"Tenang ya sayang, kamu pasti baik-baik saja. Ini mungkin efek dari bius yang belum hilang sepenuhnya."
"Tidak Pa. Naomi ini dokter, Naomi tahu efek bius itu seberapa lama. Naomi juga tahu tanda-tanda kelumpuhan itu seperti apa." Naomi semakin menangis terisak.
Roland tidak dapat menahan air matanya. Begitu juga dengan Rossa. Wanita tua berkerudung itu hanya bisa menangis dan membelai kepala sang anak.
"Papa panggilkan dokter ya?"
"Biar Mario saja om ...." tawar Andra.
Pria dengan tinggi 170 cm itu pun berlalu keluar ruangan.Ia segera menuju ke stasiun ners untuk meminta perawat menghubungi dokter spesialis saraf yang bertugas.
Sembari menunggu sang dokter datang, Mario duduk di kursi yang ada di depan ruangan Naomi. Dirinya tampak mematung dan seperti orang linglung.
Naomi lumpuh, bagaimana ini? Ternyata dugaan dokter Reva (dokter spesialis saraf) benar. Naomi mengalami kelumpuhan. Jadi ini, alasan papa membatalkan pernikahan kami?
Mario membuang napas kasar. Tak lama dari ia merenung, dokter spesialis saraf pun datang. Mereka segera masuk ke dalam ruangan Naomi.
"Selamat pagi ... Alhamdulillah dokter Naomi sudah siuman. Kita cek dulu kakinya ya dok." dokter spesialis saraf tampak menggerak-gerakkan kaki Naomi maju mundur.
"Apa dokter merasakan sesuatu?"
Naomi menggeleng. Wajahnya kembali pilu dan air matanya lagi-lagi jatuh.
"Baik, kalau begitu kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap dokter spesialis. "Sus, tolong bawa dokter Naomi ke ruangan MRI," pinta sang dokter kepada perawat.
"Baik dok."
Naomi kemudian didudukkan di atas kursi roda. Perawat, dokter dan Rossa langsung menuju ke ruangan yang dimaksud.
Mario juga hendak menyusul, tapi tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Roland. Pria berjas putih itu pun menoleh ke arah mantan calon ayah mertuanya.
"Kamu lihat sendiri kan? Naomi sekarang lumpuh. Jadi aku minta, lupakan ekspektasimu untuk menikah dengannya." Roland melangkah ke luar ruangan menyusul sang istri.
Mario menarik napas panjang. Ia memegang kepalanya dan berusaha untuk tetap berpikir jernih. Kini ini mulai sedikit menyadari, jika pernikahannya dengan Naomi, perlahan mulai terkikis dan kemudian menjadi sesuatu yang mustahil.
Terserahlah mulai sekarang ...
Mario berjalan keluar ruangan. Namun pria dengan kulit putih dan bersih itu tidak berjalan menuju ke ruang MRI, melainkan kembali ke ruangan poli jantung. Sebab jam prakteknya sudah akan dibuka.
.
.
Hasil pemeriksaan Naomi sudah keluar. Dokter langsung memeriksanya dan mencari tahu kenapa sang dokter cantik itu bisa lumpuh pasca kecelakaan.
Setelah melihat dan mengamati data yang ada, dokter pun menyimpulkan jika Naomi mengalami paraplegia, yaitu kelumpuhan yang menyerang tungkai, terutama kaki. Hal ini disebabkan oleh cidera pada sumsum tulang belakang saat Naomi terbanting keras ke belakang ketika kecelakaan itu terjadi.
"Apa ada cara untuk menyembuhkannya dok?" tanya Roland. Mereka sedang berada di ruangan dokter spesialis saraf.
Sang dokter menarik napas dalam. Ia lalu diam sejenak dan kembali melihat kepada data hasil pemeriksaan Naomi.
"Jujur saja pak, untuk kasus paraplegia ini, sangat kecil kemungkinannya untuk sembuh seperti sedia kala. Hanya nol koma sepersekian persen saja, yang benar-benar berhasil untuk sembuh."
"Astaghfirullah ...." Roland mengusap kasar wajahnya tuanya. Pria paruh baya itu benar-benar kehabisan semangat setelah mendengar penuturan sang dokter. Harapannya untuk membuat Naomi bisa berjalan lagi, kini pupus sudah diterpa badai kenyataan yang mengatakan jika penyakit putrinya itu, tidak memiliki harapan untuk sembuh.
Roland keluar ruangan dengan perasaan yang begitu hancur dan tubuhnya terasa lesu. Kebahagiaan putrinya yang seharusnya sebentar lagi bisa ia lihat di depan matanya, kini hilang sudah ditelan oleh takdir yang begitu kejam.
Roland meremas kertas hasil pemeriksaan Naomi dan mendekapnya di d**a.
Naomi putriku, maafkan papa. Papa sudah gagal menjadi ayah yang baik untuk kamu. Andaikan malam itu papa mau untuk kamu ajak pergi menemanimu, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Kenapa bukan papa saja yang mengalaminya? Mengapa harus kamu, Nao?
Dering panggilan masuk di ponsel Roland mengalihkan atensinya kepada benda pipih tersebut. Pria tua itu langsung menyambut panggilan sembari membersihkan mata dan juga hidungnya dengan sapu tangan.
"Halo ...."
"Selamat siang pak, kami dari pihak wedding organizer ingin memberitahukan bapak, jika gedung dan panggung sudah ready untuk hari Minggu ya pak. Apa bapak ada rencana untuk melihat hasilnya sebelum hari H?" tanya perempuan yang bertugas sebagai WO dalam acara pernikahan Mario dan Naomi.
"E ... tidak perlu mba. Saya percaya dengan hasil kerja mba dan Tim." ucap Roland dengan tangan gemetar.
"Oh, baik kalau begitu. Terima kasih atas kepercayaan penuh bapak. Saya tutup dulu ya pak. Selamat siang."
"Siang ...." tangan Roland jatuh begitu saja setelah ia menerima telepon dari pihak WO. Air mata yang semula sudah terlihat sedikit mereda, kini kembali mendera wajahnya yang sudah terlihat banyak kerutan.
Ya Allah, bagaimana ini? Jika ku batalkan, maka uang yang sudah aku keluarkan dengan begitu banyak, akan berakhir dengan sia-sia. Bahkan, aku dan keluargaku, harus menanggung malu pada seluruh keluarga besar dan juga rekan-rekan kerjaku. Namun jika aku melanjutkannya, Naomi harus menikah dengan siapa? Siapa pengantin laki-lakinya? Andra pasti tidak akan mengizinkan Mario untuk menikahi Naomi. Bagaimana ini?
Roland mengusap kembali wajahnya. Ia lalu memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk berpikir sejenak. Mencari jalan keluar terbaik yang bisa ia tempuh, untuk menghadapi situasi darurat seperti saat ini.
Aku minta maaf. Aku berjanji akan bertanggungjawab penuh atas putrimu.
"Ya, aku tahu sekarang ...." gumam Roland setengah berteriak. Ia sampai bangkit dari duduknya, sehingga membuat atensi semua orang yang ada di sekitarnya jadi beralih kepadanya.
Roland mengambil ponselnya dan mengirimi Rossa sebuah pesan.
"Ma, Papa keluar sebentar, ada urusan mendadak. Kalau ada apa-apa, hubungi papa ya?" Bunyi pesan Roland.
Pria tua itu bergegas keluar dari rumah sakit dan langsung menuju ke parkiran mobil. Setelah ia masuk ke mobil tersebut, ia pun segera menancapkan gas dan keluar dari area rumah sakit, menuju ke lapas kota untuk menemui seseorang.
"Bapak Stevan, ada yang datang menjenguk Anda," ucap seorang sipir penjara.
Pria yang sudah berganti pakaian dengan kaos orange dan celana dengan warna senada itu, langsung bangkit dan keluar sel mengikuti sang penjaga tahanan.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang tersekat oleh jaring kawat yang terbuat dari baja. Ini adalah ruang khusus untuk kunjungan para napi.
Begitu melihat Roland, Stevan hanya menghela napas panjang. Ia belum tahu apa tujuan pria tua satu ini datang menemui dirinya.
Apa dia belum puas jika aku belum dihukum mati?
"Bagaimana kabarmu?" tanya Roland.
"Ha? Kau menanyakan kabarku?" Stevan tersentak. Ia lalu melihat ke langit-langit ruangan.
"Jadi pada siapa juga? Tembok? Lihat aku, aku akan memberikanmu sebuah penawaran." Roland mode serius.
"Apa penawaran itu menguntungkanku?" tanya Stevan. Kali ini ia sudah duduk dengan benar. Tidak lagi selonjoran seperti orang cacingan.
"Sebelum kecelakaan terjadi, seharusnya satu minggu lagi putriku akan menikah dengan calon suaminya, dr.Mario Rafardhan. Anak pemilik rumah sakit Permata tempat putriku di rawat."
"Terus ...."
"Oleh karena mereka tahu jika Naomi lumpuh—"
"Ha? Sebentar. Kau bilang apa? Pu—putrimu lumpuh?" Stevan sangat terkejut saat mendengar kabar tentang Naomi.
"Iya. Kedua kakinya tidak dapat digerakkan dengan sempurna. Persentasi kesembuhannya juga sangat kecil sekali. Itulah sebabnya, pihak calon suaminya membatalkan pernikahan mereka."
"Ck, sadis sekali mereka. Hanya karena itu, sampai harus membatalkan pernikahan segala. Apa mereka tidak tahu bagaimana rasanya gagal menikah itu?" Stevan mengoceh sendiri. Roland hanya melihatnya saja.
"Ya sudah lanjutkan ...," ucap Stevan santai.
"Itulah yang membawaku datang menemuimu. Kau ingin bebas bukan?" tanya Roland kepada pria umur tiga puluh tahunan itu.
"Tentu saja aku mau. Di sini tidak enak, tidak nyaman. Juga tidak bisa minum-minum." Stevan menyorot wajah Roland dengan kedua matanya.
"Maka dari itu dengarkan aku baik-baik . Aku akan mencabut laporanku terhadapmu tapi dengan satu syarat ...."
"Apa?" tanya Stevan santai.
"Kau harus menikahi putriku untuk menggantikan pria b*****h itu. Bagaimana, apa kau setuju?"
"Bagaimana dengan putrimu? Apa dia mau?"
"Kau tenang saja. Putriku adalah anak yang penurut. Dia pasti tidak akan membantahku."
"Baik, kalau putrimu setuju, aku juga akan setuju. Apa ada syarat lainnya?"
"Ada. Sebab ini hanyalah pernikahan mendadak, selama menjadi suaminya, kau tidak boleh menyentuh Naomi. Ingat, kau hanya menggantikan calon menantuku, bukan sepenuhnya menjadi menantuku. Sebab aku tidak sudi memiliki menantu pria pemabuk seperti dirimu." Jelas Roland.
"Kau tenang saja, meski aku suka main dengan wanita malam, aku tidak segampang itu untuk menyentuh perempuan," ucap Stevan.
"Aku pegang janjimu. Dan ingat, saat Naomi sudah pulih seperti sedia kala, maka kau harus segera menceraikannya. Kau mengerti?"
Stevan pun mengangguk ....