4. Rindu

1165 Kata
Kata Asifa, aku koma selama delapan hari. Sama seperti Endah, dia salah satu sahabat terbaik yang kumiliki. Ayahnya mengajar di salah satu pondok pesantren modern ternama di kota ini. Kini, dia pun mengajar di sana sebagai guru olahraga siswi. Ponpes tempat ayahnya bekerja memiliki sekolah swasta. Dari informasi yang dikumpulkan Asifa, Mas Nanda yang membawaku ke rumah sakit, sekitar pukul dua pagi. Kondisiku saat itu sangat kritis dan hampir kehabisan darah. Aku menjalani beberapa kali operasi panjang. Dia menggali semua informasi ini dari dokter dan suster yang menanganiku. Dia juga mengatakan melihat Papa dan Mas Nanda terlibat perseteruan, tetapi kurang jelas mereka berseteru dalam hal apa. Asifa dan Endah bergantian mengunjungiku. Sementara Mas Nanda melakukan perjalanan bisnis keluar kota dua hari lalu. Di saat aku masih koma. “Ponsel aku di mana, Fa?” “Ponsel?” Aku mengangguk lemah. Asifa dalam balutan gamis dan jilbab nude terlihat sangat serasi. Usianya sepantaran denganku, hanya lebih tua empat bulan. Memiliki proporsi tubuh yang bagus, tinggi ideal, dan sehat. Wajah manis dengan kulit kuning langsat. Pembawaanya penuh semangat, penuh tenaga. Dia ramah dan sangat jujur. Jika bicara selalu blak-blakan. “Buat apa ponsel, Zi?” “Aku mau nelpon Mas Nanda.” “Nelpon Nanda, ngapain?” Aku tidak tahu kenapa Endah dan Asifa selalu memanggil Mas Nanda dengan sebutan nama saja. Terdengar sedikit tidak sopan mengingat usia Mas Nanda yang lebih tua. Mereka berdua juga selalu mengobarkan api permusuhan pada suamiku. Tidak mau mendengarkan nasihatku agar bersikap ramah kepadanya. “Zila, kamu kenapa, sih? Kamu kerasukan jin apaan coba? Sadar, Zila, sadar! Nanda tuh nggak punya hati, percuma kamu perjuangin dia. Sia-sia doang. Ayo, dong, Zi. Move on! Lupain Nanda. Dia nggak peduli sama kamu. Nggak punya hati. Dia ninggalin kamu saat koma cuma buat perjalanan bisnis.” Asifa masih sangat cerewet seperti biasanya. Dari dulu dia memang begitu. Sekali bicara, merepet nggak berhenti-berhenti. “Aku pinjem ponsel kamu ajah, ya. Please ….” “Zila!” “Aku mohon.” Asifa menatapku tak berkedip sampai lama. Aku terus memandanginya dengan tatapan memelas. Dia akhirnya menghela napas, menggeleng lemah tak berdaya. Aku memberinya senyuman termanis saat dia akhirnya mengasurkan ponsel. Aku hafal nomor Mas Nanda di luar kepala. Panggilan pun tersambung. “Ha–hallo … Mas Nanda. Assalamualaikum, Mas.” Aku menyapa dengan tidak sabar saat panggilan diterima. Hening. Samar-samar aku mendengar helaan napas di seberang sana. “M–Mas Nanda ….” Kali ini benar-benar senyap. Aku melihat layar, masih tersambung. “Mas Nanda, kamu bisa dengar suara aku Mas?” Tetap tak ada sahutan. Aku mulai cemas. “Mas Nanda …,” aku sedikit mengeraskan suara dan tenggorokan langsung sakit. Rasa sakit menjalar ke mana-mana, ke punggung sampai pinggang, juga ke bagaian belakang kepala. Terpaksa aku memelankan suara lagi. “Mas Nanda … ini aku, Azila. Kamu bisa dengar suara aku kan Mas? Aku … aku nggak bisa bicara keras-keras. Tenggorokan aku sakit banget. Mas … kamu bisa dengar suara aku kan Mas?” Senyap. Aku mengusap sudut mata dengan cepat. “Mas, a–ku … aku kangen banget sama kamu. Pengen denger suara kamu. Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik ajah kan? Ka–kamu … kamu sehat kan Mas? Aku ….” Tiba-tiba suaraku tersendat seiring dengan air mata yang meluncur jatuh. Asifa mendadak merebut ponsel dan bersungut, “Nanda berengsek kamu. Nggak punya hati!” Tubuhku menegang. Asifa, apa yang kamu katakan! … Setelah memohon berulang kali, Asifa akhirnya memberikan ponselku. Entah bagaimana dia mendapatkannya. Dia hanya mengatakan reaksiku sangat berlebihan saat menerima ponsel. Dia tidak tahu kalau di dalam ponsel ini ada harta yang sangat berharga—belasan ribu fotoku dan Mas Nanda. Dokter membatasi kunjungan. Jadi, Asifa tidak bisa terlalu lama. Dia harus membiarkanku istirahat. Aku memohon agar dokter mau memberi kelonggaran, membolehkanku menyimpan ponsel. Dokter setuju dengan syarat aku tidak boleh terlalu lama memainkannya. Syukurlah! Sesaat setelah dokter dan Asifa pergi, aku segera mengirim pesan melalu w******p. Meminta maaf pada Mas Nanda atas kata-kata kasar yang dilontarkan Asifa. Aku juga memintanya agar tidak memasukan kata-kata itu ke dalam hati. Terakhir, aku bertanya kapan dia akan pulang. Dua jam kemudian, Mas Nanda membalas dengan tiga kata: dua hari lagi. “Dua hari lagi,” aku menggumam. Aku memiliki waktu dua hari agar lebih sehat. Aku tidak ingin merepotkan Mas Nanda. Jadi, harus lebih sehat dalam dua hari. Aku membuka file gambar di ponsel. Ada begitu banyak fotoku dan Mas Nanda. Tak sedikit yang menampilkan potret mesra. Di dalam foto, aku terlihat begitu berani dan … nakal. Ada potret di mana aku dengan berani mencium Mas Nanda. Mencium kening, alis, mata, pipi, rahang, dagu, dan … bibir—wajahku memanas seketika. Buru-buru aku mengusap ikon home, lalu meletakkan ponsel di atas nakas. Jantungku berdetak begitu cepat. Aku memejamkan mata erat. Memalukan sekali. Untungnya pria itu suamiku sendiri. Ya, setidaknya aku melakukannya pada suamiku sendiri. … Dokter mengatakan perkembanganku cukup baik. Endah dan Asifa datang bergantian. Secara kompak keduanya terus mendesakku agar secepatnya meninggalkan Mas Nanda. Aku tidak menanggapinya secara serius. Dalam dua hari, aku menerima tiga kali kunjungan polisi. Mereka meminta keteranganku sebagai saksi tunggal. Aku menerangkan semua yang kuingat dan kuketahui. Papa tidak pernah berkunjung. Dia hanya menelpon sekali dan mengatakan akan menanggung semua biaya rumah sakit. Dia juga menanyakan kabarku. Papa! Aku tahu sebenarnya dia sangat menyayangiku. Dia hanya kecewa karena aku begitu keras kepala. Ketika bicara lewat telepon, aku mengambil kesempatan untuk meminta maaf. Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti juga tidak membanggakan. Papa mengatakan semua itu tidak penting. Satu-satunya yang dia harapkan adalah aku pulang ke rumah dan meninggalkan Mas Nanda. Harapan yang tidak bisa aku penuhi. Pembicaraan akhirnya berakhir dengan aku mengecewakan Papa sekali lagi. Aku menghela napas. Percakapan itu sudah lewat beberapa jam lalu. Namun, rasa sesalnya masih tertinggal di dalam hati. Sore ini Mas Nanda pulang. Pagi tadi aku sudah mengirim pesan, memastikan kepulangannya. Dia mengatakan mungkin bakda ashar baru tiba di rumah sakit. Huh, kalau pulangnya sore berarti dua malam tiga hari—bukan dua hari seperti yang dikatakannya tiga hari lalu. Aku memprotes, tetapi tidak ditanggapi. Setelah shalat Ashar, aku merias wajahku agar tidak terlalu pucat. Meski sambil bersungut-sungut bahwa tindakanku menyambut Mas Nanda sangat bodoh, Endah tetap bersedia mengambilkan satu set makeup sederhanaku di rumah. Sebenarnya aku sudah mengajukan izin untuk pulang. Namun, dokter tidak mengizinkan karena lukaku masih harus mendapat perawatan khusus. Aku menanti dengan cemas juga tidak sabar. Entah sudah berapa belas kali melirik ke pintu, menatap jam di dinding hingga leher terasa kaku pegal. Saat pintu akhirnya dibuka dan sosok Mas Nanda muncul, aku tidak mampu mengendalikan kebahagianku. Sesuatu seperti membuncah, meledak di dalam d**a. Secara impulsif, mungkin juga semberono, aku melompat turun dari tempat tidur. Selang infus tersangut ke sisi brankar, membuat jarumnya tercabut paksa dari lenganku. Aku merasakan aliran mengalir dengan deras dari lengan. Namun, aku tidak memedulikannya. Aku berlari ke arah Mas Nanda. Sebelum benar-benar bisa menggapai sosoknya, aku merasakan tubuhku mendadak melayang. Ambruk ke lantai dengan suara bergeduk keras. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN