Mencintaimu

1224 Kata
Dia takut jika lelaki itu mengejarnya Sesampainya di rumah Herman. dia menyelinap masuk tanpa ada seorangpun yang tahu Betapa terkejutnya Herman yang kebetulan pada saat itu duduk di kursi sambil membaca buku. Kehadiran Anita di depannya menuntut banyak perasaan belas kasihan. "Anita?!" Pekik Herman tertahan, "Apa yang telah terjadi Anita?" Lanjut Herman gugup. "Jangan bertanya lebih banyak Her. Maukah kau menolongku?" Sahut Anita dengan suara serak dan hampir kehabisan nafas. "Apa yang bisa kutolong Anita?" Tanya Herman segera ingin tahu. Hati dan perasaan pemuda itu sudah tak karuan. "Bawalah aku pergi ke mana saja. Bawalah sekarang juga." Desak Anita terbata-bata. Herman tercenung beberapa saat. "Baiklah. Kau akan kubawa ke rumah orang tuaku di Yogya." Kata Herman kemudian. "Ayo sekarang kita berangkat Herman. Kalau kita terlambat sedikit saja, Wibowo akan menyusul ke mari." Herman bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengambil bekal ongkos di perjalanan. Tanpa memberi tahu ibu kost lagi mereka berdua berangkat. Taxi yang sejak tadi masih menunggu di rumah, sedikit membantu kesulitan mereka untuk lebih cepat sampai di terminal. Mereka lantas mencari bis jurusan Yogya Alangkah sialnya. Bis yang mereka cari ternyata belum nampak. Hati Anita bertambah gelisah. Wajahnya semakin pucat dan matanya berkeliaran ke sana- kemari, barangkali b******n itu tiba-tiba nongol di terminal itu. Di tempat yang agak tersembunyi mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang. Herman menatap wajah Anita yang pucat dan masih nampak membiru bekas tamparan Wibowo di kedua pipinya. Diusapnya darah di bawah hidung bangir gadis itu oleh Herman. Usapan lembut yang penuh dengan kasih sayang. Sebagian rambutnya yang kusut dirapihkan pemuda itu. Tapi agaknya dia belum merasa puas. Sebuah sisir diambilnya dari kantong dan diberikan kepada Anita. "Sisirlah rambutmu dulu ." Kata Herman lembut. Gadis itu menurut perintah Herman. Meskipun tanpa menggunakan kaca gadis itu dapat menyisir rambutnya dengan baik. Tapi nampaknya dengan rambut yang terurai, Anita merasa kurang bebas. Herman tahu apa yang dimaksudkan oleh Anita walau tanpa berkata. Maka lelaki itu mencari-cari di tanah barangkali ada sebuah gelang karet yang terbuang. Namun harapan lelaki itu sia-sia. Akhirnya Herman meminta kepada penjual majalah. "Ikatlah rambutmu dengan karet ini Anita." Gadis itu mencoba untuk tersenyum kala menerima gelang karet itu. Lantas Anita mengikat rambutnya. Herman menatap Anita penuh bel i- kasihan. "Alangkah malangnya nasibmu Anita." Guman Herman lirih. Anita tetap mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya bagai diiris-iris dengan sembilu. Herman melihat bibir Anita kering dan pecah-pecah. Padahal bibir itu biasanya selalu mengulum basah dan merah jambu. Tetapi kali ini kelihatan pucat Herman bangkit dari tempat duduknya. Dia bermaksud ingin mengambil minum Anita yang letaknya tidak terlampau jauh. Akan tetapi Herman begitu terkejut ketika melihat seorang lelaki. Dan lelaki itu sempat melihatnya pula. Wibowo! kata hati Herman. Bergegas Herman menghampiri Anita yang masih duduk di bangku pan jang itu. Melihat kemunculan Herman yang gugup, dan ketakutan. Anita tambah bingung. "Kita lari Anita !" Pekik Herman tertahan. "Ada apa Herman?" "Wibowo telah menyusul kita." Anita bertambah bingung. Herman langsung menarik tangan Anita untuk meninggalkannya" itu. Wibowo yang sempat melihat Anita dan Herman menyusup di antara sekian banyak orang, buru-buru mengejarnya. Kejar mengejar terus berlangsung di terminal itu. Disamping Wibowo mencintai Anita, Keadaan dirinya dapat diketahui pihak polisi hanya karena informasi dari gadis itu. Memang hanya Anitalah yang tahu, siapa sebenarnya di balik nama gemilang dir.ktur Wibowo. Lelaki itu adalah b******n ulung. Pembunuh berdarah dingin. Maka Wibowo tidak membiarkan mereka berdua lolos dari incarannya. Saking tidak kuasa me- ngendalikan emosi, lelaki itu mengeluarkan pistol dari dalam kantongnya. Pertama yang selalu diincar adalah Anita. Ketika Herman melihat Wibowo sudah mengeluarkan pistol, kecemasan dan ketakutan memenuhi d**a kedua remaja itu. Letusan suara pistol mengagetkan orang-orang di terminal itu. Termasuk petugas keamanan. Untungnya sasaran itu tidak mengenai tubuh Anita. Tetapi mengenai tubuh orang lain yang berada di belakang. Tanpa ampun lagi tubuh orang yang kena peluru nyasar itu rubuh, ke bumi. Tembakan demi tembakan terus dilancarkan kearah Anita dan Herman. Rupanya Tuhan masih melindungi kedua umatnya itu. sehingga terhindar dari sasaran peluru. Semua orang yang ada di terminal mencari perlindungan menghindari peluru nyasar. Sebab Wibowo sudah kelihatan membabi buta. Petugas keamanan segera memberikan peringatan kepada Wibowo dengan menembakkan pistolnya ke atas. Namun justru Wibowo menyerang dengan tembakan ke arahnya. Petugas keamanan lainnya tersentak kaget diwaktu teman nya jatuh tersungkur ke tanah. Semua petugas keamanan mencabut pistolnya guna menghadapi pembunuh berdarah dingin ini. Tembak menembak berlangsung terus. Tapi bagi Wibowo yang lebih diutamakan harus bisa membunuh Anita. Lelaki itu bersembunyi di belakang tembok sementara matanya selalu tak lepas memandangi tong sampah yang digunakan oleh Herman dan Anita untuk berlindung. Sedikit demi sedikit Wibowo merangkak agar dapat melihat Anita. Begitu sudah nampak Anita di matanya, segera membidikkan pucuk pistolnya kearah tubuh gadis itu. Untung Herman sempat melihat saat Wibowo membidik Anita. Dalam waktu yang sangat kritis, Herman mendorong tubuh Anita hingga gadis itu jatuh ke tanah. Peluru yang seharusnya bersarang di tubuh Anita hanya menerobos udara hampa. Tiba-tiba dari arah belakang Wibowo terdengar letusan pistol. Lelaki itu baru sadar kemudian bahwa dirinya sudah tertembak oleh polisi yang tak diketahui dari mana arah datangnya. Sambil mendekap dadanya yang sudah tertembus peluru, lelaki itu berjalan sempoyongan membidikkan pistolnya kearah tubuh Anita yang jatuh di tanah. Suara tembakan terdengar berturut-turut dari arah yang berlainan. Tubuh Wibowo telah menjadi mangsa sekian banyak peluru yang dimuntahkan petugas-petugas keamanan itu. Sambil sempoyongan jatuh ke tanah, masih sempat pula dia menekan dan mengenai lengan Anita. Herman tak berhasil untuk menolong gadis itu. Anita tak sadarkan diri setelah peluru itu bersarang di lengannya. Tapi Wibowo sudah tidak bernafas lagi, terkapar di tanah dengan darah yang membanjir di sekitar tubuhnya. Baru setelah tubuh Wibowo tidak berkutik lagi, orang-orang yang sedari tadi berlindung berani mendekati b******n itu. Tak berapa lama kemudian sebuah ambulance datang. Tubuh Anita segera diangkut ke rumah sakit. Dan mobil jenasah mengangkut tubuh Wibowo, serta, satu petugas keamanan yang telah tewas tertembak, satu lagi korban nyasar. Kembali kesibukan terminal itu berlangsung seperti sediakala. Herman mendampingi tubuh Anita yang pingsan di atas mobil ambulance.Dia menangis meratapi malangnya nasib Anita. Gadis cantik telah menjadi korban pemainan nasib pengusaha yang mempunyai sifat murka. Bagi Herman sekarang, harapannya tak lain mudah- mudahan Anita masih bisa tertolong. Setelah berakhir semua badai ini, Herman akan mencintai Anita sepenuh hatinya. Akan menyayangi gadis itu sepenuh jiwa raganya. Semoga Tuhan akan menolongnya. Demikian doa Herman penuh khusuk di dalam mobil yang sedang menuju ke rumah sakit. *** Apa yang dirasakan Anita seperti ingin bangun tapi tak bisa. Ingin bergerak tapi otot pada jaringan tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan. Kelopak matanya terasa begitu berat sekali untuk membuka. Pada hal dia sudah mendengar isak tangis seorang wanita. Telinganya sudah dapat menangkap langkah sepatu suster-suster yang hilir mudik di luar kamar. Anita mulai menggerakkan sekujur badannya dan rasa linu di bagian lengannya menyentakkan urat nadi di bagian mata, sehingga matanya dapat membuka perlahan-lahan tanpa disadari. Dia mulai melihat remang-remang bayangan orang. Dan dia mendengar pula namanya dipanggil lirih. Lama kelamaan Anita dapat melihat dengan jelas orang-orang yang ada di sekitarnya, juga dua orang polisi yang berpakaian dinas. Dia melihat Herman duduk di kursi yang dekat sekali dengan kepalanya. Lantas ibunya menatap penuh kesedihan, dan menangis tersedu-sedu. Anita ingin menggerakkan tangannya, tapi rasa linu dan sakit menyerangnya. Dia mencoba melihat letak rasa sakit dan linu di lengan, kenapa sakit sekali? Anita mencoba sekali lagi untuk mengingat apa yang telah terjadi. Ooooh, lenganku yang sakit dan dibalut perban ini telah tertembak. b******n itu telah menembakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN