Toleransi
"Aku tak akan melakukannya jika tidak karena terpaksa," jelasnya mengiba sambil berbisik pada sang suami. Ia tak ingin Jeni mendengarnya. "Jangan beritahu Jeni. Ia akan kecewa nanti." Ibu Jeni melanjutkan penjelasannya. "Harusnya kau memikirkannya sebelum bertindak." Ibu Jeni menunduk, melihat ke arah putrinya yang sedang bersedih.
"Baiklah, aku tak akan melaeang mereka berteman." Akhirnya ibu Jeni pasrah. Ia mempercayakan penyelesaian masalah pada suaminya.
Beberapa jam kemudian, terlihat Jeni sudah asyik bercerita dengan Ryu yang hanya menatapnya dengan bengong."Apakah karena ia tak punya teman, makanya ia sangat menikmati kebersamaan dengan Ryu?" Pertanyaan ibu Jeni dijawab sang ayah dengan anggukkan kepala. "Mereka saling menemukan. Itu saja. Kita harus bisa mentoleransi pertemanan ini."
Ketika Ryu pulang, Jeni langsung mencari ayahnya dan memeluknya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Ibu Jeni sangat trenyuh dengan pemandangan itu. Sebongkah penyesalan terasa menindih dadanya. "Kau senang sekarang?" Jeni membenarkan pertanyaan ibunya. Kepalanya bergoyang-goyang karena sukacita yang besar.
"Bagaimana Bapak bisa mengajaknya ke sini?" Ibu Jeni dan putrinya ingin tahu. "Bapak bilng Jeni sedang sakit, makanya ia segera datang." Ayah Jeni juga menjelaskan bahwa ia merasa kesulitan pada awalnya karena harus meyakinkan Ryu bahwa kopi di rumahnya sudah enak kembali. Ia bersikeras tidak mau datang karena 'ae koka' bikin dia sakit perut. Berulang-ulang lelaki terbelakang itu menggerak-gerakkan tangan di perutnya untuk meyakinkan ayah Jeni. Akhirnya Ayah Jeni terpaksa harus berbohong padanya supaya mau datang.
Jeni dan ibunya tampak lega setelah mendengar cerita lelaki paruh baya yang sangat mencintai anak gadisnya itu