Malam itu Bunga berbaring di ranjang besi rumah sakit dalam keadaan terjaga dan tidak tenang. Ia selalu mengamati setiap jarum jam dinding yang bergerak.
"Masih lama ya pagi datang?" tanyanya pada seorang laki-laki yang duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
"Tidurlah. Jangan takut. Ada Kakak di sini."
"Apa Kakak tahu? Ada banyak hantu di sini," ucapnya berbisik sambil menyelimuti separuh wajahnya.
"Ya Kakak tahu. Dan kalau kamu tidak segera beristirahat, maka hantu
kepala botak itu tadi akan mengajakmu bermain."
"Tidurlah jangan lupa baca doa dan surah pendek dalam hati," sambungnya lagi.
Gadis yang sudah merasa kelelahan itu mencoba memejamkan mata. Ia langsung tertidur ketika Ibrahim mulai membaca sesuatu. Suaranya sangat merdu sehingga membuat hati gadis itu terasa tenang dan damai.
Kamar rawat inap ini sangat sepi. Jauh dari pos perawat. Letaknya paling ujung dan belakang.
Kalau gadis itu sampai tahu dirinya dirawat di kamar jenazah, aku yakin sekali ia bakal melepas infusnya dan segera minggat dari kamar ini.
Ibrahim bergumam kemudian matanya memindai ke ranjang paling ujung.
Sudahlah tidak usah mengganggu. Kami tidak ada niatan jahat. Hanya menumpang untuk sementara waktu. Aku kirimkan beberapa hadiah lewat doa-doa tulus. Semoga kamu mau menerimanya.
Kakak pucat tanpa sehelai rambut tersenyum kemudian perlahan menghilang.
...
Alarm dari telepon genggam berbunyi beberapa kali. Laki-laki muda itu menggeliat dan segera menyingkirkan selimut. Diambilnya peci dan sarung dari dalam tas kemudian menuju musala yang berada di seberang kamar rawat inap.
Selepas salat Ibrahim kembali ke dalam kamar dan mendapati dua orang suster yang sedang membantu Bunga yang kembali muntah dengan hebat.
"Kamu kenapa, Dik?"
Bunga menggeleng lemas. Beberapa hari ini dirinya sudah terbiasa dengan itu. Namun, tetap saja setelahnya ia merasa seakan separuh jiwanya terlepas.
"Saya titip adik saya sebentar."
Ibrahim meninggalkan Bunga dan segera menuju ke dapur membawa termos air panas. Ia juga bertanya kepada penjaga dapur di mana dirinya bisa mendapatkan teh atau kopi panas. Laki-laki tua itu menjawab jam 06.00 biasanya ada petugas yang berkeliling kamar untuk membagikannya.
Setelah beberapa waktu muntah-muntah itu berhenti. Gadis itu sudah merasa lebih nyaman karena perutnya sudah mulai hangat.
"Sebenarnya Bunga pengen teh manis, Kak," ucapnya sambil tersenyum.
"Sebentar lagi, jam enam teng, nanti ada petugas yang datang berkeliling. Sabar ya."
"Kapan Bunga bisa pulang, Kak? Rasanya ga betah."
"Ga ada orang yang betah di rumah sakit," jawab Ibrahim sambil membuka gorden berwarna abu-abu tua.
"Lagian gimana mau pulang. Kamu masih muntah-muntah begitu. Makannya juga masih sedikit."
Ibrahim membereskan bedcover bekas alasnya tidur dan menyusun kembali bantal pada ranjang-ranjang kosong.
"Bunga kangen masakan Bi Sumarni."
"Ya, sudah nanti coba Kakak telpon ke rumah. Siapa tahu Bibi bisa keluar sambil bawa masakan kesukaan kamu."
"Memangnya kamu mau minta dimasakin apa?"
"Semur Ayam."
"Apa? Semur ayam?" tanya Ibrahim sekali lagi.
Ingatan laki-laki muda itu seketika melayang ke beberapa tahun lalu. Saat ia tengah berebut paha ayam yang di semur.
Ahh, apa kabar kamu, Bunga? Hatinya bertanya.
"Kak, Kakak. Kak! Kok ngelamun, sih."
"Oh, ga apa-apa kok."
Ibrahim lantas membuka pintu kamar dan membiarkan udara segar masuk menggantikan udara yang mengendap di dalam kamar. Tak lama petugas yang membawa teh hangat dan sarapan pagi datang menghampiri.
"Nanti kotak makannya tolong di letakkan di depan pintu ya, Dik."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Ibrahim masih berada di depan pintu saat Bunga menanyakan menu apa yang ada di dalam kotak bekal itu.
"Seperti yang kamu mau," jawabnya sambil tersenyum.
Laki-laki muda bersuara merdu itu meletakkan kotak sarapan di atas ranjang.
"Bisa makan sendiri?"
"Bisa Kak."
Bunga membuka kotak sarapan dan mulai makan. Ia kecewa pada suapan pertamanya.
"Kenapa?" tanya Ibrahim yang melihat Bunga menunjukkan ekspresi kecewa karena makanan yang dimakan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Ga seenak masakan Bibi," jawabnya.
"Tapi kamu harus makan. Tadi muntahnya banyak kan. Katanya mau pulang cepat."
Kak Ibrahim benar. Ia juga teringat pesan Pak Arip.
"Ia Kak. Ini Bunga habisin."
"Pelan-pelan aja. Sambil makan kamu minum teh manisnya ya."
Kotak sarapan sudah hampir kosong. Tersisa tulang belulang dan sedikit kuah saja. Teh manis hangat pun habis tak tersisa.
"Kamu mau ganti pakaian? Biar Kakak panggilkan perawat."
"Nanti saja Kak. Tunggu Bi Sumarni datang."
"Kalau Bibi ga datang?"
"Ya, ga ganti baju. Ucapnya terkekeh."
Lagi-lagi senyum itu mengingatkan Ibrahim kepada seseorang yang sangat si cintainya.
Ah, sedang apa kamu di surga, Bunga?
"Kakak boleh tanya sesuatu ga?" tanyanya serius sambil menggeser kursi lebih dekat ke ranjang Bunga.
"Iya, boleh Kak. Silakan."
"Kamu ingat ga, kenapa kamu tiba-tiba pingsan?"
Gadis itu nampak berpikir dan mengingat kejadian di hari itu. Kejadian di mana paginya ia ditinggal Bi Sumarni sendirian di rumah.
"Coba Bunga ingat-ingat dulu."
"Oh, ya. Saputangan, Kak."
"Saputangan?" tanya Ibrahim sambil mengernyitkan alis tebalnya.
"Bunga lagi bantuin Bi Sumarni jemur pakaian. Pas di pakaian Om Atmo yang di bawa perjalanan bisnis kemarin semua baunya harum. Tapi bukan berasal dari pengharum pakaian yang biasa di pake Bi Sumarni."
"Terus ...."
"Terus apa, Dik?" tanya Ibrahim tak sabaran.
"Terus ... Di salah satu kemeja, waktu mau digantung ada sapu tangan jatuh.Di saputangannya ada inisial DY. Karena sapu tangan itu wangi, terus Bunga cium. Terus ya gitu, deh."
"Saputangan dengan inisial Dy," ulang Ibrahim.
"Iya saputangannya halus dan lembut gitu, Kak. Ada renda kecil disekelilingnya.
"Memangnya ada apa, Kak? Itu saputangan siapa?"
"Ga ada apa-apa. Oya, Kakak nelpon Bi Sumarni dulu ya. Siapa tahu bisa ke sini."
...
Serantang ayam semur dan nasi pulen yang masih hangat membuat mata Bunga berbinar-binar. Bi Sumarni dan Pak Arip datang setelah dokter berkunjung.
"Bunga kangen sama, Bibi?" ucap gadis itu polos.
"Kangen sama Bibi apa sama masakannya?"
"Dua-duanya," jawab gadis itu tersipu malu.
Gadis itu menatap lekat ke arah Bi Sumarni. Wajah wanita itu pucat dan terlihat lesu.
"Bibi lagi sakit?"
"Ah, engga. Bibi cuma kurang tidur aja," jawab Bi Sumarni bohong.
"Cepatlah sehat dan pulang. Kasihan Bibi Sumarni sendirian," tambah Pak Arip.
"Iya ... Iya, berkat doa semua orang dan makanan yang enak, Bunga pasti lekas sembuh."
Semua tersenyum dan mengaminkan doa gadis itu. Tinggal giliran Ibrahim yang nampak berpikir keras. Ia menghubungkan kejadian demi kejadian yang berhubungan dengan saputangan berinisial Dy itu.
Ibrahim memutuskan untuk berbicara lebih lanjut dengan Om Jojon. Namun, di satu sisi dirinya juga takut kalau terlalu ikut mencampuri lebih dalam lagi. Ia bimbang.
"Kamu jagain Bunga sampai jam berapa?" tanya Pak Arip kepada Ibrahim.
"Mungkin sampai jam 2, Pak?"
"Hmm, baiklah kalau begitu. Bapak sama Bi Sumarni pamit pulang dulu karena tadi janjinya sama Jojon ga lama-lama ke sini. Lekas sembuh ya, Kak. Pak Arip yakin kamu orang yang kuat dan hebat."
"Iya, Pak. Tentu."
Bunga mengangguk yakin kemudian mengucapkan terima kasih kepada Bi Sumarni dan Pak Arip.
Mereka berdua berdiri dari kursi dan berpamitan kepada Bunga dan Ibrahim.
"Assalamualaikum," ucap mereka. Kemudian bayangannya menghilang di balik pintu.
...
"Kak, Bunga itu siapa?" tanya gadis itu tiba-tiba setelah Bi Sumarni dan Pak Arip pergi.
"Ga mungkin, Bunga yang selalu Kakak sebut itu, Bunga kan?" tanyanya lagi sambil menunjuk dirinya.
"Bunga ...."
Helaan napas berat terdengar. Sepertinya masih berat untuk menceritakan semua itu kepada gadis yang baru-baru ini dikenalnya.
"Bunga itu adiknya Kakak. Dia manis, ceria, hangat, terkadang menyebalkan. Tapi sekarang Kakak rindu banget sama dia," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya ia ingin menangis tapi dirinya sudah berjanji kepada adiknya satu-satunya itu agar tidak pernah bersedih lagi.
"Ya, nanti kamu bakal tahu semuanya. Suatu saat nanti. Saat tiba waktunya."
Laki-laki muda itu kemudian melamun lagi. Dirinya membayangkan kehidupannya dulu yang penuh dengan kubangan dosa. Susah payah dirinya yang sudah tak punya apa-apa untuk bangkit dan memperbaiki hidup.
Bersyukur ....
Itulah yang bisa dilakukannya saat ini. Allah begitu baik kepadanya. Jalan kebaikan terbentang setelah masa kelam yang panjang.
...
"Berarti ia tidak berharga karena sudah membuatmu sakit hati!" Seorang wanita berkacamata memekik kecil karena kesal.
Wanita cantik berkulit putih di sebelahnya menghela napas berat.
"Ayolah ... Kamu harus membuat keputusan. Perbuatan menduakan isteri itu sudah mendarah daging. Kalaupun dimaafkan dan dirinya berjanji akan berubah pasti nanti akan kembali lagi."
"Tapi aku belum berani, Len. Kasihan anak-anak. Aku masih ingin memberinya kesempatan lagi."
"Dulu kamu ratunya. Tapi sekarang tidak!"
"Dulu dia tidak seperti itu Len. Apa ini jadi salahku juga?" tanyanya sambil mengusap bulir bening yang menetes di pipi mulusnya.
"Hmm, sebentar. Kita pending dulu ceritanya. Kamu mau mampir ke toko roti tadi kan ? Kamu mau turun atau tidak. Atau biar aku saja yang memilihkan beberapa makanan untuk Bunga," ucap wanita yang mengenakan setelan blazer berwarna biru muda.
Mobil mercy terparkir di sudut toko roti yang sedang ramai di jam makan siang. Wanita cantik yang wajahnya serupa Jihan Fahira itu menatap sebuah wajah sendu pada kaca compact powdernya.
Satu persatu perihal suaminya—Atmo Brotoasmoro mulai diketahui. Awalnya ia tidak percaya atas semua yang dikatakan Om Jojon—sopir pribadi suaminya, tentang keberangkatan mereka berdua beberapa hari lalu.
Bahkan semua kejadian awal pertemuan laki-laki yang sudah menikahinya belasan tahun itu dengan seorang wanita bernama Dayu. Wanita bersuara merdu itu berharap sihir atas diri suaminya akan sirna kalau ia masih dengan tulus mencintai suaminya itu.
"Segini cukup ga, Pink?" tanya wanita bernama Magdalena. Barisan giginya yang putih menambah kecantikannya.
"Cukup, buat persiapan Bunga seminggu di rumah sakit," jawab wanita itu terkekeh.
"Kamu beliin sebanyak itu kayak Bunga ga akan pulang ke rumah aja," sambungnya lagi.
"Aku hanya ingin kamu tertawa. Jangan bersedih lagi. Ada aku, sahabat baikmu yang akan selalu ada dalam suka maupun duka."
Tante Pinkan tertawa kecil.
"Lagak mu dah kayak penyair aja, Len."
...
Suara musik berdetak seiring dengan jantung ke dua orang yang sedang bercengkerama. Seseorang yang mengintai dari dekat jendela merasakan rasa panas yang memenuhi rongga dadanya.
Wanita itu mensyukuri belasan tahun hidupnya bersama si laki-laki tampan. Namun, sekarang dirinya harus mempertimbangkan kembali. Apakah ia masih ingin meneruskan pernikahan ini atau menyudahinya.
Aku bukannya merasa takut hidup sendirian. Mungkin sedikit merasa takut. Tapi yang menjadi ketakutan utamanya adalah pandangan orang tua terhadapnya akan laki-laki itu. Ia teringat dulu begitu ngoyoh dan benar-benar memperjuangkannya untuk menjadi suaminya. Bahkan sampai tak mengindahkan perkataan kedua orang tuanya .
Sekarang laki-laki itu memiliki wanita lain tempat berbagi keluh kesah. Dirinya bukan lagi yang utama. Tersisih atau dibuang itu yang dirasakannya saat ini.
Ruangan dengan lampu temaram itu merupakan rumah yang di sewa beberapa bulan untuk si wanita bergaun merah. Laki-laki tampan di sebelahnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk wanita sihir itu. Sedangkan istri sahnya menahan hati dari luar jendela melihat kelakuan suaminya.
Tapi yang terpenting bagi si istri adalah suaminya tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginannya. Seperti yang dikatakan oleh si sopir setia. Suaminya melakukan itu karena di bawah sihir dan mantra.
"Haloo, wanita cantik yang sedang bermuram durja. Kita sudah sampai," ucap Tante Magdalena sambil membukakan pintu.
Ternyata sejak tadi wanita cantik disebelahnya sedang sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri.
Mereka berdua turun. Mobil di parkir di dekat pohon besar yang sudah ada ratusan tahun bahkan sebelum rumah sakit tua ini di bangun. Jalan bebatuan mengantar mereka ke koridor rumah sakit yang panjang dan lengang.
"Kenapa kamar rawat inap Bunga jauh kebelakang?"
"Kata Pak Arip kemarin pas Bunga mau di rawat kamar di rumah sakit ini full. Itu seperti kamar cadangan, Len," jawab Tante Pinkan sambil membuka kelly bagnya yang berwarna gelap.
Sambil berjalan menyusuri koridor sesekali Tante Magdalena mencuri pandang ke arah sahabatnya itu. Wanita itu jadi tidak mau makan. Matanya terkadang kosong. Ia jadi tidak memikirkan apa-apa lagi selain suaminya
Rumah orangtuanya menjadi pelariannya selama beberapa malam ini. Di sana dirinya menjadi sedikit tenang. Kasih sayang dan kepedulian dua orang yang masih sepuh itu menjadi penentram hatinya.
"Sepertinya ini kamarnya, Pink." Tante Magdalena berkata sambil menunjuk salah satu kamar yang berada di paling ujung koridor.
Gadis itu sedang ditemani oleh Ibrahim. Mereka nampak sedang membaca juz amma sambil membaca artinya.
"Apa kabar, Kak?" tanya Tante Pinkan sambil meletakkan buah tangan di atas lemari besi.
"Alhamdulillah Tante, ini sudah mau pulang," jawab Bunga mencoba untuk melawak.
Sayang lawakannya tidak membuat Tante Pinkan tertawa. Wanita itu masih nampak murung.
Radar di dalam diri Bunga seketika menyala. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari tantenya. Murung dan layu. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Pinkan Wilhelmina sekarang. Dari dalam hatinya, gadis itu berharap Om dan Tantenya akan selalu dalam keadaan baik dan rukun hingga mereka menjadi kakek dan nenek.