Bunga mawar di taman sudah sepekan mulai
menampakkan kuncupnya. Begitupun pohon
flamboyan di halaman samping rumah bunganya
semakin banyak tumbuh di ranting-rantingya.
Sebelumnya apa yang dirasakan oleh Anita tidaklah
seperti sekarang ini. Keindahan begitu terasa
menyusup kedalam kalbunya. Sebab dia telah
merasa terlepas dari belenggu siksaan yang amat
kejam. Baginya sekarang kebebasan itu bukan
berarti kebahagiaan.
Pagi itu Anita baru saja membersihkan
tempat tidurnya. Kemudian merapihkannya. Sinar
matahari pagi menyusup masuk melalui jendela
kamarnya yang terbuka. Bahkan Anita selesai
merapikan tempat tidurnya, berdiri di jendela
sambil menatap sang matahari. Kehangatan
sinarnya menyentuh kulit wajah Anu a yang cantik
dan mulus itu Seulas senyumnya yang manis terukir
menantang sinar matahari. Seolah-olah dia
bercumbu kehangatan seperti ketika Hermai.
membelainya sayang.
Benarkah pagi ini bagiku merupakan pagi
yang mulai membuka lembaran baru dalam
hidupku? Benarkah semua penderitaan itu tak akan
datang kembali seperti waktu yang lalu? Kekalkah
jalinan cintaku yang selama ini menggelora dalam
batinku? Ooooh Herman, seandainya kau dapat
memiliki diriku, betapa berartinya sepanjang sisa
hidupku, tetapi mungkinkah kau dapat menunduk
kan dan menyadarkan ayahku yang sekarang
menderita gangguan jiwa. Dia teramat benci jika
melihatku menjalin hubungan dengan lelaki
manapun. Penyebabnya tak lain adalah tekanan
jiwa yang selama ini melihat dan mendengar diriku
selalu disiksa oleh Wibowo. Disamping hancurnya
perusahaan yang dirintis sejak aku masih kanak-
kanak. Dia jadi beranggapan semua lelaki yang
mencintaiku mempunyai maksud buruk.
Rintihan hati sedikit banyak membangkitkan
keresahan yang mulai muncul lagi dalam dirinya.
Dia merasa takut kehilangan Herman. Jika lelaki itu
mudah putus asa, sudah pasti akan meninggalkan
dirinya. Sambil memandang bunga flamboyan yang
rnsrah menghiasai ranting-ranting, helaan nafas
panjang sayup-sayup terdengar melalui hidungnya..
Langkah-langkah lunak memasuki kamar itu. Dan
seorang perempuan setengah baya sudah berdiri di
dekatnya. Perempuan itu tak lain adalah ibunya.
"Apa yang kau lamunkan Nita?" tegur ibunya
lunak.
Anita sedikit tersentak karena tidak melihat
kedatangan ibunya. Maka dia menoleh ke belakang
sambil menyembunyikan keresahannya.
"Nita tidak memikirkan apa-apa bu."
Sahutnya datar.
Perempuan itu mencoba tersenyum meski
hatinya gundah gulana. Sebetulnya yang tersimpan
di dalam hati dan perasaan perempuan itu sangat
menyedihkan. Namun sifatnya yang senantiasa
menunjukkan kesabaran dan ketabahan menunjang
penderitaan tanpa ada orang lain yang tahu.
"Bagaimana kabar ayah di rumah bu?"
"Masih seperti biasa."
"Tidak ada perubahan?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
Sedang Anita menghela nafas panjang. 136
"Aku senantiasa bingung bila memikirkan
keadaan ayah. Bagaimana pun juga aku tak campai
hati untuk memasukkan ayah ke rumah sakit gila.
Dia amat sengsara bila harus bertinggal di sana.
Seperti halnya kita yang melihat keadaan yang
terkurung merasa lebih tertekan perasaan." Tutur
Anita dalam keluhan.
"Sebaiknya kita berkumpul bersama lagi
Nita"
"Maksud ibu serumah lagi?,"
"Yah"
"Itulah kemungkinan yang sedang saya
pikirkan ibu. Tapi saya rasa ayah tidak mau tinggal
di rumah ini."
"Pendapatmu tak bisa disangkal lagi anakku."
Anita tercenung beberapa saat. Dan
perempuan setengah tua itu berbuat yang sama.
Masa lalu telah meninggalkan kenangan buruk yang
menyerupakan bayangan menakutkan bagi
keluarga Anita. Rumah mewah dan mobil
peninggalan Wibowo sedikit banyak melukiskan
kepribadian yang sudah hitam. Anita
memegangi kepalanya yang tiba-tiba dirasakan
berat. Sebab dia masih ingat sebelum pulang dari
rumah sakit pihak kepolisian sempat mengusut
semua perkara yang tersembunyi di balik
kenyataan.
"Perasaan Nita mengatakan jika kita tinggal di
rumah ini tidak akan lama lagi bu." Gumam Anita
lesu.
"Kenapa demikian nak?"
"Tak lama lagi pihak kepolisian akan
mengusut semua perkara mas Wibowo. Dan pasti
aku akan tersangkut pula. Rumah inipun pasti akan
disita oleh negara."
"Oooooh..." Keluh panjang perempuan itu.
"Mudah-mudahan saja hal itu tidak akan
terjadi bu." Kata Anita menghibur keresahan hati
ibunya.
"Lantas apa usahamu selanjutnya Nita?"
"Hanya mengharap kemurahan Tuhan atas
belas kasihNYA. Kita pasrah kepadaNYA."
Bersamaan dengan selesainya ucapan Anita.
terdengar suara beli rumah berdering. Ada
perasaan cemas yang bercampur dengan bahagia
bercokol di dalam d**a Anita. Siapa gerangan yang
datang? Demikian pertanyaan ketika Anita berjalan
menuju kepintu. Tentu saja bila Herman yang
datang hatinya bermadu. Tetapi kalau selain dia,
ah... apa yang akan terjadi? Maka Anita sambil
berjalan diiringi pertanyaan yang membingungkan.
Dia sadar sepenuhnya jika penderitaannya belum
berakhir sampai di situ.
Sebelum Anita membuka pintu dia mencoba
untuk melongok melalui jendela kaca siapa
gerangan yang datang. Ah. detak jantungnya
mendadak berubah cepat sekali. Wajahnya dalam
sekejap sudah berubah pucat dan sekujur tubuhnya
gemetar ketakutan. Yang datang ternyata bukanlah
Herman melainkan dua orang polisi berpakaian
dinas.
Anita dengan tangan gemetar membuka
pintu rumah. Dua orang polisi itu menganggukkan
kepala.
"Selamat pagi nyonya." Ucap salah seorang
polisi itu.
"Se...selamat pagi." Sahut Anita bergetar
Salah seorang polisi itu menyerahkan sepucuk surat
kepada Anita.
"Dalam waktu seminggu lagi nyonya diharus
kan menghadap ke sidang pengadilan." Kata polisi
itu. "Ba...baik pak " Tergagap jawaban Anita.
"Permisi nyonya."
"Ya...ya."