Opa dan Oma

2148 Kata
Bunga meletakkan dua gelas s**u kalsium di atas meja keramik. Opa Jatmiko mengucapkan terimakasih kepada gadis itu dan menanyakan kabarnya. Ia menjawab kalau baik baik saja. Walaupun, hatinya berkata sebaliknya. Oma Banurasmi tersenyum sambil tak berkedip menatap Bunga yang masih menekuk lutut setelah meletakkan gelas s**u tadi. Wajahnya sedikit pucat dengan lingkaran hitam dimatanya. Wanita sepuh itu paham betul gadis dihadapannya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia kurang tidur, banyak memikirkan sesuatu, tidak berselera makan dan kurang beristirahat. "Sepertinya Kak Bunga kurang liburan," seloroh Oma. Mereka semua tertawa termasuk Bi Sumarni yang sedang menyiapkan sereal buah untuk keduanya. Oma Banurasmi selalu saja begitu. Pertanyaan dan kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Bunga tertawa. Hatinya menjadi hangat ketika ada Oma di rumah. Walaupun, ini pertemuan kedua bagi Bunga, entah kenapa seperti sangat akrab. "Bunga tinggal sebentar Oma-Opa, mau nyiapin handuk dulu." Gadis itu berlalu sambil meninggalkan Opa yang sedang khusyuk menonton berita dan Oma yang terlihat mengangguk-angguk. Ia kemudian masuk ke kamar tengah yang berada tak jauh dari tempat cuci. Di kamar itu terdapat beberapa buah lemari yang berisi handuk bersih, sprei, taplak meja, dan sandal-sandal rumah. Dipilihnya satu persatu sandal yang paling empuk, agar Opa dan Oma merasa nyaman ketika menggunakannya. Akhirnya terpilih sepasang sandal bulu berwarna abu tua untuk Opa dan sepasang sandal bulu putih untuk Oma. Karena ukuran kaki keduanya berbeda. Tak lama ia kembali dan menyodorkan handuk di atas meja dan meletakan sandal-sandal itu di dekat kaki Oma dan Opa. Setelah malam lumayan larut, akhirnya semua orang anggota keluarga Brotoasmoro beristirahat. Oma berada di kamar bersama Tante Pinkan. Opa Jatmiko di kamar tengah bersama Kevin. Bunga yang lebih ingin tidur bersama Bi Sumarni dipaksa Tasha untuk tidur bersamanya. "Ayooo Kak, Tasha dah ngantuk nih," rengeknya. "Kak Bunga pengen tidur di kamar belakang. Tasha tidur di kamar sendirian aja yah. Kan ada Oma sama Mamanya di kamar depan. Kalau takut bisa pindah ke kamar Mama," bujuk Bunga. Kesabaran Bunga mungkin sudah hampir diambang batas. Ia mungkin sudah tidak merasa nyaman tidur bersama Tasha. Gadis manja itu sering minta dibacakan doa ketika tidur dan selalu minta dijaga sampai dini hari. Akibatnya Bunga hanya bisa tidur dua atau tiga jam saja. Berbeda jika tidur di kamar belakang. Dirinya bisa tidur lebih awal dan bangun dengan segar karena mendapatkan istirahat yang cukup. Rasa takut Tasha lebih kronis dari pada Bunga. Bunga sering menawarkannya untuk bersama-sama belajar salat dan mengaji. Namun, Tasha selalu menolak. Ada saja alasan yang diajukan. Harusnya gadis itu sudah bisa membaca Alfatihah, surah pendek, dan ayat kursi. Ia harus belajar melindungi dirinya sendiri. Bunga membalikkan tubuhnya pada kasur mewah kepunyaan Tasha. Menggosok punggung gadis itu sampai terlelap. Benar-benar terlelap karena sepertinya ia juga salah satu orang yang sukar untuk tertidur pulas. Helaan napas berat terdengar memenuhi rongga d**a. Bunga tersenyum saat mengingat kejadian menyenangkan di dalam rumah ini yang bisa dihitung dengan jari. Perlakuan baik dan lemah lembut dari Opa dan Oma menjadi salah satu hal yang membuatnya bertahan sampai detik ini. Entah sampai kapan ia sanggup. Perasaan tidak nyaman akan datang ketika keluar dari lingkungan terenak dan serba ada. Seperti dirinya yang keluar dari pelukan Nini dan Paman, dan memilih untuk berada di sini. Memang tak mudah. Tapi bukankah berada di sini sudah menjadi bagian dari jalan yang harus di lalui. Mungkin ada sesuatu yang diinginkan oleh Sang Pembuat Skenario untuk dirinya. Entahlah. Gadis muda itu nampak memijat pelipisnya. Ia duduk dan memeriksa apakah Tasha sudah tidur dengan nyenyak atau belum. Kasur tipis dengan sarung motif kotak menjadi teman tidurnya malam ini. Ia tidak terbiasa tidur di kasur mewah dan selimut mahal. Dibacanya beberapa doa dan surah sebelum tidur. Ia juga berharap bisa tidur lebih lama tanpa rengekan manja Tasha di tengah malam. ... Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Bunga membuka pintu kamar Tasha perlahan. "Bunga mau salat Subuh juga?" tanya Oma dengan senyum khasnya. "Iya, Oma." "Salat jama'ah yuk! Sama Opa dan Oma," ajaknya lagi. Gadis itu belum menjawab dan nampak ragu-ragu. Di dalam pikirannya, seharusnya yang salat bersama Opa dan Oma adalah anak dan cucunya. Bukan babu seperti dirinya. "Tadi Oma dah bangunin Pinkan, tapi yah seperti itulah ...." "Kamu kayak ga tahu Tantemu saja," sambung Oma dengan mata yang berkaca-kaca. "Iya Oma. Siap," jawabnya segera dengan memperagakan gerakan siap dengan empat jari di pelipis. Oma tersenyum. Opa juga tersenyum dari pintu ruang tengah. Subuh itu Bunga merasa kalau dialah cucu Opa dan Oma. "Ajak Bi Sumarni juga!" Opa berujar saat Bunga membungkukkan sedikit badannya ketika berpapasan dengan Opa di ruang tengah. Bunga berjalan cepat agar kedua orang sepuh itu tidak terlalu lama menunggu. Suara gemericik air juga terdengar dari kamar mandi belakang. Ternyata Bi Sumarni juga sudah terbangun. "Bi, diajak Oma dan Opa salat jama'ah." Bi Sumarni tersenyum. Mata dan hatinya mendung. Doa-doa panjang dihantarkan dengan kerendahan dan keikhlasan hati. Sesekali terdengar isak lirih dari masing-masing pemilik doa. Pun demikian dengan Bunga dengan segala kegalauan hatinya. Gadis itu minta dikuatkan jika memang masih berjodoh panjang dengan keluarga ini. Jadilah subuh itu, subuh terhangat untuk pertama kalinya di rumah keluarga Brotoasmoro. ... "Oma dan Opa ga mau pakai sandal, jalan paginya? Nanti kakinya sakit." "Oma dan Opa biasa begini kok. Jangan khawatir yah." Selepas salat subuh Opa, Oma, Bunga dan Bi Sumarni berjalan-jalan di seputaran komplek. Pepohonan yang masih berdiri indah membuat udara terasa segar. Opa berlari kecil dan Bi Sumarni berjalan agak cepat sehingga Bunga dan Oma saja yang berjalan agak pelan. "Oma tahu kamu sudah ga betah tinggal di sini," ucap Oma memecah keheningan di antara mereka berdua. Gadis itu tak menjawab. Helaan napas panjang lagi-lagi menjadi pertanda ada sesuatu di hatinya. "Sudah berapa ribu kali kamu menghela napas di rumah ini?" tanya Oma lagi membuat gadis itu tergagap. "Iya, maafin Bunga, Oma." "Loh kok minta maaf. Kan Oma cuma tanya. "Jangan lupa sambil menghela napas sambil mengucap istighfar," anjur Oma yang disambut anggukan oleh Bunga. "Jangan tinggalkan salat. Ga punya harta itu bukan akhir segalanya. Tapi kalau ga salat itu berarti kamu ga punya segalanya." Oma hampir menangis lagi mungkin ia teringat sesuatu. "Kamu bisa mengaji kan?" "Alhamdulillah, bisa Oma sedikit. Tapi yang ga merdu dan mendayu-dayu banget," jawab Bunga tersipu. "Nanti kalau Oma sudah meninggal. Jangan lupa kirimin Oma doa-doa yah. Biar kuburan Oma ga gelap," pinta Oma dengan mata nanar. "Oma pengen banget kalau nginep di sini bisa salat jamah bareng Atmo, Pinkan. Bareng cucu-cucu Oma. Oma pengen Kevin dan Tasha belajar mengaji." Tangis Oma kali ini pecah. Mungkin sudah tidak bisa ditahan lagi. Bunga mengambil tangan keriput Oma dan memegangnya erat. "Bunga usahain setelah ini buat bujukin adik-adik. Tapi Oma jangan sedih lagi. Nanti, Bunga ke pasar buat beliin buku Iqranya." Oma bisa sedikit lega. Setidaknya beban pikirannya berkurang sedikit. Namun, berpindah di bahu Bunga. Sedetik kemudian gadis itu mulai memikirkan bagaimana caranya untuk memulai. Kevin dan Tasha di dera kegiatan yang cukup menyita waktu. "Bismillah ya, Nak. Mugi-mugi dimudahkan niat baik kita," ucap Oma ketika melihat Bunga melamun untuk beberapa saat. "Amin ... Amin ... Amin." Semangat untuk kita Oma!" teriak gadis itu penuh semangat. Lagi-lagi Oma tertawa dibuatnya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Bunga untuk menanyakan sesuatu. "Uhm, Bunga boleh nanya ga, Oma? Oma percaya ga sama hantu, setan? Yang begitu-begitu, deh." "Kalau menurut kamu sendiri, bagaimana?" "Yah Omaaa ... Bunga kan nanya. Kok Oma nanya balik," jawab Bunga pura-pura merajuk. "Kamu takut ya berada di rumah?" tanya Oma. Sepertinya tepat sasaran. ... "Dulu waktu Opa Jatmiko masih bertugas, Oma selalu ikut di manapun Opa berada. Opa kan dinasnya pindah-pindah. Kadang tempatnya nyaman. Kadang bikin ketar-ketir setiap malam. Apalagi Oma selalu sendirian. Kebayang ga kayak apa ngerinya. Kadang keadaannya yang benar-benar jauh dari rumah tetangga bikin ulu hati nyeri ketika magrib mulai tiba. Ya, Oma dulu penakut orangnya. Tapi sejak diberi tahu Opa, jadi istri tentara tidak boleh penakut, Oma jadi malu dibilangin begitu. Itu perlunya kita rajin salat, bisa mengaji. Karena mau minta perlindungan dari siapa, kalau tidak minta perlindungan dari Allah. Dan memang benar yang ghaib itu ada. Namun, karena manusia makhluk yang paling sempurna tidak sewajarnya kita takut," jelas Oma panjang lebar. "Kita duduk di sana yuk Oma. Sambil cerita lagi," ajak Bunga. Mereka duduk disebuah kursi batu panjang yang ada di bawah pohon willow. Helainya yang berwarna hijau segar seperti berkah dari langit atas kebersamaan mereka pagi itu. Bunga sangat suka mendengarkan cerita-cerita Oma. Wanita yang masih nampak cantik di usia sepuhnya itu juga sangat suka mengobrol dan menyelipkan beberapa wejangan untuknya. Opa Jatmiko menghampiri. Kaos v-neck basah karena keringat. Ia tersenyum menatap Oma dan Bunga yang sedang duduk di bangku taman. Sudah lama istrinya itu tidak banyak mengobrol dan tertawa lepas. "Ngobrolin apa sih? Gadis-gadis ini kok tampaknya gembira banget." Opa berseloroh. "Opa, maaf. Apa iya dulu Oma orangnya penakut? Terus Opa marahin." "Lah iya toh ... Masa istri tentara penakut. Mau ke kamar mandi minta dianterin. Keluar gelap di anterin. Iya kalau ada Opa. Kalau ga ada Opa, buang air kecilnya mau ditahan-tahan sampai Opa pulang. Ya ga mungkin. Lagipula kalau hidup kita bener dan berserah sama Allah, pasti ga ada lagi yang ditakutin kecuali Allah." "Bunga keknya belum sampai sana, Opa. Masih jauh ilmunya." "Semua butuh proses kok. Orang bayi aja lahir dari oee dulu kan. Bukan langsung salto," jawab Opa. Lagi-lagi mereka tertawa bersama. Di antara keceriaan dan keakraban mereka pagi itu ada yang tidak mereka ketahui. Sepasang mata tajam mengawasi mereka dari kamar sayap kanan. ... Semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah sambil bersenda gurau. Bi Sumarni sedang menjemur pakaian dan Bunga sedang duduk di bangku depan gudang. Matanya menatap lurus ke arah orang-orang yang sedang tertawa bersama itu. Sungguh membahagiakan. Lantas ia teringat permintaan Oma tadi. Ia bertanya di dalam hati kecilnya mengapa anak-anak keluarga Brotoasmoro tidak diminta orang tuanya belajar salat dan mengaji. Tentunya ia tidak berani jika harus menanyakan langsung kepada Tante Pinkan. Padahal salat salat dan mengaji tidak menghabiskan waktu berjam-jam. "Bi, lapar," ucapnya pada Bibi yang sedang menggantung blus hidden button down berwarna silver milik Tante Pinkan. "Ayo sarapan," jawab Bibi kemudian mencubit perut gadis itu. "Tapi di ruang tengah masih rame, Bi." "Ya gak apa-apa. Kan kita sarapannya di dapur. Kamu ga kursus komputer hari ini ?" "Kursus Bi. Nanti berangkatnya habis salat asar." "Ga capek pulang malam terus setiap habis kursus? Ga bisa diganti jamnya apa?" "Hmm, andai bisa begitu Bi. Enam bulan terasa sangat panjang mengingat pulang selepas kursus tidaklah mudah." "Sepertinya ruang tengah sudah sepi," sambung Bibi mencoba membuyarkan gadis yang lebih sering melamun beberapa hari ini. Mereka berdua membereskan meja keramik. Membawa piring kotor ke dapur dan mengelap remah-remah roti yang berjatuhan di atas karpet. Bibi menuang teh panas dalam mug berwarna biru kemudian menyiapkan nasi goreng ke dalam piring melamin. Nasi goreng bawang memang kurang laku untuk anak-anak. Kevin dan Tasha lebih menyukai nasi goreng sosis dengan bawang yang digiling halus. Yang lebih tua lebih suka yang beraroma bawang. Dengan taburan bawang goreng lebih menggugah selera tentunya. Belum selesai gadis itu menghabiskan nasi gorengnya, Tasha keluar sambil menggunakan celana olah raga selutut dengan atasan berwarna merah fanta. "Kak, main basket yuk!" ajaknya. "Kak Bunga lagi sarapan. Biar diturunin dulu nasinya, ya," jawab Bibi. Bunga lekas meminum teh dari dalam mug. Entah kenapa sarapannya tidak begitu nikmat pagi ini. "Sebentar, Kak Bunga cuci tangan dulu." Mau tidak mau, harus mau. Seperti itulah ketika berhadapan dengan Tasha. Apa saja kemauannya harus dituruti. Saat itu juga. Tasha sedang melakukan pemanasan saat Kevin keluar membawa dua buah raket kemudian mengajak Bunga bermain. Ia menjadi rebutan dua bersaudara itu. Kalau salah satu tidak di ikuti keinginannya pasti akan merajuk sepanjang hari. "Kak Bunga main raket yuk!" ajaknya sambil menggigit sepotong donat cokelat yang tersisa di tangannya. "Tapi Kak Bunga lagi main sama Kakak, Dek." Tasha terlihat mulai kesal. "Kita main sama-sama dulu. Main basket. Nanti habis itu baru main raket." Bunga mencoba membujuk dan berusaha untuk adil. "Main raket aja!" "Pokoknya main basket!" "Tasha main sendiri dulu aja yah. Basket bisa dimainin sendirian. Kalau bulu tangis ga bisa. Ga perlu takut, kan Kak Bunga sama Kevin mainnya di situ," ucap Bunga sambil menunjuk sisi lapangan basket yang lain. Sepertinya Tasha tidak terima. Wajahnya cemberut. Setelah melakukan beberapa medium shoot karena tidak puas bermain sendirian. Selanjutnya ia melemparkan bola basket yang ia pegang ke arah punggung Bunga yang sedang bermain bersama Kevin. Bunga berteriak karena rasa kaget. Sakit. Tentu saja. Gadis itu ingin menangis. Namun, ia tahan karena ada Kevin di dekatnya. "Mamaaa ... Kak Tasha jahat sama Kak Bunga!" teriaknya. Jarak lapangan basket memang tidak begitu jauh dari kamar sayap kanan. Entah, Tante Pinkan mendengarkan teriakan Kevin atau tidak. Atau entah wanita itu akan memberikan sanksi atau tidak atas tindakan puteri kesayangannya itu. Namun, sepertinya tidak. Bi Sumarni yang sedang menyiram tanaman menatap sekilas ke arah Tasha yang akan masuk ke dalam rumah. Ia mengucap istighfar beberapa kali. "Bunga harus mempertimbangkan lagi untuk lebih lama atau tidak tinggal di sini," ujarnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN