Gara-gara Saputangan

2022 Kata
Bunga mengucek matanya beberapa kali, mencoba memastikan apakah yang dilihatnya itu nyata atau hanya sekedar imajinasinya saja. Berulang kali ia mengucek mata tetap saja seseorang wanita berambut panjang itu masih di sana. Menatapnya tajam sambil melambaikan tangan. Apa tante sudah pulang? Tapi kalau sudah pulang, mobil mercy Tante pasti akan terlihat dari tempatnya duduk. Lagipula ia membawa kuncinya, jadi tidak mungkin Tante bisa masuk. Ia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ia meninggalkan bangku itu dan berjalan perlahan. Sayangnya untuk menuju pagar di dekat lapangan basket ia harus berjalan melewati kamar yang ada di sayap kanan. Itu berarti dirinya akan melewati jendela tempat makhluk wanita itu berdiri sekarang. Semoga aku salah lihat tadi. Mungkin karena semalam kurang tidur. Tapi ... rasa-rasanya aku pernah melihat wanita itu. Di mana, Ya? Ia sibuk bergumam lagi. Tapi berkat gumamannya gadis itu tidak sempat menoleh ke arah jendela. Selamat untuk saat ini. Hari semakin terang dan panas. Petugas kebersihan komplek satu persatu sudah berangsur pulang. Bunga bimbang, apakah ia harus masuk atau tetap menunggu Bi Sumarni di lapangan basket ini. Setelah melewati pertimbangan yang cukup panjang, akhirnya diputuskannya untuk membuka pagar. Tidak untuk masuk ke dalam rumah tapi menunggu di bawah garasi. Ia mengambil kardus bekas dan duduk di atasnya. "Arghh Bi Sumarni lama sekalii!" teriaknya kesal. Sayang sekali posisi duduk gadis itu salah. Bukannya menghadap ke arah lapangan basket, ia malah duduk menghadap ke arah ruang tengah. Di ruangan yang biasa digunakan keluarga Brotoasmoro menonton televisi itu ada seorang wanita cantik berbaju merah. Rambutnya panjang dan hitam. Yah ... wanita ini, wanita yang melambaikan tangannya tadi. Astagfirullah. Tubuhnya merinding sejadi-jadinya. Itu manusia atau apa? Kenapa bisa duduk di sofa. Tubuhnya juga terlihat nyata. Tidak seperti makhluk yang ia lihat selama ini. Tipis dan ringan. Yang membuatnya pusing wajah mengerikan itu, seperti tak asing baginya. Ia seperti sudah sangat sering melihat tapi tidak tahu di mana. Suara klakson berbunyi. Mobil frontier hitam melintas. Bunga tersenyum lega. Akhirnya Pak Arip dan Bu Maryam pulang. Gadis itu berdiri dan melompat kegirangan, seperti tidak pernah bertemu mereka berdua dalam waktu yang lama. "Kenapa, sih Kak? Kok semringah banget," tanya Pak Arip. "Kangen," jawab Bunga hampir mau menangis. "Kok, nangis?" Bi Sumarni bertanya sambil menarik dagu gadis itu. "Adaaa, ituuu ...." Bunga menunjuk ke arah ruang tengah. "Ada, apa?" tanya Bibi. "Ada makhluk. Di sana!" "Ga ada apa-apa, kok. Yuk masuk aja. Tadi Tante Pinkan nelpon Pak Arip minta disiapkan makan siang. Lagi dalam perjalanan pulang. Kan Kevin sama Tasha mau kursus nanti sore." Bunga menoleh perlahan ke arah ruang tengah. Memang tidak ada siapa-siapa lagi di sana. ... "Kenapa makanannya belum dimakan, Kak? Kakak ga suka masakan, Bibi?"tanya Bi Sumarni membuyarkan lamunan Bunga. "Ah-eh, Bunga suka banget kok masakan, Bibi." Sejurus kemudian klakson berbunyi. Mobil Tante Pinkan masuk ke dalam garasi outdoor dan seperti tak sabar salah satu penumpangnya berhamburan dengan riang gembira. "Kak, Kak Bungaaa...." Kevin berteriak senang dengan wajah bulatnya yang menggemaskan. "Papa Kevin mau pulang siang ini. Katanya mau bawain oleh-oleh mainan buat Kevin," terangnya sambil sesekali tertawa. "Alhamdulillah, wah pantes kamu senang sekali," ucap Bunga sambil mencubit gemas pipi anak laki-laki itu. "Silakan makan siang, Bu," ucap Bibi ketika melihat Tante Pinkan dan Tasha. "Saya ganti baju dulu, ya, Bi." "Tasha juga mau ganti baju dulu." "Kevin mau makan Kak. Tapi suapin ya." ... Mereka sedang makan di meja makan, saat Bunga dan Bibi menanyakan kapan Om Atmo pulang dan harus menyiapkan makanan apa. "Biasanya kalau habis pulang dari luar kota. Suka minta masakin sop ayam. Ayamnya kan sudah bersih ya, Bi. Tinggal di cuci lagi terus direbus sebentar. Baru nanti diolah." "Baik, Bu," jawab Bibi kemudian langsung menuju kulkas. "Habis makan nanti kerjain peer sekolah ya, Nak. Tidur sebentar terus sore kursus." "Iya, Maaa," jawab kedua anak Brotoasmoro itu berbarengan. ... Senandung kecil keluar dari mulut Pak Arip. Sesekali anak-anak itu tersenyum melihat sopir baik itu mengalunkan cengkok dangdutnya. "Pak Arip, jadul banget, sih," teriak Kevin yang disambut gelak tawa semuanya. Baru pertama aku melihat gadis secantik kamu .... Nada dering telepon Pak Arip berbunyi. Lagunya tetap lagu dangdut. Sepertinya Pak Arip dangduters sejati. Beberapa menit kemudian telepon ditutup. "Habis nganter kalian kursus. Pak Ariep mau jemput Papa sama Om Jojon. Mobilnya kempes di jalan. Jadi nanti kalian pulangnya sama Tante Magdalena aja, Ya." "Okey, Pak. Nanti biar Tasha yang telepon Tante Magdalena." ... Anak-anak mengucapkan terimakasih. Pak Arip segera meluncur ke tempat yang sudah diberitahukan. Sayangnya sebelum sampai di tempat mobil tiba-tiba saja mogok di jalanan. Yang membuat bertambah apes Pak Arip lupa mengisi daya. Aduh, bakal kena marah, si bos. Sambil melihat mesin mobil yang mengeluarkan asap, ia mencoba mencari bengkel terdekat. Setelah beberapa jam ke sana ke mari tetap saja hasilnya nihil. "Dik, numpang tanya. Ada bengkel ga disekitar sini?" tanya Pak Arip kepada seorang laki-laki muda yang mengenakan sweater berwarna gelap. "Ada, Pak. Tapi jauh. Mungkin satu jam lebih dari sini." "Wah, lumayan juga ya ...." "Iya, Pak ... Tapi kalau mau, boleh dilihat sebentar mesinnya. Saya dulu kerja di bengkel. Siapa tahu ...." "Baik, baik. Silakan. Ini kotak perkakasnya." Beberapa menit sudah terlewati. Pak Arip nampak cemas. Peluh keluar dari kening yang berkerut. Kerjaannya mondar-mandir di sekitar mobil sambil sesekali menghela napas. Dilihatnya pemuda itu lagi yang sepertinya masih belum memberikan kabar baik. Sebatang rokok dikeluarkan dari bungkus yang berwarna kehijauan. Ia menghisap asapnya perlahan kemudian terbatuk. "Jangan merokok lagi, Pak. Ingat umur," ujar anak muda itu sambil tersenyum. "Sudah beres, Pak. Coba hidupkan mesinnya," sambungnya lagi. "Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Pak Arip sambil menjabat tangan pemuda berambut gondrong itu. Ia membuka bucket hatnya. Pak Arip tampak memandang wajahnya beberapa saat. "Sebentar ... Sebentar. Pernah lihat di mana, ya?" tanya Pak Arip sambil mecoba mengingat-ingat. Laki-laki muda juga nampak keras berpikir. Ia membenarkan perkataan pria tua di depannya itu. "Iya, Pak. Saya juga merasa begitu. Tapi tidak ingat di mana." "Ah, ya sudah kalau begitu. Kamu mau ke mana?" "Mau ke dusun Hilir, Pak. Jam segini memang sudah ga ada kendaraan yang mau ke sana. Jadi saya jalan kaki saja." "Jalan kaki? Sudah mau magrib begini. Ga takut?" "Ga, Pak. Insyaallah saya takutnya cuma sama Allah aja," jawabnya dengan mantap. "Kebetulan saya ada yang mau di jemput di dusun Hilir. Sekalian saja, ya. Biar saya ada temen ngobrol juga." "Boleh, Pak. Kalau ga merepotkan." ... Keadaan jalan sudah mulai gelap. Tidak semua rumah-rumah di desa memiliki penerangan. Memang benar desa Hilir jaraknya satu jam saja dari kota. Namun, karena sesuatu yang membuat desa itu sedikit tertinggal. Suara merdu terdengar dari mulut laki-laki muda berwajah teduh itu. Pak Arip merasa ringan dan tenang mendengarnya. Beberapa surah pendek dilantunkannya dengan begitu indah sampai mobil berhenti di depan seorang laki-laki berkumis tipis yang nampak sedang cemas. "Kenapa, Jon?" tanya Pak Arip. "Si Bos, pingsan. Ga tau kecapekan atau kenapa," ungkap Om Jojon sambil menjambak rambutnya. "Kenapa, Pak?" tanya pemuda berambut gondrong. "Itu, bos saya kecapekan terus pingsan," jawab Pak Arip. Anak muda itu melepas bucket hatnya dan melihat ke arah jendela. "Loh ... Om Atmo!" Laki-laki muda terkejut melihat Om Atmo yang nampak tidur pulas. Padahal sebenarnya tidak. Kaca jendela mobil dibuka. Om Jojon melepaskan sepatu dan kaos kaki Om Atmo. Kemeja yang dikenakan pun dibuka kancing-kancingnya. "Terakhir tadi kenapa, Pak. Kok Om Atmo bisa begini? Selepas makan? Atau kaget mendengar sesuatu?" Om Jojon mengingat-ingat kembali apa yang terakhir terjadi. Kemudian berteriak .... "Ah, iyaaa! Terakhir tadi si bos mengambil sapu tangan untuk mengelap keringat terus tiba-tiba aja begini. Padahal saya sudah larang," terangnya penuh sesal. "Saya salat Magrib dulu, Pak. Boleh saya pinjam sapu tangan tadi dan minta sebotol air minum?" Laki-laki muda bersuara merdu menunaikan salat Magribnya bersama Om Jojon di sebelah mobil. Sementara Pak Arip menjaga Om Atmo. Bacaan surahnya menjadi sedikit panjang hingga menjelang isya. Om Jojon menyandarkan tubuhnya ke sisi mobil dan tidak tahu kenapa semua terasa mengantuk. "Pak ... Pak." Laki-laki muda membangunkan Om Jojon dan Pak Ariep. "Tolong usapkan air ini ke wajah dan seluruh rambut sambil membaca salawat." Pak Arip mengerjakan apa yang dianjurkan oleh anak muda itu. Beberapa menit kemudian sudah terlihat hasilnya. Bos tampan itu nampak tersengal-sengal. Ia kemudian tersenyum melihat wajah orang-orang setianya. Seperti kehilangan kekuatan, dirinya bersandar pada sandaran mobil yang terbuat dari kulit itu. "Loh, kok ada Dek Baim, di sini?" ... Malam itu anak muda yang bernama Ibrahim Mustopa di ajak pulang bersama ke rumah Brotoasmoro. Di sana, dirinya dijamu dan di izinkan menginap bersama Om Jojon dan Pak Ariep. Aura bahagia dan hangat terasa sekali di rumah itu. Semuanya berkumpul sambil tertawa bersama. Bunga dan Bibi juga ikut bergabung di ruang tengah walau terpisah tempat duduk. Om Atmo berulang kali mengucapkan terima kasih karena Baim sudah banyak membantu hari ini. Semua masakan untuk jamuan habis tak tersisa. Bibi dan Bunga merasa bahagia. Mereka membereskan meja makan bundar besar dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Haruskah kita membuat camilan, Bi?" tanya Bunga selepas melihat ke-empat orang laki-laki yang tengah duduk di teras depan. "Coba tanya, Ibu?" "Mungkin masih pada kenyang, Kak. Tapi dari pada pas kita tidur dibangunin, mending ditanyain sekarang. Bunga berjalan melewati ruang tamu. Biasanya tidak ada keinginan untuk mengintip ke arah teras. Kali ini ia tidak merasa takut karena teras tengah hangat dengan pembicaraan beberapa orang yang dianggapnya dekat dengannya. Tante Pinkan baru saja keluar dari kamar Tasha saat Bunga akan mengetuk pintu. "Tan, mau bikin camilan ga buat Om sama yang lain?" "Hmm, bikinin ga, ya? Coba Kakak tanya Om aja." "Ga apa-apa kah, kalau Kakak ke depan?" tanyanya lagi dengan polosnya. "Ya, ga apa-apa, Kak? Memangnya kenapa?" "Ga ada apa-apa sih." Bunga menuju ke teras dengan langkah yang sedikit tertahan. Dengan malu-malu ia menanyakan kepada Om Atmo apakah dirinya harus membuatkan camilan. "Kayaknya ga usah. Cukup ini aja, Kak. Lagian Sudah mau pada tidur. Kakak sama Bibi istirahat aja." "Iya, Om." Bibi rupanya sedang menunggu di belakang pintu. Ia menunggu Bunga karena ingin mengatakan sesuatu. "Bibi belum salat isya. Boleh ga bibi minta tolong." "Boleh, Bi. Mau minta tolong apa?" "Ada cucian piring sedikit." "Oh, kirain ada apa. Amaaan kalau itu mah." Bunga akan menuju dapur ketika terdengar pintu depan di kunci. Pak Arip dan Om Jojon menuju sofa yanga da di ruang tengah. Suara keran air terdengar nyaring ketika bersentuhan dengan perabot berbahan stainles. "Kakak titip, ya." Beberapa cangkir teh berornamen emas tersusun di dekat bak cuci piring. Gadis itu tergagap. "I-iya-ya, Kak. Silakan." ... Seperti anggota keluarga baru Ibrahim Mustopa menjelma sebagai seseorang yang dielu-elukan. Laki-laki muda itu pandai mengaji. Bacaan salatnya fasih dengan alunan merdu yang membuat orang teringat akan kematian. "Mungkin, memang Allah kirimkan dia untuk sesuatu," ucap Bi Sumarni. "Bibi mau masak dulu ya. Kakak sudah bersiin pekarangan? Sudah menyiram bunga?" Bunga tersenyum malu sambil menjawab. "Belum semua, Bi." Dengan tergesa ia mengambil sapu lidi dan pengki dan segera berlari kecil menuju pekarangan. Dari jauh ia melihat seseorang yang dipanggilnya Kak Baim yang sedang lari pagi. Rambut panjang nya lembut tertiup angin. Sesekali ia menyapa petugas kebersihan yang sedang bertugas walaupun tidak mengenalnya. Bunga melanjutkan pekerjaannya setelah tersenyum kecil melihat sosok baik itu dari kejauhan. Gadis itu berkhayal andai saja Ibrahim Mustopa bisa tinggal bersama keluarga Brotoasmoro. Tentu ia akan sangat senang dan rasa takutnya mungkin saja bisa hilang. Sebenarnya sampai saat ini Bunga terkadang masih bingung. Yang menjadi ketakutannya makhluk-makhluk itu ataukah rasa sepi. Pekerjaan pertamanya di pagi itu sudah selesai. Tanaman Tante Pinkan terlewat untuk di siram karena panggilan Bi Sumarni yang memintanya untuk membantu menjemur pakaian. Padahal biasanya jam segini Bibi sudah selesai mencuci dan menjemur pakaian. Berhubung ada tamu spesial hari ini keluarga Brotoasmoro masak besar. Om Jojon dan Pak Arip pun diminta untuk makan siang di rumah. Bunga meletakkan sapu dan pengki di gantungan dekat meja setrika. Dua keranjang pakaian basah sudah dibawa ke tempat jemuran. Satu persatu pakaian digantung sampai pada pakaian-pakaian yang di kenakan Om Atmo ketika keluar kota. Setelah mengibaskan kemeja Om Atmo, sebuah benda terjatuh dari dalam saku kemejanya. Sapu tangan kecil dengan inisial Dy. Dipungutnya sapu tangan itu sambil mencium aroma wangi yang berbeda dari pengharum pakaian yang dipakai Bi Sumarni biasanya. Entah mengapa dirinya mendadak pusing dan mual hebat. Gadis itu muntah-muntah dan seketika jatuh pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN