Kesedihan Anita

812 Kata
Anita langsung menutup pintu rumahnya ketika kedua polisi itu belum jauh meninggalkan teras rumahnya. Cepat-cepat di sobeknya surat panggilan itu dan dibacanya. Oooooh Tuhan, seminggu lagi aku harus menghadap ke meja sidang. Dan untuk selama ini diriku masih dalam pengawasan yang berwajib. Lalu apa yang harus aku lakukan di depan hakim? Apa pula yang harus kujawab setiap pertanyaannya? Sudah jelas ayah akan tersangkut dalam perkara ini. Tuhan tolonglah kami. Rintih Anita dengan setitik air mata yang jatuh ke pipinya. Ibu Anita terhenyak ketika melihat anaknya menangis sambil memegang sepucuk surat. Perempuan itu lantas berjalan mendekati anaknya. "Apa yang telah terjadi Nita?" Tanya perempuan itu sendu. "Dua orang polisi telah datang kemari dan memberikan surat panggilan. Minggu depan aku harus menjalani sidang perkara mas Wibowo ibu." Kata Anita dengan berlinangan air mata. Perempuan itu langsung memeluk anaknya dan turut menangis. "Oooh anakku...apa gerangan yang akan menimpa dirimu nak. Betapa malangnya nasibmu." Ucap perempuan itu tersedu-sedu. Anita membenamkan kepalanya di dalam pelukan ibunya. Hanya dialah tempat buat mengadu semua penderitaannya. Dan perempuan itulah yang senantiasa mau mengerti perasaannya. "Ibu kalau toh nasib dan penderitaan isi hanya Nita yang mengelami bukan soal lagi. Tetapi akan menyangkut juga diri ayah. Sedangkan keadaan ayah sangat perlu dikasihani." "Lalu apa yang akan kau lakukan Nita?" "Hanya satu harapanku ibu. Semoga Herman bisa menolong kita/" "Yah... melihat sinar matanya dia sangat mencintaimu Nita." "Aku percaya bahwa Herman bukanlah lelaki pengecut ibu." "Aku akan selalu berdoa agar kau selamat anakku." Kedua insan yang dirundung malang ini saling berpelukan erat-erat. Tangan perempuan itu membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. Kenapa semua penderitaan ini harus me- nimpadirimu sayang? Seharusnya hal ini tak boleh terjadi atas dirimu. Rintih perempuan itu sambil membimbing anaknya yang menangis tersedu-sedu ke kamar. *** Sejak Anita menerima surat panggilan dari kejaksaan, wajahnya jarang terukir senyum manisnya. Dia lebih sering bertopang dagu dan termenung seorang diri. Tempat untuk meminta perlindungan dan pertolongan tak lain adalah Herman. Maka di senja itu Anita mendatangi rumah Herman. Selama Anita memegang kemudi mobil hampir kurang konsentrasi. Dan nyaris dia menubruk penjual sate. Hanya yang dapat didengar caci maki si penjual sate itu. Dan di tikungan jalan yang hampir-hampir di rumah Herman, Anita nyaris menubruk arak kecil ketika akan menyeberang. Ooooooh kenapa bisa begini? Keluh Anita dengan detak jantung memburu. Dengan diliputi pula perasaan cemas. Perasaan ketakutan. Setelah mobilnya berhan-ti di depan rumah Herman, dia mencoba untuk melapangkan dadanya yang sesak. Mencoba antuk memulihkan alam pikirannya supaya jernih. Sebab tanpa pemikiran yang jernih, tiada mungkin dia dapat menjelaskan duduk perkaranya kepada Herman. Untuk beberapa saat Anita masih duduk terpekur di belakang stir. Herman ketika melihat mobil Anita berhenti di depan rumah bergegas menghampirinya. Lelaki itu merasa heran melihat sikap Anita yang aneh. Apa yang dilakukan gadis itu? Duduk termenung dibelakang stir dengan raut muka yang pucat. Herman menegur Anita sambil bergurau. "Hai Anita, kenapa tidak langsung turun? Apakah pantatmu pegal?" Anita tersentak dan memaksa untuk tersenyum. "Oh ya, aku hampir lupa." Anita lalu beranjak turun dari dalam mobil dan menghempaskan pintunya. Mereka berdua lantas berjalan bersisian menuju ke paviliun. Herman mengajak Anita duduk di teras paviliun. Udara senja yang berhembus dan membawa aroma segar bunga taman di depannya cukup menambah romantis suasana. "Kau nampak murung dan sedih Anita. Kenapa?" "Terlalu berat bagiku untuk menghadapinya Herman." "Boleh aku tahu?" Anita tertunduk beberapa saat. Kesedihan tertera jelas melalui kerut keningnya. Dan di mata gadis itu mengambang butiran air bening yang ber- kilau-kilauan. "Kenapa kau diam saja Nita?" "Maukah kau menolong diriku Herman?" "Bagaimana aku bisa menolongmu apabila belum tahu duduk masalahnya. Katakanlah terus terang Nita. Bukankah di antara kita tidak ada kabut misteri lagi?" Anita menganggukkan kepala mantap. Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah Herman dalam-dalam. "Kau menangis Anita? Katakanlah apa yang telah menyiksa perasaanmu. Masih ragukah kau dengan cintaku?" "Herman... kemelut telah datang lagi. Sanggupkah kau melepaskan diriku dari kemelut itu?" Desah Anita menyayat. "Kau harus mengatakan terlebih dahulu persoalannya Nita. Percayalah kepadaku, tanpa dirimu hidupku tak akan berarti lagi." "Herman... minggu depan aku harus menghadap sidang pengadilan untuk menyelesai kan perkara mas Wibowo. Lantas apa yang bisa kuperbuat Herman? Sedangkan ayahku pasti akan tersangkut pula dalam perkara ini." "Tenangkanlah hatimu Anita. Kau harus percaya dengan keadilan Tuhan. Siapa yang bersalah pasti akan mendapat imbalan yang pantas. Bila kau tidak pernah melakukan kesalahan, Tuhan pun tidak akan menghukummu." "Tetapi ayahku..." "Nita, sudah kukatakan kepadamu bukan? Terimalah kenyataan yang terjadi apabila ayahmu turut menanggung perkaranya." "Tapi aku tak tega Her." "Yah apa boleh buat. Semoga saja ada jalan lain yang bisa menyelesaikan ayahmu. Aku akan membantumu dengan sepenuhnya Nita. Percayalah, bila kau tak berbuat salah pasti usahaku tidak akan sia-sia. Dan kau tak perlu takut-takut untuk mengutarakan apa yang telah terjadi. Hakim akan bisa membandingkan perkara. Semoga saja Tuhan memberikan kemurahan atas dirimu." Herman berkata sembari membelai rambut Anita dengan penuh kasih sayang- Dia sangat terharu melihat permainan nasib Anita yang selalu terbelenggu oleh siksaan batin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN