “Mungkin kebiasaan… kalau tidur suka cari sesuatu buat dipeluk.” Aku melipat tangan, masih gengsi. “Ya jangan aku dong!” Dia mendekat sedikit lagi. “Terus mau peluk siapa? Bantal?” “IYA! PELUK BANTAL AJA!” Kenan melirik bantal di sampingnya. “Bantalnya kalah hangat.” Aku langsung diam. Pipiku panas. “Kenan!” protesku, tapi suaranya malah terdengar pelan. Dia terkekeh. “Udah, jangan tegang lagi,” katanya, lalu tiba-tiba… dia menarik selimutku lagi yang tadi agak berantakan. Gerakannya pelan. Nggak maksa. Nggak bikin aku takut. "Mau bangun atau masih mau lanjut tidur?” tanyanya santai. Aku menatapnya sebentar. Wajahnya masih polos, sedikit mengantuk… tapi entah kenapa terasa nyaman. Aku buru-buru mengalihkan pandangan. “Aku bangun!” Aku langsung turun dari kasur terlalu cepat— Dan— “HUP!” Aku hampir jatuh. Tapi tiba-tiba— Sebuah tangan menangkap pergelangan tanganku. Kenan. “Pelan-pelan,” katanya, nadanya refleks khawatir. Aku membeku sebentar. Jarak kami… dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat matanya dengan jelas. Dan entah kenapa… jantungku mulai aneh lagi. Deg. Deg. Deg. Aku langsung menarik tanganku cepat. “M-makasih…” Kenan tersenyum kecil. “Iya. Lain kali kalau mau kabur, kasih aba-aba dulu.” Aku cemberut. “Siapa juga yang kabur!” "Dari semalam sampai pagi, kerjaannya menjauh terus.” Aku kehabisan kata lagi. Dia tertawa pelan. Suasana pagi itu… Yang awalnya penuh teriakan… Berubah jadi sesuatu yang hangat. Dan diam-diam— Aku mulai sadar. Mungkin… Tinggal satu kamar dengan Kenan… Nggak semenakutkan yang aku bayangkan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN