Dia takut jika lelaki itu mengejarnya
Sesampainya di rumah Herman. dia menyelinap
masuk tanpa ada seorangpun yang tahu Betapa
terkejutnya Herman yang kebetulan pada saat itu
duduk di kursi sambil membaca buku. Kehadiran
Anita di depannya menuntut banyak perasaan belas
kasihan.
"Anita?!" Pekik Herman tertahan, "Apa yang
telah terjadi Anita?" Lanjut Herman gugup.
"Jangan bertanya lebih banyak Her. Maukah
kau menolongku?" Sahut Anita dengan suara serak
dan hampir kehabisan nafas.
"Apa yang bisa kutolong Anita?" Tanya
Herman segera ingin tahu. Hati dan perasaan
pemuda itu sudah tak karuan.
"Bawalah aku pergi ke mana saja. Bawalah
sekarang juga." Desak Anita terbata-bata. Herman
tercenung beberapa saat.
"Baiklah. Kau akan kubawa ke rumah orang
tuaku di Yogya." Kata Herman kemudian.
"Ayo sekarang kita berangkat Herman. Kalau
kita terlambat sedikit saja, Wibowo akan menyusul
ke mari."
Herman bergegas masuk ke dalam kamarnya dan
mengambil bekal ongkos di perjalanan. Tanpa
memberi tahu ibu kost lagi mereka berdua
berangkat. Taxi yang sejak tadi masih menunggu di rumah, sedikit membantu kesulitan mereka untuk
lebih cepat sampai di terminal.
Mereka lantas mencari bis jurusan Yogya Alangkah
sialnya. Bis yang mereka cari ternyata belum
nampak. Hati Anita bertambah gelisah. Wajahnya
semakin pucat dan matanya berkeliaran ke sana-
kemari, barangkali b******n itu tiba-tiba nongol di
terminal itu.
Di tempat yang agak tersembunyi mereka berdua
duduk di sebuah bangku panjang. Herman menatap
wajah Anita yang pucat dan masih nampak
membiru bekas tamparan Wibowo di kedua
pipinya. Diusapnya darah di bawah hidung bangir
gadis itu oleh Herman. Usapan lembut yang penuh
dengan kasih sayang. Sebagian rambutnya yang
kusut dirapihkan pemuda itu. Tapi agaknya dia
belum merasa puas. Sebuah sisir diambilnya dari
kantong dan diberikan kepada Anita.
"Sisirlah rambutmu dulu ." Kata Herman
lembut.
Gadis itu menurut perintah Herman. Meskipun
tanpa menggunakan kaca gadis itu dapat menyisir
rambutnya dengan baik. Tapi nampaknya dengan
rambut yang terurai, Anita merasa kurang bebas.
Herman tahu apa yang dimaksudkan oleh Anita
walau tanpa berkata. Maka lelaki itu mencari-cari di
tanah barangkali ada sebuah gelang karet yang
terbuang. Namun harapan lelaki itu sia-sia.
Akhirnya Herman meminta kepada penjual majalah.
"Ikatlah rambutmu dengan karet ini Anita."
Gadis itu mencoba untuk tersenyum kala menerima gelang karet itu. Lantas Anita mengikat
rambutnya. Herman menatap Anita penuh bel i-
kasihan.
"Alangkah malangnya nasibmu Anita." Guman
Herman lirih.
Anita tetap mencoba untuk tersenyum meskipun
hatinya bagai diiris-iris dengan sembilu. Herman
melihat bibir Anita kering dan pecah-pecah.
Padahal bibir itu biasanya selalu mengulum basah
dan merah jambu. Tetapi kali ini kelihatan pucat
Herman bangkit dari tempat duduknya. Dia
bermaksud ingin mengambil minum Anita yang letaknya tidak terlampau jauh. Akan tetapi
Herman begitu terkejut ketika melihat seorang
lelaki. Dan lelaki itu sempat melihatnya pula.
Wibowo! kata hati Herman. Bergegas Herman
menghampiri Anita yang masih duduk di bangku
pan jang itu. Melihat kemunculan Herman yang
gugup, dan ketakutan. Anita tambah bingung.
"Kita lari Anita !" Pekik Herman tertahan.
"Ada apa Herman?"
"Wibowo telah menyusul kita."
Anita bertambah bingung. Herman langsung
menarik tangan Anita untuk meninggalkannya"
itu. Wibowo yang sempat melihat Anita dan
Herman menyusup di antara sekian banyak orang,
buru-buru mengejarnya.
Kejar mengejar terus berlangsung di terminal
itu. Disamping Wibowo mencintai Anita,
Keadaan dirinya dapat diketahui pihak polisi
hanya karena informasi dari gadis itu. Memang
hanya Anitalah yang tahu, siapa
sebenarnya di balik nama gemilang dir.ktur
Wibowo. Lelaki itu adalah b******n ulung.
Pembunuh berdarah dingin.
Maka Wibowo tidak membiarkan mereka berdua
lolos dari incarannya. Saking tidak kuasa me-
ngendalikan emosi, lelaki itu mengeluarkan pistol dari
dalam kantongnya. Pertama yang selalu diincar
adalah Anita. Ketika Herman melihat Wibowo sudah
mengeluarkan pistol, kecemasan dan ketakutan
memenuhi d**a kedua remaja itu. Letusan suara
pistol mengagetkan orang-orang di terminal itu.
Termasuk petugas keamanan. Untungnya sasaran itu tidak mengenai tubuh Anita. Tetapi
mengenai tubuh orang lain yang berada di
belakang. Tanpa ampun lagi tubuh orang yang kena
peluru nyasar itu rubuh, ke bumi. Tembakan demi
tembakan terus dilancarkan kearah Anita dan
Herman. Rupanya Tuhan masih melindungi kedua
umatnya itu. sehingga terhindar dari sasaran
peluru. Semua orang yang ada di terminal mencari
perlindungan menghindari peluru nyasar.
Sebab Wibowo sudah kelihatan membabi buta.
Petugas keamanan segera memberikan peringatan
kepada Wibowo dengan menembakkan pistolnya
ke atas. Namun justru Wibowo menyerang dengan tembakan ke arahnya. Petugas
keamanan lainnya tersentak kaget diwaktu teman
nya jatuh tersungkur ke tanah. Semua petugas
keamanan mencabut pistolnya guna menghadapi pembunuh berdarah dingin ini. Tembak menembak
berlangsung terus. Tapi bagi Wibowo yang lebih
diutamakan harus bisa membunuh Anita. Lelaki itu
bersembunyi di belakang tembok sementara
matanya selalu tak lepas memandangi tong sampah
yang digunakan oleh Herman dan Anita untuk
berlindung. Sedikit demi sedikit Wibowo
merangkak agar dapat melihat Anita. Begitu sudah
nampak Anita di matanya, segera membidikkan
pucuk pistolnya kearah tubuh gadis itu. Untung
Herman sempat melihat saat Wibowo membidik
Anita. Dalam waktu yang sangat kritis, Herman
mendorong tubuh Anita hingga gadis itu jatuh ke
tanah. Peluru yang seharusnya bersarang di tubuh
Anita hanya menerobos udara hampa.
Tiba-tiba dari arah belakang Wibowo terdengar
letusan pistol. Lelaki itu baru sadar kemudian
bahwa dirinya sudah tertembak oleh polisi yang tak
diketahui dari mana arah datangnya. Sambil
mendekap dadanya yang sudah tertembus peluru,
lelaki itu berjalan sempoyongan membidikkan
pistolnya kearah tubuh Anita yang jatuh di tanah.
Suara tembakan terdengar berturut-turut dari arah
yang berlainan. Tubuh Wibowo telah menjadi
mangsa sekian banyak peluru yang dimuntahkan
petugas-petugas keamanan itu. Sambil
sempoyongan jatuh ke tanah, masih sempat pula
dia menekan
dan mengenai lengan Anita. Herman tak berhasil
untuk menolong gadis itu. Anita tak sadarkan diri
setelah peluru itu bersarang di lengannya. Tapi
Wibowo sudah tidak bernafas lagi, terkapar di tanah
dengan darah yang membanjir di sekitar tubuhnya.
Baru setelah tubuh Wibowo tidak berkutik lagi,
orang-orang yang sedari tadi berlindung berani
mendekati b******n itu.
Tak berapa lama kemudian sebuah ambulance
datang. Tubuh Anita segera diangkut ke rumah sakit. Dan mobil jenasah mengangkut tubuh Wibowo,
serta, satu petugas keamanan yang telah tewas
tertembak, satu lagi korban nyasar. Kembali
kesibukan terminal itu berlangsung seperti
sediakala. Herman mendampingi tubuh Anita
yang pingsan di atas mobil ambulance.Dia
menangis meratapi malangnya nasib Anita. Gadis
cantik telah menjadi korban pemainan nasib
pengusaha yang mempunyai sifat murka. Bagi
Herman sekarang, harapannya tak lain mudah-
mudahan Anita masih bisa tertolong. Setelah
berakhir semua badai ini, Herman akan mencintai
Anita sepenuh hatinya. Akan menyayangi gadis itu
sepenuh jiwa raganya. Semoga Tuhan akan
menolongnya. Demikian doa Herman penuh khusuk
di dalam mobil yang sedang menuju ke rumah sakit.
*** Apa yang dirasakan Anita seperti ingin bangun tapi
tak bisa. Ingin bergerak tapi otot pada jaringan
tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan. Kelopak
matanya terasa begitu berat sekali untuk membuka.
Pada hal dia sudah mendengar isak tangis seorang
wanita. Telinganya sudah dapat menangkap
langkah sepatu suster-suster yang hilir mudik di luar
kamar. Anita mulai menggerakkan sekujur
badannya dan rasa linu di bagian lengannya
menyentakkan urat nadi di bagian mata, sehingga
matanya dapat membuka perlahan-lahan tanpa
disadari. Dia mulai melihat remang-remang
bayangan orang. Dan dia mendengar pula namanya
dipanggil lirih. Lama kelamaan Anita dapat melihat
dengan jelas orang-orang yang ada di sekitarnya,
juga dua orang polisi yang berpakaian dinas. Dia
melihat Herman duduk di kursi yang dekat sekali
dengan kepalanya. Lantas ibunya menatap penuh
kesedihan, dan menangis tersedu-sedu. Anita ingin
menggerakkan tangannya, tapi rasa linu dan sakit
menyerangnya. Dia mencoba melihat letak rasa
sakit dan linu di lengan, kenapa sakit sekali?
Anita mencoba sekali lagi untuk mengingat apa
yang telah terjadi. Ooooh, lenganku yang sakit dan
dibalut perban ini telah tertembak. b******n itu
telah menembakkan.