Aroma tajam menusuk hidung tatkala si gadis Converse semakin mendekat. Kemeja putihnya mendadak berubah warna menjadi merah. Wajah cantik itu berubah.
Bunga mengumpulkan keberanian tapi tetap saja lututnya terasa lemas. Napasnya naik turun seolah ingin berlari dari paru-parunya. Ia rasanya ingin pingsan saat itu juga.
"A-a-apa mau kamu? Aku punya salah apa?"
"Bukankah, kamu mengajak untuk pulang bersama. Aku mengabulkannya."
Gadis itu teringat saat di tempat kursus tadi dirinya menawarkan si gadis Converse untuk pulang bersama. Dan benar saja, sekarang makhluk itu berada di sini. Tepat dihadapannya.
Tawanya menggema. Senyum seringai lebar menghiasi wajahnya yang penuh dengan luka. Remuk seperti terhantam sesuatu. Sepasang tangan pucat terjulur ke depan seolah ingin menggapai. Bunga tidak bisa berbicara lagi. Ia bingung. Pikirannya kacau. Yang bisa ia lakukan hanya mengucap Allah dan Allah saja di dalam hatinya.
Si gadis Converse sudah berada tepat di depan Bunga. Makhluk itu menangis. Tangisnya membuat Bunga semakin takut. Dari kedua mata yang mengerikan itu mengeluarkan darah yang mengucur deras. Suaranya begitu lirih menyayat hati.
"Tolooong! Aku kedinginan dan kesepian. Apa kau mau menemaniku? Tentu aku akan senang kalau bisa mendapatkan teman."
Bunga berusaha keras untuk meninggalkan tempat itu tapi kaki dan otaknya tidak mau diajak bekerja sama. Tiba-tiba Si gadis Converse menghilang sejurus dengan suara berdeham-deham tanpa wujud datang tanpa diundang.
Bunga melihat ke seluruh jalan gelap. Tidak ada apa-apa di sana. Ia masih shock atas kejadian barusan. Namun, dirinya sadar harus segera pulang karena hari sudah sangat malam untuk ukuran gadis sepertinya. Tidak dihiraukan sol sepatu yang menyebabkan sakit karena sudah bolong tergerus aspal.
Berlari dan semakin kencang berlari. Sedikit lagi. Sudah terlihat rumah besar yang terbentang seperti pesawat terbang. Namun, ia harus kecewa karena melihat pagar garasi sudah ditutup.
"Apa orang di rumah tidak ada yang mengetahui kalau ia belum pulang kursus? Apa tidak ada yang mencarinya?Mengkhawatirkannya?"
Gadis itu tersadar bahwasanya bukan siapa-siapa di rumah itu. Dirinya tak lebih dari seorang asisten rumah tangga saja.
Bunga memanjat pagar setinggi 2 meter di dekat lapangan basket. Ia melompat dengan mudah karena ada batu pijakan dan sampai di dinding sebelah belakang kamar Tante Pinkan. Ia kemudian berjalan sedikit menuju jemuran dan menemukan pintu belakang.
"Assalamualaikum ...."
"Bi ... Bibi ... Buka pintunya, Bi! Bunga sudah pulang."
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada seorang pun yang berada di ruang tengah. Gadis itu menggedor lebih keras, berulang kali.
"Bi ... Bibi ... Tolong buka pintunya!"
"Bu, Bunga sudah pulang."
Keadaan disekitar tidak membuatnya merasa baik. Gudang yang gelap. Lampu garasi yang remang, membuatnya harus mengerahkan upaya agar Bibi bisa mendengar panggilannya. Bi Sumarni bukan tipe orang yang tidur begitu pulas. Ia akan segera bangun bahkan ketika terdengar suara angi. Tapi malam ini tidak seperti biasanya.
Gadis itu memilih untuk kembali melompati pagar agar bisa mengetuk dari pintu depan. Ia melewati jendela kamar Tante Pinkan tapi merasa tidak pantas kalau harus menggedor jendela itu. Takutnya Tante sudah tertidur pulas dan nanti malam mengagetkan. Dibukanya sepatu yang sudah basah dan berjalan menuju jajaran pintu kaca yang panjang.
"Assalamualaikum ... Bi," ucapnya dengan tubuh yang menggigil.
"Assalamualaikum ... Bi Sumarni!" teriaknya sekali lagi.
Hal seperti inilah yang terkadang membuat bersedih dan terluka. Kalau tidak mengingat kelas yang masih tersisa beberapa bulan lagi dan mendapatkan sertifikat, ia pasti sudah memilih pulang ke rumah Nini.
Ditempelkannya ujung hidung yang bulat itu ke kaca yang dingin karena udara malam. Tetap saja tidak ada seorangpun yang terlihat. Ia turun dari undakan tangga teras dan kembali melewati pagar. Diketuknya jendela kamar Tasha beberapa kali karena mendengar suara televisi hidup.
"Tasha ... Tasha, tolong bukain pintunya."
"Kevin ... Kevin. Kak Bunga baru pulang kursus. Tolong bukain pintunya, Dik."
Namun, jawaban dari dalam kamar membuat jantungnya berdebar.
"Mari ... kita pulang bersama!"
Bunga bergidik. Ia duduk bersandar di dinding. Seperti kehilangan akal sehat ia membenturkan kepalanya beberapa kali.
Sebuah cahaya menyorot ke arah garasi. Matanya berkeliling mengikuti arah datangnya cahaya. Sebuah mobil yang sangat dikenalnya berada di depan pagar dekat lapangan basket. Bi Sumarni turun dari dalam mobil dan membuka pagar.
Bunga melangkah lunglai tapi juga merasa lega. Tidak ada niat sedikit pun untuk menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya barusan.
Tante Pinkan, Kevin dan Tasha turun dari mobil.
"Kak Bunga kehujanan?" Kevin bertanya sambil memegang pakaiannya.
"Buruan mandi, Kak dan pakek pakaian hangat."
"Nanti Bi Sumarni buatkan, Teh panas."
"Ada minyak kayu putih Kak, di kamar Tasha. Nanti, Tasha anterin ke kamar belakang, ya."
"Ngobrolnya di dalam aja, yuk. Kayaknya mau hujan lagi."
Masing-masing membawa satu kantong belanjaan dan masuk ke dalam rumah. Bi Sumarni sendirian menutup pagar. Gadis yang basah kuyup itu buru-buru mandi dan membungkus rambut keriting panjangnya.
Tasha memanggilnya saat Bunga sedang mencari kaus kaki kering untuk dipakai.
"Kak, ini minyak kayu putihnya," ucapnya sambil menyodorkan sebotol minyak kayu putih.
"Terima kasih, ya."
"Tadi waktu pergi, Tasha lupa matiin televisi ya?"
"Nonton tv? Tasha ga nonton tv hari ini. Tadi waktu masuk kamar televisinya juga mati kok kak. Kabelnya juga ga dicolokkan. Memangnya kenapa, Kak?"
"Ah, ga ada apa-apa kok."
Andai saja semua tahu, betapa panjang dan melelahkan malam ini.
Digosoknya seluruh badan dengan minyak kayu putih yang dipinjamkan Tasha. Ditunaikan salat isya saat rambutnya sudah setengah kering. Di penghujung doa Bunga teringat sosok si gadis Converse dan mengirimkan sebait pengharapan baik untuk gadis itu.
Bi Sumarni masuk dan membawa secangkir teh dalam cangkir stainless. Di sebelahnya ada nasi putih hangat dengan telur dadar yang harum.
"Makan dulu baru istirahat."
Bunga menggeleng. Seperti tidak ada semangat.
"Makanlah walau kamu tidak ingin. Kita bukan dalam rumah yang nyaman. Kita dalam keadaan menumpang di rumah orang lain."
Bi Sumarni benar. Yang dikatakannya itu semuanya benar. Bunga mengucap basmalah dan membaca doa makan. Kemudian ia makan dengan lahap sambil menahan tangis.
Malam itu ia memilih tidur bersama Bi Sumarni. Tidak dihiraukannya Tasha yang berulang kali datang ke kamar untuk minta ditemani tidur.
Tengah malam tubuhnya menggigil kedinginan. Namun, ketika Bi Sumarni menempelkan tangannya ke kening terasa sangat panas.
Wanita paruh baya itu membuka beberapa lipatan pakaiannya kemudian mengambil sebuah obat yang selalu ia siapkan.
"Kak, bangun minum obat dulu."
Bunga tidak ingin membuat Bi Sumarni khawatir. Ia segera bangun dan meminum obatnya walau saat itu kepalanya terasa sangat pusing dan semua tulangnya sangat sakit.
Bunga kembali tidur. Bi Sumarni ke dapur mengambil baskom berisi air hangat. Ia juga membawa termos ke dalam kamar, agar gadis itu bisa sering minum air hangat. Sampai pagi hari demam belum juga turun. Jadi diputuskan selama beberapa hari dirinya harus makan, minum, dan beristirahat di kamar belakang.
"Bunga ke mana, Bi?" tanya Tante Pinkan ketika Bi Sumarni menyajikan sarapan pagi.
"Demam, Bu. Biar istirahat dulu. Nanti, semua pekerjaannya saya yang kerjakan."
"Ga apa-apa, Bi. Bibi masak aja. Kamar saya dan anak-anak ga usah dibersihkan."
Biar bagaimanapun, Tante Pinkan tidak mengizinkan orang lain untuk membersihkan kamar anak-anak dan kamarnya. Ia lebih memilih kamar itu tidak dibersihkan dari pada harus meminta orang lain mengerjakan.
"Nanti saya belikan obat dan camilan. Saya pulang bareng anak-anak sebelum zuhur."
"Iya terima kasih, Bu."
Bi Sumarni orang yang gesit dalam bekerja. Jam setengah sepuluh ia sudah beres menyelesaikan semuanya. Masakan sudah tertata dalam tudung saji. Dapur pun rapi dan bersih. Jajaran pakaian yang wangi sudah tergantung di tali jemuran tinggal menunggu jemuran itu kering dan menyetrikanya selepas zuhur nanti.
Semua kaca jendela di tutup kecuali kaca yang berada di depan meja setrika. Bi Sumarni menutup pagar setelah semua mobil di garasi keluar.
Sebuah kasur kapuk yang tak terlalu besar di gelar di lantai. Di dipan kayu ada Bunga yang sedang tertidur pulas nampak dari luarannya saja. Padahal di dalam angan ia sedang bermimpi yang aneh. Mimpi yang begitu carut marut.
Terdengar suara gigi yang bergemeretak. Padahal gadis itu masih memejamkan mata. Bi Sumarni kembali mengompres gadis yang sedang tidak baik-baik saja itu.
"Kamu itu anak baik. Sepertinya tidak harus mengalami semua kejadian ini. Seharusnya mengalah dan pulang saja."
Bi Sumarni membayangkan harus berapa lama lagi Bunga tinggal di rumah yang mulai aneh ini. Kalau dirinya tak mengapa. Ia sudah tua dan sudah biasa tertempa kesukaran. Tidak ada sesuatu apapun yang bisa menyakitinya.
Klakson berbunyi setelah azan zuhur terdengar beberapa menit lalu. Kevin menenteng tas ranselnya dengan malas. Tasha menutup wajahnya dengan buku-buku agar wajah cantiknya tidak terpapar cahaya matahari yang menyengat siang itu.
"Kak Bunga masih sakit, Bi?" tanyanya sambil membuka sepatu flat dengan merek Austin.
"Iya," Bi Sumarni menjawab singkat.
"Ini obat dan camilan buat Bunga, Bi. Tapi tolong suruh makan dulu sebelum minum obat," terangnya.
...
Setelah menyiapkan makanan untuk keluarga Brotoasmoro, Bi Sumarni membawa baki kayu ke dalam kamar belakang. Ia melihat Bunga sedang tertidur dengan handuk kecil masih menempel di dahinya.
"Sepertinya masih pulas," ucap Bi Sumarni lirih.
Ia berniat untuk salat zuhur terlebih dahulu baru kemudian membangunkan Bunga untuk makan siang dan minum obat.
Mungkin bagi beberapa orang yang sedang sakit dan demam akan mengalami mimpi-mimpi yang aneh yang tidak bisa mereka mengerti. Dan tidak bisa ditafsirkan artinya. Begitupun dengan gadis itu yang tak paham akan maksudnya.
Di dalam alam bawah sadar, terlihat orang-orang tengah berkerumum pada sebuah peristiwa. Awalnya ia melihat sekilas kerumunan itu sedang memperhatikan seorang gadis yang tengah tergolek bersimbah darah.
