Dusun Buto

2005 Kata
Sebuah mobil Nissan Terrano terlihat menyusuri jalan tanah yang sempit. Atmo berpegangan pada handle yang terletak di sisi kirinya sambil memandang lurus ke depan. Sejauh mata memandang hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi. Terasa dingin karena sinar matahari tidak bisa menembus sampai ke sini. Seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun sesekali melirik ke arah bosnya. Di dalam hatinya ia mengucap maaf berulang kali. Entah untuk siapa. "Belok ke kanan, Jon," ujar laki-laki parlente itu. "Baik, Pak." Sopir itu menurut saja dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Ia masih memiliki tanggungan empat orang anak dan dua orang tua yang masih harus dipenuhi kebutuhannya. Pemilik gigi putih dan rapi itu sudah mencoba melamar pekerjaan di tempat lain. Namun, sepertinya ia harus bertahan bekerja bersama si laki-laki parlente. Walaupun hatinya terkadang ingin memberontak dan melawan. Saat ini belum bisa dilakukan. "Ma, nanti Papa mungkin akan pergi keluar kota. Ga lama, cuma tiga hari aja," ucap laki-laki tampan kepada istrinya yang juga cantik rupawan. "Papa ajak Jojon biar bisa gantian nyopirnya," sambungnya lagi. "Kapan berangkatnya, Pa? Nanti biar Mama sama Bunga siapin kebutuhan Papa selama di sana. Mau dibawain bekal apa?" "Pakaian santai aja, Ma. Dan beberapa kemeja. Kliennya orangnya juga santai. Jadi ga perlu pakaian formal. Bikinin rendang sama nasi pulen buat di jalan." Laki-laki berkumis tipis teringat obrolan kedua orang suami istri itu ketika berada di ruang tengah. Ia hanya bisa menundukkan kepala. Pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa saja. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin. Sekarang ia di sini dengan laki-laki yang dianggap orang-orang suami paling baik dan sempurna. Di tengah hutan belantara hanya untuk menjumpai keluarga dan wanitanya yang baru. ~Selamat Datang di Dusun Buto~ Sebuah papan di cat putih terpancang lesu di tanah merah becek. Mereka kemudian mengambil jalan lurus. "Masih jauh, Pak?" tanya laki-laki yang biasa dipanggil Om Jojon itu. "Mungkin masih satu jam lagi dari sini. Kamu capek, Jon? Apa mau makan dulu?" tanya si laki-laki tampan. "Iya Pak, boleh. Siapa tahu nanti nemu musala di depan. Saya mau solat Zuhur." Mobil beberapa kali terguncang. Om Jojon melihat sekelebatan rusa yang sedang berlarian di tengah hutan. Tidak lama mereka melihat sebuah musala yang tampak sepi. Tempat ini sepertinya tidak berpenghuni. Laki-laki itu turun dari mobil sambil membawa sajadah dan peci yang selalu dibawa ke mana saja. "Saya salat sebentar, Pak," ucapnya sambil menyerahkan bungkusan bekal yang sudah disiapkan istri bosnya itu tadi subuh. "Nanti saja makannya, setelah kamu selesai salat. Saya mau tidur sebentar sambil nunggu kamu." Om Jojon memasuki musala itu dengan hati ketar-ketir. Bagian dalam musala terlihat cukup bersih tapi dari luar terlihat kusam seperti tidak terawat. Rumput-rumput tinggi berdiri dengan gagah di sebelah tempat wudu. Ia memandang berkeliling karena terdengar suara keran yang terbuka. Namun, tidak ada seorang pun di sana. "Mungkin keran ini rusak," ucapnya. Mencoba untuk berpikir baik. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan salatnya. Ia sudah kembali ke dalam mobil bersama bosnya. Ketika pintu mobil di buka, si bos ikut terbangun. Om Jojon menyiapkan peralatan makan dan air cuci tangan. Mereka makan bersama di dalam mobil dengan perasaan hati masing-masing. "Kamu istirahat dulu, Jon. Saya mau merokok di luar sebentar. 30 menit saya kembali lagi." "Iya ... Pak." Di bungkusnya kembali rendang yang tidak habis di makan. Hatinya merasakan nyeri mengingat seorang wanita yang memasak masakan itu dengan cinta kasih untuk suaminya. Namun, malah .... Semoga Allah mengampuni dosaku. Ia bergumam lirih. Tuas jok ditariknya sehingga kursi mundur ke arah belakang. Tubuhnya lumayan lelah dan matanya juga mulai mengantuk. 30 menit bukan waktu yang lama tapi cukup untuk merilekskan badan. Laki-laki parlente yang mengenakan kaos polo merah itu berdiri di depan musala untuk merokok. Ia terkejut ketika gorden hijau bagian depan terlihat bergerak. Ah, mungkin itu hanya angin. Gumamnya. Angin entah mengapa berbeda rasanya ketika menyapa tengkuk. Ia menelisik jam Rolex di pergelangan tangannya kemudian bergumam. Mungkin sebentar lagi sampai atau paling lama satu jam. Sebatang rokok sudah habis. Namun, sepertinya satu batang rokok belum membuat moodnya baik. Dikeluarkan lagi dari dalam kotak rokok berwarna putih tapi gerakannya tertahan saat matanya menangkap sesuatu. Ia mendekati bagian depan musala. Gorden hijau itu bergerak lagi. Seorang laki-laki tua dengan rambut putih panjang sedang memainkan gorden. Di buka dan ditutup. Seperti itu berulang kali. Giginya yang hitam dan ompong tampak mengerikan ketika tertawa cengar-cengir. Seperti sedang menertawakan si laki-laki parlente. Yang membuat heran dan mengerikan ketika kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia berkata dengan suara besar dan menggelegar. "Mule ooo ...." Laki-laki parlente bergegas masuk ke dalam mobil. Membangunkan sopir dan melanjutkan perjalanan menuju Dusun Buto. "Lewat ke situ, Jon," si bos memberitahu. "Berhenti di bawah pohon besar itu! Mobil ga bisa masuk ke dalam, jadi parkir di sini saja. Ayo, bawa tas-tas kita!" perintahnya. Mereka berjalan melalui jalan setapak kecil kemudian menerobos ke dalam hutan. Jojon heran mengapa bosnya begitu hafal dan paham seluk beluk dusun. Mungkinkah bosnya itu sudah berulang kali datang ke sini? Sambil memanggul tas ransel yang lumayan berat, Om Jojon tak banyak bicara. Ia hanya mengikuti ke mana kaki bosnya melangkah. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah danau yang airnya berwarna kehijauan. Ada sebuah rumah besar terbuat dari kayu dengan berbagai tumbuhan dan bunga warna-warni disekelilingnya. Kok ya ada rumah di tengah hutan begini. Gumam Jono takjub. Pondok-pondok bertebaran disekitar rumah kayu besar. Atapnya terbuat dari pelepah yang dianyam. Padahal di sepanjang jalan tidak ada orang. Tapi bikin pondokan sebanyak ini. Om Jojon merasa aneh. Pandangannya terhenti ketika bosnya disambut oleh seorang perempuan cantik, tinggi, dan putih. Mereka terlihat akrab dan dekat. Wanita itu mencium pipi laki-laki parlente tanpa malu-malu. Om Jojon lebih memilih duduk di pondok dari pada masuk ke dalam rumah. Toh, tidak ada undangan untuk itu. Bosnya sudah masuk ke dalam rumah kayu bersama wanita cantik berambut hitam panjang tadi. Bambu-bambu itu berderak saat Jojon membaringkan tubuhnya. Dari posisinya berbaring ia melihat berbagai macam kepala hewan di atas pondokan. Matanya tetap tidak mau terpejam. Pikirannya campur aduk antara perasaan bersalah dengan kemalangan diri karena begitu segan dengan bosnya. Ia bangun dan mencoba untuk berkeliling. Di bagian samping terdapat tiruan air mancur yang terbuat dari bambu yang disambungkan. Entah dari mana asalnya air-air itu. Kolam ikan menjadi pemberhentian terakhir air yang di bawa oleh bambu. Pantulan wajahnya terlihat begitu lusuh. Ia mengusap dengan telapak tangannya. Terlihat bayangan wanita tua berdiri di sebelahnya dalam pantulan. Om Jojon mengucap istighfar dan mundur beberapa langkah. Sepertinya ada yang aneh di rumah ini. Ucapnya dalam hati. Ia semakin yakin kalau ada sesuatu di rumah ini. Apalagi setelah ia menemukan sebuah bangunan yang tidak begitu besar yang terbuat dari batu. Sayang pintu jati itu di gembok dan tidak ada jendela ataupun celah. Sehingga ia tidak bisa mengintip. Empat buah arca batu berbentuk kepala makhluk dengan lidah menjulur dan mata besar membuat yang melihatnya bergidik. Bangunan apa, ini? Gumaman laki-laki 30 tahun itu dijawab oleh wewangian dupa dan bunga kamboja dari arah ruangan batu. Kemudian sesuatu terlihat melayang di udara. ... "Cari siapa?" Sebuah suara mengagetkan Om Jojon. Ia tergagap. Sesuatu yang melayang tadi tiba-tiba menghilang. Yang ada di hadapannya kini adalah seorang wanita tua bungkuk dengan rambut panjang sebatas pinggang. Mungkin salah lihat tadi. Sepertinya aku begitu kelelahan. "Saya datang bersama Bapak Atmo," jawab Om Jojon tergagap. "Oh ... Silakan-silakan duduk di pondok. Sudah makan?" tanya wanita tua dengan wajah yang berbeda dengan tadi. Lebih ramah walaupun tetap ada kesan menakutkan dari sorot matanya. "Baik terima kasih, Bu." "Panggil saya, Dadong," sergahnya sambil menghentakan kaki kanannya ke tanah. Seketika tubuh Om Jojon lemas tak berdaya. Ia mengangguk dengan tatapan mata yang kosong. "Silakan duduk di pondok. Nanti akan saya siapkan makan dan minum." "Baik, Dadong." Om Jojon berjalan meninggalkan bangunan batu menuju pondok. Ia duduk bersandar pada dinding pondok. Setelah makan dan minum, ia merasakan ngantuk yang luar biasa. Dibukanya baju safari berwarna dongker karena terasa gerah. Tas ransel dijadikan alas kepala dan akhirnya Om Jojon tidur tanpa ingat apa-apa lagi. Nyanyian kumbang malam sudah terdengar. Rembulan pucat pasi bulat sempurna terlihat dari bumi. Laki-laki penyuka kopi s**u itu terbangun dan mengutuk dirinya karena tidur terlalu lama. Ada dua buah bantal dan selimut tebal tergeletak di atas meja. Sebuah kendi berisi air dan beberapa jenis buah-buahan tropis. Bebek betutu dan nasi pulen masih ditutup daun pisang. Belum disentuh sama sekali. Apa ini makan malamku? tanyanya sendiri. Namun, entah mengapa ada suatu bisikan dari dalam hatinya untuk tidak menyentuh makanan yang berasal dari rumah itu, setelah apa yang terjadi tadi sore. Ia lalu teringat nasi dan rendang yang di bawa dari rumah. Seperti terselamatkan, Om jojon lebih memilih memakan makanan yang dibuatkan oleh istri bosnya. Selama ia terbangun, makan, dan salat, tidak terlihat satu orang pun keluar dari rumah. Sebenarnya ia sedikit khawatir tentang keadaan si bos. Tapi setelah dipikir-pikir, bos parlente itu bukanlah anak kecil yang harus diperhatikan setiap langkahnya. Kadang ingin sedikit menasehati, memberitahu bahwa yang ia lakukan ini salah, bahwa yang ia lakukan ini adalah godaan. Apalah daya dirinya hanyalah seorang pesuruh yang tidak pernah di dengarkan kata-katanya. Semoga Pak bos baik-baik saja di dalam sana. Katanya dengan suara yang gemetar. Beberapa batang rokok tidak membuat dirinya tenang. Ia mondar-mandir di depan pondok sambil melihat ke arah pintu jati tebal tempat laki-laki parlente masuk tadi siang. Berharap kalau-kalau bosnya itu keluar dan mengobrol dengannya. Namun, sepertinya Atmo Brotoasmoro sedang lupa kalau ia datang bersama sopir setianya. Atau mungkin ada yang sengaja membuatnya "lupa". Dibukanya tas ransel itu sambil membereskan pakaian dan barang-barang di dalamnya. Setelah hampir selesai, ia menemukan sebuah Alquran saku terselip di bagian kantong paling depan. "Om Jojon, Bunga pinjamin Alquran saku, Ya. Siapa tahu nanti Om pengen ngaji atau apa gitu sambil nunggu Om Atmo kerja," ucap gadis itu. Ya, benar. Laki-laki itu teringat saat Bunga memasukkannya saat ia sedang memanaskan mobil sebelum berangkat tadi. Dibukanya Alquran bersampul merah muda itu setelah mengucap taawuz dan basmalah. yā sīn wal-qur`ānil-ḥakīm Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di dobrak. "Jangan macam-macam!" teriak sebuah suara tanpa wujud. Malam begitu pekat dan gelap. Semua benar-benar hitam. Lampu bambu kecil hanya memberi penerangan sedikit saja di bagian dalam pondok. Om Jojon tidak mengetahui kalau suara itu berasal dari sebuah makhluk hitam, tinggi dan besar yang berada di satu meter di depan pondok. Namun, seolah tidak peduli ia melanjutkan bacaannya. innaka laminal-mursalīn 'alā ṣirāṭim mustaqīm Makhluk berbulu serupa Yeti itu merundukan kepalanya kemudian memelototi Om Jojon yang masih khusyuk mengaji. "Ha ha ha!" Makhluk besar tertawa sinis. Cairan berbau amis mengucur deras dari bagian mulutnya. Gigi yang besar dan runcing bergemeretak seolah ingin minta makan. Dari bangunan batu tercium aroma dupa dan wewangian. Sejurus kemudian makhluk itu mendekat ke sana. Perlahan ia menghilang meninggalkan Om Jojon yang mengompol di celana karena menahan rasa takutnya. "Ah, bagaimana bacaan surah Yasinku kalau aku mengompol," rutuknya. Makhluk apa itu, tadi? Dan tempat apa ini sebenarnya? ... "Jangaaan!" Sebuah pekikan melengking terdengar sampai ke pondok. Suaranya berasal dari tempat si makhluk besar menghilang. Walau ada perasaan takut Om Jojon bergegas bangun dan turun dari pondok. Ia sampai lupa mengenakan sepatunya. "Mau ke mana kamu, Jon?" Seseorang yang ditunggunya sejak tadi akhirnya keluar juga. Disebelahnya berdiri seorang perempuan cantik, putih, dengan rambut hitam panjang. Dagunya runcing seperti lebah tergantung. Matanya indah. Namun, mengandung "sihir". "Sa-saya ... ta-tadi ada ...." "Kamu ngompol, Jon" Om Jojon menggaruk kepalanya dan tersenyum malu. "Saya dari tadi nyari kamar mandi, Pak. Ga ketemu-ketemu." Si perempuan cantik mempersilakan Om Jojon untuk masuk ke dalam rumah kayu besar. Ruangan demi ruangan yang begitu luas di lewati. Tidak banyak perabot di dalam sana. Rumah sebesar itu hanya berisi kepala-kepala hewan yang sudah di awetkan dan beberapa patung mengerikan. Pada bagian rumah paling ujung terdapat sebuah pintu yang di cat merah. Si wanita cantik mempersilakan Om Jojon masuk ke dalam sana. Laki-laki itu masuk membawa pakaian ganti. Tas ranselnya ia gantung di atas paku di tiang depan pintu. Tinggal sedikit lagi Om Jojon menuntaskan urusannya di kamar mandi tiba-tiba terdengar suara napas di telinganya. Napas yang begitu dingin. Apa itu? laki-laki berkumis tipis itu bertanya-tanya. Jantungnya langsung memacu kencang. Embusan napas tak hanya terasa ditelinga. Kini hawa dingin mulai tiba di depan wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN