Gosip

234 Kata
Gosip "Bagaimana bisa?" beberapa ibu terdengar ramai bertanya pada seorang wanita yang tengah asyik bercerita di tepi pancuran air, di tengah kampung. "Saya juga tidak tahu, hanya bertemu di jalan menuju kebun. Jeni tidak takut pada Ryu, bahkan mereka saling bergandengan." Tanggapan beragam dari para ibu membuatnya semakin semangat bercerita. Ia bahkan menambahkan beberapa detail baru setiap mengulang cerita tersebut, sampai dirasakan bahwa pendengarnya merasa puas tentang apa yang diceritakannya. Cerita yang tersebar di kampung, akhirnya sampai juga di telinga ibu Jeni. Seorang tetangga menyampaikan keprihatinannya. Ia takut akan keselamatan Jeni, mengingat Ryu adalah pemuda yang tidak normal, ditambah lagi umurnya yang sudah mencapai tiga puluh. Penyampaian keprihatinan yang disampaikan dengan berbisik-bisik itu sangat meresahkan ibu Jeni. "Bagaimana ini? Semua orang merasa heran dan mulai bicara di kampung tentnaag Jeni dan Ryu," ungkapnya pada suaminya yang tengah membuat tonggak kayu untuk mengganti beberapa kaki pagar yang telah rusak. "Sudah kukatakan, kau tak perlu risau, ia akan menjadi pelindung anakmu. Biarkan saja orang bicara, toh nanti juga bosan sendiri!" Ibu Jeni jengah terhadap pernyataan suaminya. Ia merasa harus berbuat sesuatu yang ekstrem agar pertemanan Jeni dan Ryu bisa segera diakhiri. Ibu Jeni sedang berpikir keras ketika netranya menangkap bubuk kopi di wadah yang diletakkan di atas meja. Ia berencana mencampur kopi dengan obat pencahar agar perut Ryu akan sakit bila meminum 'air lumpur' kesukaannya itu. 'Mungkin dengan begitu ia akan menghindari putriku,' pikir wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN