2. Aroma Lavender

1034 Kata
Kata pepatah, taraf tertinggi dari mencintai adalah melepaskan. Melepaskannya agar dia bahagia meski bersama orang lain. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak sanggup melepaskan Mas Nanda. ‘Kamu egois Azila.’ ~ Pagi ini, seperti biasanya aku menyiapkan sarapan untuk Mas Nanda. Sebelum menikah, jangankan memasak, menginjak dapur saja aku enggan. Namun sekarang, setiap hari aku berkutat dengan dapur. Aku tidak pernah merasa keberatan. Aku senang Mas Nanda mau memakan masakanku. Saat aku membuka pintu kamar untuk memberitahu sarapan sudah siap, Mas Nanda tengah berpakaian. Gegas, aku menghampiri. Membantunya mengancingkan kemeja satu demi satu. Mas Nanda memiliki otot perut dan d**a yang bagus juga sehat. Aku sangat menyukainya. Aroma harum lavender menguar dari kemeja. Aku sengaja membeli pengharum pakaian dengan aroma yang disukai Mas Nanda. Sebenarnya aku memiliki hidung yang sangat sentitif terhadap bebauan. Di antara banyak bau, reaksiku paling keras terhadap aroma lavender. Dulu, aku sangat tidak menyukai aroma lavender karena terasa menyengat dan membakar hidung. Aku akan mual-mual kalau mencium aroma lavender. Namun, itu dulu. Sekarang, sudah empat tahun aku berteman baik dengan aroma lavender. Bahkan, seluruh rumah ini memiliki aroma lavender. “Selesai.” Aku mengelus pelan dasi yang sudah rapi. Mas Nanda mengambil jas yang telah kusiapkan. Lantas beranjak keluar tanpa sepatah kata pun. Dia bukan pri jahat. Tak pernah memukul. Tak pernah membentak. Mencukupi kebutuhan lahir dan batinku dengan sangat baik. Satu-satunya yang tidak dia berikan adalah cinta. Dia tidak mencintaiku sama sekali. Aku memandangi Mas Nanda saat menyantap masakan yang kubuat. Dia tampan sekali. Rambut, hidung, alis, mata, bibir, semuanya tercetak menawan. Memberikan kesan mendalam. Aku menyukai semua bagian tubuhnya. Aku menyukai apa pun yang berhubungan dengannya. Aku tak pernah bosan memandangi wajahnya. Lagi dan lagi. Meski wajah itu begitu datar tanpa ekspresi tanpa emosi. Dan tentu saja, tanpa cinta. Bahkan hanya melihat Mas Nanda mengelap mulut dengan tisu, aku merasa cintaku telah semakin dan semakin dalam. “Jangan lupa untuk makan siang.” Aku mengingatkan. Memasukan kotak bekal makan siang ke tas kerja Mas Nanda. “Enn.” Mas Nanda hanya berdeham sebagai jawaban. Aku memeluknya di halaman, meski tangan kekar itu tak pernah terangkat untuk balas merengkuh. Aku senang bisa memeluknya sebelum melepas Mas Nanda kerja. “Jangan pulang terlalu malam,” bisikku. Mas Nanda tak merespons. Aku terus memeluknya. Menghirup aroma lavender dari kemejanya dan membuat kepalaku sedikit pusing. Mungkin setelah dua menit, baru aku melepaskan pelukan. Begitu pelukan terurai, Mas Nanda langsung berbalik dan pergi. “Saya lembur malam ini. Nggak usah menyiapkan makan malam dan nggak usah nunggu saya pulang.” Mas Nanda melepaskan kata-katanya sedetik sebelum mobil melaju. Dia tidak memberiku kesempatan untuk memprotes sama sekali. Pagar rumah ini cukup tinggi. Jadi, kalau hanya ke halaman, aku tak mengenakan jilbab. Namun, angin sesuatu yang bisa melewati pagar. Embusannya kini memelai hatiku yang basah oleh luka. ‘Ada begitu banyak pria di dunia, Zila. Lupakan Nanda, lupakan dia.’ Suara Papa mendadak terngiang-ngiang. Andai bisa, Pa. Tapi Azila nggak bisa! Aku melangkah masuk, melengkungkan senyuman. Meninggikan harapan. … Bakda shalat Dzuhur, aku memutuskan untuk memasak. Karena malam ini Mas Nanda lembur, aku ingin memberinya nutrisi terbaik. Makanan tadi pagi pasti sudah dingin. Jadi, aku ingin memberinya makanan baru yang masih segar. Mas Nanda menolak fasilitas dari Papa. Dia bahkan keluar dari perusahaan dan bekerja pada perusahaan kompetitor. Hal ini membuat hubungannya dan Papa menjadi kurang baik. Menempatkanku pada posisi yang cukup sulit. Rumah ini milik Mas Nanda. Aku memilih mengikutinya setelah meyakinkan Papa. Antusias, aku menenteng bekal makan Mas Nanda ke bagasi. Mobil ini milikku, atas namaku, dan dibeli oleh uangku. Barang-barang yang aku beli dengan uang sendiri, Mas Nanda mengizinkan untuk membawanya. Dia hanya tidak menerima sokongan dana dari Papa. Ah! Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengemudi. Untunglah Mas Nanda suami yang baik. Dia tetap merawat mobil ini. Mengganti oli dan ranji membawa ke service tiap tiga bulan sekali. Namun, tidak pernah mau memakainya. Padahal harga mobil ini mungkin sepuluh kali lipat lebih mahal dari mobilnya. Aku mengemudi dengan pelan, membelah jalanan. Dulu, aku sangat sehat. Jarang sekali sakit. Akan tetapi, empat tahun belakangan ini, kesehatanku cukup buruk. Aku sangat gampang sakit. Kulitku terlihat lebih pucat. Dulu aku bisa lari selama tiga puluh menit tanpa merasa sesak. Sekarang mungkin aku akan pingsan dalam menit kesepuluh. Kantor tempat Mas Nanda bekerja tak berada jauh dari kantor Papa. Kedua kantor ini saling bersaing ketat satu sama lain. Sangat aneh, menantu dari pemilik perusahaan besar, bekerja di perusahaan kompetitor. Hanya menjadi mata-mata. Menantu yang dibuang karena perbedaan status sosial. Ingin mandiri. Ah, banyak sekali rumor. Aku memarkirkan mobil dan bergegas memasuki kantor. Menyerahkan tanda pengenal pada resepsionis. Ini bukan kantor Papa, aku harus mengikuti prosedur. Sebagian besar pegawai kantor ini mengenalku. Jadi, saat masuk lebih ke dalam, beberapa dari mereka menyapa sopan. Entah ini pengaruh Papa atau Mas Nanda. Meski perusahaan ini dan perusahaan Papa bersaing satu sama lain, kenyataannya banyak dari para pegawai yang berteman baik. Mungkin karena lokasi kantor yang berdekatan, mereka sering bertemu di kafe saat jam istirahat. Pun, perusahaan memang hanya bersaing dalam hal bisnis. Saat aku atau Papa bertemu pemilik perusahaan ini, kami berjabat tangan dan tersenyum pada satu sama lain. Ruangan Mas Nanda kosong! Bekal makan siang yang tadi pagi kusiapkan tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya. “Bu Azila.” Aku yang sedang bingung segera berbalik. “Belinda.” “Cari Pak Nanda?” Aku mengangguk. Dulu aku pernah membantu Belinda. Rumahnya tak jauh dari rumah Mas Nanda yang kutempati sekarang. Dia selalu bersikap sangat baik padaku setelahnya. “Pak Nanda sedang keluar sama Mbak Sabrina. Mungkin di kafe biasa.” Ekspresi Belinda terlihat menyesalkan. “O–oh, terima kasih.” … Faktanya, Mas Nanda dan Sabrina bekerja di kantor yang sama. Aku bergegas ke kafe yang ada di tengah-tengah antara kantor Papa dan kantor kompetitornya. Kafe ini seakan-akan Dewi Keadilan yang menengahi dua kerajaan yang saling bermusuhan. Benar saja! Mas Nanda dan Sabrina ada di kafe ini. Keduanya terlihat akrab, bicara satu sama lain. Pelayan mengambil piring kotor di meja. Tanpa sadar aku meremas kotak makan siang di dalam tote bag. Mereka berdua masih belum menyadari kehadiranku saat mendekat. Mungkin terlalu asyik bicara. “M–mas Nanda,” panggilku pelan. Keduanya langsung berhenti bicara. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN