Teror

2232 Kata
Tarian awan yang mengitari bulan menambah pekat malam. Angin seolah membawa kabar kegundahan dari alam lain. Gadis itu masuk ke kamar belakang dengan terburu ketika melihat tidak ada siapa-siapa di depan pintu. Dor ... Dor ... Dor Suara gedoran pintu terdengar lagi. Rumah begitu lengang tanpa kehadiran Tante Pinkan, Om Atmo, Kevin dan Tasha. Hanya dirinya berdua dengan Bi Sumarni saja. "Siapa, Kak?" tanya Bibi sambil melipat mukenah. "Ga ada siapa-siapa, Bi?" "Orang iseng kali, Kak?" "Niat banget orang itu, Bi. Sampai ngejahilin orang malam-malam begini." "Apa jangan-jangan itu Ibu" "Tante kalau pulang selalu klakson-klakson. Ga pernah gedor pintu depan," jawab Bunga. "Lagian, Tante bilang mau nginap terus di rumah Opa Jatmiko sampai Om Atmo pulang," terang Bunga yang kemudian di sambut dengan anggukan Bibi. "Ya, udah kalau ada yang gedor lagi ga usah buka!" perintah Bibi. Kita tidur aja yuk." Bibi menggelar kasur kapuknya di bawah dipan. Bunga masih merasa tidak enak hati. Penyebabnya belum ia temukan. "Kenapa setiap habis salat sekarang kamu suka baca Yasin, Kak? Biasanya baca Yasin cuma malam Jumat aja," tanya Bibi dengan nada yang serius. "Beberapa malam ini Bunga mimpiin Om Atmo sama Om Jojon Bi." "Mimpi? Mimpi apa?" "Mereka minta bunga bacakan Yasin selepas salat. Tapi ga tau maksudnya apa." "Semoga ga ada apa-apa, ya. Hati Bibi juga ga enak-enak sebenarnya sejak Bapak berangkat. Rumah ga ada Ibu dan anak-anak juga terasa lain auranya." "Iya, Bi. Bunga juga begitu ngerasainnya." Mereka mengobrol cukup lama malam itu. Sampai akhirnya tertidur sebentar, kemudian terbangun lagi saat terdengar suara kaca yang pecah. "Kamu dengar, ga?" tanya Bibi yang kebetulan bangun bersamaan karena suara itu. "Dengar, Bi?" "Jangan-jangan ada orang jahat. Sambung Bibi lagi." "Kita telpon pos satpam aja, Bi. Minta tolong supaya ke sini buat ngecek." Mengendap dan perlahan mereka jalan menuju ruang tengah. Telepon rumah terpasang tak jauh dari meja bundar besar. Gadis itu menelpon pos satpam dan memberi tahu kalau di rumah sedang ada sedikit gangguan. Dari seberang sana sepertinya Pak Satpam menanyakan bentuk gangguan yang seperti apa. Di blok mana. Dan juga meminta mereka untuk tidak keluar rumah sampai salah satu dari mereka datang. Sambil menahan napas, Bunga menutup gagang telpon. "Kata Bapak Satpam beberapa menit lagi akan datang buat nge cek," ucapnya setengah berbisik. "Mau di bersiin sekarang apa nanti aja pecahan kacanya?" tanya Bibi ikut berbisik juga. "Nanti aja Bi, tunggu Pak Satpam. Kita tunggu di kamar Kevin aja." Bi Sumarni mengangguk pertanda setuju. Mereka duduk di sana — di kamar Kevin yang tidak jauh dari tempat telepon itu berada. Suara daun yang terhempas satu sama lain begitu keras terdengar. Bunga dan Bi Sumarni saling berpandangan. "Anginnya kenceng banget ya, Bi?" "Ya, sepertinya begitu, apalagi yang bisa membuat suara sekeras itu kalau bukan angin." "Iya, Bibi betul, tidak mungkin daun dan ranting itu bergerak dengan sendirinya. Kamar Kevin itu sama besarnya dengan kamar yang ditempati Bi Sumarni. Posisi jendelanya pun sama persis. Besar dan panjang tanpa penutup. Dengan gemetar Bunga menunjuk ke arah kaca. "Bi, coba lihat." "Bi Sumarni hampir terpekik. Namun, Bunga menangkupkan tangannya ke mulut Bi Sumarni." Bayangan dedaunan dan ranting tampak bergerak. Mungkinkah bergerak karena tertiup angin. Rasanya tidak. Mereka bertanya-tanya bagaimana pohon itu bisa menggerakkan batangnya sampai mendekati kaca jendela. Memang benar pohon merupakan makhluk hidup tapi mengetahui bahwa pohon itu memiliki kemampuan untuk bisa berjalan. Rasanya .... "Kayaknya kita sudah setengah gila, Kak," ucap Bibi sambil menjambak rambutnya. "Istighfar, Bi," ucap Bunga sambil menepuk pundak Bi Sumarni. Terdengar ketukan dari arah pintu kaca. Tapi mereka belum mau membukanya. "Tunggu, Bi. Tunggu sampai Pak Satpam mengucapkan salam." Dan benar, terdengar ketukan yang ke dua dan ucapan salam. Bibi membawa sapu dan pengki. Bunga mengambil kunci ruang tamu dan membukanya. Seorang bapak penjaga keamanan mengenakan seragam putih biru mengucap salam lagi. "Waalaikumsalam, Pak," jawab Bibi dan Bunga berbarengan. Pecahan beling ditunjukkan Bunga kepada Pak Satpam. Ada sebuah bungkusan hitam tak jauh dari sana. "Apa itu, Bi?" tanya Bunga. Ia hendak mengambilnya dengan tangan. Tapi ditahan oleh Pak Satpam dan Bibi karena bungkusan hitam sebesar kepalan tangan orang dewasa itu tampak bergerak. Mereka bertiga memandangi sejenak bungkusan itu. Karena penasaran Bibi menyenggolkan ujung sapu. Namun, ia seakan liar dan tak terkendali. Bergerak seperti ingin minta dibebaskan. Bunga mengurungkan niatnya. Masing-masing mereka masih terpaku. Bunga tidak berhenti merinding. "Biar bapak yang buka," ucap Pak Satpam yang berkulit legam itu. Ia mengucap basmallah kemudian dalam posisi duduk di pungutnya bungkusan hitam itu. Pak satpam menutup hidung karena bau yang sangat tajam. Tangan tua itu terlihat gemetar. Peluh mengalir dari kening. Bunga dan Bibi ikut juga merasakan ketegangan. Bungkusan dibuka perlahan. Sedikit lagi Sebuah benda berdenyut membuat mereka lemas dan ngeri pada waktu bersamaan. Mereka tidak mengetahui benda apa itu. Bentuknya sedikit oval, kembung di bagian tengah. Berbau amis dan berwarna merah. Dan yang paling menakutkan benda itu berdenyut. "Allahu Akbar ...!" Mereka berteriak. "Apa itu, Pak?" tanya Bunga kepada Pak Satpam "Bapak juga ga tahu. Tapi biar ini bapak yang urus. Biar bapak bawa ke rumah Buya Yahya." Bibi dan Bunga mengangguk setuju. Sebelum menaiki motornya Pak Satpam yang bernama Budiono itu mengatakan bahwa setiap satu jam sekali ada rekannya yang akan berkeliling untuk mengecek sekitaran rumah ini. "Terima kasih banyak, Pak. Maaf kami merepotkan Bapak." Selepas Pak Satpam pergi Bunga menatap pohon willow yang berada di samping kamar Kevin dari teras. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ranting dan daun yang berbentuk seperti janggut itu menyulur ke arah dinding sayap kiri. Sebuah bentuk wajah besar dan mengerikan seolah ingin memakan rumah ini sedikit demi sedikit. Pohon itu mengerang marah, berteriak dan tertawa. "Astagfirullah ... Astaghfirullah." Bunga tertegun tak bisa bergerak. Bibi segera menyeretnya dan masuk ke dalam. "Ambil wudu, Kak!" Perintah Bibi. Di kamar belakang mereka menyempatkan diri untuk mengaji. Berdoa dan memohon perlindungan Allah. Saat ayat terakhir belum selesai dibacakan mereka seperti mendengar embusan napas yang keras dan berangin. Rasanya begitu dekat di telinga. Namun, tak mereka hiraukan. Malam itu juga menjadi salah satu malam yang melelahkan. Sebelum menutup mata untuk beristirahat, dalam batas angan Bunga menangkap sebuah wajah cantik dari pantulan kaca. ... "Aku akan membawanya!" teriak seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam legam. "Jangan!!!" "Jangan dibawa. Kasihan Tante. Kasihan adik-adik," teriak Bunga kepada wanita cantik itu. Si wanita cantik hanya tersenyum sinis. "Apa peduliku." Si wanita cantik berteriak lantang. Suaranya mengguncangkan seisi ruangan yang terlihat seperti kamar Tante Pinkan yang berada di sayap depan. Poto dan lukisan yang ada di dalam kamar bertebangan. Wanita itu terus berjalan bersama Atmo Brotoasmoro menembus kegelapan malam. Bunga tidak bisa berbuat banyak walau sudah berteriak sekeras mungkin. Tapi ia paham ini bukanlah kenyataan. Ini kisah mengerikan dalam mimpi yang belum diketemukan jalan keluarnya. "Tolong! Jangan bawa Om Atmo. Kau bisa membawa aku sebagai gantinya." Terjadi sebuah keheningan setelahnya. Si gadis cantik nampak berpikir. "Aku mau keduanya. Aku mau dia dan juga kamu." Telunjuk dengan kuku panjangnya sampai di d**a Bunga. Detak jantung gadis itu seolah berhenti seketika. Langit-langit kamar itu berubah menjadi semerah darah. Retakan besar menyebar ke segala penjuru dinding. "Aku mau keduanya!" teriaknya lagi dengan marah. Sayup terdengar suara Yasin dari sebuah suara laki-laki yang tidak dikenal. Wanita cantik meraung seperti singa yang sedang kesakitan. Jari jemarinya mencengkeram tubuh Atmo Brotoasmoro dengan sangat kuat. Laki-laki tampan itu hanya bisa menurut saja. Tidak melakukan perlawanan apa-apa. Napasnya nampak tersengal. Matanya melotot tajam. Wanita yang dianggapnya ratu itu terlihat bagai seorang iblis betina yang haus darah. Giginya bergemeretak seolah ingin melumat si laki-laki dengan buas. "Jangan ... Jangan. Tolong jangan di makan!" Dalam kepanikan ia melihat beberapa buah biji tasbih yang bergulingan ke arah wanita itu. Kakinya mengeluarkan asap hitam. Sedikit kemudian berangsur banyak. Tubuhnya seolah terbakar oleh ratusan biji tasbih. Malangnya, di dalam mimpi itu Atmo Brotoasmoro ikut hilang bersama si wanita dan asap misterius. Dan itulah hal terakhir yang bisa diingat oleh Bunga di dalam mimpinya sebelum Bi Sumarni membangunkan untuk salat subuh. ... Suara telpon berdering. Tante menanyakan apakah Om Atmo menelpon ke rumah untuk memberi kabar. Sebenarnya Bunga tidak ingin membuat tantenya kecewa. Tapi pada kenyataannya memang, Atmo Brotoasmoro belum pernah menelpon sekalipun sejak ia pergi ke luar kota. Terdengar nada kecemasan dari nyonya rumah. Bunga hanya bisa sedikit menghibur dan mengatakan bahwa tidak ada jaringan yang baik di pelosok desa. Ingin meminta Tante mendoakan Om dan perjalanan, ia rasanya merasa segan dan tidak pantas. Jadi hanya pelipuran ala kadarnya saja yang bisa diberikan. Cerek air minum terdengar mendidih. Kompor belum juga dimatikan saat Bunga menutup sambungan telepon tadi. Bi Sumarni tampak sedang melamun di dapur. Bunga masuk perlahan dan mematikan kompor. "Bi, kenapa melamun?" tanya Bunga sambil mengusap pundak bibi yang hari itu mengenakan daster besar berwarna hitam dengan motif bunga mawar. Gadis itu tahu pasti Bi Sumarni tidak akan mejawab pertanyaan darinya. Ia tahu bahwa Bibi selalu akan menunjukkan wajah baik-baik saja dihadapannya. Dan ia tahu, Bibi akan sekuat tenaga bertahan di rumah ini selama mungkin. "Kita masak ini saja ya, hari ini," ucap Bi Sumarni mencoba mengalihkan obrolan. Beberapa siung bawang dikupas perlahan. Bunga tidak melanjutkan pertanyaannya. Kalau Bibi sudah mengalihkan pembicaraan, itu tandanya wanita itu sedang tidak ingin membahas sesuatu. Bibi hanya ingin merenung sambil biasanya nanti akan membuat keputusan. Roti cokelat yang terpanggang dalam sandwich toaster sudah tercium harum. "Pak Atmo suka sekali sarapan ini. Kevin juga." Mata Bibi nanar menatap arah meja makan. Ada embun yang hendak jatuh dari sana. Bunga pun menghela napas. Ada perasaan rindu yang membuat hatinya berlubang dan terasa tidak sempurna. Dan ia teringat mimpinya semalam. Tidak ada orang lain yang bisa diajak bercerita selain Bi Sumarni. Namun, melihat kondisinya pagi ini, sepertinya itu menjadi hal yang tidak mungkin. Setidaknya untuk hari ini, ia belum bisa mengganggu Bi Sumarni dengan cerita dari mimpinya semalam. "Kenapa roti ini terasa hambar. Padahal ketika Bibi melihat pipi Kevin yang gembul itu mengunyahnya, Bibi selalu ingin mencicipi. Tapi sekarang ...." "Hmm, ya. Bibi benar. Sepertinya perasaan hati kita sedang tidak baik-baik saja hari ini. Bibi mau kita melakukan apa hari ini? Supaya bisa bersemangat lagi." "Bibi pengen pulang nengokin anak Bibi. Tapi ga tega juga kalau ninggalin kamu sendirian di rumah. Tadinya pengen ngajak kamu dan minta tolong Pak Arip buat nganterin. Bibi jadi inget pesan Bu Pinkan, kalau kita ga boleh ninggalin rumah dalam keadaan kosong melompong." Bunga menoleh melihat jam dinding yang berada di atas televisi. "Sebentar lagi Pak Arip datang. Bibi minta antar Pak Arip aja. Bunga gak apa-apa kok, sendirian di rumah," ucapnya ragu. Setelah semua yang terjadi belakangan ini. Tentu saja Bunga tidak berani tinggal sendirian di dalam rumah. Tapi karena tidak tega melihat Bi Sumarni, akhirnya gadis itu berbuat nekat. "Ya gak apa-apa, Bi. Bunga serius. Lagian ini pagi hari kan. Nanti Bunga duduk di dekat lapangan golf aja sambil liatin orang-orang yang lagi nyapu jalan. Atau kalau engga main basket di luar sambil nunggu Bibi pulang." "Asal Bibi janji, ga sampe zuhur pulangnya. Nanti, kalau Tante Pulang gimana?" ... Bi Sumarni pergi minta di antar oleh Pak Arip. Biar tidak lama di jalan dan menghemat waktu. Gadis itu berharap wanita dengan beberapa orang anak itu bisa melepas rindu sejenak. Semoga setelah kembalinya dari sana, bisa kembali bersemangat untuk bekerja. Matahari terasa hangat pagi itu. Bunga mengunci pintu belakang dan menutup pagar. Ia berjalan-jalan mengitari rumah yang terbentang seperti pesawat terbang itu. Rasa penasaran membawanya ke halaman sebelah kanan yang jarang di bersihkan. Halaman yang banyak tumbuh pohon-pohon willow yang memiliki daun banyak dan menjuntai. Untungnya ada beberapa petugas kebersihan komplek sehingga ia tidak takut untuk sedikit berlama-lama di sana. Semalam ia ingat ada ranting yang menggapai di jendela kamar Kevin. Padahal kalau dilihat saat ini tidak ada satu pohon pun yang tertanam di dekat jendela. Apa ada tanaman yang bereaksi di malam hari ketika bulan purnama? Gadis itu sibuk bertanya dalam hatinya. Ah, iya. Bagaimana dengan Pak Budiono semalam. Apa beliau baik-baik saja, setelah membawa bungkusan hitam itu? Bunga meninggalkan halaman sebelah kanan dan kembali ke dalam rumah. Namun, setiap kali kakinya melangkah ada seperti sebuah embusan napas yang mengikuti. Ah, ini siang hari. Mana ada hantu yang nongol siang hari. Mungkin itu hanya perasaan saja. Gumamnya sendiri. Tapi .... Ia mengingat-ingat ada begitu banyak hal-hal aneh yang terjadi di rumah ini. Tidak hanya di malam hari saja tapi di siang hari ketika matahari bersinar terang pun makhluk-makhluk penunggu rumah ini akan tetap eksis Suara beberapa orang nampak sedang bercakap-cakap tak jauh dari tempat Bunga berdiri. Ia segera mengambil ancang-ancang dan meninggalkan tempat itu. Matanya menatap bangku tempatnya mengobrol bersama Oma Banurasmi dan Opa Jatmiko beberapa waktu lalu. Ia duduk di sana sambil menatap ke arah rumah. Rumah itu tampak artistik, teduh, asri, dan baik-baik saha jika dilihat dari luar ketika siang hari. Namun, ketika dilihat malam hari auranya mencekam, kelam dan menakutkan. Sebenarnya ini bekas tempat apa? Atau tanah-tanah ini dulunya seperti apa?Lagi-lagi benaknya mengumpulkan banyak tanya. Dibalik pertanyaan yang banyak itu tidak sebanding dengan jawaban yang di dapat. Ia bingung harus mencari ke mana untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang memuaskan hatinya. Apalagi Bu Maryam sudah tidak ada. Hmm, kalau begitu sebaiknya kembali ke rumah. Sepertinya sudah terlalu lama berjalan-jalan di luar rumah. Gadis itu ragu untuk pulang ke rumah karena Bi Sumarni belum juga kembali. Matanya memindai ke sekeliling rumah kemudian terhenti pada jendela kamar Tante Pinkan. Seorang wanita berambut panjang tersenyum lebar dengan mata yang membalak besar. Ia melambaikan tangan meminta gadis itu untuk pulang. Si-siapa ituu? Bunga tergagap. Tubuhnya tak berhenti merinding hebat melihat makhluk yang sedang berada di kamar Tantenya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN