Menghindar

342 Kata
Menghindar "Aaauhh...auh...auh!" Seruan Ryu yang merasa nyeri di perutnya sangat meresahkan Jeni. Mata gadis itu terbelalak seakan turut merasakan apa yang dirasakan temannya itu. "Kenapa kamu?" Jeni bertanya dan Ryu memegangi perutnya untuk mengatakan bagian perutnya yang terganggu. Lelaki terbelakang itu berlari secepatnya ke arah rumahnya. Namun, kasiat obat pencahar itu sangat kuat. Ryu memegangi bokongnya sambil berlari membabi -buta. Sepasang mata melihat dengan puas dari balik bilik bambu. Ibu Jeni lega, sore ini ia tak lagi disuguhi pemandangan dua orang yang saling jatuh cinta itu, bersenda gurau di hadapannya. Selama beberapa hari Ryu tak lagi datang ke rumah mereka. Hal ini membuat Ibu Jeni semakin senang. Tujuannya tercapai. Ia tak menyangka Ryu langsung menghindar sejauh -jauhnya ketika melewati rumah mereka. Bahkan ia berlari kencang ketika Jeni mengucapkan kata 'ae koka' yang biasanya selalu membuat matanya bersinar senang. Rupanya pemuda terbelakang itu tidak bodoh-bodoh amat. Ia dapat merasakan ketidaksukaan ibu Jeni dan mulai menghibdari Jeni. Sejak Ryu tidak lagi kelihatan di mana-mana, di kampung, Jeni merasa kehilangan. Ia mencari lelaki itu di lapangan sekolah, di kali mati, bahkan di rumahnya, namun ia tak dapat menemukan lelaki itu. Menurut adik-adiknya, kakak mereka sekarang ada di kampung seberang. Ia pergi kw rumah paman mereka yang tinggal di sana. Mereka juga bercerita jika ia tidak lagi ingin meminum kopi karena akan membuat perutnya sakit. Jeni tertunduk lesu. Ia tidak bersemangat seperti biasanya. "Kenapa bapa pung anak Nona, muka ditekuk begitu?" Ayah Jeni menegur ketika dilihatnya Jeni duduk melamun di tempat biasa, di depan rumah. "Tidak apa-apa, Bapa. Hanya saja, saya heran dengan Ryu. Dia tidak mau datang ke sini lagi. Dia juga tidak mau minum kopi lagi, katanya bikin sakit perut." Penjelasan Jeni membuat ayahnya terdiam sejenak. Otaknya mulai bekerja cepat, menghubungkan percakapan antara dirinya dan sang istri dan penjelasan Jeni. 'Mungkinkah istriku menaruh sesuatu dalam minuman Ryu?" Senyum lebar sang istri kala menyambutnya pulang dari kebun, berbanding terbalik dengan kelesuan putrinya. Ia mendekati Jeni, mengelus kepalanya, memintanya bersabar karena Ryu pasti akan datang kembali. Jeni baru tersenyum setelah ia berjanji akan membawa Ryu padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN