Bab 13. Melindungi Aurora

1301 Kata
Darka masih memperhatikan Aurora yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. “Darka?” tiba-tiba ada saja seseorang berada di depan kamar Darka, pintu kamar Darka terbuka sedikit sehingga Darka bisa melihat siapa yang memanggil namanya. “Ada apa, Kek?” tanya Darka berjalan ke arah Kakek yang masih berada di depan pintu kamar Darka. “Kita perlu bicara,” ujar Kakek langsung ke intinya. *** Terlihat mereka berdua berada di ruang kerja Darka, ada hal penting yang akan mereka bicarakan. Kebetulan juga Darka berada di sini, jadi Kakek ingin memanfaatkan kesempatan itu. “Kamu pandai memilih istri,” ujar Kakek dengan nada becanda, kakek sengaja berbasa-basi agar pembicaraan mereka tak tegang. Darka hanya membalas dengan senyuman perkataan Kakek, entahlah ia rasa Aurora yang pas untuk menjadi istri sementaranya. “Kamu tau kan Nenek tak setuju dengan pernikahan kamu?” tanya Kakek dengan nada serius, ia harus mengingatkan Darka bagaimana situasi di keluarga mereka. “Aku tau, tapi aku nggak punya pilihan lain. Kakek tau sendiri kan, kalau nggak nikah sekarang mungkin aku bakal nikah dengan Nadine,” ujar Darka, Darka tak tau apa yang dilakukan Nadine, sehingga nenek mati-matin ingin menjodohkan mereka. Bahkan pernah sekali, tanpa sepengetahuan Darka. Nenek menyiapkan pernikahannya dengan Nadine, sudah ada penghulu dan para saksi di rumah mereka. Beruntung Darka cepat menyadari dan segera membatalkan pernikahan itu. “Nenekmu itu memang suka seenaknya, makanya Kakek bilang kamu jaga istrimu jangan sampai pikiran dan mentalnya terganggu gara-gara Nenek. Nenek kamu itu ahli membuat mental orang down,” jelas Kakek sudah tau tabiat istrinya yang suka menekan pikiran orang lain, kadang membuat orang lain merasa bersalah dan mundur sendiri tanpa harus ia yang turun tangan. “Iya Kek, Aurora aman bersamaku,” jawab Darka, sebisa mungkin ia menjauhkan Nenek dari Aurora. Sudah cukup Larasanti saja yang menjadi korban mulut pedas dan tindakan semena-mena dari Nenek. Aurora tak boleh mengalami apa yang Larasanti alami dulu. “Baguslah, Kakek nggak mau Aurora menjadi korban keegoisan keluarga kita. Dia wanita baik, jaga dia.” Kakek memberi nasehat ke Darka. Ia tak mau Aurora dibulli seperti Larasanti dulu. Dulu kehidupan Darka di rumah keluarga Danswara tak sebaik sekarang, dulu ia sering diasingnya, di ejek, bahkan ibunya dijadikan pembantu di rumah sendiri. Belum lagi Leon yang semakin dituntut untuk menikahi wanita pilihan Nenek. Namun, semuanya berubah saat Leon memutuskan untuk melepaskan kekuasaannya, dan pergi jauh dari keluarga Danaswara. “Aku nggak akan biarin mereka menjadikan Aurora seperti Ibu,” batin Darka dengan tangan yang mengepal. Terlintas di ingatannya bagaimana saat ibunya disiksa, direndahakan. Dulu Darka tak bisa berbuat apa-apa untuk membela ibunya. Namun, sekarang ia memiliki segalanya yang bisa menutup mulut keluarga Danaswara. *** Di lain tempat di waktu yang sama. Aurora sedang berada di taman belakang, wanita itu melihat sekeliling. Ia mengagumi interior di rumah Darka. Pilar-pilar yang menjulang tinggi, furniture-furniture khas eropa. Bisa Aurora tebak harganya menyentuh milyaran. “Menarik,” ujar Aurora. “Lihat saja selagi di sini, tapi jangan dicuri, ya.” Tiba-tiba saja Aurora mendengar suara seseorang dari arah belakang. Karena terlalu asik mengagumi rumah Darka, ia bahkan tak menyadari ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Aurora berbalik melihat siapa yang baru saja berbicara dengannya. “Mereka lagi,” batin Aurora menghela napas panjang, terlihat jelas sekali wajah memeles Aurora menatap kedua wanita yang tak ia inginkan kehadirannya itu. Sama halnya dengan Aurora, Nadine maupun Nenek juga sedang menatap Aurora. Tatapan mereka sinis, terkesan merendahkan. Seakan Aurora memang berada di bawah mereka. “Mencuri? Sepertinya itu tak perlu, selagi Darka ada bersamaku dia akan membeli segalanya untukku,” ujar Aurora dengan tatapan mengejek bahkan mengibaskan rambut tepat di hadapan Nenek dan Nadine. Nenek dibuat geram dengan sikap Aurora, tangan yang mengepal sembari menatap Aurora dengan tatapan marah. Baru sehari di sini Aurora sudah berani melawan Nenek, hal itu yang membuat Nenek marah. “Kamu!” kesal Nenek, ingin menampar Aurora. Namun, tangannya ditahan oleh Nadine dengan wajah sok polosnya. Aurora tau Nadine tak benar-benar membantunya, pasti Nadine sedang menarik perhatian Nenek agar ia bersama Darka. “Baguslah Aurora, kamu mengali kuburanmu sendiri!” batin Nadine tertawa di dalam hati. Ia sangat bahagia melihat Nenek sangat membenci Aurora. “Apa ini?” tanya Ayu, yang baru saja datang dari ruang santai. Ada Larasanti juga berjalan ke arah mereka dari arah yang berlawanan. “p*****r ini lagi, dia mencuri, Bu?” tanya Ayu dengan nada santai, sambil membersihkan kukunya. “Tante, aku bukan p*****r! Jelas-jelas Darka lah yang menjebakku dan aku yang dirugikan dalam hal ini!”Aurora menjawab dengan tegas perkataan Ayu. Ia tak tahan lagi dengan hinaan yang dilontarkan untuknya. Jika terus begini, keluarga Darka akan tambah parah menghinanya. Bahkan sekarang Aurora tak peduli lagi dengan image, selagi ia benar ia akan tetap melawan. “Sayang, ayo masuk dulu. Nanti Bunda panggil kalau makan malam sudah siap,” kata Larasanti, ia tak ingin Aurora berada di posisi terpojok seperti itu. Apalagi Nenek dan Ayu tak tanggung-tanggung mengatai Aurora, ia takut menantunya sakit hati. “Bun mereka te—“ Belum sempat, Aurora berbicara. Ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. “Aurora!” panggil Kakek, Kakek tau istrinya sedang mengitimidasi Aurora. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi, selagi ia ada ia harus menjaga metal Aurora untuk tetap stabil agar bisa membantu Darka nanti. “Iya, Kek?” jawab Aurora berjalan ke arah Kakek. “Sial! Jangan sampai Kakek setuju hubungan Aurora dan Darka. Itu tak boleh terjadi,” batin Nadine menatap punggung Aurora dengan tatapan marah sekaligus takut. Takut jika Kakek akan mendukung Aurora. “Sayang, nggak apa-apa. Nenek ada di pihakmu,” kata Nenek berusaha menenangkan Nadine, untuk tak terpengaruh dengan hubungan kakek dan Aurora. *** “Untung Kakek menyelamatkanku,” batin Aurora. Ia sudah terbebas dari Nenek, untung Kakek sangat mengerti keadaannya dan meminta dirinya untuk ke kamar saja. Kakek juga berpesan agar Aurora tak keluar kamar jika tidak bersam Darka. Aurora dibuat bingung dengan perkataan Kakek. Ia merasa banyak hal yang tak ia tau dari keluarga Danaswara yang terlihat harmonis, tapi hancur di dalam. Tak ingin memikirkan hal itu lagi, ia pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia butuh sensasi dingin yang bisa membuat otaknya jernih. Aurora berjalan perlahan sambil bersenandung kecil. Baru selangkah ia masuk, ia dikagetkan dengan pemandangan yang seharusnya tak ia lihat. Karena kaget ia pun berteriak kencang, sembari menutup mata. “Akh!” “Pak Darka, kenapa ada di sini?” tanya Aurora masih dengan mata terpejam, jangankan membuka mata bernapas saja rasanya tak bisa. Seakan ada yang menekan dadanya. Di depan sana Darka sedang berendam di bathup, sambil memegangi minuman di tangannya. Darka juga sama halnya dengan Aurora, pria itu kaget melihat Aurora berada di depannya. Apalagi dengan keadaan yang tak bisa dikatakan menguntungkan. “Kenapa kamu masuk? Mau mandi sama saya?” tanya Darka dengan nada santai, walaupun dirinya mengila, jantungnya berdekat tak karuan. Tapi, ia tetap mempertahankan sikap tenang seperti tak terjadi apa-apa. “Mandi? Nggak dulu deh, Pak,” jawab Aurora berusaha tenang agar tak ketahuan sedang malu. Siapa yang tak malu melihat pria yang sedang mandi. Bagaimana kalau Darka mengatainya m***m atau memanfaatkan kesempatan. Mau ditaruh di mana wajahnya. “Lalu, kenapa masih di sini?” tanya Darka dengan nada enteng. Sedari tadi Darka menatap ke arah Aurora. Tak sedikitpun ia mengalihkan tatapannya seakan ia kecanduan menatap wajah Aurora. Aurora terdiam dengan perkataan Darka, tak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Seperti seseorang yang ketahuan mengintip. “Kenapa diam?” tanya Darka menunggu Aurora membalas perkataannya. Ia masih menunggu alasan apa yang akan diutarakan Aurora. Aurora memejamkan mata. Ia ingin kabur dari tempat itu, tapi rasanya Darka sedang menahannya di sini. Bagaimana ia bisa pergi. Darka menyeringai saat Aurora tak berani menjawab perkataannya. “Maaf Pak, aku per— agh! Pak Darka!“ Belum sempat Aurora berbicara, ia dikejutkan dengan tarikan di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN