Wibowo Yang Misterius

1464 Kata
Herman bergegas mendekati jendela kamar dan memukul berulangkali sehingga mengejutkan kedua orang yang ada didalam kamar tu. "Siapa berani melakukan itu!!." Terdengar suara keras seorang lelaki dari dalam kamar. "Aku! Herman!!." Balas Herman tak kalah kerasnya pula. Sementara mbok Ginem semakin dilanda ketakutan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Jendela kamar itu akhirnya terbuka dan Herman menemukan seraut wajah bandot tua yang pernah dijumpainya di proyek Senen ketika bersama Anita dulu. Dengan sepasang mata penuh bara, bandot tua itu menatap Herman yang berdiri tegap. Sedangkan Anita yang saat itu sedang duduk di pinggir tempat tidur, kelihatan mendekap gaunnya yang telah terbuka di bagian atas. Herman juga menemukan wajah Anita yang pucat pias. "Siapa kau?! dan apa urusanmu ikut campur persoalan kami!." Bentak si bandot itu. "Aku teman Anita. Kita bicara di ruang tamu!." Tantang Herman. "Jangaaan Herman!." Teriak Anita menimpah. "Baik!" Sahut si bandot. Herman berjalan ke teras dan si bandot telah menyambut dengan membuka pintu rumah lebar- lebar. "Silahkan masuk!." Kata si bandot itu. Sebelum melangkah masuk dan duduk di kursi yang telah dipersilakan oleh si bandot, Herman sempat memandang wajah Anita yang cemas sekali. Kedua tangan gadis itu mendekat erat lengan si bandot. Rasanya ada sesuatu yang dikawatirkan. Namun Herman tetap tenang dan duduk di kursi. "Sudah lamakah anda mengenal Anita?," tanya si bandot serius. "Baru dua bulan berselang." Jawab Herman terus terang. "Kau mencintainya?" Desak si bandot. "Ya." Kata Herman mantap. "b******n!!" Teriak si bandot sambil merogoh pistol di dalam saku kimononya. Namun Anita berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar 95 tangan si bandot itu tidak berhasil mengeluarkan pistol yang ada di sakunya. Dalam sekilas Herman sempat melihat usaha si bandot untuk mengeluar kan pistol itu. Debur jantungnya berdetak tak karuan. Dan keringat dingin membasahi jidatnya. Namun meski demikian Herman tidak akan melangkah mundur dan ingin melihat apa yang dilakukan lelaki itu terhadap dirinya. "Herman pergilah kau! pulanglah kau!." Teriak Anita ketakutan. Akan tetapi Herman masih berdiri tegak menatap wajah bandot itu, sekalipun perasaannya sudah tak karuan. Kedua orang yang ditatap Herman masih saling tarik menarik tangan. Tapi bagaimanapun juga kekuatan perempuan masih belum bisa menandingi lelaki. Maka Anita akhirnya tergelincir jatuh ke lantai dan si bandot berhasil mengeluarkan pistol dari dalam kantong kimononya. "Lariiiiii Hermaaaaaaan!!." Teriak Anita sembari menarik kaki si bandot hingga sama-sama jatuh ke lantai. Bertepatan dengan jari si bandot menekan pelatuk pistol dan terdengar letusan, Herman lari seraya menghindar dari serangan peluru yang mengancam tubuhnya. Herman terus berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Lantas menyetop taxi yang kebetulan lewat dan buru-buru naik. Dengus nafasnya yang memburu membuat sopir taxi. mengawasi muka Herman melalui kaca spion. Herman tidak ambil pusing sepasang mata si sopir memperhatikan kecemasannya itu. Yang penting dia telah berhasil menyelamatkan diri dari kematian. Selama dalam perjalanan menuju pulang Herman tak habis mengerti tentang semua yang dialaminya kini. Siapa sebenarnya lelaki itu, dan apa hubungannya dengan Anita masih merupakan tandan tanya besar. *** Keesokan harinya Herman duduk seorang diri di ruang paviliun. Bunga-bunga yang tumbuh di taman kelihatan segar dan indah-indah warnanya. Tapi keindahan wama bunga yang sejuk dipandang mata bukan lagi dirasakan oleh Herman. Kalau sebelumnya dia sangat senang kepada bunga- bunga itu, tapi sementara ini pikirannya sedang dibalut keresahan yang belum menemukan duduk persoalan yang sebenarnya. Dia masih diliputi tanda tanya besar, siapakah sebenarnya lelaki itu. Belum lama Herman bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba terdengar klakson mobil. Dan sebuah mobil Honda civic berwarna kuning berhenti di depan pintu halaman. Herman bergegas bangkit karena dia tahu yang ada di dalam mobil itu adalah Anita. Gadis yang mengenakan gaun violet muda dengan hiasan bunga putih dan merah nampak segera turun dari mobil. Rambutnya yang hitam legam sebatas bahu kali ini tidak terurai, melainkan dikuncir dengan pita merah. Di mata Herman itu nampak lebih keibuan, Herman tersenyum kepada gadis itu, tapi balasan Anita cuma tatapan mata yang sendu. Ah, matanya itu alangkah murungnya. Apa sebenarnya yang tersimpan di dalam perasaannya, hingga kecerahan pada pantulan wajahnya yang anggun dan cantik begitu suram. Herman menghembusi n na-las berat sampai Anita dekat dengannya. "Aku ingin berbicara kepadamu, Herman," kata Anita lirih. "Ayo masuk dulu." Ajak Herman. Tetapi gadis itu menolak. "Kita berbicara jangan di sini Her, kita cari tempat yang tenang dan cocok." "Baik" Sahut Herman. Lantas mereka berdua berjalan ke mobil. Anita membawa Herman ke tempat biasa mereka memadu kasih. Selama dalam perjalanan menuju ke pantai gadis itu lebih banyak diam. Namun di hati mereka berbicara masing-masing. Sampai mobil berhenti di tempat parkk dan mereka berdua jalan berdampingan di pesisir pantai, masih juga saling membisu. Seperti angin yang bertiup membisu. Seperti batu-batu di pinggir pantai yang dijilat! air laut tetap diam saja. Setelah mereka duduk di bawah pohon mangga yang berdaun rindang, Anita menegur Herman lunak. "Kau tak apa-apa bukan Herman?" "Seperti apa yang kau lihat, aku sehat-sehat saja." Gumam Herman. "Kau tahu apa sebabnya aku melarangmu untuk datang ke rumah. Hanya demi menjaga hubungan kita dan keselamatan atas dirimu, Herman." Kata Anita datar. "Siapakah sebenarnya lelaki itu Anita?" "Dialah calon suamiku." "Hah?" Herman termangu. Anita tersenyum hambar memandang Herman. Sedangkan lelaki yang dipandang Anita membuang muka dan memandang jauh ke laut yang biru. "Kenapa sejak dulu kau tak mau berterus terang kepadaku, Anita " Gumam Herman terlalu kecewa. "Karena banyak hal yang tak kuinginkan di dalamnya Herman." "Maksudmu?" "Aku tidak mencintai lelaki itu." "Kenapa masih juga kau jalani, jika kau tak mencintai? Berarti kau menyiksa, dirimu sendiri. Kau masih mempunyai harapan buat memperoleh kebahagiaan dengan orang lain." Tandas Herman setengah mencibir melihat kelemahan Anita. Sebab dia tahu Anita memiliki kelebihan banyak dari pada dirinya. Kenapa mesti harus menikah dengan bandot tua. Banyak pemuda kaya yang akan jatuh cinta kepadanya. "Orang tuaku terlalu silau dengan harta yang akhirnya menjadi gila. Akulah yang menjadi korban atas permainan nasib." Kata Anita dalam keluh. "Kau masih bisa menolak. Kau masih bisa menentang kehendak orang tuamu jika kau tahu bakal membuat dirimu menderita. Alasan masih belum dapat kuterima dengan kenyataan Nita." Gadis itu tertunduk dan matanya dirasa hangat, Debur ombak di pantai mengusik ketenangan alam sekeliling pesisir pantai yang begitu indah membuat hati Anita bertambah sedih, kenapa keindahan dimasa remaja harus berakhir dengan penyesalan? Kenapa pula takdir telah menentukan harus hidup di sisi seorang lelaki yang tak dicintai? Ooooh, alangkah kejam kehidupan ini. Alangkah pahit yang disuguhkan realita dari orang tuanya dimana harus menikah dengan-bandot tua yang tidak mempunyai perasaan. Tidak mengenal sama sekali halusnya perasaan seorang wanita. Begitulah penyesalan yang bertumpuk di d**a Anita. Gadis itu sejak tadi masih membisu, cuma kedua matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Itu terserah pendapatmu Herman. Kalau kau tetap beranggapan bahwa aku terlalu menyerah kepada nasib." "Jadi selama ini kau menganggap diriku hanya teman pemuas kesepianmu, begitu ya?" Rutuk Herman. Gadis itu tidak dapat memberikan jawaban, diam tertunduk. Herman semakin ditekan perasaan kecewa. "Alangkah kejamnya kau... terkutuklah kau Anita," desah Herman setengah memaki. "Ucapanmu menyakiti hatiku Herman. Padahal kau belum tahu kejadian yang sebenarnya. Aku telah menjadi korban hutang ayahku di meja judi. Berapa kau tahu hutang ayahku di meja judi?, tidak sedikit Herman. Hampir lima puluh juta rupiah. Semua kekalahan yang diderita ayahku karena permainan curang dari teman-teman Wibowo, yang sekarang menjadi calon suamiku. Wibowo adalah kepala orang perkapalan yang sering berlayar ke luar negeri. Perkenalan dengan ayahku belum lama, tapi sempat menaruh minat untuk menghancurkan usaha ayahku di bidang perkapalan. Tak tahunya Wibowo hanya disewa oleh seorang pengusaha lainnya yang ingin menjatuhkan ayahku. Setiap hari memaksa ayahku untuk berjudi di tempat khusus, anehnya ayahku tak lagi bisa menolak. Wibowo pengaruhnya dikalangan penjahat-penjahat perkapalan sangat besar. Karena itulah ayahku menjadi korban permainan licik. Semua yang menjadi milik kami telah habis. Usaha ayahku jatuh sampai akhirnya dia menjadi gila dan aku menjadi korban melunasi hutang ayah ku. Kau mau mengerti sebab dari diriku yang terbelenggu ini bukan Herman?" Kata-kata Anita yang panjang itu cukup membuat Herman mengetahui duduk persoalan yang jelas. Sekarang dia tidak lagi menyalahkan gadis itu. Justru sebaliknya dia merasa amat kasihan. "Aku ingin melepaskan belenggu penderitaanmu Nita." Gumam Herman mantap. Matanya menatap Anita dengan penuh semangat yang menyala-nyala. Disamping bara cinta yang menggelora di dadanya. "Kau tak akan mampu berbuat itu Herman." Potong Anita. "Katakanlah kalau aku seorang yang kaya raya dan bisa membayar luitang ayahmu, baru aku dapat menang? begitu? Lantas hidupku sebagai pengarang tak mampu memberi makan kepadamu, begitu? Kau sendiri hampir lupa dengan apa yang pernah kau ucapkan tentang nasib. Dan kau merasa senang jika membicarakan nasib. Tapi kenapa kau jadi mengelak pernyataanmu sendiri? Betapa munafiknya kau Anita. Sekali pun setiap detik pikiran manusia dapat berubah. Tapi yang penting faktor kepercayaan diri menunjang segala bentuk ketidak pastian. Bukankah di atas dunia ini segala sesuatunya bisa terjadi kalau Tuhan menghendakinya?" Kata Herman hampir menghentikan denyut jantung Anita. Dia seperti dihadapkan pada sesuatu tantangan yang sangat membutuhkan kepercayaan untuk bisa menang. Dan sebetulnya kemenangan itu sangat mudah untuk didapat, karena dia tahu siapa sebenarnya Wibowo itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN