Kecewa

2042 Kata
"Horor banget, Kak," bisik Tasha sambil mengeratkan pegangan tangannya. "Iya." Bunga menjawab sambil menelan ludah. Ayunan tua bercat putih berderit menimbulkan melodi tersendiri. Pelan namun begitu anggun. Tasha memegang tengkuk kemudian mengusap tangannya. Mungkin ia merinding. Bunga yang berada di sebelahnya jadi ikut merasa ketakutan. Bunga ragu, apakah angin bisa membuat ayunan bergerak dengan ritme tersendiri. Seperti ada sesuatu yang sedang duduk di sana dan memainkannya dengan kaki yang tertopang di lantai. Kuat dan berirama. Ngettt ngottt … ngettt ngottt. Suara besi tuanya lagi-lagi berdecit. Tanpa menunggu lebih lama mereka berhamburan masuk ke kamar Tasha yang ada di sayap kanan. Kevin dan Tasha belum tidur sampai malam lumayan larut. Bunga sedikit lega. Setidaknya ada yang menemani ketika menuju ke garasi outdoor. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus menutup pagar garasi malam hari dan hujan di luar masih turun dengan deras. Anak laki-laki gembul di sebelahnya sedang membaringkan badan ke kanan dan ke kiri. Kevin nampak mengantuk karena biasanya jam segini sudah tertidur pulas dan bermimpi indah. "Belum tidur, Dek?" tanya Bunga sambil mengusap rambut lurusnya yang lebat. "Belum Kak. Ga bisa tidur, kalau Papa dan Mama belum pulang." Tasha yang sedang membaca komik tak mengalihkan pandangan dari halaman komik Inuyasha itu. Ia terus saja fokus ke sana tanpa ikut berpartisipasi atas obrolan Bunga bersama Kevin. "Kak Bunga minta tolong, boleh?" tanyanya perlahan dan berhati-hati. Sebenarnya ia takut Kevin akan menolak. Di sisi lain, seandainya kalau Kevin bersedia pun, ia takut Tante Pinkan dan Om Atmo akan marah kalau anak kesayangan mereka harus menemaninya keluar. "Minta tolong apa, Kak?" "Uhm, boleh ga temenin Kak Bunga ke garasi bawak payung? Nanti ... kalau Papa dan Mama sudah pulang," katanya setengah memohon. Si ganteng itu masih tampak berpikir. "Besok pulang sekolah, Kakak bikinin jus Melon yang enak, dehhh." "Iya ... Iya. Nanti Kevin temenin," jawabnya setelah beberapa kali dibujuk. Telpon genggam Tasha bergetar saat anak-anak itu sudah tidak bisa lagi menahan kantuk. Om dan Tante mengabarkan kalau mereka sudah berada di dalam komplek. Itu artinya Bunga, Kevin dan Tasha harus bergegas menuju garasi. "Tasha, ikut juga ya Kak. Takut kalau sendirian di kamar," bujuk anak perempuan berambut ala Demi Moore itu. Butuh berjalan puluhan meter untuk sampai ke pintu belakang rumah dan tentu saja akan ada banyak rintangan menuju ke sana. Gemuruh yang sangat besar menyambut, ketika mereka berjalan sambil berpelukan. Suaranya memekakkan telinga dan membuat jantung berdetak kencang. Cahaya yang diberikan sepersekian detik laksana blitz pada kamera. Bunga menangkap sosok jangkung melebihi tinggi manusia berkelebat. Sosok itu mengenakan sesuatu yang besar dan lebar berwarna putih. Ia nampak kebasahan di sekitar taman depan rumah keluarga Brotoasmoro. Ringan dan cepat. Kemudian tanpa Bunga sadari, sosok itu sudah berada tepat di depan kaca ruang tamu. Sebuah kaca setebal 8mm memisahkan ia dengan sosok itu. Bukan tidak mungkin bagi dirinya untuk masuk bahkan mencekiknya, seperti di film-film horor. Lagi-lagi datang suara gemuruh. "Mamaaa ... Papaaa!" teriak Kevin dan Tasha. Bunga mengucapkan istighfar di dalam hati karena suara gemuruh dan sosok mengerikan yang berada di hadapannya saat ini. Suara klakson mobil menyadarkan mereka yang sempat membeku. Seperti mendapatkan pertolongan Bunga, Kevin dan Tasha langsung ke belakang membuka pintu dan menuju ke garasi. Sebuah mobil Nissan Terano gagah terparkir di bawah sebuah garasi outdoor yang atapnya hanya berupa asbes dan lantainya hanya disemen biasa tanpa dinding di kanan dan kiri. Tante Pinkan keluar terlebih dahulu. Ia begitu cantik dengan gaun serba hitam dan aksesoris dari batuan berharga. Sepatu stiletto hitam nampak mengkilat saat Bunga mengarahkan senter ke arah sana. Om Atmo juga tak kalah memukau. Setelan jas berwarna senada membuat mereka berdua seperti pasangan serasi abad ini. Bunga berdoa semoga mereka langgeng sampai maut memisahkan. "Tumben belum pada tidur," kata mereka berbarengan. "Tasha sama Kevin belum ngantuk. Jadi pengen nemenin Kak Bunga bawa payung untuk Mama dan Papa," jawab Tasha sambil merangkul pinggang Pinkan seolah sudah lama tidak bertemu. "Ya sudah kalau begitu. Ayo masuk." "Tolong tutup pagarnya, Kak!" perintah Tante Pinkan sambil menunjuk ke arah pagar yang berada di dekat lapangan basket. Jaraknya mungkin sepuluh meter dari garasi. "Biar Kevin temenin, Kak. Boleh ya, Ma?" tanyanya "Boleh dong. Anak laki-laki harus berani dan jadi jagoan." Om Atmo menjawab sambil mengacak lembut rambut anak bungsunya. Setelah berkata seperti itu Tasha, Tante Pinkan dan Om Atmo masuk ke dalam rumah. Tinggal Bunga dan Kevin yang berada di garasi. Mereka berjalan bergandengan menuju pagar kayu putih yang dibuat memanjang. Benar-benar panjang karena lebarnya dua kali dari lapangan bola basket mini milik Kevin. Malangnya pagar ini bukan pagar praktis dengan roda dan rel yang cukup di tarik. Pagar dibuat seperti sayap lebar di bagian kanan dan kiri kemudian di satukan di tengah-tengah dengan rantai kapal dan di gembok. Amat sangat tidak praktis. Kevin memegang payung dan Bunga bertugas menutup pagar. Ia mencoba untuk fokus mengerjakan tugas agar lekas selesai. Matanya hanya menatap rantai kapal dan gembok saja. Namun, walau mata sudah fokus ke satu titik. Entah mengapa ekor mata memberikan pemandangan yang lain. Di jalanan aspal di dekat lapangan basket ia melihat ada seorang anak kecil yang kuyup karena kehujanan. Sekilas nampak rambut dan pakaiannya basah. Ia tampak mematung dan terdiam. Mungkin kedinginan. Awalnya gadis itu sangat yakin, yang dilihatnya adalah seorang anak kecil. Karena tinggi badannya hanya setinggi paha orang dewasa. Gadis kecil memiliki rambut panjang yang hampir menyentuh lantai lapangan bola basket. Kenapa anak kecil bisa hujan-hujanan di malam yang begitu larut. Apakah sedang mencari ibunya atau mungkin tersesat. Masih terlalu sibuk dengan gembok dan rantai kapal. Sehingga Bunga belum bisa melihat secara keseluruhan anak kecil yang kebasahan. Mungkin setelah ini dirinya bisa meminjamkan salah satu payung. Pada saat itu ia masih berpikir baik. "Kak buruan!" Seru Kevin sambil menyikut tangannya. Gembok berhasil ditutup. Karena sudah tidak fokus ke gembok lagi sekarang sepasang matanya bisa menatap utuh ke arah sana. Awalnya ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa anak kecil itu. Setelah beberapa detik semua bisa terlihat dengan sempurna. Di sebelah rambut yang panjang ada seseorang yang mengenakan pakaian berwarna putih. Bunga sempat mengucap Alhamdulillah. Berarti anak kecil itu sudah ditemani oleh ibunya. "Mau pinjam payung, kah?" teriaknya walau setelahnya tidak ada jawaban. Untuk kedua kalinya, ketika benar-benar dilihat dengan cermat, Bunga mendapati sebuah kesimpulan. Bahwasanya yang berdiri di sebelah anak berambut panjang bukanlah ibunya. Semua yang berwarna putih adalah pakaian yang dikenakannya. Rambut yang panjang sampai ke lantai lapangan bola basket adalah rambutnya. Rambut yang menempel di kepalanya. Itu berarti kepala dan rambutnya terlepas atau dilepaskan dari leher. Entahlah. Bunga itu tidak ingin lagi mengingatnya. Sedari tadi ia tidak sadar kalau rambut itu adalah kepala yang lagi ditenteng serasa sedang membawa tas bermerek. "Lariii dekkk!" Bunga langsung menarik tangan Kevin. Anak laki-laki menggemaskan mengikuti walau nampak bingung. Brakkk! Suara pintu belakang berbunyi keras saat ditutup dengan tergesa. Mereka berdua berlari menuju ruang tengah menutup pintu lagi dan berlari melewati ruang tamu yang gelap tanpa menoleh ke arah ayunan yang berada di teras. Di kamar Tasha, d**a Kevin dan Bunga masih naik turun karena rasa cemas. Tubuh mereka masih gemetar. "Kenapa, Kak?" tanya Tasha yang sudah mengenakan piyama dan menyelimuti dirinya dengan bedcover. Bunga belum menjawab. Perlu waktu untuk menetralisir semuanya. Kevin membuka lemari plastik berisi pakaian tidurnya dan berganti pakaian. "Ga ada apa-apa.Yuk, tidur!" ajaknya kepada Kevin dan Tasha. Ia kemudian mengambil posisi tidur persis di sebelah dinding, di bawah jendela. Dibacanya istighfar berulang kali. Ritme dadanya belum teratur. Keringat dingin bercampur dengan air hujan membuat baju yang dipakai setengah basah. Ada perasaan takut untuk kembali ke kamar belakang. Mau tidak mau ia tidur dengan baju ini. Meminjam baju Tasha? Ah, rasanya ia tidak berani. Tidur di kamar depan lebih baik. Tidak ada kaca besar di atas jendela. Tidak ada suara tangisan dan cekikikan yang mengganggu atau memang belum saja. Ada dua teman lebih baik daripada sendiri. Walaupun keadaan setiap malamnya sudah mulai tidak baik-baik saja. ... Tidak hanya satu dua kali mereka menampakkan diri. Entah mereka sosok yang sama atau bukan. Tapi terus terang gadis berambut keriting itu sangat takut dan sudah akan menyerah untuk tinggal di sana. Apalagi waktunya banyak dihabiskan dalam kesendirian. Pagi itu semua pekerjaan di rumah sudah beres. Beberapa menu masakan juga sudah terhidang cantik di atas meja. Ia sedang melamun saat tiba-tiba suara klakson mobil Tante Pinkan mengagetkannya. Bunga merasa heran kenapa Tante Pinkan sudah pulang. Padahal ini masih pagi. Bersamanya ada seorang wanita berambut sebahu mengenakan blus dari bahan katun berwarna krem dan celana kulot hitam. Ia menenteng sebuah tas kanvas besar hitam. Usianya tampak beberapa tahun saja di atas usia Bunga. "Kak, ini Mbak Dewi," ucap wanita itu saat Bunga menyambut di pintu belakang. Bunga tersenyum menyambut teman barunya. Ada harapan bahwa mereka bisa bersama-sama dan tinggal lama di sini. Mbak Dewi diantarkan ke kamar belakang untuk beristirahat sejenak. Kemudian ia menuju kamar yang ada di sayap kanan. Bunga mengetuk pintu kamar besar itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya dipersilakan untuk masuk. “Mbak Dewi nanti akan bantuin Kakak buat beres-beres rumah dan masak. Mencuci dan menyetrika akan tetap dikerjakan oleh Bu Maryam. Tante minta tolong satu hal. Kamar ini sama kamar Adik-adik, tetap Kakak yang bersihkan,” terang Tante Pinkan sambil mengenakan work blazer berwarna gelap dan menyemprotkan parfum berbau manis. Bunga mendengarkan dengan baik dan mencoba mengingat semua pesan itu. Tidak lama Tante Pinkan berangkat ke kantor karena katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Ia memberi tahu bahwa jam 12.00 nanti akan pulang untuk makan siang di rumah. Kedatangan Mbak Dewi seperti mood booster. Gadis itu bersemangat lagi. Keinginan untuk menyerah tergantikan dengan banyak mimpi yang terbentang luas di depan sana. Tentu saja ada perasaan senang karena mendapatkan kawan baru. Ditemuinya Mbak Dewi yang masih berbenah di kamar belakang. Mereka berkenalan dan mengajaknya berkeliling rumah. Bunga menunjukkan kepada Mbak Dewi lapangan Golf yang ada di seberang rumah, menunjukkan halaman sebelah kanan yang serut dan juga menunjukkan beberapa koleksi tanaman keluarga Brotoasmoro. “Yang di sebelah kiri itu kamar Tante dan Om dan di sebelah kanan kamar adik-adik mbak, tapi biar Bunga saja yang membereskan. Jadi Mbak Dewi ndak begitu banyak kerjaan,” terangnya bersemangat. Sayangnya yang diajak berbicara seperti acuh tak acuh. Mereka sudah selesai berkeliling rumah dan akan menuju dapur. Di depan meja makan bundar besar ada suatu hal yang membuat Bunga terkaget-kaget. Tiba-tiba saja seseorang yang dipanggilnya Mbak Dewi itu membuka tudung nasi. Ia mengambil piring dari dapur, membuka rice cooker dan dengan semangat mengambil nasi. Bunga mengernyitkan alis. Ia takjub karena Mbak Dewi terlihat begitu berani. Di meja makan ada menu tadi pagi yang dimasak bersama Tante Pinkan. Tumis kangkung, tempe tahu yang di bacem, dan satu mangkok rendang. Asisten rumah tangga baru itu menyendok rendang sampai tersisa setengahnya saja di dalam mangkuk. Melihat Mbak Dewi yang sedikit tidak sopan dan lancang refleks ia langsung berkata. "Mbak, Jangan! Itu punya adik-adik!" larangnya sambil menunjukkan mimik wajah kecewa. “Aku ga biasa makan kangkung sama tempe. Bikin pusing dan mual,” jawab Dewi acuh seolah tidak perduli akan larangan itu. “Oalah, Mbak. Ngomongnya sedikit tapi menyakiti hati,”ucap Bunga sambil mengelus d**a. Bu Maryam yang sudah datang dan mulai menyetrika hanya bisa memandangi Dewi yang masih menikmati makanannya sambil mengangkat kaki di kursi makan Tante Pinkan. Tidak salah jika memang Mbak Dewi merasa lapar. Tapi yang ia perbuat tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di tempat baru. Tempatnya akan bekerja dan mencari nafkah. Kata orang Jawa itu seperti tidak ada anggah-ungguh. Ada rasa kecewa tersirat Namun, Bunga hanya bisa diam saja melihat kelakuan Mbak Dewi. Dari jendela yang ada di depan meja setrika, Bunga dan Bu Maryam melihat mobil Tante Pinkan masuk ke garasi. Ia tidak sempat memperingatkan Dewi yang saat ini sedang berbaring cantik di sofa sambil menonton televisi. Tante Pinkan sudah masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah itu. "Dewiii!" Teriakan keras memenuhi ruang tengah saat Tante Pinkan melihat kelakuan Mbak Dewi yang baru beberapa jam tiba tapi kelakuannya seolah sudah berpuluh tahun hidup di sana. Dewi yang sedang bersantai di sofa mendadak kaget. Ia langsung duduk dan menundukkan wajah. Mungkin tidak menyangka perangai aslinya bakal ketahuan secepat itu. Tudung nasi terbuka dengan piring bekas makan di atas meja. Tanpa harus dijelaskan, Nyonya keluarga Brotoasmoro tahu betul, tidak mungkin Bunga ataupun Bu Maryam bersikap seperti itu. d**a Tante Pinkan naik turun melihat Mbak Dewi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN