Kuatir
"Ada apa?" Ibu Jeni bertanya pada suaminya ketika tatapan mereka bertemu. Sedari tadi suaminya terus memperhatikannya. Ia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya karena berhasil memisahkan Jeni dan Ryu. Ia berpikir akan sulit, ternyata Ryu langsung menghilang begitu saja. Santer terdengar kabar, lelaki terbelakang itu bahkan sudah pergi meninggalkan kampung.
"Jadi, kau benar mencampur sesuatu di minuman Ryu agar dia sakit perut?" Mulut Ibu Jeni sampai ternganga lebar saking terkejutnya. "Bagaimana kkk-kau bisa tahu itu?" Suaminya terlihat enggan menjawab. Kegembiraanmu sangat jelas terlihat, padahal putrimu sendiri sedang bersedih hati. Apa kau tak kasihan pada keduanya?"
Mendapat tekanan seperti itu, ibu Jeni tidak mau kalah, "Aku malu pada orang kampung. Mereka terus bicara tentang anak kita dan Ryu. Setidaknya sekarang aku tak perlu kuatir lagi." Ayah Jeni malah menarik lengan istrinya, menunjuk ke arah Jeni yang sedang tertunduk lesu di depan rumah, menunggu Ryu lewat di depan rumah.
"Kalau seperti itu keadaan anak kita, apa kau tidak kuatir?" Ibu Jeni tercenung melihat anak gadisnya. "Besok aku akan menjemput Ryu ke rumah kita. Aku harap kau tidak berpikir untuk mencampurkan sesuatu ke minumannya lagi!" tegas ayah Jeni. Ibu Jeni yang tadinya hendak protes, langsung terdiam melihat ayah Jeni yang memasang wajah garang padanya. Rupanya lelaki itu tak mentoleransi perbuatan yang telah dilakukannya.