Anita langsung menutup pintu rumahnya
ketika kedua polisi itu belum jauh meninggalkan
teras rumahnya. Cepat-cepat di sobeknya surat
panggilan itu dan dibacanya. Oooooh Tuhan,
seminggu lagi aku harus menghadap ke meja
sidang. Dan untuk selama ini diriku masih dalam
pengawasan yang berwajib. Lalu apa yang harus aku
lakukan di depan hakim? Apa pula yang harus
kujawab setiap pertanyaannya? Sudah jelas ayah
akan tersangkut dalam perkara ini. Tuhan tolonglah
kami. Rintih Anita dengan setitik air mata yang jatuh
ke pipinya.
Ibu Anita terhenyak ketika melihat anaknya
menangis sambil memegang sepucuk surat.
Perempuan itu lantas berjalan mendekati anaknya.
"Apa yang telah terjadi Nita?" Tanya
perempuan itu sendu.
"Dua orang polisi telah datang kemari dan
memberikan surat panggilan. Minggu depan aku
harus menjalani sidang perkara mas Wibowo ibu."
Kata Anita dengan berlinangan air mata.
Perempuan itu langsung memeluk anaknya
dan turut menangis.
"Oooh anakku...apa gerangan yang akan
menimpa dirimu nak. Betapa malangnya nasibmu."
Ucap perempuan itu tersedu-sedu.
Anita membenamkan kepalanya di dalam
pelukan ibunya. Hanya dialah tempat buat
mengadu semua penderitaannya. Dan perempuan
itulah yang senantiasa mau mengerti perasaannya.
"Ibu kalau toh nasib dan penderitaan isi
hanya Nita yang mengelami bukan soal lagi. Tetapi
akan menyangkut juga diri ayah. Sedangkan
keadaan ayah sangat perlu dikasihani."
"Lalu apa yang akan kau lakukan Nita?"
"Hanya satu harapanku ibu. Semoga Herman
bisa menolong kita/"
"Yah... melihat sinar matanya dia sangat
mencintaimu Nita."
"Aku percaya bahwa Herman bukanlah lelaki
pengecut ibu."
"Aku akan selalu berdoa agar kau selamat anakku."
Kedua insan yang dirundung malang ini saling
berpelukan erat-erat. Tangan perempuan itu
membelai rambut anaknya dengan penuh kasih
sayang. Kenapa semua penderitaan ini harus me-
nimpadirimu sayang? Seharusnya hal ini tak boleh
terjadi atas dirimu. Rintih perempuan itu sambil
membimbing anaknya yang menangis tersedu-sedu
ke kamar.
*** Sejak Anita menerima surat panggilan dari
kejaksaan, wajahnya jarang terukir senyum
manisnya. Dia lebih sering bertopang dagu dan
termenung seorang diri. Tempat untuk meminta
perlindungan dan pertolongan tak lain adalah
Herman. Maka di senja itu Anita mendatangi rumah
Herman. Selama Anita memegang kemudi mobil
hampir kurang konsentrasi. Dan nyaris dia
menubruk penjual sate. Hanya yang dapat didengar
caci maki si penjual sate itu. Dan di tikungan jalan
yang hampir-hampir di rumah Herman, Anita nyaris
menubruk arak kecil ketika akan menyeberang.
Ooooooh kenapa bisa begini? Keluh Anita dengan
detak jantung memburu. Dengan diliputi pula
perasaan cemas. Perasaan ketakutan. Setelah
mobilnya berhan-ti di depan rumah Herman, dia
mencoba untuk melapangkan dadanya yang sesak.
Mencoba antuk memulihkan alam pikirannya
supaya jernih. Sebab tanpa pemikiran yang jernih,
tiada mungkin dia dapat menjelaskan duduk
perkaranya kepada Herman. Untuk beberapa saat
Anita masih duduk terpekur di belakang stir.
Herman ketika melihat mobil Anita berhenti
di depan rumah bergegas menghampirinya. Lelaki
itu merasa heran melihat sikap Anita yang aneh.
Apa yang dilakukan gadis itu? Duduk termenung
dibelakang stir dengan raut muka yang pucat.
Herman menegur Anita sambil bergurau.
"Hai Anita, kenapa tidak langsung turun?
Apakah pantatmu pegal?"
Anita tersentak dan memaksa untuk
tersenyum.
"Oh ya, aku hampir lupa." Anita lalu beranjak
turun dari dalam mobil dan menghempaskan
pintunya. Mereka berdua lantas berjalan bersisian
menuju ke paviliun.
Herman mengajak Anita duduk di teras
paviliun. Udara senja yang berhembus dan
membawa aroma segar bunga taman di depannya
cukup menambah romantis suasana.
"Kau nampak murung dan sedih Anita. Kenapa?"
"Terlalu berat bagiku untuk menghadapinya
Herman."
"Boleh aku tahu?"
Anita tertunduk beberapa saat. Kesedihan
tertera jelas melalui kerut keningnya. Dan di mata
gadis itu mengambang butiran air bening yang ber-
kilau-kilauan.
"Kenapa kau diam saja Nita?"
"Maukah kau menolong diriku Herman?"
"Bagaimana aku bisa menolongmu apabila
belum tahu duduk masalahnya. Katakanlah terus
terang Nita. Bukankah di antara kita tidak ada kabut
misteri lagi?"
Anita menganggukkan kepala mantap.
Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah
Herman dalam-dalam.
"Kau menangis Anita? Katakanlah apa yang
telah menyiksa perasaanmu. Masih ragukah kau
dengan cintaku?"
"Herman... kemelut telah datang lagi.
Sanggupkah kau melepaskan diriku dari kemelut
itu?" Desah Anita menyayat.
"Kau harus mengatakan terlebih dahulu
persoalannya Nita. Percayalah kepadaku, tanpa
dirimu hidupku tak akan berarti lagi."
"Herman... minggu depan aku harus
menghadap sidang pengadilan untuk menyelesai
kan perkara mas Wibowo. Lantas apa yang bisa
kuperbuat Herman? Sedangkan ayahku pasti akan
tersangkut pula dalam perkara ini."
"Tenangkanlah hatimu Anita. Kau harus
percaya dengan keadilan Tuhan. Siapa yang
bersalah pasti akan mendapat imbalan yang pantas.
Bila kau tidak pernah melakukan kesalahan, Tuhan
pun tidak akan menghukummu."
"Tetapi ayahku..."
"Nita, sudah kukatakan kepadamu bukan?
Terimalah kenyataan yang terjadi apabila ayahmu
turut menanggung perkaranya."
"Tapi aku tak tega Her."
"Yah apa boleh buat. Semoga saja ada jalan
lain yang bisa menyelesaikan ayahmu. Aku akan
membantumu dengan sepenuhnya Nita.
Percayalah, bila kau tak berbuat salah pasti usahaku
tidak akan sia-sia. Dan kau tak perlu takut-takut
untuk mengutarakan apa yang telah terjadi. Hakim
akan bisa membandingkan perkara. Semoga saja
Tuhan memberikan kemurahan atas dirimu."
Herman berkata sembari membelai rambut Anita
dengan penuh kasih sayang- Dia sangat terharu
melihat permainan nasib Anita yang selalu
terbelenggu oleh siksaan batin.