Herman bergegas mendekati jendela kamar dan memukul
berulangkali sehingga mengejutkan kedua orang
yang ada didalam kamar tu.
"Siapa berani melakukan itu!!." Terdengar suara
keras seorang lelaki dari dalam kamar.
"Aku! Herman!!." Balas Herman tak kalah kerasnya
pula.
Sementara mbok Ginem semakin dilanda
ketakutan. Keringat dingin membasahi sekujur
tubuhnya. Jendela kamar itu akhirnya terbuka dan
Herman menemukan seraut wajah bandot tua yang
pernah dijumpainya di proyek Senen ketika
bersama Anita dulu. Dengan sepasang mata penuh
bara, bandot tua itu menatap Herman yang berdiri
tegap.
Sedangkan Anita yang saat itu sedang duduk
di pinggir tempat tidur, kelihatan mendekap
gaunnya yang telah terbuka di bagian atas. Herman
juga menemukan wajah Anita yang pucat pias.
"Siapa kau?! dan apa urusanmu ikut campur
persoalan kami!." Bentak si bandot itu.
"Aku teman Anita. Kita bicara di ruang
tamu!." Tantang Herman.
"Jangaaan Herman!." Teriak Anita
menimpah.
"Baik!" Sahut si bandot.
Herman berjalan ke teras dan si bandot telah
menyambut dengan membuka pintu rumah lebar-
lebar.
"Silahkan masuk!." Kata si bandot itu.
Sebelum melangkah masuk dan duduk di kursi yang
telah dipersilakan oleh si bandot, Herman sempat
memandang wajah Anita yang cemas sekali. Kedua
tangan gadis itu mendekat erat lengan si bandot.
Rasanya ada sesuatu yang dikawatirkan. Namun
Herman tetap tenang dan duduk di kursi.
"Sudah lamakah anda mengenal Anita?,"
tanya si bandot serius.
"Baru dua bulan berselang." Jawab Herman
terus terang.
"Kau mencintainya?" Desak si bandot.
"Ya." Kata Herman mantap.
"b******n!!" Teriak si bandot sambil merogoh
pistol di dalam saku kimononya. Namun Anita
berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar 95
tangan si bandot itu tidak berhasil mengeluarkan
pistol yang ada di sakunya. Dalam sekilas Herman
sempat melihat usaha si bandot untuk mengeluar
kan pistol itu. Debur jantungnya berdetak tak
karuan. Dan keringat dingin membasahi jidatnya.
Namun meski demikian Herman tidak akan
melangkah mundur dan ingin melihat apa yang
dilakukan lelaki itu terhadap dirinya.
"Herman pergilah kau! pulanglah kau!."
Teriak Anita ketakutan.
Akan tetapi Herman masih berdiri tegak
menatap wajah bandot itu, sekalipun perasaannya
sudah tak karuan. Kedua orang yang ditatap
Herman masih saling tarik menarik tangan. Tapi
bagaimanapun juga kekuatan perempuan masih
belum bisa menandingi lelaki. Maka Anita akhirnya
tergelincir jatuh ke lantai dan si bandot berhasil
mengeluarkan pistol dari dalam kantong
kimononya.
"Lariiiiii Hermaaaaaaan!!." Teriak Anita
sembari menarik kaki si bandot hingga sama-sama
jatuh ke lantai. Bertepatan dengan jari si bandot
menekan pelatuk pistol dan terdengar letusan,
Herman lari seraya menghindar dari serangan
peluru yang mengancam tubuhnya.
Herman terus berlari tanpa menoleh ke
belakang lagi. Lantas menyetop taxi yang kebetulan
lewat dan buru-buru naik. Dengus nafasnya yang
memburu membuat sopir taxi. mengawasi muka
Herman melalui kaca spion. Herman tidak ambil
pusing sepasang mata si sopir memperhatikan
kecemasannya itu. Yang penting dia telah berhasil
menyelamatkan diri dari kematian.
Selama dalam perjalanan menuju pulang
Herman tak habis mengerti tentang semua yang
dialaminya kini. Siapa sebenarnya lelaki itu, dan apa
hubungannya dengan Anita masih merupakan
tandan tanya besar.
*** Keesokan harinya Herman duduk seorang diri di
ruang paviliun. Bunga-bunga yang tumbuh di taman
kelihatan segar dan indah-indah warnanya. Tapi
keindahan wama bunga yang sejuk dipandang mata
bukan lagi dirasakan oleh Herman. Kalau
sebelumnya dia sangat senang kepada bunga-
bunga itu, tapi sementara ini pikirannya sedang
dibalut keresahan yang belum menemukan duduk
persoalan yang sebenarnya. Dia masih diliputi tanda
tanya besar, siapakah sebenarnya lelaki itu.
Belum lama Herman bertanya-tanya dalam hati,
tiba-tiba terdengar klakson mobil. Dan sebuah
mobil Honda civic berwarna kuning berhenti di
depan pintu halaman. Herman bergegas bangkit
karena dia tahu yang ada di dalam mobil itu adalah
Anita.
Gadis yang mengenakan gaun violet muda dengan
hiasan bunga putih dan merah nampak segera
turun dari mobil. Rambutnya yang hitam legam
sebatas bahu kali ini tidak terurai, melainkan
dikuncir dengan pita merah. Di mata Herman
itu nampak lebih keibuan,
Herman tersenyum kepada gadis itu, tapi balasan
Anita cuma tatapan mata yang sendu. Ah, matanya
itu alangkah murungnya. Apa sebenarnya yang
tersimpan di dalam perasaannya, hingga kecerahan
pada pantulan wajahnya yang anggun dan cantik
begitu suram. Herman menghembusi n na-las berat
sampai Anita dekat dengannya.
"Aku ingin berbicara kepadamu, Herman,"
kata Anita lirih.
"Ayo masuk dulu." Ajak Herman. Tetapi gadis
itu menolak.
"Kita berbicara jangan di sini Her, kita cari
tempat yang tenang dan cocok."
"Baik" Sahut Herman.
Lantas mereka berdua berjalan ke mobil.
Anita membawa Herman ke tempat biasa mereka
memadu kasih. Selama dalam perjalanan menuju ke
pantai gadis itu lebih banyak diam. Namun di hati
mereka berbicara masing-masing.
Sampai mobil berhenti di tempat parkk dan mereka
berdua jalan berdampingan di pesisir pantai, masih
juga saling membisu. Seperti angin yang bertiup
membisu. Seperti batu-batu di pinggir pantai yang
dijilat! air laut tetap diam saja. Setelah mereka
duduk di bawah pohon mangga yang berdaun
rindang, Anita menegur Herman lunak.
"Kau tak apa-apa bukan Herman?"
"Seperti apa yang kau lihat, aku sehat-sehat
saja." Gumam Herman.
"Kau tahu apa sebabnya aku melarangmu
untuk datang ke rumah. Hanya demi menjaga
hubungan kita dan keselamatan atas dirimu,
Herman." Kata Anita datar.
"Siapakah sebenarnya lelaki itu Anita?"
"Dialah calon suamiku."
"Hah?" Herman termangu.
Anita tersenyum hambar memandang
Herman. Sedangkan lelaki yang dipandang Anita
membuang muka dan memandang jauh ke laut
yang biru.
"Kenapa sejak dulu kau tak mau berterus
terang kepadaku, Anita " Gumam Herman terlalu
kecewa.
"Karena banyak hal yang tak kuinginkan di
dalamnya Herman."
"Maksudmu?"
"Aku tidak mencintai lelaki itu."
"Kenapa masih juga kau jalani, jika kau tak
mencintai? Berarti kau menyiksa, dirimu sendiri.
Kau masih mempunyai harapan buat memperoleh
kebahagiaan dengan orang lain." Tandas Herman
setengah mencibir melihat kelemahan Anita. Sebab
dia tahu Anita memiliki kelebihan banyak dari pada
dirinya. Kenapa mesti harus menikah dengan
bandot tua. Banyak pemuda kaya yang akan jatuh
cinta kepadanya.
"Orang tuaku terlalu silau dengan harta yang
akhirnya menjadi gila. Akulah yang menjadi korban
atas permainan nasib." Kata Anita dalam keluh.
"Kau masih bisa menolak. Kau masih bisa
menentang kehendak orang tuamu jika kau tahu
bakal membuat dirimu menderita. Alasan masih
belum dapat kuterima dengan kenyataan Nita."
Gadis itu tertunduk dan matanya dirasa
hangat, Debur ombak di pantai mengusik
ketenangan alam sekeliling pesisir pantai yang
begitu indah membuat hati Anita bertambah sedih,
kenapa keindahan dimasa remaja harus berakhir
dengan penyesalan? Kenapa pula takdir telah
menentukan harus hidup di sisi seorang lelaki yang
tak dicintai? Ooooh, alangkah kejam kehidupan ini.
Alangkah pahit yang disuguhkan realita dari orang
tuanya dimana harus menikah dengan-bandot tua
yang tidak mempunyai perasaan. Tidak mengenal
sama sekali halusnya perasaan seorang wanita.
Begitulah penyesalan yang bertumpuk di d**a
Anita. Gadis itu sejak tadi masih membisu, cuma
kedua matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Itu terserah pendapatmu Herman. Kalau kau
tetap beranggapan bahwa aku terlalu menyerah
kepada nasib."
"Jadi selama ini kau menganggap diriku
hanya teman pemuas kesepianmu, begitu ya?"
Rutuk Herman.
Gadis itu tidak dapat memberikan jawaban,
diam tertunduk. Herman semakin ditekan perasaan
kecewa.
"Alangkah kejamnya kau... terkutuklah kau
Anita," desah Herman setengah memaki.
"Ucapanmu menyakiti hatiku Herman.
Padahal kau belum tahu kejadian yang sebenarnya.
Aku telah menjadi korban hutang ayahku di meja
judi. Berapa kau tahu hutang ayahku di meja judi?,
tidak sedikit Herman. Hampir lima puluh juta
rupiah. Semua kekalahan yang diderita ayahku
karena permainan curang dari teman-teman
Wibowo, yang sekarang menjadi calon suamiku.
Wibowo adalah kepala orang perkapalan yang
sering berlayar ke luar negeri. Perkenalan dengan
ayahku belum lama, tapi sempat menaruh minat
untuk menghancurkan usaha ayahku di bidang
perkapalan. Tak tahunya Wibowo hanya disewa
oleh seorang pengusaha lainnya yang ingin
menjatuhkan ayahku. Setiap hari memaksa ayahku
untuk berjudi di tempat khusus, anehnya ayahku
tak lagi bisa menolak. Wibowo pengaruhnya
dikalangan penjahat-penjahat perkapalan sangat
besar. Karena itulah ayahku menjadi korban
permainan licik. Semua yang menjadi milik kami
telah habis. Usaha ayahku jatuh sampai akhirnya dia
menjadi gila dan aku menjadi korban melunasi
hutang ayah ku. Kau mau mengerti sebab dari diriku
yang terbelenggu ini bukan Herman?"
Kata-kata Anita yang panjang itu cukup
membuat Herman mengetahui duduk persoalan
yang jelas. Sekarang dia tidak lagi menyalahkan
gadis itu. Justru sebaliknya dia merasa amat
kasihan.
"Aku ingin melepaskan belenggu
penderitaanmu Nita." Gumam Herman mantap.
Matanya menatap Anita dengan penuh semangat
yang menyala-nyala. Disamping bara cinta yang
menggelora di dadanya.
"Kau tak akan mampu berbuat itu Herman."
Potong Anita.
"Katakanlah kalau aku seorang yang kaya
raya dan bisa membayar luitang ayahmu, baru aku
dapat menang? begitu? Lantas hidupku sebagai
pengarang tak mampu memberi makan kepadamu,
begitu? Kau sendiri hampir lupa dengan apa yang
pernah kau ucapkan tentang nasib. Dan kau merasa
senang jika membicarakan nasib. Tapi kenapa kau
jadi mengelak pernyataanmu sendiri? Betapa
munafiknya kau Anita. Sekali pun setiap detik
pikiran manusia dapat berubah. Tapi yang penting
faktor kepercayaan diri menunjang segala bentuk
ketidak pastian. Bukankah di atas dunia ini segala
sesuatunya bisa terjadi kalau Tuhan
menghendakinya?" Kata Herman hampir
menghentikan denyut jantung Anita. Dia seperti
dihadapkan pada sesuatu tantangan yang sangat
membutuhkan kepercayaan untuk bisa menang.
Dan sebetulnya kemenangan itu sangat mudah
untuk didapat, karena dia tahu siapa sebenarnya
Wibowo itu.