Ratu Dayu

2142 Kata
Om Jojon menatap gumpalan asap putih yang mendekati wajahnya. Asap itu awalnya hanya sebesar kepala orang dewasa saja, beberapa saat kemudian membesar dan menjadi lebih besar lagi. Sekarang ia bergerak ke kanan dan ke kiri, ke atas juga ke bawah. Bergoyang dengan lembut. Kemudian mengeluarkan embusan napas sekali lagi. Laki-laki itu terhipnotis untuk beberapa saat. Kakinya mundur beberapa langkah. Ia paham kalau gumpalan asap itu bukan sesuatu yang baik. Ya ... Allah! Ia berteriak histeris dari kamar mandi. Tangan cokelatnya menggedor dengan keras karena pintu tidak bisa di buka dari dalam. Sementara itu Om Atmo yang sedang berada di ruang makan tidak mendengar apapun. Padahal jaraknya dengan kamar mandi tidak begitu jauh. Laki-laki yang sedang dibutakan oleh cinta kekasih gelapnya itu sedang terlena. Gara-gara gumpalan asap, Om Jojon kembali mengompol. Sekali lagi, ia mencoba untuk menggedor-gedor pintu. Tidak hanya dengan tangannya tapi juga dengan kaki kanannya. Diputarnya kembali gagang pintu, berharap ada keajaiban. Dan benar saja pintu terbuka setelah ia memohon pertolongan di dalam hati. Ia buru-buru kembali mengganti celana yang basah. Tahu begini aku ga akan ikut Pak Bos. Laki-laki itu mengeluh di dalam hati. Namun, karena ingat segepok uang yang sudah ia terima dan jika bukan karena istrinya yang terus merengek minta dibelikan motor baru, tentu saja ia akan tetap bekerja dengan tenang tanpa harus ketakutan seperti ini. ... "Hei! Saputangan mu terjatuh." Suara lembut seorang wanita membuat laki-laki tampan itu berhenti dan menoleh. Kain persegi berwarna biru pemberian istrinya itu segera di pungutnya. "Terima kasih," ucap laki-laki tampan itu sambil tersenyum. "Sama-sama," jawab si wanita sambil membuka kacamatanya. Ia memperlihatkan sepasang matanya yang indah dengan bulu mata hitam lentik yang sangat memesona. Sebuah tangan putih terulur. Kuku-kukunya cantik dengan jari-jari yang cantik pula. "Dayu," ucapnya memperkenalkan diri tanpa diminta. Laki-laki tampan itu tergagap setelah menatap matanya. Ia menyambut uluran tangan wanita cantik itu. "Saya, Atmo. Atmo Brotoasmoro," jawabnya sambil membalas jabatan tangan itu mantap. Bagai sengatan listrik si pria tampan merasakan sesuatu sampai ke hatinya. Aneh memang. ... Malam itu si pria tampan terjaga penuh. Padahal disebelahnya terbaring seorang wanita cantik yang sudah dekat dengannya beberapa bulan ini. Wanita cantik dengan semua kecantikan yang ada di dalam dirinya. Menurut laki-laki itu. Ia teringat perjumpaan pertamanya dengan wanita cantik yang dipanggilnya "ratu" sekarang. Padahal ratu sesungguhnya sedang menantinya pulang. Sekarang laki-laki tampan bagaikan seorang pria bodoh yang tergila-gila akan cinta barunya. Tidak ingat anak istrinya. Tidak ingat untuk pulang ke rumah. Mungkin dirinya tidak menyadari bahwa kisah cinta yang seperti ini tidak pernah akan berujung bahagia. ... Sebuah gerakan secepat kilat mengagetkan Dayu. Dengan perlahan ia keluar dari kamar tidurnya mengikuti sebuah gumpalan asap menuju bangunan batu arca. "Itu menjijikan!" teriaknya ketika melihat Dadongnya sedang menjilati cairan hitam kental yang berbau amis. "Aku sedang membuat sesuatu untuk pangeran tampanmu itu. Tentu kau tidak mau dia kembali pada anak istrinya, bukan?" "Ya, benar. Dan Dadong harus memastikan itu semua. Memastikan agar Mas Atmo tidak pernah teringat lagi untuk kembali kepada anak istrinya." Mata wanita muda itu menatap penuh arti. Dadong membalas dengan sebuah senyuman mengerikan. Mereka berdua kemudian tertawa bersama dan tampak amat senang. ... Om Atmo tersentak kaget. Tiba-tiba saja peluh membanjiri keningnya. Entah mengapa ia merasakan tak enak hati. Wajah anak dan istrinya berkelebatan di pelupuk mata. Kepalanya begitu pusing. Wajah cantik Dayu juga seolah merayunya untuk melupakan keluarganya. Namun, laki-laki tampan itu merasa ada sesuatu yang hilang. Dayu memasang telinga baik-baik. Wanita itu mendengar bahwa pujaan hatinya menyebut nama anak dan istrinya. Berulang kali. Dan itu membuatnya kesal. Bersabar, itu yang bisa ia lakukan saat ini. Mantra yang dibuat Dadong memang belum sepenuhnya sempurna. Wanita tua mengerikan itu harus mencari tumbal perawan agar mantra dan ramuan yang dibuatnya tidak ada yang bisa mengalahkan. "Mas, Mas kenapa?" tanya Dayu dengan lemah lembut. "Mas sedikit pusing. Tiba-tiba teringat pekerjaan kantor yang banyak," jawabnya bohong. "Sepertinya, Mas harus pulang besok," sambung laki-laki itu lagi sambil memijat pelipisnya. "Tapi, Mas Atmo nanti ke sini lagi, kan?" "Ya, tentu saja Mas akan ke sini. Atau kamu saja yang ke kota kalau Mas sibuk," ucapnya sambil menarik dagu wanita cantik itu. Sebenarnya si wanita cantik kesal mengetahui bahwa laki-laki itu akan pulang ke kotanya. Tapi mau bagaimana lagi. Tentu dirinya juga tidak akan mau kalau si laki-laki jatuh miskin karena tidak bekerja. Dayu meninggalkan laki-laki tampan yang sedang berkemas di kamar. Kemudian ia juga memberitahu Om Jojon yang sedang beristirahat di pondok depan, bahwasanya besok mereka akan pulang. Perkataan itu bagaikan angin surga bagi si sopir setia itu. Dan tentu saja sudah tidak sabar menanti datangnya pagi. ... Dayu duduk bersila pada ruangan gelap di ujung bangunan arca. Berbagai macam aroma bunga menguar dari dalam sana. Mulut indahnya komat-kamit seperti sedang membaca sesuatu. Ia kemudian menyalakan empat buah dupa besar. Asapnya membumbung tinggi dan menghadirkan suatu sosok makhluk yang mengerikan. Wanita itu mendadak panik. Perutnya terasa panas dan bergejolak. Ia kemudian menelan ludah karena makhluk yang hendak dikirimkannya ke suatu tempat ternyata dikirim kembali oleh sesuatu. Sesuatu itu seperti memiliki kualitasnya tersendiri. Dayu menganggap dirinya sudah kalah kali ini. Ia ingin mengadukannya kepada Dadong. Namun, Dadong sedang dalam perjalanan spiritual mencari seorang gadis perawan yang memiliki aroma harum. Biasanya Dadong menyebutnya dengan gadis siwa. Gadis yang raga dan aromanya disukai oleh kaum lelembut. Sayangnya untuk saat ini wanita tua itu tidak tahu harus mencari ke mana. ... Pagi tiba. Sinar matahari berwarna jingga membuat jiwa dan raga terasa hangat. Om Jojon begitu bersemangat untuk pulang. Tidak demikian dengan Om Atmo. Ia seperti enggan. Namun, tak sepenuhnya juga ingin tetap di sini. Dadong dan Dayu mengantar mereka sampai ke gerbang utama tempat mobil mereka terparkir. Dayu mencium pipi laki-laki tampan itu. Om Jojon memalingkan wajahnya karena kesal kemudian mengucap istighfar. Om Atmo berpamitan dengan Dadong. Ia lebih dulu masuk ke dalam mobil dan mengatakan kalau kepalanya pusing. Kotak makan siang bersusun empat diberikan Dayu kepada Om Jojon. Katanya itu bekal makan siang selama mereka diperjalanan. Karena bos tampan tak melihatnya, Om Jojon berniat untuk tidak memberikan makanan itu. "Terimakasih banyak, Dadong. Kami pulang dulu," ucap Om Jojon terburu. Rasanya ia tidak ingin menginjakkan kaki ke sini lagi walau nanti diberi uang beberapa gepok. Beribu kali ia mengucap syukur karena bisa kembali ke kota. Dengan tubuh gemetar karena menahan rasa senang yang begitu besar, Om Jojon mulai melajukan mobil gagah itu membelah hutan. Jam kulit hitam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 09.00. Om Jojon memperlambat laju mobilnya. Ia menoleh ke arah kursi belakang dan melihat si bos sedang tertidur. Mobil itu berhenti di sebuah musala di pinggir sungai. Marbot sedang menyapu halaman yang penuh dengan dedaunan. Setelahnya daun-daun itu di bakar dengan ranting sebesar telunjuk orang dewasa. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Marbot ramah. "Pak, maaf. Boleh saya menumpang untuk salat duha?" "Oh, silakan, Nak. Temannya ga diajak salat sekalian?" "Oh, itu bos saya, Pak. Lagi tidur. Saya ndak berani buat bangunin." "Sesama saudara itu wajib saling mengingatkan, Nak. Mengingatkan yang baik. Mengajak kepada jalan kebaikan. Kalau sudah diingatkan tapi yang punya badan tidak mau. Setidaknya kamu tidak memiliki rasa bersalah di hatimu." Om Jojon mendengarkan dengan khusyuk. Ingatannya berkelebat dan entah mengapa perkataan bapak tua itu sangat pas pada situasinya saat ini. "Baik, Pak." Bapak Marbot tua berjanggut putih itu sudah tidak ada lagi di sana. Namun, perkataannya selalu diingat Om Jojon. Duha dua rakaat dan beberapa doa sudah disampaikan dengan kerendahan hati. Doanya yang diharapkan cepat terkabul adalah keutuhan rumah tangga si bos dan istrinya. Ada rasa bersalah menggebu di relung hatinya. Ia tidak tahu harus menebus dengan cara yang bagaimana. Om Jojon berkeliling musala yang di cat dengan warna hijau pandan. Hanya angin yang bisa dijumpainya. Selebihnya lengang. "Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu," ucap Om Jojon walau tidak ada seseorang pun di dalam musala yang sangat indah itu. Sebelum berangkat ia teringat kotak bekal yang dibungkus kain merah oleh Dayu dan Dadong. Entah bisikan hati dari mana sampai ia berinisiatif untuk membakarnya bersama dengan daun-daun yang dibakar oleh Marbot tadi. Ranting yang berselimut api memberikan suara gemeretak. Angin bertiup sepoi-sepoi menyapa wajah kuyu Om Jojon. Ada perasaan lega karena dirinya sudah berhasil menyingkirkan makanan dari nenek sihir itu. Perutnya juga menahan lapar karena yang ia makan selain nasi dan rendang, juga beberapa camilan yang dibawakan Bunga dalam tas ranselnya. Di dalam mobil ia melihat laki-laki tampan mengenakan kemeja kotak putih merah masih tertidur pulas. Terdengar hela napas berat kemudian bisikan lirih dari mulut sopir yang sudah mengabdi hampir sepuluh tahun itu. "Maafkan saya, Pak." ... Om Atmo terbangun saat mobil terasa panas. Padahal sopirnya susah menutup tirai kaca yang ada di sebelahnya. Ia menyibak selimut dan mengulet seperti anak bayi yang baru lahir. "Sudah di mana kita, Jon?" "Satu setengah jam lagi masuk kota, Pak." "Kita mampir makan siang, Jon. Laper," ucapnya sambil mengucek mata. Sopir setia mengangguk. Ia menatap mata bosnya dari pantulan kaca. Mata laki-laki tampan itu tampak berubah-ubah. Kadang seperti kosong dan bukan seperti dirinya. Kadang terlihat sorot mata tegas, berapi-api dan ambisius, cerminan sejatinya. "Mau makan apa, Pak? Padang, Sunda, atau yang anget-anget?" Si bos terkekeh mendengar penuturan sopirnya. Gigi gingsulnya terlihat saat ia sedang tertawa lepas. Hati sopirnya mendadak hangat. Matanya berkaca-kaca. Tetaplah seperti ini, Pak. Lantas ia mengucapkan Aamiin ratusan kali. Berharap Allah akan mengabulkan permintaannya. ... Setelah melewati rel kereta yang tak terpakai lagi, mobil masuk ke dalam sebuah kota kecil yang cukup ramai. Spanduk rumah makan bertebaran beraneka warna. Om Jojon memperlambat laju mobilnya. Ia menyebutkan nama warung dan makanan yang dijual satu per satu. Si laki-laki tampan memejamkan mata sambil bernegosiasi dengan perutnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah warung makan sunda yang asri. Banyak pondokan bambu dan kolam ikan buatan di sekitarnya. Alunan musik khas sunda mengiringi langkah mereka menuju sudut paling ujung. Baru duduk beberapa saat, telepon genggam lipat samping milik Om Atmo berdering. Nomor telepon yang sangat familiar di matanya. Percakapan terjadi sekitar 5 menit kemudian ditutup. "Si gembul nanyain sudah sampai mana. Dia juga ngambek katanya telpon kenapa ga aktif," seloroh si bos kepada sopirnya. "Oh, Kevin. Mau dibawain oleh-oleh apa nanti dia, Pak," tanya sopir karena ia tahu selepas dari perjalanan, pasti bos kecilnya itu akan meminta oleh-oleh. Ya, perjalanan ... Walaupun ini sebuah perjalan palsu. Tapi seisi rumah itu mengetahui bahwa mereka sedang melakukan perjalanan bisnis. Ah, ntah berapa banyak dosa yang bertumpuk saat melakukan perjalanan ini. ... Sudah hampir 90 menit tapi mereka tidak sampai ke gerbang perbatasan daerah. Padahal biasanya dengan perhitungan waktu seperti itu mereka sudah sampai ke rumah. Pohon-pohon jati terlihat berlarian saat mobil berjalan cepat. Lahan pekuburan dengan nisan berwarna hitam menjadi penanda bahwa mereka sudah melewati tempat ini sebanyak enam kali. Om Jojon tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ekspresi wajahnya mulai menegang tatkala melihat kuburan bernisan hitam untuk yang ke tujuh kalinya. Ia menelisik jam tangan. Sudah masuk waktu zuhur. "Bapak mau salat zuhur ga?" pertanyaan itu tidak direncanakan. Tidak juga dibuat-buat. Meluncur dengan sendirinya karena rasa sayangnya kepada sang bos. Memang benar Allah yang membolak balikkan hati manusia. Tak dinyana laki-laki tampan itu mengangguk takzim. Rasanya saat itu Om Jojon ingin melakukan sujud syukur. Mereka berjalan di sebuah padang rumput yang didepannya mengalir aliran kali kecil, mengambil air wudu kemudian salat menggunakan sajadah yang sudah disiapkan Bunga. Hari itu hari yang indah bagi si sopir. Tapi tidak bagi laki-laki tampan. Selesai salat mereka mulai menemukan jalan pulang. Namun, kepala keluarga Brotoasmoro itu merasakan hawa panas yang tak kunjung reda. Matanya memerah dengan wajah yang selalu kencang. Urat-urat tangannya menyembul keluar. Reaksi tak biasa itu ditangkap oleh Om Jojon. Ia menyaksikan bahwa si bos sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jeleduk! Sebuah suara membuatnya harus menghentikan mobil karena jalannya sudah mulai tersendat. Laki-laki itu turun. "Kenapa, Jon?"tanya bosnya. "Kempes, Pak." "Telpon Pak Arip saja minta jemput. Sudah ada signal, kan?" "Baik, Pak." Om Jojon menelpon Pak Arip yang saat itu sedang mengantarkan Kevin, Tasha dan Bunga kursus Bahasa Inggris. Ia lega karena Pak Arip bersedia untuk langsung menjemput setelah mengantar anak-anak itu. Namun, setelah menjelang senja Pak Arip belum juga datang. "Coba telpon lagi, Jon!" Om Jojon menelpon kembali. Ia harus kecewa karena hanya terdengar nada putus dari sambungan telepon itu. "Di luar jangkauan, Pak." "Coba nanti biar saya telpon ke rumah." Om Atmo menelpon ke rumah. Bi Sumarni yang mengangat telpon. Ia mengatakan kalau Pak Arip sudah pergi sejak jam tiga tadi. Mereka menunggu lagi. Bisa saja mereka pulang dengan menumpang mobil orang lain dan mobil gagah ini bisa di derek. Tapi bukan Atmo Brotoasmoro namanya kalau harus memelas dan meminta pertolongan orang lain yang tidak dikenalnya. Suara azan magrib tipis-tipis terdengar. Disekitar mereka tidak ada rumah penduduk. Mungkin beberapa kilo dari tempat mobil mereka berhenti. "Untung tidak kempes di pekuburan tadi. Ternyata Allah sangat sayang kita," ujar Om Jojon kepada bosnya yang sedang mengelap peluhnya dengan sebuah sapu tangan merah jambu dengan inisial bordir Dy. "Jangan, Pak!" teriak Om Jojon ketika melihat sapu tangan itu menyentuh wajah si bos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN