Kenyataan

837 Kata
Bus yang ditumpangi Anita dari Jakarta menuju Bandung, mogok berulangkah karena mesin bus itu sudah terlalu tua. Tiap kali bus berhenti untuk diperbaiki, rasa pening di kepala Anita berdenyut- denyut. Dia ingin lekas sampai di terminal Bandung. Karena dari terminal bus masih harus naik colt omprengan untuk mencapai kampungnya. Bagi Anita apapun yang bakal terjadi harus dihadapi dengan perasaan tabah. Hampir sepanjang perjalanan menuju ke kampung, ucapan Herman senantiasa berdengung di telinganya. Kau harus tabah. Harus tabah Anita. Rasa sebal dan ingin muntah menumpuk di kerongkongannya. Betapa melelahkan dan menjengkelkan selama di perjalanan. Kalau saja Herman berada di sampingnya mungkin saja perjalanan ini berubah mengasyikkan. Akhirnya dengan kejenuhan yang melelahkan sampailah ke tempat tujuan. Anita bergegas turun dari colt omprengan sambil menjinjing koper kecil. Lama Anita termangu setelah colt10 omprengan itu menjauh. Dengan sebuah andong Anita kemudian menempuh perjalanan ke rumahnya. Sawah yang membentang di kiri kanan jalan nampak kuning keemasan. Gunung yang menjulang tinggi berwarna hijau kebiruan monumen alam. Jalan- jalan kampung yang sepi membuat perasaan jadi tak enak. Lebih dirasakan sepi lagi oleh Anita, selama di perjalananan kusir andong itu kebetulan sangat pendiam. Atau mungkin merasa takut mengajak omong-omong lantaran gadis yang naik andong itu kelewat cantik. 10 Merk mobil angkutan umum buatan Amerika Setelah andong memasuki kampung dimana Anita lahir dan dibesarkan, satu dua orang mengangguk pertanda mereka mengenalnya. Rasa sepi yang sejak tadi dirasakan oleh Anita agak sedikit terhibur. Namun tidaklah cukup untuk diresapi. Semakin dekat ke rumah, semakin banyak mata yang memperhatikan Anita. Dan lebih banyak mulut yang saling berbisik membicarakan Anita. Seorang perempuan setengah tua meludah didekat andong yang melewatinya. Anita memejamkan mata. Dia berusaha menahan goncangan perasaan yang menggempur dadanya. Begitupun setelah Anita mengetuk pintu rumah, kakinya gemetar. Satu dua kali pintu rumah itu terus diketuknya. Banyak pula tetangga kiri kanan rumahnya memperhatikan sambil berbisik-bisik. Entah apa pula yang mereka perbincangkan. Yang jelas mimik merekasangat Sinis. Anita ingin cepat-cepat masuk kedalam rumah. Untunglah pintu rumah itu segera terbuka dan di hadapan Anita berdiri seorang gadis berambut di-kelabang kuda. "Lisa!." panggil Anita dengan mata berseri- seri penuh kerinduan. Sesaat gadis itu memandang Anita, kemudian mereka buru-buru saling berpelukan erat. "Kak Nita... " Gumam Lisa penuh keharuan. "Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Anita lirih. "Yah seperti apa yang kakak lihat. Ayo masuk kak." Anita menuruti ajakan adiknya. Tetapi langkahnya mendadak terhenti dan sekujur badannya dirasa dingin ketika melihat seorang lelaki setengah tua yang wajahnya sudah nampak keriput. Lelaki itu baru saja keluar dari ruang tengah dengan langkah- langkah mantap. Seolah-olah Anita menghadapi monster yang menakutkan. Sekilas dia teringat kepada Wibowo. Mata Anita terbelalak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Nafas dan denyut jantungnya bagai terenggut, putus rasanya. Dan lelaki setengah tua berwajah keriput itu berdiri tegak tak sampai dua meter di depan Anita. Perasaan yang dialami oleh Anita tak jauh berbeda dengan perasaan Lisa. "Ayah..." seru Anita tertahan. Sepasang matanya yang keriput menyipit seketika. Tidak seperti apa yang dilihat Anita dua tahun yang silam. Wajah ayahnya masih kelihatan segar. Tetapi kini sudah berubah masam dan menakutkan. Hampir-hampir Anita tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Cepat Anita ingin memeluk lelaki itu namun suara lelaki itu terdengar menakutkan. "Berhenti di situ..!" "Ayah," Anita ta?jub. "Siapa kau?!." "Ayah... aku Anita." Suara Anita tercekam. "Aku tak mengenalmu" Pandangan mata lelaki itu hampa. "Ayah!." Anita memekik. "Pergilah jangan injak rumah ini lagi." "Ayah aku adalah anakmu." "Aku tidak mempunyai anak seperti kau!." Anita langsung memeluk Lisa dan menangis pilu di dalam pelukan adiknya itu. Ingin rasanya dia menjerit sekuat-kuatnya. Ingin pula rasanya dia menangis sepuas-puasnya. Betapa kejamnya kenyataan yang telah berubah ini. "Kak Nita...tabahkanlah hatimu." tutur Lisa. "Ayah tidak lagi menganggapku sebagai anaknya." Sahut Anita disela-sela isak tangisnya yang pilu. "Kau harus menyadari sepenuhnya jika penyebabnya adalah kenyataan kak." Anita melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya yang masih berdiri tegak di belakangnya. Perlahan-lahan Anita merentangkan tangannya siap memeluk ayahnya. Namun mata lelaki itu membelalak lebar, menakutkan. Anita menurunkan kembali tangannya perlahan-lahan. Bagai tak mempunyai daya lagi. Dan dia mengerti semua persoalan. Pengertian yang mengerikan dan menakutkan. "Ayah... aku sudah rindu sekali kepadamu." Kata Anita dalam keluh kesah. "Kau panggil aku ayah sedangkan aku tidak pernah merasa mempunyai anak semacam kau!." Bentak lelaki itu keras. Bumi yang dipijak oleh Anita dirasa berguncang. Tetapi Anita belum yakin bila ucapan itu keluar dari hati sanubarinya yang tulus. "Jangan ucapkan itu ayah." Rengek Anit* memelas. "Sekali lagi kau berani memanggilku ayah, aku akan menendangmu keluar!." Lelaki setengah tua itu membentak dengan wajah merah padam dan mata berapi-api. Tekad Anita sudah bulat, bahwa dia rela berkorban demi kedua orangtuanya. Bukankah sejak dahulu Anita sudah menempuh kesemuanya itu? Dia lebih merasa rela dipukul ayahnya dari pada Wibowo. Maka keberanian Anita semakin bulat dan keras. "Baiklah kalau kau tidak mau kupanggil ayah. Dan aku menerima kenyataan bila saja tidak lagi dianggap seorang anak. Tetapi aku datang kemari untuk memberi tahu jika perkara Wibowo akan disidangkan. Dan akulah yang menerima surat panggilan dari kejaksaan untuk menjawab persoalan." Kata Anita tegas. Lelaki setengah tua itu mengkerutkan dahi Pancaran matanya tidak lagi berapi-api seperti tadi. Hampa dan kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN