Tapi dia takut untuk didapat, karena
dia tahu siapa sebenarnya Wibowo itu. Tapi dia
takut untuk membuka kedok lelaki itu dengan siapa
pun termasuk ayahnya sendiri. Kekayaan yang
didapat Wibowo sekarang tidak lain dari hasil
perampokan yang dilakukan terhadap seorang
cukong pedagang mobil di Singapore. Dia tahu
bahwa Wibowo masih dalam pelacakan pihak yang
berwajib. Maka lekaki itu jarang sekali tinggal di
mmah, untuk menghindarkan diri dari ancaman
hukum yang akan mengurungnya di dalam sell. Tapi
kenapa Anita takut untuk membuka kedok lelaki
itu? Dia hanya memikirkan tentang keselamatan
orang tuanya. Maka biarlah dirinya menjadi sandera
kenyataan yang tak dikehendaki. Tapi untuk
dijamah tubuhnya oleh lelaki itu, dia lebih baik mati.
Karena itulah Wibowo seringkah menampar-
nya. Seringkah menyiksanya, seperti waktu Herman
melihatnya di kamar tempo hari. Anita berkeras
menolak untuk melayani Wibowo di atas ranjang.
Dan setiap hal itu akan dilakukan Wibowo, Anita
menolak sehingga terjadilah pertengkaran seru.
Sampai-sampai mbok Ginem merasa kasihan
melihat nasib Anita.
Tanpa terasa air mata Anita menetes
membasahi pipinya. Betapa pahit dan
menderitanya kenyataan itu. Haruskah masa
remajanya yang indah itu diliputi siksaan hati dan
perasaan seperti ini terus menerus?. Keluh Anita
dalam hati.
"Kau selalu menggunakan s*****a air matamu untuk
meluluhkan hati dan semangatku Anita. Katakanlah
jika aku lelaki yang tak mampu membahagiakan
hidupmu. Aku akan segera berlalu. Biarlah semua
kenangan yang kau berikan keDada-ku abadi
selamanya di hatiku. Biarlah aku berlalu dengan
membawa duka hati karena cinta yang tak
kesampaian. Tapi aku telah manunjukkan. bahwa
cintaku semurni air sorgawi. Bahwa cintaku ingin
membahagiakan dirimu." Tandas Herman emosi.
"Kalau kau hanya menganggap semua yang terjadi
"sekedar iseng, baiklah akan kuterima dengan hati
gembira. Dan aku akan mundur dengan baik-baik "
Lanjut Herman kesal.
"Aku tidak pernah bilang begitu. Aku tidak ah
berkata begitu. Kuharap kau mau bersabar
menunggu saat yang baik Her.
Aku percaya kita bakal menang. Kita bakal bisa
mewujudkan mahligai intan." Suara Anita di sela-
sela isak tangisnya yang pilu.
"Lalu sampai kapan aku harus bersabar Anita?
Sampai tanggal hari perkawinanmu dengan
Wibowo? begitu?. Alangkah kejamnya kau!" Desah
Herman berat.
Kesedihan yang bercampur kemurungan dengan
himpitan perasaan bingung itulah Anita. Yang dulu
dijumpai Herman ketika pertamakah amat
mempesona dan anggun. Sederhana dan bersahaja,
ternyata mempunyai hal yang membelenggu
dirinya. Herman seperti sadar, bahwa dia tidak
seharusnya lebih menyiksa perasaan gadis itu.
Maka dia lantas memeluk gadis itu penuh kasih
sayang. Meneliti wajah Anita yang cantik dalam
kesedihan. Tangan Herman membelai rambut Anita
yang mulai kusut.
"Biarlah aku tetap Herman, seorang pengarang
yang tak kesampaian cintanya. Seorang pengarang
yang tak berdaya untuk mendapatkan seorang gadis
cantik yang gampang sekali menangis. Yang pernah
hadir di alam sorga dunia untuk menikmati
manisnya madu seorang perawan. Sungguh mati
aku tak dapat melupakan semua kenangan yang
pernah kau berikan." Tutur Herman.
"Herman, bagiku kau adalah segala-galanya.
Jangan kau tinggalkan aku Her, aku sangat
membutuhkan dirimu. Bersabarlah untuk mencari
kemenangan Percayalah Her, kita pasti berhasil
mendobrak kemelut ini."
"Apa yang bisa kau harapkan atas diriku yang
tak mampu berbuat sesuatu untukmu Anita?"
Tanya Herman lunak.
"Apa kamu mencintai aku bukan?" Balas Anita.
"Kau masih ragu padaku Anita?", Gadis itu menatap
dalam-dalam mata Herman. Kemudian wajahnya
semakin mendekat ke wajah Herman. Bibir Anita
yang mengulum
lembut sekali. Merek? tidak lagi saling berbincang,
melainkan terbenam dalan hangatnya cinta dan
nafsu.
*** Anita baru saja menghempaskan pintu mobil. Lalu
berjalan masuk ke rumah. Sore itu dia ingin
menenangkan pikirannya agar bisa memecahkan
persoalan yang tengah membelenggu dirinya. Dia
telah berhasil memberi tahu kepada Herman
mengenai diri Wibowo yang sebenarnya. Dan
perasaannya sudah agak lega karena beban yang
menindih di d**a sudah agak berkurang. Kalau saja
uneg-unegnya sajak dulu belum pernah diutarakan
kepada siapa pun, kini hanya kepada Hermanlah
semuanya itu terungkap secara gamblang. Kendati
di antara mereka belum menemukan jalan untuk
menyelesaikan problem yang dirasakan amat sulit
ini. Baru saja Anita melangkah masuk di ruang tamu,
Wibowo nampak duduk dengan alis mata yang
mengerut menahan gejolak amarah. Tatapan lelaki
itu begitu menghujam perasaan Anita.
"Dari mana kau Anita!." Tegur Wibowo dengan
suara keras.
Anita agak terkejut menerima teguran sekasar itu.
Kakinya gemetar dan sorot matanya pun gelisah
dicekam kecemasan.
"Dari..." iwab Anita terhenti.
Wibowo bangkit dari tempat duduk dengan cepat.
"Jawab dengan jujur! Kau sehabis menemui
Herman bukan?!"
Anita tak bisa menjawab, dia menundukkan muka.
Sementara Wibowo meremas-remas telapak
tangannya yang dirasakan gatal.
"Jawab!! " Bentak Wibowo keras. Sekujur tubuh
Anita bertambah gemetar. Bentakan Wibowo bagai
terasa meruntuhkan jantungnya. Telapak tangan
Wibowo segera mendarat di pipi Anita berulangkah,
sehingga gadis itu menjerit menahan sakit.
"Kau lelaki kejam!." Pekik Anita sambil memegangi
kedua pipinya yang pedih dan sakit akibat tamparan
Wibowo.
"Jangan coba-coba melawan aku Anita!"
Bentak Wibowo.
"Aku tidak takut! Aku tidak takut! Sebab
untuk apa aku harus menempuh hidupku sepahit
ini! Kau bunuh pun aku rela !" Kata Anita yang
nekad.
Wibowo menekan rahang hingga suara
gemelutuk giginya terdengar.
Sedangkan mata lelaki itu seperti mata harimau
yang siap menerkam.
Namun Anita tidak lagi merasa takut menghadapi
lelaki itu.
"Aku bukan wanita yang mau menerima
penderitaan dan siksaan seperti ini. Dan kurasa
bukan aku saja yang mau menerima kenyataan ini.
Wanita manapun akan lebih rela mati ketimbang
menjadi kambing hitammu. Kau seorang lelaki
kejam yang tidak mempunyai perasaan! Ayo
bunuhlah aku sekarang!!."
Hardik Anita tanpa perasaan takut sedikitpun juga.
Wibowo tak bisa melakukan apa-apa. disaat
menghadapi Anita yang nekad ini. Tapi masih juga
telapak tangan kanannya mengepal-ngepal gatal.
Kalau saja dia tidak melihat wajah Anita yang cantik
itu, mungkin lelaki s***s ini sudah membunuhnya.
Wibowo sangat terkenal di kalangan orang-orang
kapal sebagai lelaki pembunuh berdarah dingin.
Namun kali ini lelaki yang terkenal berdarah dingin
tidak bisa berbuat sesuatu terhadap gadis secantik
Anita.
"Detik ini aku akan pergi!." Tandas Anita.
tidak segan-segan untuk bertindak terhadap dirimu
dan orrng tuamu. Persoalan keluargamu akan
bertambah keruh!." Ancam Wibowo.
"Jangan sangkutkan lagi persoalan keluargaku.
Bukankah semua persoalan itu sudah menjadi
bebanku? Hanya kita berdua yang menjadi peranan
peming dalam hal ini."
"Jadi kau benar-benar akan pergi?" Sedikit lunak
kata-kata Wibowo. Namun kelunakan ucapan lelaki
itu mengandung ancaman.
"Ya."
Langsung saja Wibowo menarik tangan Anita dan
memaksa Anita masuk ke dalam kamar. Gadis itu
meronta-ronta untuk berusaha melepaskan
pegangan telapak tangan Wibowo yang erat. Per-
gelangan tangan Anita dalam genggaman telapak
tangan Wibowo dirasa sakit.
"Lepaskan aku b******n! Lepaskan!." Teriak Anita
dalam isak tangis yang pilu. Namun lelaki itu tidak
mau melepaskan genggamannya bahkan
membanting diri Anita ke tempat tidur. Pintu kamar
dikunci rapat-rapat. Mata Wibowo yang kemasukan
iblis itu meneliti sekujur tubuh Anita yang
tertelantang di atas pembaringan. Tubuh Anita
semakin bergidik kala matanya menangkap
pancaran mata lelaki yang melangkah mendekati
dirinya.
"Kali ini jangan mencoba berkeras Anita. Kau
telah tahu siapa aku bukan?" Gumam Wibowo
sengit.
"Aku tak perduli siapa kau!." Gertak Anda
Wibowo berdiri di pinisi rtempat lulur saji bil
tersenyum sinis. Tiba-tiba telapak lyi-ganny
mendarat dengan keras ke pipi Anita. Gadis itu
langsung terpelanting jatuh dari tempat tidur. .Ada
cairan kental berwarna merah mengalir dari
hidungnya. Dan ketika Anita menghusap cairan itu.
oooool...jantungnya berdesir. Darah!, pekiknya
dalam hati.
"Jangan kau siksa aku seperti ini. bunuhlah
sekalian!." Pekik Anita melengking.
Lelaki itu menyambar gaun yang dikenakan Anita
lalu menariknya kuat-kuat. Gaun itupun koyak dan
di bagian d**a gadis itu terpampang halus
membangkitkan nafsu Wibowo. Sementara Anira
berusaha menu rapi pada bagian dsda dengan
kedua tangannya.
"Iblis kau!." Rutuk Anita histeris. Lelaki itu semakin
membabi buta. "*edua tangan Anita yang detik itu
menutupi d**a direntangkan oleh Wibowo. Gadis
itu menjerit namun tak didengar lagi. karena iblis
telah menguasai jiwa Wibowo. Keluh Anita terputus
karena nafasnya sesak. Dia berusaha melawan tapi
selalu saja gagal Kedua lengan gadis itu dibetot ke
belakang, Anita meringis kesakitan. Kepalanya
digeleng-gele.igkan menahan perih dan sakit. Lelaki
itu semakin buas menyerang tubuh Anita dengan
ciuman berulangkali.
Dengan selengah sadar Anita mencari kele-
jfeahun lelaki itu. Dan disaat tertentu An."ty
berhasil menendang d**a lelaki itu. sehingga
Wibowo terlempar ke sudut ranjang, menghantam
tembok.
Bagai seekor banteng yang terluka lelaki itu
bergegas bangkit dan menyerang Anita yang masih
terengah-engah kecapaian. Tubuh Anita yang lemas
ini diterkamnya. Kedua manusia itu bergulingan di
atas tempat tidur. Meskipun tubuh Anita lemas
kehabisan tenaga, masih tetap berusaha agar lelaki
itu tidak menodainya. Jari-jarinya yang berkuku
panjang sempal mencabik muka Wibowo.. Lelaki itu
meringis menahan rata pedih. Dalam kesempatan
ini Anita meraih kipas angin yang ada di dekatnya.
Lelaki yang sedang kesakitan karena sebelah
matanya berdarah akibat cabikan kuku Anita, tak
lagi diberi ampun oleh Anita. Kipas angin vang
berhasil diraih langsung di hantamkan ke kepala
Wibowo berulangkah sehingga lelaki itu alirnya
jatuh pinsan.
Tanpa membuang waktu lagi, Anita melepaskan
pakaiannya yang telah kocak itu. Dia mengenakan
pakaian lain yang masih baik dan buru-buru kabur
dari rumah. Sambil berlari-lari Anita membawa
dirinya yang lemas lunglai itu ke jalan raya. Dia tidak
sempat lagi berccrmin di depan kaca,
bagaimanakah bentuk wajahnya lagi. Sehingga
Anita tak menyadari kalau rambutnya acak-acakan
dan hidungnya masih tersisa darah. Sebuah taxi
yang kebetulan lewat sempat membawanya ke
rumah Herman.