Mendung bergelayut di langit saat Bunga akan berangkat kursus. Bimbang. Akankah berangkat kursus atau di rumah saja. Opa dan Oma keluar dari ruang tengah sambil membawa tas.
"Kak Bunga mau ke mana?" tanya Opa.
"Mau kursus komputer, Opa. Tapi mendung."
"Bareng aja yuk. Kan sejalan."
Tante Pinkan sudah siap dengan medium dress motif floral. Ia melihat Bunga yang sedang menatap langit di jendela dekat jemuran.
"Kenapa, Kak?"
"Mendung Tante."
"Ya udah bareng aja. Tante sekalian mau nganter Opa dan Oma."
Secercah harapan muncul ketika Tante berkata seperti itu. Gadis itu bersyukur karena bisa pergi kursus dengan aman. Sayang sebenarnya kalau harus absen satu kali saja. Ia begitu menghargai karena Tante Pinkan sudah membayar lumayan mahal agar dirinya bisa kursus di sana.
Oma memegang erat jari jemari gadis itu di dalam mobil. Bunga mempunyai firasat bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Oma Banurasmi. Ditepuknya lembut punggung tangan Oma sambil memanjatkan doa-doa baik untuk wanita penyayang itu.
Dilambaikannya tangan sambil mengucapkan terima kasih. Ia berlari kecil melewati emperan toko agar pakaiannya tidak basah karena hujan masih mengguyur dengan deras. Ruko empat lantai itu masih sangat sepi. Bunga mengingat-ingat lagi, apa benar hari ini jadwal kursusnya.
Perjalanan ke tempat kursus dengan mengenakan kendaraan pribadi memang lebih singkat. Ia lebih cepat 20 menit ketimbang menggunakan angkot yang harus gonta ganti sebanyak tiga kali.
Sebuah gerbang kuno besar menyambutnya. Beberapa toko pakaian yang tak kalah tua berjejer tak jauh dari gerbang itu. Di tanah yang paling ujung berdiri bangunan lusuh, kusam dan bagian atasnya sudah dipenuhi tanaman merambat.
Gadis itu bertanya kepada front office kenapa tempat kursus nomor satu pada masa itu nampak lengang. Ya, alasannya memang karena hujan.
"Saya boleh nunggu di sini yah, Kak?" tanya Bunga.
"Iya silakan, Dik. Saya juga jadi punya teman," ucapnya lega.
Bunga melihat-lihat beberapa piala dan piagam yang terpajang di belakang meja front office. Sekilas juga ia melirik ke arah kakak berkuncir kuda itu.
"Sudah lama kerja di sini, Kak?"
"Lumayan sih. Sudah mau lima tahun."
"Bangunan tempat kursusnya pindah-pindah ga Kak?"
Entah kenapa gadis itu malah menanyakan hal yang tidak direncanakan. Seperti tiba-tiba saja keluar dari bibir kecilnya.
...
"Tempat kursus ini sudah 15 tahunan berdiri. Bangunannya sih ga pernah pindah-pindah," jawabnya sambil memandang ke arah tangga naik dan dinding yang mulai lapuk.
"Kenapa ga nyari yang lebih aman dan lebih strategis, Kak ? Biar agak ramean kitu muridnya."
Gadis itu menepuk bibirnya beberapa kali. Ia merasa lancang atas pertanyaan itu.
"Maaf, Kak. Saya ga ada maksud apa-apa."
"Gak apa-apa. Kata Ayah saya dari dulu sewa bangunan ini murah di banding bangunannya yang lain. Semua fasilitasnya juga masih bagus dan layak. Jadi kenapa engga."
Bunga terlihat mengangguk mendengar penjelasannya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya terlihat seorang gadis datang ke tempat kursus. Kemeja putih lengan panjang basah kuyup. Rambut panjangnya juga lepek karena basah. Sepatu Converse merah juga tampak kotor dan terlihat ada lecet di bagian depan kanan.
Bunga merasa gelisah duduk di ruangan ini karena Kakak front office menghidupkan kipas angin saat cuaca sedang seperti ini. Gadis itu memutuskan untuk naik ke lantai tiga. Toh, sudah ada temannya yang datang tadi.
"Kak Andre sudah ada ya Kak?"tanyanya pada Kakak front office.
"Kak Andre biasanya jam segini lagi salat asar di musola lantai 4."
"Saya naik ke atas ya, Kak."
Ditapakinya tangga lusuh itu satu persatu. Ada bekas jejak sepatu basah. Mungkin bekas gadis yang mengenakan sepatu Converse merah tadi.
Sebuah ruangan yang tidak begitu besar tampak gelap. Kak Andre sepertinya belum selesai salat. Bunga melihat Si gadis Converse sedang duduk di bangku paling ujung dekat jendela. Matanya menatap tak berkedip layar komputer yang menyala.
"Kenapa ia tidak menghidupkan lampu?" gumamnya.
Terdengar suara dering handphone. Si empunya sepertinya sengaja membiarkan benda pipih itu bergetar tanpa ada niat untuk mengangkatnya.
Saklar lampu sudah dihidupkan. Ruang kelas sudah terang. Beberapa komputer juga sudah menyala. Tapi, tetap saja terasa sepi. Bunga ingin sekali mengobrol dengan Si gadis Converse. Namun, ia bingung harus memulai dari mana.
Kak Andre masuk dan memulai kelas. Ia menyapa Bunga dan mengatakan kalau gadis itu sangat rajin datang kursus di tengah cuaca yang seperti ini.
"Ini modulnya di baca sebentar. Nanti Kak Andre kembali 15 menit lagi," jawab laki-laki yang mengenakan kemeja putih kotak-kotak itu.
Bunga mengangguk dan langsung membaca modul itu sebentar. Ia teringat gadis di bangku ujung yang belum mendapatkan modul. Sayangnya ketika akan dipanggil Si Gadis Converse sedang asyik memandang hujan yang syahdu. Bunga tidak berani menganggu.
Lima belas menit waktu yang cukup lama. Ia tenggelam dalam kata perkata. Tak lupa stabilo warna-warni menjadi senjata andalannya. Kak Andre belum kembali juga. Sepertinya ia tengah sibuk di ruangannya. Sudah hampir setengah jam. Bunga berniat menyusulnya. Gadis itu tidak ingin sia-sia hari ini.
Masa, cuma dikasih modul. Harusnya ada pembahasan kemudian praktek seperti biasanya. Rutuk gadis itu.
"Apa kamu mau ikut ke ruangan Kak Andre?" tanya Bunga pada gadis Converse.
Tak mendapatkan jawaban. Bunga memberanikan diri untuk mendekati. Ia melangkah pelan menyingkirkan semua rasa malunya.
"Hai ... kamu murid baru, ya?" sapa Bunga.
Gadis berambut panjang itu masih menikmati hujan. Bunga mencoba untuk menyentuh punggung tangannya. Sepertinya gadis itu sudah melamun terlalu lama.
Ketika berhasil meraihnya. Bunga bisa merasakan bahwa tubuh gadis itu sedingin es. Namun, ia tidak menghiraukannya.
"Tubuhmu dingin sekali. Sebaiknya kamu berganti pakaian. Kalau tidak bisa-bisa besok kamu demam."
Selepas mendengar perkataan itu. Si gadis Converse menoleh perlahan. Wajahnya menghadap ke arah Bunga. Dengan tatapan kosong ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Kak Andre tidak masuk ke ruang kelas sampai jam pelajaran berakhir. Karena sudah petang dan hujan masih mengguyur dengan deras, Bunga memutuskan untuk langsung pulang.
Modul, buku catatan, dan alat tulis disimpan dengan rapi di dalam tas ransel kulit pemberian Kak Pongky—cucu tertua Oma Banurasmi. Komputer juga sudah dimatikan. Ia menyapa gadis itu lagi.
"Yuk, kita pulang aja. Kayaknya Kak Andre ga akan masuk kelas lagi, deh."
Si gadis Converse tersenyum dan mengangguk.
"Mau pulang bersama?"
ajak Bunga. Ia berpikir bisa berteman dengan gadis itu setelah hari ini.
Bunga memeriksa laci belajarnya takut ada yang tertinggal. Saat ingin mematikan saklar, gadis yang berada di bangku paling ujung tadi sudah pulang terlebih dahulu.
Kakak front office juga sudah bersiap pulang. Karena sedang sibuk, Bunga tidak berani untuk menyapanya.
Langit hitam di luar menunjukan deras hujan dan malam yang akan datang. Entah kenapa, Bunga merasakan sesuatu yang tidak bisa untuk dijelaskan.
Seseorang menyenggol bahunya dengan keras.
"Maaf," ucapnya refleks kepada seseorang yang tidak dikenalnya itu.
"Hati ... Hati." Seorang Nenek mengucapkan dua kata itu kepadanya. Kemudian menghilang di tengah rintikan hujan.
Ia terkesiap.
"I-i-ya, Nek," jawabnya terbata dan segera meninggalkan bangunan tua itu menuju jalan raya untuk menunggu bis.
Tiga puluh menit menunggu Bis. Tidak ada satu pun yang lewat. Padahal sudah hampir magrib. Kalaupun ada yang lewat, entah kenapa bis melaju sangat kencang. Sehingga Bunga yang berteduh di emperan toko tak bisa mengejarnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah pohon beringin besar yang berada tak jauh dari gerbang masuk tempat kursus. Semoga ada bis yang lewat kali ini. Harapnya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Bunga pada seorang gadis kecil berambut sedikit pirang.
Gadis kecil itu tersenyum mendapati ada seseorang yang bisa melihatnya.
"Aku tidak mengerti bahasamu," ungkap Bunga lagi.
Tidak semua makhluk membuatnya takut. Seperti Si gadis pirang yang memiliki tampilan layaknya manusia pada umumnya. Terkejut mungkin itu ekspresi yang terlihat ketika pertama kali memandang makhluk yang belum pernah ditemui.
Lagipula sudah lumayan banyak makhluk yang ditemuinya. Selama tidak begitu mengerikan dan sepi, ia akan berusaha untuk tetap tenang.
"Kau berdiri di rumahku," ujarnya sambil mengelilingi pohon beringin itu sambil bersenandung.
"Aku hanya menumpang berteduh sambil menunggu bis yang datang. Maaf kalau sampai mengganggumu," ucapnya tulus.
"Aku akan pergi dari sini, jika itu membuatmu merasa lebih baik," sambungnya lagi.
"Oh, tak mengapa teman. Aku hanya ingin memberitahu mu. Hati-hati!"
Sebuah bis berwarna merah berhenti tepat di depan pohon beringin. Ia segera naik dan memilih tempat duduk dekat jendela sedikit ketengah. Tidak begitu banyak penumpang bis itu.
Jendela bis yang retak di beberapa sisi tampak berembun. Namun, masih bisa terlihat keadaan diluar sana. Dengan mata yang menatap lurus ke depan, ia terus mengingat peringatan yang diberikan nenek tua dan hantu gadis berambut pirang.
Dipandanginya seluruh penjuru bis itu. Hanya ia dan salah satu penumpang yang duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Gadis berambut panjang basah itu tersenyum menatap Bunga.
"Ah ... ada Si gadis Converse. Kapan ia naik ke bis ini?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Tidak ada satu penumpang pun yang naik bis ini sepanjang perjalanan. Jalanan tampak benar-benar lengang. Kernet memberi aba-aba agar bis bisa berhenti di sebuah jalanan sepi.
"Sambung ... sambung ...," ucap kernet itu sambil mengelap keningnya yang basah karena rintikan hujan.
"Kok, turun di sini, Bang? Bukannya sampai daerah ujung, ya?" tanya Bunga sopan.
"Tekor bensin nya, Dik. Daerah ujung masih jauh. Kamu nyambung angkot saja. Ongkosnya cukup di bayar separoh," terangnya sambil mempersilakan untuk turun.
"Ta-tapi masih ada penumpang lagi duduk di belakang."
"Ga ada, Dik. Dari Jl.Gedung Tua tadi cuma kamu saja yang naik."
Bunga tidak sempat menjelaskan. Kernet memintanya untuk turun. Dengan terpaksa gadis itu harus mencari angkot di tengah hujan yang masih bersemangat untuk tumpah ruah.
Kesal. Dipandanginya bis itu dengan perasaan kesal. Si gadis Converse tersenyum sambil melambaikan tangannya dari bangku sebelah jendela kaca.
Apa gadis itu hantu? Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku melakukan kesalahan?. Tanyanya dalam hati.
Selanjutnya apa? Aku harus bagaimana?
Jalanan sepi. Tidak ada satu angkot pun yang terlihat. Rumah Tante Pinkan masih jauh. Gadis itu termangu di pinggir jalan. Malam mendekat dan entah mengapa terasa semakin mencekam.
...
Tidak tahu jam berapa saat itu, tapi ia sangat kecewa ketika angkot yang ditunggu tak kunjung tiba. Trotoar basah oleh genangan air. Sepatunya benar-benar basah. Jadi tidak perlu lagi memilah jalan. Toh tidak ada jalanan yang kering sedikitpun.
Seberkas cahaya mengarah kepadanya. Gadis itu menoleh dan mendapati sebuah angkot berwarna merah.
"Daerah Ujung, Pak?" tanyanya penuh harap.
"Iya, Nak. Bapak sekalian mau pulang juga," jawabnya ramah.
Bunga lebih memilih duduk di bangku sebelah sopir dari pada di belakang yang tidak ada penumpangnya sama sekali.
Mobil berjalan perlahan. Selain memang karena jalan licin, juga karena tua. Suara mesin yang khas seolah memberi tahu bahwa sudah lama membantu tuannya mencari nafkah.
"Dari mana, Nak? Pulangnya malam sekali?"
"Dari kursus komputer, Pak. Iya, memang kelasnya dimulai sore. Jadi pulangnya kurang lebih jam segini."
"Emangnya ga ada yang jemput?
"Ga ada, Pak."
"Terus ini mau stop, di mana?"
"Komplek Perumahan Golf."
"Masih lumayan jauh itu, Nak."
"Iya betul. Tapi, Allah kirimkan Bapak, buat nolongin."
Bapak sopir tertegun dengan suara seraknya ia menjawab.
"Bapak punya seorang anak gadis yang sedang merantau di kota lain. Bapak ga tahu keadaan dia tiap hari seperti apa. Menanyakan kabar dan kesehatannya paling cuma bisa seminggu sekali saat dia libur. Menurut bapak pribadi, wajib hukumnya untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Apapun itu bentuknya. Ada harapan di balik itu semua. Semoga anak gadis bapak yang di perantauan diperlakukan baik juga oleh orang-orang disekitarnya."
"Amin, Pak. Amin"
Bapak berpeci yang memiliki wajah teduh itu menolak ketika Bunga memberikan ongkos. Dirinya ikhlas sudah bisa mengantarkan gadis itu ke depan gerbang komplek. Jika saja penjaga kemanan itu mengizinkan angkot untuk masuk, ia pasti akan mengantarkan Bunga sampai ke rumah.
Azan isya berkumandang, saat mulai melewati portal pos. Bunga berandai-andai sampai ke rumah Tante Pinkan ketika adzan usai. Tentu itu lebih membuat dirinya merasa aman. Entahlah. Itu menurutnya. Gadis itu masih saja merasa takut. Walaupun sudah diberi wejangan panjang lebar oleh Oma Banurasmi.
Ia melihat ke sekeliling saat sudah berada di belokan pertama. Komplek ini selalu dalam keadaan sepi. Tidak pernah sekalipun ia pernah berpapasan dengan orang lain saat pulang kursus. Hanya angin dan pekat malam yang menjadi teman perjalanan.
Terdengar suara ranting diinjak dan dedaunan kering yang berserak di tiup angin. Tengkuknya serasa di lilit oleh sesuatu yang amat dingin. Bulu ditangan mulai berdiri. Namun, ia tidak berani menoleh ke arah belakang. Walau langkah kaki semakin dekat.
Sebuah tipu daya menyapa. Bunga menoleh dan mendapati sesuatu yang dikenalnya. Si gadis Converse berdiri di hadapannya seperti seorang penguntit. Jantungnya seakan ingin keluar.
"Ka-ka-kamu?"
Si gadis Converse lagi-lagi tersenyum dan senyumnya itu membuat Bunga tak bisa bergerak. Ia seolah terhipnotis.
"Jangan, ganggu aku!" teriaknya putus asa.
Entah harus disebut apa sesuatu dihadapannya ini. Makhluk? Hantu? Sosok? atau ada nama lain yang lebih tepat?