Takdir Yang Menyakitkan

1321 Kata
Suara mesin EKG Naomi mengalun beraturan memenuhi ruangan rawat inapnya. Dirinya masih terbaring dengan infus dan selang oksigen yang terus setia menemani hari-harinya. Sudah tiga hari pasca insiden kecelakaan tragis itu, tapi sang dokter cantik tidak menunjukkan tanda-tanda ia terbangun dari tidur panjangnya. Rossa menggenggam erat tangan Naomi. Lalu ia kecup telapak tangan dingin itu. Dengan air mata yang seolah tak mengenal kata kering, terus mengalir sejak sang putri berada dalam masa kritisnya. Rossa benar-benar terpukul dengan apa yang Naomi alami saat ini. Pintu ruangan dibuka oleh Roland. Pria tua itu masuk dengan membawa sarapan untuk sang istri. Sejak Naomi masuk rumah sakit, Roland memang sengaja mengambil cuti tahunannya, yang sebenarnya akan ia gunakan seminggu lagi untuk acara pernikahan dan resepsi sang putri. Namun takdir berkata lain. "Makan dulu, Ma ...." Roland menyodorkan sebungkus nasi untuk Rossa. "Mama tidak lapar, Pa ...." "Ma, kalau Mama sakit, siapa yang akan menjaga Naomi. Makan ya?" bujuk Roland. Wanita paruh baya itu pun akhirnya menurut pada titah suaminya. Meski nasi yang ia kunyah terasa berat sekali untuk ditelan. Namun, Rossa tetap harus memakannya. Sebab apa yang Roland katakan benar, jika dirinya sakit bagaimana dengan Naomi? Ponsel Roland berdering disela-sela mereka menyantap sarapan pagi. Saat dilihat, ternyata Andra yang menelepon. Setelah kemarin CEO rumah sakit Permata itu dan istrinya menjenguk Naomi, mereka tidak pernah lagi terlihat batang hidungnya. Namun, Roland tidak mempermasalahkan perkara itu, sebab ia tahu, jika calon besannya itu dua-duanya memang orang yang sangat sibuk. "Sebentar ya Ma, Pak Andra telepon." Roland pun berjalan keluar ruangan dan berdiri di depan pintu. "Halo Pak Andra," sapa Roland kepada calon besannya. "Halo Pak Roland. Apa kita bisa bertemu hari ini? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucap Andra dari dalam telepon. "Bo—boleh ...." "Baik, pukul sepuluh pagi kita bertemu di kantin rumah sakit ya. Aku tunggu." Andra kemudian memutus telepon begitu saja. Membuat Roland mulai berpikir jika akan terjadi sesuatu yang tak terduga sebentar lagi. Mudah-mudahan saja firastku tidak benar .... Namun tampaknya doa Roland tidak diijabah oleh Tuhan. Sebab pukul sepuluh teng, dirinya sudah datang ke kantin untuk menemui Andra tapi langsung disambut dengan obrolan yang menaikkan tensi darahnya. Roland duduk tepat di depan Andra. Pria kaya raya itu tampak tengah mengaduk kopinya dan tidak melihat kepada Roland. "Ada apa Pak Andra meminta saya kemari?" tanya Roland to the point. Andra membuang napas kasar sesaat. Lalu mengalihkan atensinya kepada Roland yang sudah duduk tegap siap untuk mendengarkan apa yang akan ia sampaikan. "Jadi begini Pak Roland. Seperti yang kita ketahui bersama, hingga detik ini, dokter Naomi tak juga terbangun dari komanya. Dan menurut yang saya dengar dari Mario, dokter saraf sempat memvonis jika pusat saraf Naomi, mengalami masalah pasca insiden kecelakaan itu. Jadi ...." Andra menghentikan kalimatnya. 'Jadi apa Pak Andra?" Roland mulai bisa mengambil kesimpulan, ke mana sebenarnya arah pembicaraan calon besannya itu. "Jadi saya rasa, sebaiknya pernikahan Mario dan Naomi, kita batalkan saja." "Ha?! Di—dibatalkan, Pak?" Roland terperanjat saat mendengar kalimat yang berhasil lolos dari mulut Andra. Bagaimana bisa, pria yang selama ini ia kenal baik dan ramah, sekarang bersikap begitu angkuh dan semena-mena kepadanya bahkan kepada keluarganya. "Iya, dibatalkan. Coba bapak pikir, jika nanti Naomi terbangun dari komanya, lalu ternyata dia lumpuh atau buta atau mungkin cacat seumur hidup at—" "Cukup Pak Andra!" Roland menggebrak meja sehingga membuat semua pengunjung kantin melihat kepada mereka. "Anda tidak perlu melanjutkan kalimat anda. Kalau Anda mengajak saya bertemu hanya untuk mendoakan keburukan bagi Naomi, lebih baik saya pergi sekarang." "Oh ya, satu lagi ... Kalau Anda mau membatalkan pernikahan Mario dan Naomi, silahkan. Saya sudah tidak perduli. Permisi!" Roland melangkah dengan penuh rasa marah meninggalkan calon besannya begitu saja. Ups, mantan calon besan. Bajingan! Berani-beraninya dia mendoakan putriku seburuk itu. Apa dia tidak tahu betapa berharganya putriku itu. Lihat saja, aku akan membalas hinaannya suatu hari nanti. Aku akan pastikan, jika Naomi ... akan menikah dengan pria yang jauh lebih hebat dari putranya itu. Ponsel Roland berdering saat ia sedang melangkah kembali ke ruangan Naomi. "Iya Ma, ada apa?" "Pa cepat kemari, Naomi Pa ...!" Roland seketika langsung berlari menuju ke ruangan ICU. Setelah mendapat kabar dari sang istri, jantungnya berdetak lebih cepat dan perasaannya campur aduk. Pria tua itu langsung membuka pintu begitu ia tiba di depan ruangan sang putri. Mata Roland nyaris tak berkedip saat melihat Naomi terbaring dalam keadaan sudah sadarkan diri. "Na—Naomi ...." Roland segera berlari mendekati putrinya. Ia peluk dan kecup dahi perempuan cantik itu dengan penuh kasih sayang. Air matanya pun jatuh dan berderai dengan begitu derasnya. "Putri Papa yang cantik ...." Perlahan Roland melepaskan dekapannya dari Naomi. "Syukurlah, dokter Naomi sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sebuah keajaiban dari doa ibu dan bapak. Sebab jika dilihat dari kondisi dokter Naomi saat pertama kali di bawa ke rumah sakit, sangat kecil kemungkinan untuk dokter Naomi bisa selamat. Tuhan Maha Baik," ucap dokter yang memeriksa Naomi. "Alhamdulillah, akhirnya Mama bisa lihat senyum kamu lagi, Nao. Mama rindu sekali sama kamu." Setelah memeriksa Naomi, dokter dan tim medis lainnya pamit keluar ruangan. Mereka berpapasan dengan Mario yang juga sedang berdinas dan memakai setelah dokternya. "Naomi ....!" Mario datang dan langsung berlari ke arah calon istrinya itu. "Mario ....!" Naomi langsung merentangkan tangannya meminta Mario untuk memeluknya. Roland hanya melihatnya saja. Padahal di dalam hatinya, ingin sekali dia mengusir pria b*****h itu dari hadapan putrinya. Namun, mengingat kondisi Naomi yang baru saja pulih dari masa kritisnya, Roland pun memilih bungkam dan membiarkan dua sejoli itu melepaskan rindu mereka sesaat. Semua demi kebahagiaan Naomi. "Maafin aku ya, Yo. Aku sudah membuatmu khawatir." Air mata ketulusan jatuh di pipi lembut Naomi. "It's ok, Nao. Kamu sudah berhasil keluar dari masa kritismu saja aku sudah bahagia." Mario mengusap air mata tunangannya itu. "Pernikahan kita bagaimana, Yo?" Naomi langsung bertanya tentang rencana pernikahan mereka. "E ... soal itu ... " "Sayang, kamu kan baru sadar. Bagaimana kalau sekarang kamu istirahat saja dulu. Kamu tidak dengar tadi dokter bilang apa? Kamu itu harus banyak istirahat. Nanti saja ya kita bahas masalah pernikahannya." jelas Roland. "Baik, Pa ...." Untung saja Naomi adalah anak yang penurut. Dia memang tidak pernah membangkang atau membantah perintah kedua orang tuanya. Sejak kecil, Roland sudah mendidik Naomi untuk menjadi anak yang penurut. Patuh dan tidak suka menyakiti hati orang yang lebih tua. Apalagi orang tuanya sendiri. "Nanti kalau kamu sudah sembuh total, aku akan bawa kamu jalan-jalan," ucap Mario sembari menyentuh pipi Naomi. Roland terus memperhatikan mereka. Dan saat pandangan sang dokter spesialis jantung itu tertuju ke arah dirinya, ia pun segera memberikan kode mata dan kepala untuk mereka keluar dari ruangan. "Sayang, aku keluar dulu ya?" "Nanti selesai dinas, kamu ke sini lagi ya temenin aku." "Pasti ...." Mario kemudian berjalan ke luar ruangan dan langsung disusul oleh Roland. "Kenapa Pa?" tanya Mario saat mereka sudah di luar. "Mulai sekarang, kamu berhenti mendekati putri saya." "Loh, memangnya ada apa Pa?" "Berhenti memanggil saya Papa. Pak Andra sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan kalian. Dia juga sudah menghina Naomi. Jadi saya minta, kamu jangan pernah lagi mendekati putri saya." "Tidak bisa begitu dong om. Mario dan Naomi sudah bertunangan. Kita juga sudah sepakat untuk menikah." "Itu dulu, sebelum Pak Andra memutuskan hubungan itu. Sekarang, biarkan Naomi dengan kehidupannya, dan kamu ... lanjutkan saja hidupmu." "Om, Mar—" "Pa, Naomi ...!" Pintu ruangan dibuka tiba-tiba oleh Rossa. "Ada apa, Ma?" "Aaaaaa!" teriakan Naomi terdengar hingga keluar ruangan. Roland dan Mario pun segera kembali ke dalam ruangan. Mereka melihat Naomi sedang menangis histeris di atas ranjang rumah sakit. Sehingga membuat Roland, Rossa juga Mario terdiam dan terpaku sejenak. "Naomi, ada apa Nak?" tanya Roland. Bukannya menjawab, Naomi justru melempar bantal dan selimut ke arah dinding. Sembari menangis dan berteriak keras Naomi pun mengacak-acak rambutnya. Roland segera berlari mendekati putrinya itu dan langsung ia peluk erat agar Naomi menjadi tenang. "Sayang, ada apa. Bilang sama Papa." "Pa ... aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku lumpuh Pa ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN