Bunga melangkah ke sebuah lemari besar yang tingginya dua kali lipat dari tinggi badannya. Orang-orang di keluarga Brotoasmoro menyebutnya lemari tanam. Lemari-lemari tanam di rumah ini sudah berusia tua. Sama tuanya seperti usia rumah belanda ini sendiri.
Tampilan lemarinya gagah dan kokoh. Bagian dalamnya sangat luas, apalagi lemari yang berada di kamar sayap kanan.
Tadi pagi sebelum berangkat bekerja, Tante Pinkan meminta Bunga untuk mengeluarkan pakaian-pakaian yang ada di dalamnya karena tiba-tiba saja semua menjadi lembab. Beberapa diantaranya bahkan sudah berjemur dan meninggalkan noda.
Bunga menemui Bi Sumarni yang sedang berada di dapur. Tadinya ia ingin minta ditemani. Gadis itu mempunyai ketakutan tersendiri mengenai lemari tanam di rumah ini. Lemari tanam ini lebih cocok disebut lemari horor.
"Bi, temenin dong!"
"Temenin ke mana ?"
"Beresin lemari tanam yang ada di kamar Tante."
"Aduh, Kak ... Bukan Bibi ga mau. Ada cucian bedcover dua biji."
"Kan, biasanya di cuci di penatu, Bi."
"Ga tau Bibi juga, Kak. Mungkin lagi rungsing."
Kakinya melangkah dengan gontai tapi akhirnya ia coba untuk menguatkan diri.
Harus berani ... Harus berani!
Diucapnya basmalah. Dengan ragu-ragu dibukanya pintu lemari yang dibuat dengan kayu. Suara berderak terdengar menganggu telinga. Gadis itu membutuhkan sebuah kursi. Tinggi badannya tidak membantu dirinya untuk bisa membersihkan bagian paling
atas.
"Bi, bibi ada lihat kursi plastik atau apa gitu? Bunga ga sampe nih, buat bersiin lemari di bagian yang paling atasnya," tanyanya pada Bi Sumarni saat kembali lagi ke dapur.
Bi Sumarni tampak berpikir. Sembari memutar matanya ke sana ke sini.
"Kalau kursi plastik ga ada kayaknya, Kak. Kursi meja belajar ga cocok karena ga kokoh. Kenapa Kakak ga pake kursi makan aja. Kuat kayaknya."
Bunga menelengkan kepalanya ke arah meja makan.
"Ya, kursi ini sepertinya cocok," ucapnya kepada Bi Sumarni.
Tertatih ia membawa kursi yang lumayan berat untuk ukuran gadis sepertinya. Sesampainya di kamar, ia segera meletakkan kursi itu tepat di depan lemari tanam yang terbuka pintunya. Kursi itu membantunya menggapai bagian atas lemari.
Bunga mengulurkan tangannya ke bagian atas lemari. Melempar beberapa pakaian yang lembab ke dalam keranjang pakaian yang sudah ia siapkan.
"Dari mana air menetes dan menyebabkan pakaian lembab?" Benaknya dipenuhi pertanyaan.
Susunan pakaian bagian depan, semua sudah dipindahkan ke dalam keranjang. Ada selembar kertas kertas yang digunakan sebagai alasnya. Tentu kalau semua dibereskan, kertas itupun harus diganti.
Bunga menarik kertas yang sudah mulai lengket. Bukan debu yang bertebaran yang di dapat. Namun, sekumpulan belatung yang sedang meliuk-liuk. Belatung itu berjatuhan di lantai dan beberapa menempel di piyama Doraemon yang dikenakannya.
"Astagfirullah!" teriak Bunga sambil segera melompat-lompat karena kaget.
"Bi ... Bibiii! Tolongin Bunga Biii!" teriaknya dari depan pintu kamar.
Bi Sumarni dengan segera berlari menuju kamar. Ia melongo menyaksikan belatung yang berhamburan di dalam kamar. Untung dia tipe wanita pemberani. Disapunya belatung itu dan dimasukkan ke dalam pengki.
"Mungkin ada bangkai tikus, Kak," ucap Bi Sumarni.
"Tapi ga ada bau busuknya, Bi. Kalau ada baunya mungkin Kakak akan minta tolong Pak Arip atau Om Jojon atau juga Bibi buat ngeliatin," sergahnya.
Belatung yang jatuh di lantai sudah dibersihkan Bi Sumarni. Bunga memintanya untuk melihat ke bagian lemari paling atas. Takut-takut nanti masih ada segerombolan belatung yang lain atau bangkai tikus.
Dengan tinggi badan yang seperti Om Atmo, pekerjaan itu sangat mudah untuk Bi Sumarni. Beberapa menit diperiksanya bagian lain dengan seksama.
"Sudah bersih, Kak. Aman," ujarnya pada Bunga yang masih tak berhenti merinding.
"Ya Allah, masakan Bibi gosong sepertinya, Kak," sambungnya lagi sambil meninggalkan Bunga.
Gadis itu geli teringat belatung yang berhamburan. Untung Bi Sumarni bersedia membantunya. Ia bersiap untuk memeriksa kembali apakah masih ada pakaian yang lembab di atas sana. Sekali lagi diucapkannya basmallah di dalam hati.
Di barisan kedua lemari, ada berbagai macam selimut dan seprei. Ia melemparkannya juga ke dalam keranjang. Walau tidak lembab tapi ketika mengingat belatung tadi, seharusnya memang harus di cuci semua yang ada di dalam lemari ini.
Sudah kosong dan tidak ada apa-apa lagi di pandangan matanya yang terbatas. Di bagian paling belakang, entah ada barang-barang apa. Ia hendak memeriksa. Karena penasaran di ulurkannya tangan kanan ke bagian atas lemari. Di gerakkannya ke kanan dan ke kiri.
"Aaa ... Aaa!" ia menjerit-jerit.
Ditariknya tangan kanannya dan segera melompat dari atas kursi. Ia merasakan ada sebuah cengkeraman dari dalam sana. Cengkeraman dari sebuah tangan yang dingin. Begitu terasa. Kuku yang tajam masih begitu menyisakan ketakutan bagi gadis itu.
Bunga mengusap tangannya sambil mengucap istighfar. Ada beberapa jejak hitam berjumlah lima di dekat pergelangan tangannya. Sakit dan terasa panas. Ia meninggalkan kamar dan ditemuinya Bi Sumarni yang mulai menyajikan makanan di atas meja bundar besar.
Bi Sumarni melihat wajah Bunga yang pucat pasi. Gadis ini tidak sedang main-main pikirnya.
"Bi, liat tangan Bunga," katanya sambil memperlihatkan tangannya.
"Ya Allah."
Bi Sumarni menuntun Bunga ke dapur dan memintanya untuk menunggu sebentar. Baskom dan air hangat yang sudah diberi garam disiapkan Bibi dengan tergesa.
"Coba direndam dengan ini Kak. Sambil baca doa," ucap wanita itu dengan mimik wajah prihatin.
...
Om Jojon memeriksa bagian atas lemari tanam. Tidak ada apapun di sana. Tidak rusak, lembab, atau keadaan apapun yang mengharuskan adanya perbaikan. Hanya sedikit berdebu saja. Bunga memintanya untuk memeriksa sekali lagi dengan seksama.
"Aman, Kak," ucap Om Jojon sambil meninggalkan Bunga sendirian di kamar itu.
Bunga mematung untuk beberapa saat. Diliriknya jajaran pakaian dari lemari atas yang sudah bersih dan harum. Terlintas dalam benaknya untuk menyusunnya kembali secepat mungkin agar tidak berlama-lama di dalam kamar ini.
"Kenapa harus di susun di atas sini lagi. Bagaimana kalau kembali lembab dan kotor. Masa harus mengulangi pekerjaan yang sama," rutuknya sendiri.
Ia punya firasat yang tidak enak setelah ini. Memar dipergelangan tangannya memang sudah mulai memudar. Tapi kenangan ketika ada tangan dingin yang mencengkeram membuatnya bergidik ngeri.
Memulai pekerjaan saat trauma menghinggapi bukanlah perkara mudah. Ia ingin sekali mengerjakan pekerjaan itu dengan cepat. Namun, bayangan kejadian beberapa hari lalu tak mau pergi.
Ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri saat Bi Sumarni masuk dan mengagetkannya.
"Sini biar Bibi bantu, Kak," ucapnya dengan senyum yang belum pernah dilihat Bunga sebelumnya.
Bibi mulai mengulurkan pakaian dari keranjang untuk disusun ke lemari atas. Ia tidak banyak berbicara hari ini. Bunga menjadi heran. Bukan seperti Bi Sumarni yang biasanya.
"Bibi, sedang sakit?" tanya gadis itu sambil tak lepas memandangi wajah Bi Sumarni yang seperti sedang kurang darah.
Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan gelengan pelan saja.
Gadis itu lega ketika keranjang pakaian terlihat kosong. Ia mengucapkan terimakasih kepada Bi Sumarni. Namun, sekali lagi wanita itu diam saja.
Sepertinya Bi Sumarni benar-benar sakit. Pikir gadis itu. Bi Sumarni meninggalkan Bunga tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan perlahan menuju pintu diiringi desir aneh yang membuat seluruh ruangan kamar menjadi sejuk.
Gadis itu turun dari kursi dan membereskan keranjang pakaian. Bi Sumarni berjalan begitu cepat, sehingga ia tidak menemukannya di ruang tamu bahkan dapur sekalipun.
Dicarinya Bibi sampai ke kamar belakang. Namun, nihil.
Klakson terdengar tiga kali. Bunga berlari ke arah garasi. Om Jojon melambaikan tangan memanggilnya. Lutut gadis itu mendadak gemetar ketika melihat Bi Sumarni berada di dalam mobil bersama Om Jojon.
"Bi-bi-bi kok bisa sama Om Jojon?" tanyanya.
"Bibi habis dari swalayan komplek. Tadi lupa bilang. Emang Kakak ada yang mau dibeli, ya?" tanyanya dengan mimik wajah dan senyum yang begitu ia kenal.
Jantung Bunga seperti melompat keluar. Tapi ia tidak ingin menceritakan kejadian tadi kepada Om Jojon maupun Bi Sumarni.
"Siapa yang ada di kamar dan membantu membereskan pakaian tadi?" ia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Haruskah aku mengajaknya bicara? Ketika suatu saat nanti aku menjumpai salah satu dari mereka," tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Kak .. Kak, bantuin bawak belanjaannya," ucap Om Jojon sambil menarik ujung kaos Bunga. Seketika pikiran-pikiran yang berkecamuk itu bercerai berai.
Ia mencoba melupakannya. Namun, sosok lesu dan pucat yang menyerupai Bi Sumarni setiap menit datang mengetuk minta diingat. Di dalam otaknya terus teringat saat makhluk atau sosok itu tersenyum lebar sampai tulang pipinya terangkat dengan mata tajam yang tidak berkedip. Mengerikan.
...
"Kak, lihat kupluk Tasha ga? Yang warna pink. Yang ada bordir Tashanya dibagian depan," kata gadis itu memberondong.
Bunga baru saja menyelesaikan salat magrib. Bahkan mukenahnya saja belum dibuka.
"Sebentar, sayang. Kak Bunga beresin ini dulu, ya."
Tasha tampak tak sabaran dan mengulangi lagi pertanyaannya.
"Mungkin ketinggalan di asrama kali, kalau di kamar ga ada."
"Coba tolong Kak Bunga cariin. Sekarang!"
Seperti itulah Tasha kalau sedang menghendaki sesuatu. Mau tidak mau. Yang disuruh harus tetap mau.
"Besok saja, ya. Sudah malam."
Gadis yang dimanjakan Mama dan Papanya itu menarik tangan Bunga. Yang ditarik tidak bisa berbuat apa-apa. Bayangan kejadian beberapa hari lalu masih membekas di ingatannya.
"Tasha duluan ke kamar, ya. Kak Bunga mau bawa kursi dulu, soalnya lemarinya kan tinggi. Kak Bunga pasti ga sampe."
Tubuh tinggi semampai Tasha berlalu menuju kamarnya. Bunga berhenti di meja makan bundar besar dan akan membawa kursi jati itu saat Bi Sumarni memanggilnya.
"Lemari tanam, lagi?" tanyanya sambil memegang lap.
Bunga mengangguk lesu dan meninggalkan Bi Sumarni yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak dipungkiri memang anak gadis majikannya itu sedikit manja dan keras kepala. Persis dengan Atmo Brotoasmoro.
"Kasihan Bunga kalau kelamaan di sini." Lirih wanita itu berucap sambil melanjutkan pekerjaannya lagi.
Kevin sedang membaca komik saat Bunga masuk ke dalam kamar. Anak laki-laki itu tersenyum manis ketika melihatnya.
"Mau nyari apa, Kak?" tanyanya saat melihat pintu lemari tanam di kamar Tasha dibuka.
"Kupluk merah muda," jawab Tasha singkat.
"Aku harus menemukannya dengan cepat. Tidak akan terasa mengerikan karena ada dua orang teman di sini," ucapnya dalam hati.
Tasha yang tidak sabaran mengeluarkan semua pakaian dan barang-barang yang ada di lemari tanam.
"Kalau seperti itu bukankah nanti akan lama ngeberesinnya, Dik?" tanya Bunga dengan wajah memelas.
Gadis itu tak mau tahu. Keinginannya untuk memakai kupluk merah muda itu mengalahkan semuanya.
Sejurus kemudian Tante Pinkan membuka kamar dan bertanya kepada kedua orang anaknya.
"Sudah siap belum, sayang?" tanyanya sambil memasang anting-anting dengan model tears drop. Ia begitu cantik malam itu walau berpakaian casual.
"Lagi nyari kupluk, Ma," jawab Tasha sambil mengacak rambutnya. Ia terlihat frustasi.
"Kupluk pink oleh-oleh dari Tante Magdalena, kemarin?"
"Iya, Mamaaa...." jawabnya sambil menekuk wajahnya.
"Lohhh, bukannya kamu titipin sama Mama, ya? Itu barangnya masih ada di dalam tas kerja yang kemarin.
Bunga mengembuskan napas kasar. Ia sedikit kesal. Ditambah lagi setelah semua berantakan dan harus membereskan semuanya sendirian.
Suara Bi Sumarni terdengar dari dalam kamar saat mengucapkan hati-hati kepada ketiga orang yang akan pergi ke bioskop di malam minggu itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Bunga mencoba kembali merapikan semua yang sudah di porak-porandakan Tasha.
"Ini akan jadi malam yang sibuk," ucapnya lirih.
Barang-barang yang berhamburan, dikumpulkan menurut jenisnya. Beberapa koper travelling sudah dimasukan terlebih dahulu ke bagian yang lebih dalam di lemari tanam itu. Sweater, syal dan jaket sudah dikembalikan di gantungan. Tas-tas hangout dan ransel sekolah juga disusun di sebelah tas koper tadi.
"Apa Bi Sumarni sudah tidur?" tanyanya sendiri.
Suasana tampak sunyi senyap. Tidak terdengar suara televisi, suara sesuatu yang sedang dikerjakan bahkan tidak terdengar suara angin yang menyapu dedaunan.
Bunga tinggal menyusun beberapa kotak warna-warni berisi sepatu dan aksesoris milik Tasha. Namun, gadis itu ragu.
"Haruskah aku menyusunnya di lemari atas, malam ini?" tanyanya lagi.
Dilihatnya lemari tanam dengan dua pintu yang masih terbuka lebar seperti hendak mengajak ke dunia lain. Gadis itu mengucapkan istighfar. Lama ia mempertimbangkan itu semua.
Ah besok saja.
Akhirnya Bunga menyusun kotak-kotak itu di sebelah lemari buku Tasha. Tidak lupa ia juga merapikan tempat tidur gadis yang cukup perfeksionis itu. Mengembalikan susunan bantalnya seperti tadi pagi dan memecut seprei dan bed cover dengan sapu lidi.
Semua sudah kembali bersih dan rapi. Tinggal menutup kedua pintu lemari tanam. Pintu itu terbuat dari kayu yang sangat berat. Suara berderak akan terdengar ketika pintu akan ditutup. Sebenarnya sudah dibuat se girly mungkin. Pak Arip sudah mewarnainya dengan cat merah muda. Tasha juga sudah menempelinya dengan stiker lucu. Namun, aura gelap dan menakutkan tidak bisa lepas.
Bunga mematung. Kakinya mendadak berat. Sebenarnya hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk menutup kedua pintu itu. Dalam kegamangannya ia melihat sosok bungkuk mengenakan pakaian batik hitam putih lewat di lorong kamar menuju ke kamar mandi.
"Cepat tutup pintunya, Kak!"
"Iya ... Oma." Bunga refleks menjawab.
Namun, ia mendadak gemetar. Tubuhnya seperti tidak memiliki tulang. Ia merinding sejadi-jadinya.
"O-o-ma ... Oma ...," Ucapnya berulang kali.
Bukankah hanya aku dan Bi Sumarni yang ada di rumah ini? Lantas siapa yang lewat barusan tadi? Apa mungkin Oma baru saja datang? Tapi tubuh Oma tidak bungkuk.
Bunga nampak bingung dengan pikirannya sendiri.
Memang benar pakaian batik hitam putih itu biasa dikenakan Oma—orang tua dari Tante Pinkan, ketika sedang menginap di sini.
Bunga tersenyum sendiri. Ia berpikir bahwa dirinya sudah mulai gila. Ditariknya napasnya dalam-dalam untuk mengambil ancang-ancang untuk berlari. Didorongnya kedua pintu lemari tanam dengan semua kekuatannya yang ada.
"Bibiii ...."
Ia berlari meninggalkan kamar melewati ruang tamu, ruang tengah, tempat cuci, koridor dan menuju kamar belakang.
"Ada apa, Kak?" tanya Bi Sumarni bingung melihat Bunga yang ngos-ngosan.
Wanita paruh baya itu mengambil cangkir lurik berisi air putih kemudian menyodorkannya kepada Bunga.
"Bismillah dulu," ucapnya kemudian.
"Sudah salat isya belum?" tanyanya sambil meletakkan kembali cangkir lurik.
"Belum, Bi."
"Oh ya, Bi. Apa Oma menginap di sini?" tanyanya nampak ragu.
"Oma Banurasmi?"
Bunga mengangguk.
"Ga ada kok. Memangnya kenapa, Kak?"
"Ga ada apa-apa, Bi. Bunga ambil wudu dulu, ya," ucapnya sambil meninggalkan Bi Sumarni menuju ke kamar mandi yang berada persis di sebelah kamar itu.
"Ini pasti ada apa-apanya," ucap Bi Sumarni lirih sambil menyiapkan mukenah untuk Bunga salat.
"Bibi belum tidur?" tanya Bunga setelah menyelesaikan doa panjangnya.
"Belum, Kak. Kakak mau ngobrol apa?" jawabnya seperti ingin tahu. Tapi dari intonasinya ini bukan sisi ke kepoan. Sepertinya ini wujud kepeduliannya kepada gadis itu.
"Bibi, betah ga tinggal di sini?" Gadis itu bertanya sambil membaringkan dirinya di sebelah Bi Sumarni.
"Sejauh ini betah sih, Kak. Habis mau bagaimana lagi. Untuk usia Bibi sekarang ini, sudah susah buat nyari pekerjaan. Lagipula anak Bibi masih ada yang sekolah. Ya lumayanlah kerja di sini, setidaknya semua gaji Bibi bisa untuk kebutuhan sekolahnya dan sisanya di tabung. Bibi kan ga keluar uang buat makan dan beli peralatan mandi karena sudah disiapin sama Bu Pinkan."
"Iya, Bi. Semangat. Bunga doakan semoga Bibi selalu sehat dan betah kerja di sini."
"Uhmm, Bibi pernah ga ngalamin hal yang aneh-aneh selama tinggal di sini," ia mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang pernah ia ajukan kepada Bu Maryam.
Bi Sumarni tidak segera menjawab. Matanya tampak kosong menatap ke arah pintu. Kemudian ia menarik napas dan berkata.
"Nanti kalau waktunya tepat, Bibi akan cerita sama kamu."
...
Kira-kira jam 23.00 terdengar suara klakson mobil. Bi Sumarni dan Bunga berhamburan menuju garasi. Satu persatu keluar dari mobil.
"Kak, tolong bawain tas pakaian Oma dan Opa yah. Ada di jok belakang," perintah Tante Pinkan sambil menunjuk ke arah belakang mobil.
Seorang laki-laki dan wanita sepuh turun dari mobil sembari di tuntun Kevin dan Tasha.
"Oma ... Opa, apa kabar?" tanya Bunga ramah kemudian mencium punggung tangan dengan takzim.
"Alhamdulillah baik. Kak Bunga dan Bibi apa kabar?" tanya mereka berbarengan.
"Alhamdulillah, luarrr biasaaa," jawab Bunga yang disambut gelak tawa mereka.
Bi Sumarni dan Bunga menutup pagar. Tidak begitu menakutkan karena yang menjadi teman adalah Bi Sumarni. Bisa dibilang level keberanian Bi Sumarni diatas lima puluh dibawah seratus.
Sebelum menutup pagar Bunga sempat menoleh sebentar ke arah pintu belakang dan melihat Oma Banurasmi yang berjalan dengan gagah.
Badannya tinggi besar Sekitar 185cm. Tidak bungkuk dan rambutnya tidak dibiarkan tergerai karena selalu dibungkus songkok. Batik hitam putih panjang semata kaki, memang pakaian itu selalu dipakai ketika menginap di sini.
Lantas Oma yang mana, yang lewat di depan kamar tadi. Yang mengenakan pakaian yang sama. Namun, tubuhnya pendek dan bungkuk dengan rambut putih yang tergerai kusut.