Ibu

769 Kata
Bunga mawar di taman sudah sepekan mulai menampakkan kuncupnya. Begitupun pohon flamboyan di halaman samping rumah bunganya semakin banyak tumbuh di ranting-rantingya. Sebelumnya apa yang dirasakan oleh Anita tidaklah seperti sekarang ini. Keindahan begitu terasa menyusup kedalam kalbunya. Sebab dia telah merasa terlepas dari belenggu siksaan yang amat kejam. Baginya sekarang kebebasan itu bukan berarti kebahagiaan. Pagi itu Anita baru saja membersihkan tempat tidurnya. Kemudian merapihkannya. Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka. Bahkan Anita selesai merapikan tempat tidurnya, berdiri di jendela sambil menatap sang matahari. Kehangatan sinarnya menyentuh kulit wajah Anu a yang cantik dan mulus itu Seulas senyumnya yang manis terukir menantang sinar matahari. Seolah-olah dia bercumbu kehangatan seperti ketika Hermai. membelainya sayang. Benarkah pagi ini bagiku merupakan pagi yang mulai membuka lembaran baru dalam hidupku? Benarkah semua penderitaan itu tak akan datang kembali seperti waktu yang lalu? Kekalkah jalinan cintaku yang selama ini menggelora dalam batinku? Ooooh Herman, seandainya kau dapat memiliki diriku, betapa berartinya sepanjang sisa hidupku, tetapi mungkinkah kau dapat menunduk kan dan menyadarkan ayahku yang sekarang menderita gangguan jiwa. Dia teramat benci jika melihatku menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Penyebabnya tak lain adalah tekanan jiwa yang selama ini melihat dan mendengar diriku selalu disiksa oleh Wibowo. Disamping hancurnya perusahaan yang dirintis sejak aku masih kanak- kanak. Dia jadi beranggapan semua lelaki yang mencintaiku mempunyai maksud buruk. Rintihan hati sedikit banyak membangkitkan keresahan yang mulai muncul lagi dalam dirinya. Dia merasa takut kehilangan Herman. Jika lelaki itu mudah putus asa, sudah pasti akan meninggalkan dirinya. Sambil memandang bunga flamboyan yang rnsrah menghiasai ranting-ranting, helaan nafas panjang sayup-sayup terdengar melalui hidungnya.. Langkah-langkah lunak memasuki kamar itu. Dan seorang perempuan setengah baya sudah berdiri di dekatnya. Perempuan itu tak lain adalah ibunya. "Apa yang kau lamunkan Nita?" tegur ibunya lunak. Anita sedikit tersentak karena tidak melihat kedatangan ibunya. Maka dia menoleh ke belakang sambil menyembunyikan keresahannya. "Nita tidak memikirkan apa-apa bu." Sahutnya datar. Perempuan itu mencoba tersenyum meski hatinya gundah gulana. Sebetulnya yang tersimpan di dalam hati dan perasaan perempuan itu sangat menyedihkan. Namun sifatnya yang senantiasa menunjukkan kesabaran dan ketabahan menunjang penderitaan tanpa ada orang lain yang tahu. "Bagaimana kabar ayah di rumah bu?" "Masih seperti biasa." "Tidak ada perubahan?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Sedang Anita menghela nafas panjang. 136 "Aku senantiasa bingung bila memikirkan keadaan ayah. Bagaimana pun juga aku tak campai hati untuk memasukkan ayah ke rumah sakit gila. Dia amat sengsara bila harus bertinggal di sana. Seperti halnya kita yang melihat keadaan yang terkurung merasa lebih tertekan perasaan." Tutur Anita dalam keluhan. "Sebaiknya kita berkumpul bersama lagi Nita" "Maksud ibu serumah lagi?," "Yah" "Itulah kemungkinan yang sedang saya pikirkan ibu. Tapi saya rasa ayah tidak mau tinggal di rumah ini." "Pendapatmu tak bisa disangkal lagi anakku." Anita tercenung beberapa saat. Dan perempuan setengah tua itu berbuat yang sama. Masa lalu telah meninggalkan kenangan buruk yang menyerupakan bayangan menakutkan bagi keluarga Anita. Rumah mewah dan mobil peninggalan Wibowo sedikit banyak melukiskan kepribadian yang sudah hitam. Anita memegangi kepalanya yang tiba-tiba dirasakan berat. Sebab dia masih ingat sebelum pulang dari rumah sakit pihak kepolisian sempat mengusut semua perkara yang tersembunyi di balik kenyataan. "Perasaan Nita mengatakan jika kita tinggal di rumah ini tidak akan lama lagi bu." Gumam Anita lesu. "Kenapa demikian nak?" "Tak lama lagi pihak kepolisian akan mengusut semua perkara mas Wibowo. Dan pasti aku akan tersangkut pula. Rumah inipun pasti akan disita oleh negara." "Oooooh..." Keluh panjang perempuan itu. "Mudah-mudahan saja hal itu tidak akan terjadi bu." Kata Anita menghibur keresahan hati ibunya. "Lantas apa usahamu selanjutnya Nita?" "Hanya mengharap kemurahan Tuhan atas belas kasihNYA. Kita pasrah kepadaNYA." Bersamaan dengan selesainya ucapan Anita. terdengar suara beli rumah berdering. Ada perasaan cemas yang bercampur dengan bahagia bercokol di dalam d**a Anita. Siapa gerangan yang datang? Demikian pertanyaan ketika Anita berjalan menuju kepintu. Tentu saja bila Herman yang datang hatinya bermadu. Tetapi kalau selain dia, ah... apa yang akan terjadi? Maka Anita sambil berjalan diiringi pertanyaan yang membingungkan. Dia sadar sepenuhnya jika penderitaannya belum berakhir sampai di situ. Sebelum Anita membuka pintu dia mencoba untuk melongok melalui jendela kaca siapa gerangan yang datang. Ah. detak jantungnya mendadak berubah cepat sekali. Wajahnya dalam sekejap sudah berubah pucat dan sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Yang datang ternyata bukanlah Herman melainkan dua orang polisi berpakaian dinas. Anita dengan tangan gemetar membuka pintu rumah. Dua orang polisi itu menganggukkan kepala. "Selamat pagi nyonya." Ucap salah seorang polisi itu. "Se...selamat pagi." Sahut Anita bergetar Salah seorang polisi itu menyerahkan sepucuk surat kepada Anita. "Dalam waktu seminggu lagi nyonya diharus kan menghadap ke sidang pengadilan." Kata polisi itu. "Ba...baik pak " Tergagap jawaban Anita. "Permisi nyonya." "Ya...ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN