Keputusan Yang Menyakitkan

1340 Kata
Naomi duduk termenung di atas ranjang tempat tidurnya. Pikirannya melalang buana entah ke mana. Setelah dia tahu kenyataan jika dirinya lumpuh dan tak lagi bisa berjalan, perasaannya pun hancur sehancur-hancurnya. Cita-cita menjadi seorang dokter yang hebat runtuh seketika bersama dengan harapannya untuk membangun rumah tangga bersama Mario. Apakah Mario tetap akan menikahiku yang sudah cacat ini? "Nao ... makan dulu ya?" ucap Rossa. Perempuan paruh baya itu membuka makan siang sang anak yang baru saja diantar oleh petugas. "Naomi tidak mau makan, Ma." "Nao ... jangan seperti ini? Mama tidak mau melihat kamu terus larut dalam kesedihanmu. Mama sayang sama kamu. Makan ya?" bujuk Rossa. "Untuk apa lagi Naomi makan, Ma? Lebih baik Naomi mati saja. Sudah tidak ada gunanya lagi Naomi hidup. Naomi sudah tidak bisa kerja. Naomi juga tidak akan pernah bisa lagi menikah. Siapa yang mau dengan gadis cacat seperti Naomi, Ma? Siapa?" Naomi tampak histeris. "Sabar Nak. Tuhan pasti punya rencana indah untuk kamu. Pasti ada hikmah dibalik semua yang terjadi saat ini. Kamu jangan berbicara seperti itu. Pasti akan ada nanti seseorang yang tulus menyayangimu. Percaya sama Mama." "Seharusnya Naomi menikah dua hari lagi, Ma. Namun, semuanya hancur begitu saja. Mimpi yang telah Naomi rajut sejak dulu, menikah dan berdansa dengan suami Naomi dihari pernikahan Naomi, kini sudah tidak mungkin lagi terjadi. Sekarang Naomi hanya seorang gadis cacat yang tidak berguna." "Tidak Nak. Siapa yang bilang kalau kamu tidak berguna? Kamu sangat berharga untuk Mama dan Papa. Kamu anak kami satu-satunya, Nao. Mama mohon, jangan berbicara seperti itu lagi." Rossa menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan sang anak. Hatinya begitu sakit saat mendengar semua celoteh sang anak. Ia tahu, jika saat ini Naomi belum bisa untuk menerima kenyataan. Namun, tetap saja ia tidak sanggup mendengar setiap kata yang keluar dari mulut putrinya itu. Rossa lalu kambali duduk dan menatap ke arah Naomi. Ia bingkai wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Mengusap lembut air mata Naomi yang terus mengalir, sejak vonis lumpuh dilayangkan kepada perempuan berambut indah tersebut. "Nao ... dengarkan Mama. Mama janji tidak akan membuat kamu merasa sendiri dalam menghadapi cobaan ini. Mama juga janji, akan selalu di samping Naomi. Naomi itu, sangat berharga untuk Mama dan juga Papa. Jadi seperti apapun keadaannya, kasih sayang Mama dan cintanya Papa ke Naomi, tidak akan berubah, bahkan tidak akan berkurang sedikit pun. Ya sayang?" Naomi menatap sejenak kepada Rossa. Tangisnya kemudian kembali pecah dan ia pun langsung memeluk sang ibu. Rossa membelai lembut rambut Naomi dan mengecup pucuk kepala sang dokter muda tersebut. Sesaat kemudian, derit pintu dibuka pun terdengar. Rossa dan Naomi langsung melihat ke arah pintu. "Mario?" lirih Naomi. Rossa lalu bangkit dan mendekati Mario. Dia tahu jika laki-laki yang saat ini berdiri dihadapannya butuh ruang dan waktu untuk berbicara dengan putrinya. Rossa pun tersenyum simpul dan kemudian berlalu keluar ruangan. "Bagaimana keadaanmu?" Mario duduk di tepi ranjang dekat dengan kaki Naomi. "Yah ... seperi inilah." Mata Naomi kembali berkaca-kaca. "Nao ... sebenarnya ... e ..." "Kenapa Yo?" tanya Naomi penasaran. Mario menarik napas dalam. Dia lalu menatap Naomi dengan tatapan yang berbeda. Seperti sedang menyimpan sesuatu yang besar. "Kamu mau bilang apa?" Naomi kembali bertanya. "Nao ... maafin aku. Tapi sepertinya pernikahan kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Papa aku, sudah membatalkan pernikahan kita Nao." "Apa? Bagaimana bisa Yo? Ki—kita kan sudah sepakat. Masa kamu mau membatalkannya begitu saja?" suara Naomi mulai terdengar parau. Bulir-bulir air matanya kembali jatuh berderai. Meski ia sudah menduga jika hal ini pasti akan terjadi, tapi tetap saja ... kalimat yang berhasil lolos dari mulut sang kekasih bagaikan petir di siang bolong yang mengejutkan hati Naomi. "Aku tahu Nao. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Ak—" "Karena sekarang aku sudah lumpuh? Begitukah?" potong Naomi. Mario membuang napas kasar. Ia lalu diam sejenak dan mencoba untuk berpikir tentang kalimat seperti apa yang bisa ia utarakan lagi agar Naomi bisa mengerti. "Aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu, Nao. Tapi aku tidak bisa melawan keinginan Papa. Kamu tahu kan, Papa itu orangnya seperti apa? Dia keras dan ... tidak mau untuk mendengarkan pendapat orang lain." "Terus ... bagaimana dengan aku, Yo? Apa kamu tidak memikirkan tentang perasaan aku? Aku sekarang sedang tidak berdaya, tapi kamu justru datang dengan semakin menambah luka. Kamu kan laki-laki, Yo. Apa kamu tidak bisa memutuskan sendiri jalan hidupmu sendiri?" "Aku bisa apa Nao?" "Ya kamu hanya perlu menikahi aku, Yo ...." "Papa aku tidak setuju, Nao. Berapa kali aku harus bilang itu ke kamu?" "Tidak perlu ada restu Papamu. Kalau kamu memang laki-laki yang gentle, kamu seharusnya tetap mempertahankan pernikahan kita yang sudah di depan mata." Naomi mulai geram. "Oh, jadi kamu menyuruh aku untuk menjadi anak yang durhaka? Begitukah?" "Bukan itu maksud aku, Yo ...." Naomi menggelengkan kepalanya. Mario lalu bangkit dan berdiri dihadapan Naomi. Perempuan berambut panjang sedada itu menatapnya dengan penuh rasa sedih. Tak terpikirkan oleh Naomi jika Mario akan setega itu kepada dirinya. Hubungan yang dibangun atas dasar cinta, nyatanya tidak bisa dipertahankan dengan alasan yang sama. "Sudahlah Nao. Mau apapun yang kamu katakan, aku akan tetap mengikuti kemauan kedua orang tuaku. Mulai hari ini, kamu bebas. Kita tidak punya lagi ikatan apa-apa. Aku permisi dulu." Naomi meremas kuat seprai tempat tidurnya. Bersama dengan luka batinnya yang begitu dalam, dokter muda itu menumpahkan seluruh rasa sedihnya di atas ranjang rumah sakit. Belum juga kering luka pasca kecelakaan beberapa hari yang lalu, kini sang mantan calon suami sudah membawa kabar perih yang begitu menikam di relung sanubarinya. "Nao ...." Rossa masuk dan langsung menghampiri putrinya. "Ma, Mario Ma ... Mario membatalkan pernikahan kami." Rossa memeluk dan mengelus lengan Naomi. Bukan hal yang mengejutkan bagi wanita paruh baya itu saat mendengar berita dari sang anak. Sebab hal itu sudah lebih dulu diprediksi oleh Rossa. Mana mungkin, laki-laki yang tumbuh dan lahir ditengah keluarga hebat seperti Mario, mau menikah dengan wanita cacat seperti Naomi saat ini. Tidak mungkin ada. Sebab hidup memang sangat realistis. Jika pun ada, mungkin pria itu bukanlah manusia melainkan malaikat yang Tuhan kirim untuk menjadi penjaga putrinya. "Sudah ya, kamu jangan sedih lagi. Sekarang, kamu move on dari semua masa lalu kamu. Kita mulai hari dengan lembaran baru. Fokus untuk penyembuhan kamu. Sebab mama yakin, suatu hari nanti ... akan ada seseorang yang memegang tanganmu dan dia tidak akan melepaskannya, sesulit apapun keadaannya." "Ma, terima kasih ya? Mama selalu ada untuk Naomi. Naomi tidak tahu, bagaimana jadinya hidup Naomi tanpa ada Mama dan Papa disisi Naomi." "Sama-sama, sayang." Rossa mengecup lembut pipi sang putri. "Oh ya, Ma. Bagaimana dengan persiapan pernikahan Naomi yang sudah terlanjur kita booking? Tentang undangan yang sudah terlanjur kita sebar? Kita kan harus memberitahu mereka lagi, Ma." Naomi khawatir dengan para tamu yang sudah terlanjur menerima undangan. "Kamu tenang saja ... Papa sudah mengurus semuanya." Tiba-tiba Roland datang dan langsung mendekati Rossa dan putrinya. Atensi Naomi dan Rossa langsung tertuju kepada Roland. Mereka masih bertanya-tanya tentang maksud ucapan sang pria paruh baya tersebut. "Maksud Papa, papa sudah membatalkan WO dan memberitahu para tamu kita?" tanya Rossa. "Tidak Ma, Papa tidak membatalkan WO atau pun memberitahu para tamu. WO tetap bekerja, dan tamu tetap akan hadir." Naomi dan Rossa terperanjat saat mendengar ucapan Roland. Dahi Naomi bertaut karena bingung. "Pa, tapi Mario dan keluarganya sudah membatalkan pernikahan ...." jelas Naomi. "Biarkan, biarkan saja mereka membatalkannya. Papa juga sudah tidak mau berbesan dengan mereka lagi. Tapi kamu, kamu akan tetap menikah dihari Minggu ini." "Ha? Me—menikah? Dengan siapa Pa?" tanya Naomi setengah berteriak. Dia begitu shock saat mendengar kabar dari Papanya itu. "Pokoknya, kamu persiapkan diri saja. Percaya sepenuhnya kepada Papa. Papa, tidak mau kamu sedih dan kecewa apalagi sampai malu pada teman-temanmu. Kita akan buktikan kepada Pak Andra dan keluarganya, bahwa ... sekalipun kamu sudah lumpuh dan tidak bisa lagi berjalan, masih ada laki-laki yang mau menerima kamu." "Dia bahkan lebih ganteng dari si b*****h itu ...." Roland memegang kedua pundak putrinya. Mulut Naomi ternganga saat mendengar keputusan random sang Papa. Menikah, dengan siapa? Apa dia pria tua yang kaya raya? Apa dia hitam, berkumis, jambangnya sampai ke da-da? Ya Tuhan ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN