Bab 3

981 Kata
Dua hari kemudian, aku kaget setengah mati saat bangun pagi. Di atas ranjang sudah tergeletak gaun pengantin putih yang begitu indah, lengkap dengan sepatu dan perhiasannya. di meja rias, alat makeup tertata rapi seolah hari ini adalah hari paling spesial dalam hidupku. Padahal… aku tidak pernah menginginkan ini. “Buk!” panggilku agak keras, panik mulai merayap di d**a. Pintu kamar terbuka. Namun bukan Bu panti yang masuk. Melainkan Kenan. Aku langsung terdiam, rahangku mengeras. Pria menyebalkan itu lagi. Dengan santainya dia berdiri di ambang pintu, memasukkan tangan ke saku celana, menatapku seolah semua ini adalah hal yang wajar. Dia pikir aku akan jatuh cinta padanya? Memang, semua orang bilang dia sempurna. Tampan, kaya raya, pewaris tunggal, hidupnya serba ada. Tapi di mataku? Dia tidak lebih dari pria egois yang suka memaksakan kehendak. "Apa maksud semua ini?” tanyaku dingin, menunjuk gaun pengantin itu. Kenan melangkah masuk perlahan. Tatapannya tajam, tapi anehnya tidak sepenuhnya dingin seperti biasanya. "Hari ini pernikahan kita,” jawabnya singkat. Jantungku seolah berhenti berdetak. “Kamu bercanda?” suaraku meninggi. "Aku gak pernah setuju!” “Aku tidak butuh persetujuanmu.” Jawaban itu seperti tamparan keras di wajahku. Aku langsung berdiri dari tempat tidur, menatapnya penuh amarah. “Kamu gila, Kenan! Ini hidupku, bukan permainanmu!” Dia mendekat. Terlalu dekat. “Aku sudah bilang sebelumnya,” ucapnya rendah, “kamu akan menikah denganku.” "Aku tidak akan mau!” bentakku, mendorong dadanya. Namun Kenan tidak bergeming sedikit pun. jadi ini bukan ancaman lagi… ini kenyataan. "Mereka memaksamu?” tanyaku lirih, berharap ada alasan lain di balik semua ini. kenan menggeleng pelan. “Tidak. Ini keputusanku.” Aku tertawa hambar. “Tentu saja. Semua harus sesuai maumu, kan?” Aku menggigit bibir, menahan gejolak di dalam hati. Pilihan apa yang sebenarnya aku punya sekarang? Kabur? Melawan? Atau… menyerah? Kenan mengambil gaun pengantin itu, lalu meletakkannya di tanganku. "Bersiaplah,” ucapnya. Aku menatap gaun itu lama. Putih. Indah. Sempurna. Tapi bagiku… terasa seperti jerat yang siap mengikat hidupku selamanya. Aku mengangkat wajah, menatap Kenan dengan penuh kebencian. “Kalau aku menikah denganmu…” kataku pelan, “jangan harap aku akan mencintaimu.” Kenan terdiam sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku tidak butuh cintamu.” Jawaban itu membuat hatiku semakin dingin. Baik. Kalau ini yang dia mau… Maka aku akan menjalaninya dengan caraku sendiri. Tanpa cinta. Tanpa harapan. Dan tanpa menyerahkan hatiku… pada pria bernama Kenan. Namun jauh di dalam hatiku, aku tahu— Hari ini bukan awal kebahagiaan. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit… dan mungkin menyakitkan. Ruang itu terasa hening, hanya terdengar bisik doa dan gesekan kain para tamu yang duduk rapi. Aroma bunga melati memenuhi udara, menenangkan sekaligus menyesakkan d**a. Alea duduk kaku di samping wali, jemarinya saling menggenggam erat. Gaun putih yang dikenakannya terasa berat, seolah ikut menanggung beban di hatinya. Matanya sesekali melirik ke arah Kenan—pria yang akan menjadi suaminya dalam hitungan detik. Kenan tampak tenang. Terlalu tenang. Penghulu mulai membuka acara, suaranya tegas namun lembut, mengalun membacakan ayat-ayat suci. Semua orang menyimak, tapi bagi Alea, suara itu seperti menjauh… yang terdengar justru detak jantungnya sendiri. Degup. Degup. Degup. “Apa kamu siap?” bisik wali pelan. aku menelan ludah. Bibirnya bergetar, tapi ia mengangguk kecil. Saat ijab kabul dimulai, suasana semakin sunyi. "Saya nikahkan dan kawinkan putri… dengan engkau, Kenan, dengan maskawin…” Kalimat itu menggantung sesaat di udara, membuat napas Alea terasa tertahan. Kenan menarik napas, lalu dengan suara mantap menjawab, "Saya terima nikahnya…” Lancar. Tegas. Tanpa jeda. "Sah?” tanya penghulu. "Sah!” serentak para saksi menjawab. Kalimat itu seperti palu yang diketuk keras di d**a Alea. Selesai. Semuanya selesai. Alea kini resmi menjadi istri Kenan. Tanpa sadar, air matanya jatuh. Bukan tangis bahagia—melainkan campuran antara pasrah, takut, dan sesuatu yang belum sempat ia pahami. Kenan menoleh, menatapnya dengan senyum tipis. “Sekarang… kamu milikku,” ucapnya pelan, hanya cukup untuk didengar Alea. Alea menunduk, menggigit bibirnya. Dalam hati, ia hanya mampu berbisik— “Apakah ini awal kebahagiaan… atau justru awal dari luka yang lebih dalam?” Setelah semua rangkaian acara selesai, tanpa banyak bicara aku langsung dibawa oleh Kenan menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, menatap keluar jendela mobil dengan perasaan campur aduk. semua ini terjadi begitu cepat, bahkan aku sendiri belum benar-benar percaya bahwa aku sekarang… sudah menjadi istrinya. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang membuatku tertegun. Bukan… ini bukan sekadar rumah. Ini seperti istana. Bangunan megah dengan halaman luas, taman yang tertata rapi, dan lampu-lampu elegan yang menyala indah. Bahkan sebelum turun dari mobil, aku sudah bisa melihat beberapa orang berdiri rapi di depan pintu utama. Jantungku berdegup lebih cepat. Kenan turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku. "Turun,” ucapnya singkat. Aku menelan ludah, lalu perlahan keluar dari mobil. Baru saja kakiku menginjak lantai halaman, para karyawan yang berjajar itu langsung membungkuk hormat. “Selamat datang, Nona Zea.” Aku terdiam. Nona… Zea? Panggilan itu terdengar asing di telingaku. Seumur hidup, aku tidak pernah dipanggil seperti itu. Aku hanya Zea… gadis panti yang sederhana. Beberapa karyawan perempuan mendekat, tersenyum ramah meski terlihat sangat formal. "silakan masuk, Nona Zea,” ujar salah satu dari mereka dengan sopan. Aku melirik Kenan, berharap ada penjelasan, tapi pria itu hanya berjalan lebih dulu tanpa menoleh. Seolah ini semua hal biasa. Dengan langkah ragu, aku mengikuti dari belakang. Setiap sudut rumah itu terasa mewah dan… dingin. Bukan dingin karena suhu, tapi karena aku merasa tidak memiliki tempat di sini. "Mulai sekarang, kamu tinggal di sini,” kata Kenan tiba-tiba, menghentikan langkahku. Aku menatapnya. Rumah sebesar ini… tapi kenapa rasanya begitu asing? Kenan menatapku sekilas, lalu tersenyum tipis—senyum yang sulit diartikan. “Biasakan diri kamu, Zea,” lanjutnya. "Karena ini… rumah kamu sekarang.” Aku menggenggam ujung gaunku pelan. Rumah ini mungkin megah. Tapi untukku… ini terasa seperti dunia yang sama sekali tidak aku kenal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN