Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, dokter jaga di IGD meminta gadis itu untuk di rawat inap. Memang ia sudah sadar tapi karena keluarnya cairan yang begitu banyak menyebabkan dehidrasi berat dan harus segera ditangani secara intensif.
"Untung Bapak cepat mengantarkan ke sini," ucap dokter cantik yang mengenakan kacamata itu.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap laki-laki baik itu.
Pak Arip mengusap dadanya berulang kali. Dilihatnya Bunga yang masih tergolek lemas dengan wajah pucat. Ia tidak tega melihat gadis itu.
Sementara di sisi lain Ibrahim Mustopa berada di bagian pendaftaran rawat inap. Laki-laki muda itu dengan sukarela membantu Pak Arip membawa Bunga ke rumah sakit. Untung Pak Arip datang ke rumah tepat waktu setelah mengantar Kevin dan Tasha sekolah tak biasanya ia langsung pulang ke rumah.
Allah memang Maha baik. Walau jauh dari keluarga ada orang-orang baik yang berada di sekeliling gadis itu. Bi Sumarni hanya bisa menangis dan berdoa. Dirinya tidak bisa ikut mengantar Bunga ke rumah sakit karena rumah Brotoasmoro tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan tanpa penghuni.
Ranjang besi yang di dorong di atas koridor menimbulkan suara yang khas. Bunga menatap langit-langit rumah sakit. Sebenarnya ia tidak suka berada di sini walau memang belum pernah di rawat dan sampai menginap. Hatinya merasa tidak enak dan jantungnya selalu saja berdetak lebih cepat dari biasanya.
Koridor ini begitu panjang dan hawa yang diberikan juga semakin berbeda. Tidak terdengar lagi orang yang bercakap-cakap.
Pintu kayu bercat putih dibuka
Engselnya berderit. Perawat laki-laki yang mendorong Bunga menempatkannya pada sisi pojok sebelah kanan dekat jendela dan pintu masuk. Setelah mengecek infus perawat itu meninggalkan Bunga dan Pak Arip.
"Kak, tadi kamar semuanya penuh. Gak apa-apa kan kalau kakak di sini. Bapak sih mikirnya yang penting Kak Bunga dapat penanganan dulu."
Sebuah anggukan lemah menjawab pertanyaan Pak Arip tadi. Matanya memindai seisi kamar rawat inap berpendingin ruangan itu. Ada lima buah ranjang besi dengan dua pasien. Satu diujung kanan dan satu di ujung kiri. Sedangkan tiga ranjang di bagian tengah di biarkan kosong.
"Kak, Kak Bunga kenapa? Jangan melamun."
"Bunga sedih aja, Pak. Sebenarnya ga kepingin di rawat di sini karena takut ga ada yang jagain. Bunga ga mau kasih tau Nini dan Paman karena takut nanti pasti mereka akan cemas."
"Kak Bunga tenang aja, kan ada Pak Arip, ada Om Jojon. Nanti kita gantian nengokin ke sini. Ibu Pinkan kan kantornya dekat. Pasti sesekali akan di jenguk. Kalau masalah yang nungguin malam hari. Uhmm ...."
"Kenapa, Pak?" tanya Bunga menangkap sesuatu.
"Tadi Baim bilang mau jagain Bunga dan tidur di rumah sakit. Tapi bulan ini dia kerjanya shift sore. Masuk jam tiga pulang jam sebelas malam. Kira-kira Kakak kalau nunggu sampai jam segitu, gimana?"
"Jam sebelas malam? Berarti Kak Baim nanti sampai sini jam setengah dua belasan ya, Pak?"
"Iya, mungkin kurang lebih jam segitu. Tapi, kan nanti Om Jojon atau Pa Arip habis magrib ke sini. Bawain pakaian ganti Kak Bunga. Bisalah nanti ditemenin sampai jam besuk habis."
"Tuh, kan ... Jadi ngerepotin semua orang Pak," ucap Bunga hampir menangis.
"Wes, ya gak apa-apa. Semuanya kan sayang Kak Bunga. Yang paling penting sekarang makan yang banyak, minum obat teratur, istirahat yang cukup supaya lekas sembuh dan cepat pulang. Biar ngerepotinnya ga lama-lama," jawab Pak Arip sambil tertawa.
Bunga menatap lagi ruangan yang di d******i warna putih ini. Ia melihat pasien yang berada diujung masih tertidur lelap dengan tubuh membelakangi. Gadis itu berharap percakapannya dengan Pak Arip tidak menganggu istirahatnya.
Pak Arip menelisik jam di pergelangan tangannya yang gembil.
"Bapak mau ke kantor Pak Bos dulu, Kak. Nanti magrib Bapak atau Om Jojon ke sini yah. Siang ini sampai jam tiga nanti Ibrahim yang jagain kamu."
"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Maaf Bunga jadi ngerepotin semua orang."
"Ah, kamu ngomong apaan sih. Kita semua kan keluarga."
Sosok baik itu menghilang di balik pintu. Ulu hati gadis itu terasa nyeri. Dirinya seperti terlempar dari gedung yang tinggi kemudian jatuh ke bawah. Seperti itu perasaan hatinya kalau sedang sendirian.
Untungnya Ibrahim segera masuk. Bunga tersenyum melihat Kak Baim yang mengenakan kaos main Kevin dengan sticker spiderman. Ukuran kaos-kaos Kevin hampir sama dengan kaos ukuran Om Atmo. Tentu saja kaos itu akan muat dengan Ibrahim yang kurus.
"Kenapa senyum?" tanya Kak Baim. Lesung pipinya terlihat.
Baru kali ini Bunga melihat wajah laki-laki baik itu dari dekat. Begitu teduh dan menyamankan hati.
"Eh, Bunga laper, ga? Mau dibeliin apa? Kayaknya makan siangnya masih satu jam lagi datang."
"Laper sih, sedikit," ucapnya malu-malu.
"Boleh Kak Baim tinggal sebentar? Ada toko roti di sekitar sini. Sekalian mau ke ruang perawat. Mau nanyain kenapa belum dapet seprei sama termos air panas."
"Iya, Kak. Silakan. Maaf Bunga merepotkan, Kakak, ya."
Ibrahim tersenyum sambil melihat lemari besi yang ada di sebelah kanan ranjang. Ia kemudian menatap pasien yang ada di ranjang ujung kemudian menatap Bunga lagi.
Sepertinya tidak apa-apa ditinggalkan sebentar. Ucap laki-laki itu di dalam hatinya.
Sendirian lagi. Ruangan rawat inap itu kembali hening. Teman satu kamarnya masih tertidur pulas. Dan tidak nampak seseorang pun yang menemaninya. Mungkin saja pasien itu sama seperti Bunga. Sama-sama tidak memiliki banyak keluarga.
Gadis itu bersyukur. Ia masih merasa lebih beruntung dari pada pasien yang berada di ranjang ujung itu. Setidaknya walau berada jauh dari Ayah dan Ibunya, Bunga masih memiliki Paman dan Nini, juga orang-orang di keluarga Brotoasmoro.
Kantuk datang menyapa. Padahal dirinya belum makan siang ataupun minum obat. Mungkin karena lelah dan tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia akhirnya tertidur dengan posisi menghadap ke sebelah kanan.
Di kamar mandi terdengar suara keran air yang tengah hidup. Mungkin saja itu pasien dari ranjang ujung yang sedang menggunakan kamar mandi. Bunga enggan membuka matanya, gadis itu melanjutkan tidurnya setidaknya sampai Ibrahim pulang.
Suara roda besi tak kalah berdecit menyentuh lantai. Kali ini apa lagi? Pasien baru kah? Atau makan siang? Ya, itu suara kereta makan siang.
Bunga terbangun setelah perawat berpakaian putih itu memanggil namanya dan meletakkan makan siang Bunga di atas lemari.
"Terimakasih, Bu," jawab Bunga sambil berusaha untuk duduk dan bersandar.
Perkataan Pak Arip bahwa ia harus mau makan dan cepat sembuh menempel di otak dan hatinya. Tentu dirinya tidak mau merepotkan orang banyak dalam jangka waktu yang lama. Gadis itu bertekad untuk menghabiskan makan siangnya.
Infus yang dipasang di tangan kanan menghambatnya untuk makan dengan cepat. Di cobanya dengan tangan kiri. Berhasil walau makan dengan agak lambat.
Tahu tempe dimasak kuning dengan sayur bening labu siam sepertinya menggugah selera. Tapi bubur yang sedikit kental membuatnya mual. Baru akan menyendok ke dalam mulutnya, ia teringat bahwa pasien ujung tidak diberi bekal makan siang oleh suster.
Mungkin saja pasien itu sedang berpuasa sehingga suster tidak memberinya makan siang. Ya, bisa saja seperti itu.
Sambil menghabiskan makan siangnya, sesekali ia menolehkan kepala ke arah ranjang ujung. Pasien itu benar-benar tidak bergerak dari posisinya. Pakaian rumah sakitnya yang berwarna kehijauan nampak kusut. Mungkin karena terlalu lama berbaring. Andai saja dirinya sudah bangun dan mau mengobrol, tentu Bunga tidak akan merasa kesepian.
"Assalamualaikum, hayoo ngelamunin, apa?" tanya Kak Baim sambil membawa beberapa bungkusan.
"Waalaikumsalam, Kak."
"Bunga, bisa makan sendiri?"
"Alhamdulillah, bisa, Kak."
"Masakannya enak? Kayaknya lahap banget."
"Hambar sih, Kak. Tapi kata Pak Arip, Bunga harus banyak makan biar lekas sehat."
...
Warna jingga kekuningan menghiasi jendela kaca. Ia tertidur sangat lama setelah makan dan minum obat. Ibrahim sudah berangkat bekerja sedangkan pasien di ranjang sebelah entah sedang pergi ke mana. Ia benar-benar sendirian saat ini.
Gadis itu berusaha untuk bangun karena ingin buang air kecil. Tubuhnya masih lemas. Tertatih sambil memegang besi infus ia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di depan ranjang pasien ujung.
Terdengar suara lirih dari dalam kamar mandi. Sepertinya pemilik suara itu sedang dalam keadaan sedih. Isak tangisnya begitu menyayat hati.
"Kak, Kakak kenapa?" tanya Bunga sambil mengetuk pintu kamar mandi itu beberapa kali.
Tangisan itu masih terdengar. Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang yang berada di dalam itu akan keluar.
Tangan Bunga memegang handle pintu. Ternyata tidak dikunci. Pasien di ranjang ujung sedang menangis sambil menghadap ke wastafel. Tubuhnya bergetar.
"Kak, Kakak baik-baik aja, kan?" tanya Bunga lagi. Namun, gadis itu masih berdiri di depan pintu.
"Apa perlu dipanggilkan suster?"
"Tidak ... Aku tidak apa-apa," jawabnya dengan amat lirih.
Ia memutar badannya perlahan. Dengan terbungkuk ia menyapa Bunga dan tersenyum.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya lagi sambil tersenyum.
Wajahnya begitu pucat dengan bibir kering dan berwarna sedikit hitam. Matanya cekung ke dalam dan beberapa tulang sudah terlihat menonjol. Tertatih ia menuju ke arah Bunga. Kemudian memegang tangan gadis itu.
Dingin. Tubuh pasien si ranjang ujung itu begitu dingin. Bunga mencoba menuntunnya walau ia sendiri sebenarnya dalam keadaan sulit.
"Hati-hati, Kak," ucapnya.
"Terima kasih ya, Bunga."
"Dari mana Kakak tahu nama saya?"
"Tadi tidak sengaja mendengar percakapan kamu dan kakakmu."
"Oh, begitu. Baiklah Kak. Bunga ke kamar mandi dulu."
Dibantunya si Kakak berwajah pucat itu. Tubuhnya begitu kurus dan ringkih. Ketika akan menyelimutinya Bunga melihat kaki yang penuh dengan memar.
Ah, kasihan sekali Kakak ini. Sakit apa dia? Tanya Bunga dalam hati.
...
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Petugas rumah sakit juga sudah mengumumkan bahwasanya jam besuk sudah habis. Pak Arip ataupun Om Jojon tidak ada yang datang. Ibrahim juga sepertinya tidak akan datang di jam sekarang.
