Sentuhan Tangan Itu

1372 Kata
"Sebenarnya ...." Stevan menghentikan kata-katanya setelah ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. "Maaf, sebentar ...." "Di mana kau, cepat sedikit!" hardik Roland dari dalam telepon. "Maaf, sebentar lagi kami akan keluar." Stevan lalu memutus panggilan. "Siapa?" "Papamu. Kita harus segera keluar, mereka sudah menunggu kita." Naomi membuang napas kasar. Ia kemudian mulai menggerakkan tangannya ke belakang. Berusaha untuk membuka res gaun pengantinnya, tapi terlalu sulit. Sebab posisi Naomi yang memang duduk di atas kursi roda membuat ia sedikit kuwalahan dalam membuka gaunnya. "Apa mau aku bantu?" tanya Stevan. "Boleh deh ...." Naomi mempersilahkan Stevan untuk membuka gaunnya. Setelah gaun Naomi terbuka dan hanya menyisakan kemben dan celana legging, Stevan pun segera memakaikan kemeja dan rok sepanjang betis kepada istrinya itu. Harus sedikit mengangkat dan memeluk Naomi agar posisi rok tersebut dapat terpasang dengan baik. Hal itu lagi-lagi membuat Stevan dan juga Naomi sama-sama merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti ada debaran yang tak beraturan di dalam d**a mereka. Degupnya begitu kencang dan ritmenya sangat berantakan. Apalagi dengan status mereka yang saat ini sudah sah menjadi suami istri. Semakin membuat jiwa mereka sulit untuk menafikan kenyamanan saat kulit mereka saling bersentuhan. "Sudah selesai." Stevan kembali mendudukkan Naomi ke atas kursi roda. Setelah itu, mereka pun segera keluar dari backstage dan langsung menuju ke pintu keluar hotel. Dari jauh, Roland sudah melihat ke arah Naomi dan Stevan. Tentu saja dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat. Apalagi saat ia memperhatikan pakaian Naomi yang sudah berganti. Semakin menambah kebencian sang ayah mertua kepada menantu barunya itu. "Ayo ...." Roland mengajak mereka untuk masuk ke dalam mobil. Pria tua itu memilih untuk menyetir sendiri meski Stevan sempat menawarkan diri untuk menyetir. "Setelah kau menabrak putriku, nanti kau membuat kami mati satu keluarga lagi," sindir Roland. Stevan hanya bisa diam tanpa bantahan. Dia lalu mengangkat Naomi dan memasukkannya ke dalam mobil. Mereka duduk di jok belakang, sedang Rossa duduk di samping Roland. Selama perjalanan kembali ke rumah, Roland terus saja memantau Stevan dan Naomi yang duduk berdua di belakang dari kaca spion dalam. Berjaga-jaga, takut jika tangan pria yang menurut Roland berandalan itu, menjamah Naomi secara sembunyi-sembunyi. Stevan tahu jika dirinya tengah diperhatikan oleh Roland. Sehingga, ia juga melihat kepada Roland dari kaca spion yang sama. Menatap sekilas lalu kembali membuang muka ke arah luar jendela mobil. Sesaat kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Roland. Pria paruh baya itu segera turun dan mengambil kursi roda sang putri di dalam bagasi. Namun, baru saja Roland membuka lipatan kursi roda, ia sudah melihat Stevan menggendong Naomi dan berjalan ke arah rumah. Membuat dirinya kesal dan terpaksa mendorong kursi kosong ke arah rumah. "Selamat kembali lagi ke rumah, Mba Naomi," ucap Bi Yasmin. Asisten rumah tangga keluar Eloise. "Terima kasih ya, Bi?" "Aku mau ke kamar," ucap Naomi kepada Stevan. "Oh, ok." Stevan langsung melangkah mengikuti Bi Yasmin menuju ke kamar Naomi yang ada di lantai atas. Roland hanya melihatnya saja tanpa lagi ada protes kepada menantunya itu. Entahlah, Roland seperti berada di antara dua perasaan. Apakah harus menyesali keputusannya yang sudah menikahkan Naomi kepada Stevan, atau justru mensyukurinya. Sebab, andaikan Stevan tak ada, sudah pasti dirinya yang harus menggendong Naomi ke mana-mana, bukan? Bi Yasmin segera membuka pintu saat mereka sudah berada di depan kamar Naomi. "Terima kasih ya, Bi?" "Sama-sama, Mba. Bibi ke bawah dulu ya?" Perempuan berdaster itu berlalu seraya menutup kembali pintu kamar. Stevan meletakkan Naomi di atas tempat tidur. Tidak lupa perempuan berwajah cantik itu mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu. Yang dibalas hanya dengan senyum simpul oleh sang CEO. "Aku harus pergi keluar sebentar," ucap Stevan tiba-tiba. "Kemana? Kita kan baru saja sampai di rumah." tanya Naomi. "Aku belum mengambil pakaianku," jelas Stevan. "Aku ikut ya?" Stevan menoleh spontan ke arah Naomi. Dia tidak langsung menjawab permintaan istrinya itu karena sedang mencoba untuk merangkai kata agar Naomi tidak curiga dengan alasannya nanti. "Kamu istirahat saja. Kamu kan baru keluar dari rumah sakit dan juga baru selesai menggelar acara, sebaiknya kamu di rumah dulu." "Ya sudah kalau begitu. Tapi ... rumahmu di mana sih?" tanya Naomi lagi. Dia begitu penasaran dengan kehidupan suami barunya itu. "Tidak seberapa jauh dari sini kok." Stevan mengambil ponselnya dan mendial nomor asisten pribadinya. "Kamu sudah sampai?" tanya Stevan kepada sang asisten. "Sudah Pak. Saya sudah di dekat titik lokasi yang Bapak kirim." "Ok. Tunggu ya, saya segera ke sana," ucap Stevan lagi kemudian menutup panggilan. "Aku pergi sebentar ya." Stevan sudah memegang handle pintu kamar dan hendak membukanya. "Tidak lama kan?" tanya Naomi yang membuat langkah Stevan terhenti. Pria tampan itu pun kemudian kembali menoleh ke arah sang istri. "Tidak. Sebelum pukul sepuluh aku sudah ada kembali ke sini lagi." Janji seorang suami. Stevan membuka pintu kamar Naomi dan melangkah keluar. Sesaat ia sudah hilang dari sebalik pintu. Mudah-mudahan saja dia bukan suami orang. Jika benar, sial sekali aku jadi istri kedua? Stevan sudah berada di bawah. Namun, baru saja ia akan melangkah ke arah pintu, Roland sudah lebih dulu menegurnya. "Mau kemana kau maghrib-maghrib begini? Ke club malam lagi?" tuduh pria tua itu. Stevan menutup sejenak kedua matanya. Dia kemudian berbalik dan melihat kepada ayah mertuanya itu. "Aku harus mengambil pakaianku," jawab Stevan santai. Roland hanya diam saja setelah mendengar penjelasan Stevan. Terus berlalu ke arah kamarnya dan hilang dibalik pintu. Stevan kembali melanjutkan mengayun langkah kakinya keluar dari rumah berlantai dua milik keluarga Eloise itu. Saat dirinya sudah berada di dekat pagar, pandangannya langsung tertuju kepada sebuah mobil mewah merek Audi keluaran terbaru. "Silahkan Tuan." seorang pria berjas membukakan pintu mobil untuk Stevan. Ia pun bergerak cepat masuk ke dalam mobil tersebut lalu membuang napas kasar saat sudah duduk di jok yang ada di belakang driver." "Kita kemana Tuan?" tanya sang supir. "Ke apartemen. Aku harus mengambil pakaianku dulu." "Baik Tuan." Mobil hitam mengkilap itu pun kembali melaju meninggalkan kediaman Eloise, disaat hari sebentar lagi akan menjadi gelap. "Bagaimana pendapatan kita Minggu ini?" tanya Stevan kepada pria yang duduk di sebelahnya. "Semuanya berjalan seperti biasa, Pak. Omset tetap meningkat dan stabil." "Saham?" "Penjualan saham juga masih sangat bagus, Pak. Hanya saja ...," ucap sang aspri tapi terhenti sejenak. "Kenapa?" "Para klien banyak yang ingin bertemu bapak, saya bingung mau memberikan mereka alasan apa." jelas pria berdasi itu. "Bilang saja saya sedang di luar negeri, sedang ada bisnis baru di sana." "Tapi Pak, Maaf. Bapak mau sampai kapan merahasiakan identitas Bapak kepada istri Bapak?" tanya sang aspri. "Sampai pada waktu yang tepat. Aku akan memberitahunya." Stevan lalu membuang pandangannya ke arah luar mobil. Senyum tipis tersirat di wajah tampan CEO kaya raya tersebut. . . Setelah mengambil pakaiannya, Stevan pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah Naomi. Pukul sepuluh kurang lima belas ia sudah berada di depan pintu. Langsung menekan bel dan dibuka oleh Bi Yasmin. "Naomi masih di atas Bi?" tanya Stevan. "Masih, Mas. Bibi baru saja mengantar buah untuk Mba Naomi." "Oh .... Kalau Bapak dan Ibu?" tanya Stevan lagi. "Bapak dan Ibu sudah di kamar, Mas." Derit pintu kamar terdengar disela-sela percakapan Stevan dan Bi Yasmin. Ternyata Roland yang keluar dari dalam kamar. Pria tua itu segera menghampiri menantu tak dianggapnya itu. Bi Yasmin segera berlalu kembali ke kamarnya setelah Roland berdiri di dekat mereka. Tatapan mata nanar sang mertua langsung tertuju kepada Stevan. Namun tak sedikit pun ia membalasnya. "Kau dari mana?" Roland mendekatkan wajahnya kepada Stevan. Seolah ingin mengendus aroma alkohol dari mulut sang CEO. "Aku tidak minum, kau tidak perlu khawatir." "Ck, aku hanya sedang memastikan jika kau sedang tidak dalam keadaan mabuk menemui putriku. Sebab aku tidak mau kalau sampai kau lupa dengan kesepakatan kita lalu menyentuh Naomi malam ini." Stevan menoleh cepat ke arah Roland. Ia tatap sejenak pria dengan kumis tipis di atas bibir tipisnya itu. "Kau tenang saja. Aku tidak akan lupa dengan janjiku. Aku lelah, hanya ingin istirahat. Permisi." Stevan berlalu dan segera naik ke lantai atas. Meninggalkan Roland dengan senyum miringnya yang mengembang. Sesampainya di depan kamar Naomi, Stevan mengetuk dua kali pintu kamar tersebut, tapi tak ia dengar suara apa-apa. Ia pun memutuskan untuk langsung membukanya karena mengira jika Naomi sudah tertidur. Namun, saat Stevan melangkah masuk ke dalam kamar, lampu kamar Naomi sudah mati dan hanya menyisakan cahaya dari lampu tidur. "Kamu sudah pulang?" Tiba-tiba saja Stevan merasakan sentuhan tangan Naomi pada lengan tangan kanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN