Salah satu radio swasta di kota itu nampak sepi. Hampir semua karyawan dan penyiarnya sudah pulang sejak jam lima sore tadi. Hanya tersisa dua orang petugas keamanan yang sedang bekerja di masing-masing lantai dan beberapa orang penyiar yang akan siaran di malam hari.
Petugas keamanan awalnya hanya seorang saja. Orang itu adalah Fadhel. Pimpinan radio kemudian memintanya mencari teman untuk membantunya bertugas. Maka ia memutuskan untuk mengajak salah satu teman bandnya.
Ibrahim ragu-ragu untuk menerima pekerjaan ini. Dirinya tidak terlalu suka pekerjaan yang dikekang, tapi karena Fadhel sudah berjasa banyak di perubahan hidupnya akhirnya dirinya bersedia.
Langit begitu gelap ketika Ibrahim sedang berkeliling memeriksa lantai dua. Semua ruangan juga telah dimatikan lampu-lampunya. Hanya sebuah ruangan siaran yang berada di dekat tangga yang masih menyala.
Sebenarnya radio besar ini cukup banyak pegawainya. Setiap bulan menduduki peringkat pertama radio yang paling sering didengarkan. Namun, seiring berjalannya waktu, para pendengar radio mulai berkurang dan adanya gangguan makhluk di gedung ini sendiri membuat keadaannya sekarang sedikit mengkhawatirkan.
Bahkan, beberapa orang penyiar yang harus siaran malam lebih memilih pulang di jam lima sore. Kalaupun pimpinan produksi memaksa untuk mengudara, penyiar-penyiar itu memberi syarat agar ditemani oleh petugas keamanan.
...
"Aman?"
"Aman, Del!" sahut Ibrahim ketika berpapasan dengan Fadhel di anak tangga.
Fadhel segera memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat ke arah belakang punggung Ibrahim.
"Bener kamu ga merasakan apa-apa?"
"Santai, Del. Ada yang lebih mengerikan dari pada makhluk," seloroh Ibrahim sambil menepuk pundak Fadhel dengan keras.
Laki-laki berambut kribo itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan.
"Im, beneran kamu baik-baik aja?" Fadhel terlihat gelisah. Tapi yang diberi pertanyaan nampak santai-santai saja.
Beberapa menit kemudian Ibrahim kembali berkeliling di lantai bawah dan sekitarnya. Sedangkan Fadhel sedang keluar untuk membeli makanan di angkringan.
Radio swasta ini terletak di tepat di tengah-tengah kota. Bangunannya juga termasuk bangunan lama dan masih satu daerah dengan Jl. Gedung Tua tempat Bunga kursus komputer.
Dahulu, lahan ini katanya bekas pekuburan yang entah benar atau tidaknya belum kesemua kerangkanya belum di pindahkan. Dan di antara makam itu adalah makam para tentara Belanda.
Kini, Jl. Gedung tua sudah penuh oleh bangunan-bangunan yang juga sudah mulai tua dan tidak terawat. Tidak banyak orang yang berminat untuk menyewa bahkan membeli gedung ataupun rumah toko yang berada di jalan ini. Alasannya ya karena sepi dan menyeramkan.
Renovasi pun tidak pernah dilakukan karena alasan laba rugi. Mungkin. Hanya dengan sekali lewat saja orang-orang awam paham kalau tempat ini bukanlah suatu tempat yang nyaman untuk berlama-lama. Alhasil selalu sepi dari pengunjung bahkan seperti sebuah tempat yang tidak diminati.
Tidak lama Fadhel kembali dengan tergesa-gesa.
"Kok cepet banget, Del?" tanya Ibrahim.
"Aku lupa, Im."
"Lupa, apa?"
"Aku lupa nanya ke Mas Ajun, mau nitip makanan apa? Kasian nanti lapar. Dia kan siaran sampai jam dua belas malam nanti."
"Kenapa ga ditelpon aja?"
"Hpnya ga aktif. Kamu mau ga ke atas tanyain."
"Kenapa? Kamu takut ya, Del?
"Atau berdua aja," tawar Fadhel.
"Terus kalau pergi berdua yang keliling siapa?"
"Kamu mau ke atas atau mau keliling?" tanya Ibrahim.
"Aku keliling aja deh. Kamu yang ke atas."
"Dasar penakut." Ibrahim mencibir.
Ibrahim langsung menuju tangga di ujung front office. Lampu ruangan berkedip beberapa kali seolah menyambutnya. Ia mengarahkan senter ke arah plafon yang terlihat lembab.
Hmm, memang lebih terlihat suram kalau malam-malam begini.
Gumam Ibrahim sambil merapatkan resleting jaket jeansnya.
Ibrahim melewati ruangan demi ruangan. Dirinya sadar bahwa sejak tadi selalu ada makhluk yang mengikutinya. Namun, ia bukanlah Fadhel ataupun Bunga yang akan panas dingin jika melihat makhluk tak kasat mata.
Makin ke ujung lampu makin remang-remang. Pimpinan radio sepertinya sedang menekan anggaran yang dianggap pemborosan.
Mas Ajun nampak sedang membereskan Compact Disc di dalam sebuah box berwarna magenta. Sepertinya ia belum on air. Ibrahim mengetuk pintu tiga kali dan mengucap salam.
Kepalanya mengintip sedikit.
"Mas, mau nitip ga? Fadhel mau keluar beli makan."
"Masuk, Im. Sini," tawar Mas Ajun sambil menarik sebuah kursi untuknya.
"Sendirian aja Mas, siarannya? Biasanya sama Mbak Gita."
"Iya sih, tapi sekarang dia ga mau lagi siaran malam. Ga tahu kenapa." Jawab Mas Ajun sambil mengeluarkan dompet berwarna cokelat dari saku celananya.
"Pengen nasi goreng, Im. Pedes yah. Sama bandrek."
"Okay. Ada lagi, Mas?"
"Itu aja. Nanti tolong diantar ke sini ya, soalnya bentar lagi mau on air."
"Siap Mas."
Ibrahim berlalu sambil meninggalkan laki-laki gendut yang humoris itu.
"Mas jangan takut, ya. Itu ada yang nemenin. Dia suka sama Mas Ajun sepertinya," seloroh Ibrahim sebelum menutup pintu.
"Uaseeem kamu, Im," jawab Mas Ajun sambil melempar bantar kursi.
Bulu di tangannya mulai berdiri. Suasana tiba-tiba terasa senyap. Mas Ajun menoleh ke arah belakang. Yang didapat malah tengkuknya yang mendadak menjadi dingin.
Sebuah kaca besar di depan Mas Ajun duduk memantulkan sebuah tampilan makhluk yang menyeramkan. Wanita mengenakan seragam berwarna jingga nampak tersenyum dengan tubuh yang patah-patah.
Sebenarnya bukan hal yang baru bagi Mas Ajun untuk siaran sendirian karena sebelumnya juga seperti itu. Ada banyak cerita-cerita seram yang beredar mengenai Jl.Gedung Tua bahkan bangunan tempat radio ini sendiri.
Hai sobat Kismis// balik lagi sama Ajun nih// malam Jumat begini memang enak ngobrolin kisah-kisah misteri// apa sobat Kismis punya pengalaman bertemu hantu// pernah melihat penampakan yang seperti apa// agar lebih seru sobat Kismis bisa berbagi cerita di sini// kalau Ajun nih untungnya belum pernah// kalo pun sampai ga sengaja/ mungkin aku bisa pipis di celana//hahaha// jangan ditiru ya// aku tungguin cerita-ceritanya sobat Kismis// langsung aja telepon pada nomor yang sudah disebutkan// sekarang/ kita dengerin lagu Antara Ada dan Tiada yuk/ tapi jangan kabur ya sobat Kismis///
Selepas membaca skrip opening Ajun mengempaskan tubuh besarnya di sofa empuk. Pendingin ruangan yang sudah usang mengeluarkan bunyi tak nyaman dan aroma lembab. Untuk ukuran radio yang pernah jaya beberapa tahun silam semua perkakas dan perabotnya bisa dibilang ketinggalan jaman.
...
Tiga puluh menit kemudian Fadhel kembali membawa beberapa kresek hitam.
"Gimana? Ada semua pesanannya?"
"Iya, beres. Nih, kamu anterin ke Mas Ajun," ucap Fadhel sambil menyodorkan sekantong nasi goreng beserta bandrek yang masih terasa panas.
"Awas, nanti ada yang minta gendong."
"Mulai kumat jahilnya. Kamu kan tahu aku gak takut setan."
"Yang ada juga tuh, di bawah pohon tua itu. Ada yang suka duduk jongkok. Dia ga suka orang yang suka buang sampah sembarangan di depan sini. Makanya kalau ada yang aneh-aneh, itu berarti si jongkok lagi ngambek. Kamu aja yang ga bisa liat. "
Fadhel menoleh ke arah pos dan tiba-tiba saja bergidik ngeri. Sepertinya ia sudah mengerjai orang yang salah.
Diputuskannya untuk menunggu Ibrahim di depan pagar. Setidaknya laki-laki penakut itu masih bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang.
Lampu kembali berkedip saat
Ibrahim melewati ruangan ini lagi. Padahal teknisi sudah menggantinya berulang kali. Sepupu spiderman nampak sedang memainkan lampu itu. Membuka dan menutupnya dengan rambutnya yang menjuntai terbalik.
Dasar makhluk. Kayak ga ada kerjaan aja.
Rutuk Ibrahim sambil berlalu.
Diketuknya kembali ruang siaran Mas Ajun. Dengan kode laki-laki 30 tahun itu meminta Ibrahim meletakkan makanannya pada meja siaran. Ia rasanya ingin meminta Mas Ajun untuk menjaga wudunya. Pasalnya wanita berseragam jingga masih nampak betah menguntit.
...
"Kangen ya?" tegur Ibrahim saat melihat Fadhel mondar-mandir di depan pagar.
Fadhel mengangguk, kemudian melayangkan tinju ringannya ke perut ibrahim. Mereka kemudian tertawa bersama.
"Mau menginap di rumah sakit lagi ya, Im?" tanya Fadhel sambil membuka bungkusan nasinya.
"Iya, Del. Kasihan Bunga sendirian."
Plakkk!
"Baca doa dulu Del sebelum makan."
Fadhel meringis kemudian mengangkat kedua tangannya sambil membaca doa makan.
Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar.
Nikmatnya makan sambil memandang taburan bintang di langit. Ibrahim tersenyum melihat Fadhel yang makan dengan lahap.
"Titip kosan yah," Baim berkata di sela makannya.
"Iyaaa, aman, Im. Anak-anak pada nanyain kamu aja."
"Sampein salamku, ya. Malam ini, amu pulang sama?"
"Dijemput Jate," jawab Fadhel yang masih bersemangat memakan bihun gorengnya.
Ibrahim sudah menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Kemudian minum tiga teguk lalu membaca hamdalah. Kertas minyak dan plastik minum dibuangnya pada kotak sampah yang berada tak jauh dari makhluk yang selalu duduk berjongkok.
...
Tangan Ajun mematikan saklar. Seketika semuanya menjadi gelap gulita. Ajun lupa menyiapkan senter sebagai teman jalannya. Ia kembali membuka pintu ruang siaran karena ingin mengambil senter di laci.
Tangannya meraba dinding dan berjalan perlahan menuju meja. Mencari dan terus saja mencari. Sebuah benda panjang dan sedikit dingin sudah berada dalam genggamannya. Mas Ajun hanya tinggal mencari tombolnya saja.
Perasaan girang menghampiri saat Ajun berhasil menghidupkan senter. Ia dengan semangatnya melesatkan cahaya itu ke sebuah arah. Tapi, tebakannya meleset ketika terang cahaya memantul lewat biasan kaca.
Aku mencari pintu keluar, bukan kaca. Di mana pintunya?
Wanita berseragam Jingga masih di sana. Ia menatap kosong ke arah Mas Ajun sambil mengatakan sesuatu.
Sayangnya laki-laki itu tidak mengerti apa yang dikatakan wanita berambut cepol itu.
Ajun melebarkan kelopak matanya tatkala makhluk itu semakin mendekat.
"Tolooong ...." teriak wanita itu.
"Si-siapa kamu? Aku ga kenal kamu. Pergi! Jangan ganggu aku!" teriakan histeris keluar dari mulut Ajun.
Kemudian Ajun terkesiap ketika makhluk itu mengulurkan tangannya yang bersimbah darah. Bau anyir membuat Ajun mual.
"Mas Ajuuun ... tolong aku ...."
Wanita itu menangis sendu. Parasnya yang tak biasa membuat Ajun ketakutan dan lari tunggang langgang. Ia berlari ke anak tangga namun karena terburu-buru ia terpeleset dan jatuh. Untung hanya kakinya saja yang terkilir.
"Iiim ... Del ...." Ia berteriak sekuat yang ia mampu.
Ibrahim dan Fadhel yang mendengar jeritan itu segera mendekat ke arah sumber suara. Mereka berdua kaget mendapati Mas Ajun yang nampak kesakitan sambil memijat pergelangan kakinya.
"Ya Allah ... Mas Ajun kenapa?" teriak Fadhel panik.
"Pelan-pelan saja, Mas" ucap Ibrahim sambil membantu Mas Ajun berdiri.
"Masnya mau langsung pulang apa mau duduk di pos dulu?"
"Di pos dulu aja, Del," jawab Mas Ajun lesu.
"Mas tadi kenapa?" tanya Ibrahim pelan.
"Mas ... tadi ... itu ... ada ...."
Laki-laki yang sudah menjadi penyiar radio belasan tahun itu seperti linglung. Tak biasa-biasanya dirinya seperti itu.
Air mineral diteguknya sampai habis. Mas Ajun seperti merasakan dahaga yang teramat sangat. Ibrahim memintanya mengucap istighfar sambil mengatur napas. Wajahnya masih pucat dan sepertinya ia belum bisa menceritakan apa-apa.
Ibrahim menelisik jam tangan sporty yang ada si pergelangan tangan kanannya.
Sudah jam setengah dua belas. Gumamnya.
Sebenarnya ia bimbang. Tidak mungkin meninggalkan Mas Ajun dan Fadhel berdua di pos karena keadaan Mas Ajun sepertinya belum stabil. Sedangkan di satu sisi merasa tak tega kalau Bunga sampai harus menunggunya datang sampai lewat tengah malam.
Sebuah motor vespa super print 90 berwarna hijau metalik terparkir di depan pagar. Laki-laki seumuran Ibrahim datang mengucap salam. Wajahnya putih bersih dengan hidung yang kecil.
"Im, Jate sudah datang," bisik Fadhel kepada Ibrahim.
"Ya sudah pulanglah," kata Ibrahim sambil tersenyum kepada Jate.
"Apa kabar, Im?" tanya Jate kepada sahabatnya itu.
"Alhamdulillah, baik."
Mungkin Mas Ajun merasa tidak enak kalau harus merepotkan anak-anak muda itu. Dirinya juga mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja selama perjalanan ke rumah.
"Tolong bawa ke sini, Im mobilku. Nanti biar aku pulang sendiri. Toh cuma pergelangan kakiku saja yang sedikit sakit. Nanti sampai di rumah bisa mintak Mamakku bikinkan boreh rempah," ucap Mas Ajun sambil mengeluarkan kunci mobilnya.
"Fadhel dan Jate hanya mengangguk ketika Ibrahim meminta persetujuannya. Sebenarnya mereka tidak ingin membiarkan Mas Ajun pulang sendirian. Namun, apa boleh buat. Si pemilik badan merasa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Ibrahim meninggalkan kedua temannya dan Mas Ajun di pos depan. Ia menuju ke bagian samping radio untuk mengambil mobil suzuki escudo berwarna silver milik Mas Ajun.
"Sssttt … sini!" Seorang nenek tua dengan rambut acak-acakan memanggil Ibrahim sembari berbisik.
"Ada apa lagi, Nek?" tanya Ibrahim yang sepertinya sudah mengetahui keberadaan Nenek itu. Ia terlihat biasa saja dan tidak terkaget-kaget.
"Pinjem bajunya," ucap Nenek kemudian tertawa kecil menampakkan gigi-giginya yang menghitam.
"Saya cuma punya satu, Nek. Maaf ya," jawab Ibrahim sehalus mungkin. Dirinya berusaha jangan sampai perkataannya menyakiti siapa saja. Termasuk makhluk sekalipun.
"Nenek kedinginan, cuuu." Kemudian ia menangis.
"Nanti, Ibrahim kirim doa aja ya, Nek. Kalau Nenek kedinginan jangan main keluar. Nanti masuk angin." Ibrahim menjawab sambil berlalu meninggalkan si nenek yang nampaknya merajuk.
...
Fadhel, Jate dan Mas Ajun sudah pulang terlebih dahulu. Ibrahim segera menutup pagar radio itu kemudian menggemboknya. Ia menelisik lagi jam dipergelangan tangan. Hatinya mendadak resah. Semoga Bunga baik-baik saja selama dirinya belum sampai.