Ranjang pasien ujung itu kosong. Hanya tersisa seprei putih yang nampak kusut. Suasana begitu hening di tambah lagi di luar sedang hujan deras. Sejak pukul 18.00 tidak ada seorang perawat pun yang datang memeriksa.
Sesekali terdengar suara guntur yang memekakkan telinga. Bunga membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Dipejamkannya mata berharap bisa tertidur pulas dan terbangun ketika Ibrahim akan datang nanti.
Segala macam gaya tidur sudah di coba. Menghadap ke kanan sambil memeluk bantal. Terlentang. Bahkan ke kiri sambil menghadap ranjang yang paling ujung.
Kakak berwajah pucat sedang tersenyum padanya. Sontak saja gadis itu terkejut.
"Ka-kak, Kakak dari mana?" tanyanya terbata-bata.
"Habis jalan-jalan," jawabnya santai.
Segerombolan perawat masuk untuk mengabarkan perpindahan shift. Mereka juga terlihat memeriksa kondisi gadis itu dan memintanya untuk banyak minum agar cairan yang keluar lekas terganti.
"Sendirian saja, Dik?" tanya perawat yang mengenakan jilbab berwarna putih.
"Kakak saya sedang kerja. Sebentar lagi, datang."
"Kalau bisa jangan sampai sendirian, ya."
"Iya, Kak."
"Besok jam sembilan pagi dokter akan berkunjung. Makan dan istirahat yang teratur biar lekas sembuh."
Selanjutnya mereka membuka pintu dan keluar. Kakak berwajah pucat tidak diperiksa dan ditanyakan sama sekali kemajuannya.
"Loh, kok ...."
Pintu dibanting cukup keras. Terdengar sayup-sayup para perawat itu berjalan cepat meninggalkan kamar tempat gadis itu di rawat.
"Aneh," ucap Bunga.
Gadis itu ingin menanyakan perihal tadi kepada pasien di ranjang ujung. Sayangnya ia sudah terbaring kembali menghadap ke arah dinding tanpa mengenakan selimut padahal hari cukup dingin.
Pukul 23.30, Ibrahim belum juga datang. Listrik rumah sakit padam. Entah terjadi korsleting atau memang pemadaman dari PLN. Suasana semakin sunyi senyap dan gelap. Persis seperti di kuburan.
Gadis itu tidak suka suasana yang mencekam seperti ini. Di hatinya berulang kali memanggil nama Ibrahim berharap agar seseorang yang seperti kakaknya itu segera datang.
Bunga menekuk badannya masih menghadap ke arah jendela sebelah kanan. Kedinginan juga karena menahan buang air kecil. Sebuah sentuhan terasa di pundak kirinya. Gadis itu terkejut ketika menoleh didapati kakak berwajah pucat sudah berada di sebelah ranjangnya.
"Kamu, mau ke kamar mandi?" tanyanya sambil menyeringai lebar.
"Kakaaak, bikin kaget aja. Iya Kak mau ke kamar mandi tapi takut. Gelap banget."
"Rumah sakit ini memang seperti ini. Sering terjadi pemadaman listrik. Namanya juga rumah sakit tua. Sudah jarang yang berobat ke sini. Karena tempatnya jauh dari kota dan...."
"Dan apa, Kak?"
"Dan ... banyak hantunya?"
Bunga bergidik mendengar penuturan kakak berwajah pucat. Ia kemudian cemberut.
"Ga lucu ah, Kakak bercandaannya."
"Ayo Kakak, antar. Tidak baik menahan pipis."
Setelah membaca doa masuk kamar mandi, gadis itu terburu masuk dan menyelesaikan urusannya. Walau dibantu tangan yang sedikit meraba-raba. Beruntung tak lama lampu sudah kembali menyala.
Ia segera keluar dan mendapati pasien di ranjang ujung sedang menelengkan kepala tanpa rambut ke kanan dan ke kiri sambil berkata.
"Kamu sudah pernah melihat hantu? Di rumah sakit ini banyak hantunya, loh. Kamu tidak takut?" tanyanya sambil menyeringai kemudian tertawa panjang.
Kakak berwajah pucat itu membuka pakaiannya kemudian terlihat tubuh kurus yang hanya di balut kulit saja.
"Aku salah satunya!" teriaknya sambil mendekat ke arah Bunga.
Bersambung .....