Setelah Anita mengetahui apa yang telah terjadi,
barulah menatap wajah Herman dalam-dalam, Bibir
Herman bergetar, sedangkan matanya merah.
"Syukur kalau kau telah siuman Anita." Kata
Herman lirih.
"Herman... kau tidak apa-apa bukan?" Tanya
Anita.
Herman menggangguk sambil mrmbelai
rambut Anita dengan penuh kasih sayang. Di kedua
mata Herman mengambang butiran air bening yang
berkilau-kilauar. Begitu pun kedua mata Anita yang
mengalir air bening, pelan-pelan jatuh ke hidung.
Anita ingin mengucap sesuatu tapi hanya bibirnya
saja yang bergerak namun tak m mgeluar-kan
sepatali-katapun. Herman mengangguk-anggukkan
kepala, walaupun dia sendiri tak tahu apa yang
dimaksud Anita. Dia hanya ingin gadis itu xiierasa
terhibur. Dia hanya mengharapkan gadis itu
gembira dan bukan bersedih.
"Ibu..." Ibu panggilnya lirih.
Lelaki setengah baya itu mendekat dan memegangi
tangan Anita.
"Maafkanlah ibumu nak." Suara perempuan
setengah baya itu bergetar. Tekanan nada suaranya
demikian menyedihkan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan ibu. Semua
sudah berlalu." Kata Anita dengan nafas sesak.
Ucapannya yang terpotong-potong karena kondisi
badannya yanglemah.
"Tapi ibu telah membuatmu menderita nak."
Lanjut Anita menatap wajah ibunya yang 125
berlinangan air mata. Wajah tua yang semakin
keriput itu nampak demikian sedih dan menyesal.
"Ibu" Panggil Anha kemudian.
Perempuan yang duduk di pinggiran tempat tidur,
memeluk Anita sambil menangis tttsUffi sedu.
"Sungguh malang nasibmu nak," rintih
perempuan itu.
"Tuhan akan segera mengakhiri siksaan diriku
ibu." Sahut Anita.
Suasana didalam kamar itu penuh dengan
isak tangis. Disamping perasaan bahagia terselip di
setiap hati mereka atas terlepasnya belenggu
siksaan Anita, rasa syukur yang terucap sekalipun
pelan kepada yang Maha Kuasa.
Setelah keadaan berubah tenang dan
diwajah-wajah mereka telah tampak senyum cerah,
Herman mencium kening Anita lembut sekali.
"Lekaslah sembuh Anita. Supaya kita dapat
saling memadu kasih yang tiada rintangan lagi."
Tutur Herman lunak
Anita tersenyum manis sekali. Meskipun wajahnya
masih pucat tidak mengurangi kecantikannya.
Justru lebih menarik. Herman memegang tangan
Anita lantas diciumnya penuh kasih sayang.
"Tengoklah keluar melalui jendela Anita. Di atas
pohon flamboya , ,"tu burung-burung bernyanyi
gembira. Seakan-akan turut merasakan perasaan
apa yang tengah kita alami sekarang. Lihatlah
bunganya yang tumbuh subur di ranting-
rantingnya, alangkah indahnya Anita. Apakah kau
dapat merasakannya juga?"
Anita menoleh kearah jendela dan melayang-
kan pancUugim ke pohon flamboyan yang berbunga
molek. Bibir Anita tersenyum gembira, dan
matanya berseri-seri ketika menatap bunga-bunga
"amboyan itu. Dua orang polisi dan ibu Anita berlian
keluar meninggalkan kamar itu. Rupanya mereka
merasa tahu diri. jika berada di situ akan dapat
mengganggu keasyikan sepasang remaja itu.
Maklum kedua remaja yang saling mencinta baru
saja lepas dari maut. Jadi kebersamaannya lagi
membangkitkan gelora cinta yang hampir-hampir
lupa diri.
"Alangkah indahnya hari ini Herman." Kata Anita
dengan wajah berseri-seri. Herman mencium
kening gadis itu dan Anita memejamkan matanya
meresapi kelembutan lelaki yang sedang
menciumnya. "Sejak dahuluhatiku bimbang dan
ragu Anita". Gumam Herman.
"Apa yang kau ragukan Her?" Suara Anita bermanja.
"Tentang hati dan perasaanmu."
"Kenapa Her?"
"Sejak aku merasakan bermesraan, sejak aku
mengenal kebahagiaan, selama itu pula diriku
dalam keresahan Anita. Sebenarnya keresahanku
berasal dari kata pasti yang tidak bisa teruraikan
dalam bentuk apa pun Anita.
"Aku tidak mengerti yang kau maksudkan Her."
"Kata cintamu Nita. Kalimat itulah yang senantiasa
kutunggu. Sebab aku tahu bahwa gelora cinta
begitu membara di pipimu. Aku melihat dengan
jelas dikala kau tersipu. Aku merasakan diwaktu
mencium pipimu, merah merona oleh gelora
cintamu yang tak mampu kau sembunyikan.
Katakanlah jika kau mencintai aku Anita. Karena
hati dan perasaanku tidak akan bimbang, ragu serta
tidak lagi berhayal bahwa alangkah mudahnya
meraih bintang."
Anita tersipu. Kedua pipi gadis itu merah merona.
Bibirnya tersenyum tapi dikulum. Aaah! kenapa aku
jadi malu untuk mengatakan keadaanku yang
sebenarnya? Bukankah aku mencintai Herman?
Cintaku semurni air sorgawi. Tapi rasa malu itu bagi
Anita karena memang belum pernah menyatakan
cintanya kepada lelaki manapun. Sebab memang
baru untuk pertama kali ini Anita jatuh Cinta. Dan
untuk pertamakah ini pula Anita merasakan kasih
sayang dari seorang lelaki yang benar-benar
mencintainya. Maka tak heran apabila kata cinta
begitu sulit keluar dari mulutnya.
"Anita, katakanlah sayang... katakanlah."
Desak Herman lunak.
Gadis itu masih tersipu malu namun
memegang erat telapak tangan Herman. Rasa
hangat dari cinta menyusup melalui darah gadis itu
saat menggenggam telapak tangan pemuda itu.
"Kalau masih jua kau tak mau mengatakan,
aku akan pulang sekarang." Ancam Herman
berpura-pura.
"Jangan..." Desah Anita tertahan.
Matanya yang bening menatap wajah Herman
dalam-dalam.
"Habis kamu enggak membalas cintaku sih?,"
gerutu Herman.
"Aku mencintaimu Herman." Kata Anita lirih.
"Benarkah itu Anita?"
"Ya Herman. Aku mencintaimu."
"Oooooh begitu bahagia hatiku. Cintamu
tidak lagi tergadai." kata Herman dengan gembira.
Anita jadi tersenyum geli.
"Kamu kok seperti anak kecil sih?," cela Anita
lembut.
"Perasaan bahagia bisa membuat perobahan sikap
seseorang begitu singkat. Kalau aku kau katakan
seperti anak kecil, boleh dong cium bibirmu." Gurau
Herman sembrono.
"Husli jangan!, nanti dilihat orang." Sergah Anita.
"Anak kecil kan tidak punya malu," sahut Herman.
"Hih kamu ngaco ya?" Gerutu Anita manja. "Boleh
cium kan?"
"Enggak mau," sergah Anita sambil tersipu. 130
"Sebentar saja mumpung tidak ada orang." Desak
Herman.
"Ah, aaah!" Elak Anita ketika bibir Herman sudah
menempel di pipi Anita. Anehnya elakan itu hanya
berpura-pura. Terbukti bibir Anita terkuak,
menerima serangan bibir Herman yang akan
melumatnya. Meskipun sekejap kecupan itu cukup
memberi gairah kehangatan bagi sekujur tubuhnya
yang semula lemah lunglai.
"Sudah ah, nanti dilihat orang."
"Aku benar-benar mencintaimu Anita."
"Masih banyak rintangan buat kita Herman
Mampukah kau menundukkannya? Jika kau
berhasil menaklukkan., kenyataanku, barulah kau
dapat memiliki diriku sepenuhnya." Tutur Anita
lembut dan penuh harap. Mata mereka saling
berta-tatapan lama sekali. Hati mereka telah
terpaut menjadisatu. Namun tidaklah sampai di situ
saja hambatan yang merintangi jalinan cinta
mereka. Tangan Herman meraih jari-jari Anita dan
menggenggamnya erat.
"Cintaku yang suci menuntut banyak
pengorbanan Anita. Sekalipun tegarnya batu cadas,
aku akan tetap berusaha untuk meruntuhkannya.
Meskipun harus kuarungi lautan demi cintaku
kepadamu, aku tak akan gentar sedikitpun Anita."
"Harapanku semoga kita dapat selamanya
berdua Herman."
"Yah. Milikilah keyakinan itu sayang. Setelah
kita dapat lolos dari belenggu bandot tua, kita pun
harus dapat menaklukkan kenyataan."
Anita tersenyum pasrah kepada Herman. Se-pasrah
hatinya buat menerima cinta Herman yang
menggebu-gebu. Sebaliknya gelora cinta di dada
Anita mengharapkan semua rintangan itu segera
sirna.