Malam-malam berikutnya kembali Bunga saja yang menemani Kevin dan Tasha. Rumah besar itu sepi lagi. Mbak Dewi sudah dikembalikan ke Yayasan siang itu juga.
Bunga ingat ketika Tante Pinkan masuk ke kamar belakang dan meminta Dewi kembali memasukan pakaiannya yang telah ia susun ke dalam gerobok kayu.
"Kenapa, Bu? Kenapa saya dikembalikan ke Yayasan?" tanya Dewi penasaran.
"Kamu harus belajar lagi di sana! Belajar banyak! Belajar attitude juga."
Namun, ada kabar gembira di balik itu semua. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Tante Pinkan sudah menyelesaikan administrasi untuk kelas kursus untuk Bunga selama enam bulan ke depan.
Gadis itu akan kursus Bahasa Inggris ditempat yang sama dengan anak-anak keluarga Brotoasmoro dan kursus komputer di hari yang kosong.
Hanya sedikit hal yang menganggu pikirannya. Bagaimana cara ia akan pulang ke komplek, ketika kursus komputer yang tersedia hanya di sore hari. Kursus itu akan selesai di jam 20.00. Tentunya tidak ada kendaraan yang lewat ke arah komplek perumahan pada jam tersebut.
Tak masalah jika jadwal kursus Bahasa Inggris karena tempat kursusnya sama dengan tempat kursus Kevin dan Tasha. Om Jojon atau Pak Arip akan menjemput dan mereka biasanya akan pulang bersama.
Namun, karena rasa senang yang meluap-luap, permasalahan kecil itu tidak dipikirkannya lebih lanjut.
...
Suatu hari di akhir pekan, Bunga meminta izin kepada Tante Pinkan untuk mengunjungi Nini dan Paman. Ia juga meminta izin untuk meminjam sepeda lipat Kevin sebagai kendaraannya untuk pulang.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, gadis itu bersiap-siap. Ia berpamitan kepada Pinkan yang sedang berada di kamarnya.
“Tante, Kakak ke rumah Nini dulu ya. Semua sudah Kakak bereskan. Kakak juga mau pinjam sepeda Kevin."
“Iya, hati-hati Kak. Jangan ngebut bawa sepedanya. Oh ya, Tante sama adik-adik mau ke rumahnya Oma dan Opa. Tante kirim salam buat Nini ya.”
“Nanti disampaikan salamnya. Kakak titip salam juga buat Oma dan Opa. Kakak pergi dulu. Assalamualaikum.”
Bunga kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.”
Ia mengambil sweater hoodie berwarna hitam dari dalam kamar. Sweater bertuliskan Tuff Girl pemberian salah seorang teman dekat Tante Pinkan itu, kini jadi sweater kesayangannya dan selalu dipakai ke mana ia pergi.
“Bismillah,” ucapnya sambil mengambil ancang-ancang menggowes pedal sepeda.
Hari itu sangat indah. Cuaca juga cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Ia benar-benar senang dan tak sabar untuk sampai ke rumah Nini. Mungkin tak hanya dirinya saja yang sedang berbahagia, orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan ini juga semuanya tengah berbahagia.
Terlihat mereka sedang duduk-duduk di pekarangan, ada yang sambil bersenda gurau dengan anggota keluarganya, ada yang sedang bercocok tanam, ada juga yang sedang bermain bulu tangkis. Semua tampak menikmati weekend mereka.
Hampir satu jam menggowes sepeda akhirnya Bunga sampai di rumah Nini. Ia disambut haru oleh Nini dan Paman yang sudah lama tidak dijumpainya.
Mereka memasak bersama, mengobrol, berbagi cerita, sampai akhirnya di suatu menit Paman menyampaikan kegundahan hatinya dengan suara yang parau.
“Bagaimana keadaanmu di sana? Bagaimana perlakuan mereka? Kalau mereka tidak baik dan kalau tidak betah pulang saja.”
“Om dan Tante baik banget, alhamdulillah. Mbak, sudah mulai kursus. Paman jangan khawatir. Mbak, makan dan istirahat yang teratur di sana. Insyaallah selalu sehat. Paman juga harus begitu,” jawabnya sambil menepuk-nepuk lutut laki-laki yang rambutnya mulai memutih itu.
Tidak terasa hari sudah semakin sore. Ketika akan kembali pulang, sore harinya ternyata hujan mengguyur sangat deras. Nini meminta Bunga untuk menginap saja.
“Tidak usah pulang, besok pagi saja. Kirim pesan ke tante, kabarkan sedang hujan deras,” kata Nini sambil mengintip hujan dari kaca hitam yang ada di kamar tidur mereka .
Bunga menurut dan segera mengambil telepon genggam yang ada di tas selempang kecilnya lalu mengetik satu demi satu huruf pada telepon genggam N* 2100nya itu.
[Assalamualaikum Tante. Maaf, boleh ndak kakak menginap di rumah Ninik malam ini. Hujan deras sekali dan sudah hampir Magrib, jalanan gelap. Kakak takut pulang sendirian.]
[Pulang saja. Kasihan Adik-adik ndak ada yang menemani.]
[Tapi Tante ....]
Belum sempat gadis itu menyelesaikan pesan selanjutnya, Tante Pinkan sudah mengirimkan pesan lagi.
[Pulang! Pokoknya pulang! Tante tidak mau tahu.]
Bunga menyampaikan kepada Nini kalau Tante Pinkan tidak mengizinkan untuk menginap. Ada rasa sedih dan ada kecewa tersirat dari mata dan mimik wajahnya.
Bunga ingat sekali perkataan bahwa kapan pun bisa datang dan menginap di rumah Nini. Tapi kenapa tiba-tiba Tante Pinkan bersikap seperti ini.
Setelah salat Magrib, Bunga memberanikan diri untuk pulang. Ia mengenakan jas hujan tipis berwarna bening dengan motif polkadot merah muda. Hujan bergemuruh masih turun ketika memasuki kompleks perumahan Belanda. Ia sempat berhenti di pos satpam dan bertanya kepada mereka yang yang bertugas pada malam itu.
“Maaf Pak, boleh tidak saya minta diantar ke dalam sama becak . Soalnya saya takut sendirian.”
Sepeda lipat Kevin bisa ditaruh di atas becak atau bisa di letakkan di dalam sambil dipegang. Ia juga merasa tidak akan takut kalau ada bapak becak yang bersedia mengantarkannya sampai ke depan rumah Pinkan.
Tapi kenyataan tak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Memang dari dulu kendaraan yang boleh masuk di komplek perumahan ini hanya sepeda, motor, dan mobil saja.
“Maaf Dik, becak tidak boleh masuk. Kamu mau ke mana. Telepon saja dari sini minta dijemput,” kata Bapak satpam yang memakai kacamata itu.
"Saya mau ke rumah yang paling ujung Pak, rumah Ibu Pinkan. Boleh ya Pak, tolonglah saya mohon sekali ini saja,” pintanya memelas dan sudah hampir mengeluarkan air mata.
"Minta jemput. Ndak mungkin saya minta jemput Pak. Saya ini bukan anaknya. Bukan saudaranya. Saya ini cuma babu," jawabnya terisak.
“Maaf Dik, memang peraturannya sudah begitu,” sambung Pak Satpam yang lainnya lagi.
Sambil menahan isak ia mengendarai sepeda Kevin perlahan. Hatinya yang kecewa bertubi-tubi.
Jalanan remang-remang walau diterangi banyak lampu. Bunga menoleh ke kanan dan ke kiri berharap masih ada orang yang masih duduk-duduk di teras bersama keluarga mereka, setidaknya ada manusia yang dilihat. Sayangnya tidak. Banyak rumah-rumah yang sudah tertutup rapat bahkan mematikan lampu terasnya.
Ah kenapa harus dimatikan, bukankah tinggal di kompleks perumahan ini tak pernah dikenakan biaya untuk membayar tagihan listriknya. Rutuknya.
Mungkin di kompleks seluas ini hanya ia manusia yang berkeliaran di malam gelap dan hujan deras begini.
Tidak terasa sudah sampai di belokan ke dua. Sudah melewati Masjid besar yang letaknya tepat di posisi tengah kompleks. Jalan lurus ke depan lebih gelap dari jalanan sejurus dari pos satpam tadi.
Ia masih belum putus asa. Masih berharap kalau-kalau masih ada keluarga yang sedang berkegiatan di teras. Dialihkan pandangannya ke kanan dan kiri rumah-rumah Belanda. Lengang dan begitu hening.
Di pertengahan jalan ban sepeda kempes. Bunga turun kemudian menuntunnya. Hujan semakin deras tapi entah kenapa gadis itu menyukainya.
Airnya yang jatuh bisa menutupi sesuatu yang keluar dari mata dan isak yang tertahan di dadanya. Ditatapnya lagi jalan lurus yang gelap di depan sana. Entah mengapa terasa begitu panjang malam ini.
Seekor anjing dari ras Lasa Aphso, dengan bulu yang sangat panjang berlari mendekati. Awalnya warna yang ditangkap mata tidak begitu terlihat jelas.
Anjing itu semakin mendekat. Yang membuat aneh sepasang mata anjing besar terlihat berwarna merah.
Apakah nyata atau hanya imajinasi saja karena hari ini begitu melelahkan.
Bunga mencoba fokus dan menajamkan mata. Bahkan sempat mengelap wajah dengan saputangan handuk yang diambil dari saku belakang jeans.
Lasa Apsho terlihat berlari ke arahnya. Cepat dan semakin cepat saja. Mendadak ia panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada sebuah doa yang diajarkan Nini saat bertemu hewan mamalia itu.
“Shummumm bukmun Ummyun fahum laa yarji’uun(a)” ucapnya lirih.
Sangat disayangkan, bukannya pergi, anjing yang semula tubuhnya kecil sedikit demi sedikit berubah menjadi besar.
Saat semakin keras membaca doa, anjing itu berubah menjadi sosok yang sangat besar, hitam dan tinggi. Setinggi pohon mahoni yang ada di sisi kiri jalan. Bulu yang sangat banyak hampir menutupi seluruh tubuh dan bagian wajahnya.
Bunga takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Dengan refleks ia melepaskan sepeda yang dituntun dari tadi. Ini salah satu hari terberatnya. Di atas aspal gadis itu terisak dan ketakutan. Bajunya basah kuyup.
Mungkin apa yang terjadi malam itu tidak bisa dibendung lagi. Ia memeluk lututnya. Air hujan dan air mata telah bercampur menjadi satu. Takut, sedih, kecewa datang di saat yang bersamaan.
Mereka semua jahat. Ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Terdengar suara klakson mobil. Seperti mendapat pertolongan, walau ia tidak tahu itu mobil siapa. Kepalanya di angkat perlahan. Takut-takut kalau sosok itu masih ada di sana. Untungnya tidak.
Sebuah mobil Frontier berwarna hitam dengan bak di belakang datang menghampiri. Ia merasa seperti tak asing dengan mobil itu. Pintu mobil di buka. Seorang laki-laki yang dikenalnya keluar sambil membawa payung motif monokrom.
Ia lega karena yang keluar ternyata Pak Arip—sopir keluarga Brotoasmoro.
“Kak Bunga kenapa?”
“Tadi kesandung batu Pak. Sepedanya juga bannya kempes. Mungkin tadi kena paku,” katanya mencoba mencari alasan.
“Ikut Bapak saja, ya. Nanti sepeda letakkan saja di belakang situ,” katanya sambil menunjuk ke arah belakang mobil.
“Iya Pak,” jawab Bunga tanpa berpikir dua kali.
Ada dua orang pegawai Pak Arip yang duduk di bak belakang. Bunga sempat merasa heran kenapa pegawai Pak Arip tidak diajak duduk di dalam. Ia merasa kasihan karena hari sudah malam dan hujan.
Ada perasaan tidak enak hati kepada pegawai Pak Arip. Mereka berdua kehujanan tapi malah ia yang diajak untuk duduk di dalam mobil. Kedua orang itu masih menunduk sambil memeluk kedua lutut saat Pak Arip membawa naik sepeda lipat ke bagian belakang mobil.
Sebelum duduk nyaman di dalam mobil, gadis itu meminta izin.
“Maaf Mas, saya duduk di dalam”. Tapi mereka berdua hanya diam saja.
Bunga masuk dan duduk di atas jok mobil berwarna hitam pekat. Mesin dinyalakan. Mobil berjalan tidak begitu kencang dan akhirnya mereka tiba.
"Terima kasih Pak," ucap gadis itu sambil tersenyum.
Mereka masuk beriringan kemudian berpisah di depan pintu belakang. Bunga masuk ke dalam kamar dan bersiap mandi. Pak Arip menuju ruang tengah menonton televisi.
Beres salat Isya ia keluar dari kamar belakang menuju ruang tengah. Di sana ada Pak Arip dan Om Jojon yang sedang menonton acara tinju di salah satu stasiun swasta.
Om Atmo masuk dari pintu tengah sembari mengenakan kaos biru favoritnya dan celana pendek dengan merek ternama berwarna sedikit lebih terang. Tampak mereka bertiga fokus ke layar televisi sambil sesekali mengomentari acara yang di tonton.
“Kak tolong bikinin kopi sama camilannya,” kata Om Atmo ketika melihat Bunga yang baru saja keluar dari kamar belakang.
Gadis yang sedang mengenakan kaos dengan sablon kartun dan celana selutut itu masuk ke dapur. Dihidupkannya dua mata api pada kompor bermata empat dan menaruh sebuah ceret air stainless. Tak lupa ia memasak mie rebus rasa kari ayam kesukaan Om Atmo.
Sebuah lemari tanam berisi berbagai macam cangkir dan piring menjadi tujuan selanjutnya. Empat buah cangkir kopi sudah tertata di atas baki kayu klasik. Sambil mengaduk kopi ia meminta tolong kepada Pak Arip.
“Bapak menginap di sini kan malam ini? Boleh ndak, Kakak minta tolong? Nanti tolong tutupin pagar. Terserah deh Pak Arip atau Om Jojon”.
“Iya beres,” jawab Pak Arip dan Om Jojon kompak.
Setidaknya ada perasaan lega, karena malam ini bisa absen untuk menutup pagar di malam gelap dengan hujan yang begitu deras.
Membuat kopi dan camilan selesai. Dibawanya ke-empat cangkir kopi dan sebuah toples kue kering sebagai temannya. Satu persatu
diletakkan di atas meja yang ada di depan televisi.
Pak Arip dan Om Jojon lagi-lagi bertanya. “Kok kopinya banyak banget kak?”
“Kan' buat Bapak, buat Om Jojon, sama dua orang pegawainya Bapak.”
Mereka berdua berpandangan heran. Gadis itu malah celingak-celinguk melihat ke arah pintu belakang.
“Mana karyawan Bapak tadi? Kenapa ndak disuruh masuk kasihan dingin di luar.” Ia bertanya polos.
“Apaan sih Kak, karyawan yang mana?” tanya Pak Arip bingung.
“Yang duduk di belakang tadi Pak. Waktu bapak menaikkan sepeda tadi, mas-masnya duduk di belakang sambil nunduk. Kakak pikir kasihan sekali kenapa Bapak kasih duduk di belakang.”
“Mana ada. Jangan aneh-aneh dong kak!” jawab Pak Arip sambil menyeruput kopi s**u miliknya.
“Masa sih ndak ada. Apa iya, Kakak salah lihat.”
...
Bunga tidak bisa tidur. Seperti banyak yang dipikirkan. Tidur di kamar besar dan nyaman tidak menjamin bisa tidur dengan nyenyak dan bermimpi indah.
Ia memikirkan kejadian hari ini. Bukan hanya dari yang tak kasat mata saja tapi juga karena hal-hal yang sudah menggores hati.
Dini hari ketika badan sedang letih. Ingin beristirahat dan melupakan semuanya. Ia malah terbangun karena mendengar suara ketukan dari jendela Tasha. Disambung suara lemparan batu tiga kali.
Perbuatan yang sangat jahil. Siapa lagi yang akan berbuat seperti itu kalau bukan makhluk-makhluk yang ingin
unjuk diri dan memberitahukan ke eksistensiannya kepada pendatang baru.
Gadis itu mendengar namanya dipanggil. Suaranya sama persis seperti suara yang ada di kamar mandi beberapa waktu lalu. Entah ada berapa jenis varian makhluk tak kasat mata di rumah ini.
“Bunga.”
“Hihihihihi.”
“Bungaaa.”
“Hihihihihi.”
Tidak tahu kenapa, karena hati sedang terluka jadi rasa takut jadi kalah. Saat itu Bunga tidak menggubris "si dia" yang ingin mengajak bermain. Belum puas juga makhluk itu kemudian tertawa panjang.
Bunga mengacuhkannya. Padahal biasanya, gadis itu merasa ketakutan dan gemetar jika diganggu. Makhluk diluar harus merasa kesepian malam ini karena tidak memiliki mainan.
Berarti kalau sedang sedih dan kesal, kita akan punya sisi lain untuk melawan. Betul tidak? Bagaimana menurut kalian?