Gadis berambut panjang yang kepalanya membentur trotoar itu merintih meminta tolong. Tangannya tergapai-gapai. Pakaiannya robek tergerus aspal. Sepatu Converse berwarna merah terlihat kotor dan penuh bercak hitam.
Namun, yang tidak dipahami oleh Bunga. Mereka yang sedang ramai itu hanya riuh menonton. Tidak terlihat satu orang pun menelpon polisi atau menelpon ambulance. Mereka hanya memotret dan melihat sebentar tanpa peduli sedikitpun.
Beberapa orang diantaranya bahkan meninggalkan si gadis yang sedang meregang nyawa. Matanya gadis itu mengerjap sesekali saat tertimpa air hujan.
Terdengar suara erangan terakhir sebelum tubuhnya mengejang dan tidak bergerak untuk selamanya.
Gadis yang bersimbah darah keluar dari raganya. Ia terlihat memendam dendam dan amarah. Ia muak melihat manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan.
...
Bi Sumarni menggoyang tubuh Bunga perlahan. Mimpinya menghilang seketika. Tubuhnya terasa sangat panas dan tulang persendiannya sangat nyeri.
"Maaf, Bibi bangunin. Makan dulu, ya. Terus minum obat."
Bibi membuat sandaran pada dinding dari bantal. Bunga bersandar di sana dengan tubuh yang masih lemas. Nasi putih, capcay dan tempe goreng terasa hambar di mulutnya. Namun, seperti kata Bi Sumarni, dirinya harus tetap makan walau tak ingin.
...
Kamar begitu gelap tapi lampu belum juga dinyalakan. Bunga tidak tahu ini jam berapa. Walau seharian sudah tidur dan beristirahat, tetap saja rasa kantuk dan lemas masih mendera tubuhnya.
Kelopak matanya tertutup dan kembali terbuka saat saklar mengeluarkan suara. Lampu menyala. Ada seseorang yang masuk ke dalam kamar kemudian mendekati dipan kayu.
Bunga merasa kalau ada seseorang yang sedang memandangi dirinya. Menempelkan punggung tangannya ke kening untuk beberapa saat. Namun, tidak tahu itu siapa.
Terdengar suara gemericik air dari keran. Sepertinya Bi Sumarni sedang mengambil air wudu. Tak lama ia membuka pintu.
"Siapa yang menghidupkan lampu, Kak?"
Gadis itu hanya diam saja, walau pertanyaan Bi Sumarni terdengar di telinganya. Entah mengapa ia tidak memiliki keinginan untuk menjawabnya.
Selesai salat Bi Sumarni membangunkannya. Bibi bilang tidak baik tidur sewaktu magrib. Dengan sedikit bantuan gadis itu bisa duduk bersandar di dinding.
Klakson mobil berbunyi. Bibi membuka pintu belakang. Kevin dan Tasha terdengar menanyakan kabar Bunga.
"Kak Bunga apa kabar?" tanya si gembul Kevin dengan mata bulatnya.
"Alhamdulillah sudah baikan, sayang."
"Kak, ini tadi kami beli roti. Semoga Kak Bunga suka. Lekas sehat, ya."
"Terima kasih, Tasha."
"Kalian dari mana? Kok baru pulang jam segini."
"Tadi pulang kursus mampir ke rumah Yangti. Terus mampir ke toko bakery beliin roti buat Kakak."
"Dari tadi kalian ga masuk kamar ini?"
"Ga Kak. Kan berangkat kursusnya jam 3. Ini baru pulang. Emangnya kenapa, Kak?"
"Terus siapa yang pegang kening kakak tadi?"
...
Mungkin karena pengaruh obat atau apa, Bunga tidur lebih awal. Setelah mengobrol sebentar dengan Bi Sumarni, ia segera terlelap.
Lagi-lagi ia bermimpi. Mungkin ini mimpi terakhirnya mengenai si gadis yang mengenakan sepatu Converse berwarna merah. Sebuah tangan terulur dan Bunga meraih uluran tangan itu dengan tulus.
"Ingat! Namaku Sofia," ucapnya sambil tersenyum dan menghilang seperti buih yang tertiup angin.
Sejak saat itu, tidak ada lagi gangguan dari Sofia. Tidak ada lagi mimpi mengenai gadis bermata sipit itu dengan kulit putih mulus.
Sofia ...
Namanya masuk dalam deretan nama-nama yang selalu disebut di penghujung doa-doa Bunga.