Rintangan Kelam

1004 Kata
Setelah Anita mengetahui apa yang telah terjadi, barulah menatap wajah Herman dalam-dalam, Bibir Herman bergetar, sedangkan matanya merah. "Syukur kalau kau telah siuman Anita." Kata Herman lirih. "Herman... kau tidak apa-apa bukan?" Tanya Anita. Herman menggangguk sambil mrmbelai rambut Anita dengan penuh kasih sayang. Di kedua mata Herman mengambang butiran air bening yang berkilau-kilauar. Begitu pun kedua mata Anita yang mengalir air bening, pelan-pelan jatuh ke hidung. Anita ingin mengucap sesuatu tapi hanya bibirnya saja yang bergerak namun tak m mgeluar-kan sepatali-katapun. Herman mengangguk-anggukkan kepala, walaupun dia sendiri tak tahu apa yang dimaksud Anita. Dia hanya ingin gadis itu xiierasa terhibur. Dia hanya mengharapkan gadis itu gembira dan bukan bersedih. "Ibu..." Ibu panggilnya lirih. Lelaki setengah baya itu mendekat dan memegangi tangan Anita. "Maafkanlah ibumu nak." Suara perempuan setengah baya itu bergetar. Tekanan nada suaranya demikian menyedihkan. "Tidak ada yang perlu dimaafkan ibu. Semua sudah berlalu." Kata Anita dengan nafas sesak. Ucapannya yang terpotong-potong karena kondisi badannya yanglemah. "Tapi ibu telah membuatmu menderita nak." Lanjut Anita menatap wajah ibunya yang 125 berlinangan air mata. Wajah tua yang semakin keriput itu nampak demikian sedih dan menyesal. "Ibu" Panggil Anha kemudian. Perempuan yang duduk di pinggiran tempat tidur, memeluk Anita sambil menangis tttsUffi sedu. "Sungguh malang nasibmu nak," rintih perempuan itu. "Tuhan akan segera mengakhiri siksaan diriku ibu." Sahut Anita. Suasana didalam kamar itu penuh dengan isak tangis. Disamping perasaan bahagia terselip di setiap hati mereka atas terlepasnya belenggu siksaan Anita, rasa syukur yang terucap sekalipun pelan kepada yang Maha Kuasa. Setelah keadaan berubah tenang dan diwajah-wajah mereka telah tampak senyum cerah, Herman mencium kening Anita lembut sekali. "Lekaslah sembuh Anita. Supaya kita dapat saling memadu kasih yang tiada rintangan lagi." Tutur Herman lunak Anita tersenyum manis sekali. Meskipun wajahnya masih pucat tidak mengurangi kecantikannya. Justru lebih menarik. Herman memegang tangan Anita lantas diciumnya penuh kasih sayang. "Tengoklah keluar melalui jendela Anita. Di atas pohon flamboya , ,"tu burung-burung bernyanyi gembira. Seakan-akan turut merasakan perasaan apa yang tengah kita alami sekarang. Lihatlah bunganya yang tumbuh subur di ranting- rantingnya, alangkah indahnya Anita. Apakah kau dapat merasakannya juga?" Anita menoleh kearah jendela dan melayang- kan pancUugim ke pohon flamboyan yang berbunga molek. Bibir Anita tersenyum gembira, dan matanya berseri-seri ketika menatap bunga-bunga "amboyan itu. Dua orang polisi dan ibu Anita berlian keluar meninggalkan kamar itu. Rupanya mereka merasa tahu diri. jika berada di situ akan dapat mengganggu keasyikan sepasang remaja itu. Maklum kedua remaja yang saling mencinta baru saja lepas dari maut. Jadi kebersamaannya lagi membangkitkan gelora cinta yang hampir-hampir lupa diri. "Alangkah indahnya hari ini Herman." Kata Anita dengan wajah berseri-seri. Herman mencium kening gadis itu dan Anita memejamkan matanya meresapi kelembutan lelaki yang sedang menciumnya. "Sejak dahuluhatiku bimbang dan ragu Anita". Gumam Herman. "Apa yang kau ragukan Her?" Suara Anita bermanja. "Tentang hati dan perasaanmu." "Kenapa Her?" "Sejak aku merasakan bermesraan, sejak aku mengenal kebahagiaan, selama itu pula diriku dalam keresahan Anita. Sebenarnya keresahanku berasal dari kata pasti yang tidak bisa teruraikan dalam bentuk apa pun Anita. "Aku tidak mengerti yang kau maksudkan Her." "Kata cintamu Nita. Kalimat itulah yang senantiasa kutunggu. Sebab aku tahu bahwa gelora cinta begitu membara di pipimu. Aku melihat dengan jelas dikala kau tersipu. Aku merasakan diwaktu mencium pipimu, merah merona oleh gelora cintamu yang tak mampu kau sembunyikan. Katakanlah jika kau mencintai aku Anita. Karena hati dan perasaanku tidak akan bimbang, ragu serta tidak lagi berhayal bahwa alangkah mudahnya meraih bintang." Anita tersipu. Kedua pipi gadis itu merah merona. Bibirnya tersenyum tapi dikulum. Aaah! kenapa aku jadi malu untuk mengatakan keadaanku yang sebenarnya? Bukankah aku mencintai Herman? Cintaku semurni air sorgawi. Tapi rasa malu itu bagi Anita karena memang belum pernah menyatakan cintanya kepada lelaki manapun. Sebab memang baru untuk pertama kali ini Anita jatuh Cinta. Dan untuk pertamakah ini pula Anita merasakan kasih sayang dari seorang lelaki yang benar-benar mencintainya. Maka tak heran apabila kata cinta begitu sulit keluar dari mulutnya. "Anita, katakanlah sayang... katakanlah." Desak Herman lunak. Gadis itu masih tersipu malu namun memegang erat telapak tangan Herman. Rasa hangat dari cinta menyusup melalui darah gadis itu saat menggenggam telapak tangan pemuda itu. "Kalau masih jua kau tak mau mengatakan, aku akan pulang sekarang." Ancam Herman berpura-pura. "Jangan..." Desah Anita tertahan. Matanya yang bening menatap wajah Herman dalam-dalam. "Habis kamu enggak membalas cintaku sih?," gerutu Herman. "Aku mencintaimu Herman." Kata Anita lirih. "Benarkah itu Anita?" "Ya Herman. Aku mencintaimu." "Oooooh begitu bahagia hatiku. Cintamu tidak lagi tergadai." kata Herman dengan gembira. Anita jadi tersenyum geli. "Kamu kok seperti anak kecil sih?," cela Anita lembut. "Perasaan bahagia bisa membuat perobahan sikap seseorang begitu singkat. Kalau aku kau katakan seperti anak kecil, boleh dong cium bibirmu." Gurau Herman sembrono. "Husli jangan!, nanti dilihat orang." Sergah Anita. "Anak kecil kan tidak punya malu," sahut Herman. "Hih kamu ngaco ya?" Gerutu Anita manja. "Boleh cium kan?" "Enggak mau," sergah Anita sambil tersipu. 130 "Sebentar saja mumpung tidak ada orang." Desak Herman. "Ah, aaah!" Elak Anita ketika bibir Herman sudah menempel di pipi Anita. Anehnya elakan itu hanya berpura-pura. Terbukti bibir Anita terkuak, menerima serangan bibir Herman yang akan melumatnya. Meskipun sekejap kecupan itu cukup memberi gairah kehangatan bagi sekujur tubuhnya yang semula lemah lunglai. "Sudah ah, nanti dilihat orang." "Aku benar-benar mencintaimu Anita." "Masih banyak rintangan buat kita Herman Mampukah kau menundukkannya? Jika kau berhasil menaklukkan., kenyataanku, barulah kau dapat memiliki diriku sepenuhnya." Tutur Anita lembut dan penuh harap. Mata mereka saling berta-tatapan lama sekali. Hati mereka telah terpaut menjadisatu. Namun tidaklah sampai di situ saja hambatan yang merintangi jalinan cinta mereka. Tangan Herman meraih jari-jari Anita dan menggenggamnya erat. "Cintaku yang suci menuntut banyak pengorbanan Anita. Sekalipun tegarnya batu cadas, aku akan tetap berusaha untuk meruntuhkannya. Meskipun harus kuarungi lautan demi cintaku kepadamu, aku tak akan gentar sedikitpun Anita." "Harapanku semoga kita dapat selamanya berdua Herman." "Yah. Milikilah keyakinan itu sayang. Setelah kita dapat lolos dari belenggu bandot tua, kita pun harus dapat menaklukkan kenyataan." Anita tersenyum pasrah kepada Herman. Se-pasrah hatinya buat menerima cinta Herman yang menggebu-gebu. Sebaliknya gelora cinta di dada Anita mengharapkan semua rintangan itu segera sirna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN