Herman duduk di kursi dan berhadapan dengan komandan. "Kamu memang seorang pemuda yang baik. Apakah kamu benar-benar mencintai Anita?" Tanya komandan. Herman hanya tersenyum malu. "Terus terang saja kan tidak apa-apa." "Ah, bapak komandan ngeledek saya nih?" Herman berbicara seperti dengan temannya saja. Sebab nada pembicaraan komandan tidak lagi formil melainkan seperti dengan seorang sahabat. Atau dengan anaknya sendiri. "Selama kau berada di dalam lembaga ini belum pernah kulihat perlakuanmu yang tercela. Aku merasa kagum atas pengorbananmu.Yah cinta yang suci memang harus membutuhkan pengorbanan. Ini baru namanya kejutan." Kata komandan sambil tertawa. "Waaah berabe nih. Disuruh menghadap bapak untuk diledek." "Selama hidupku baru ketemukan pemuda berkorban demi ci
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


