Bus yang ditumpangi Anita dari Jakarta menuju
Bandung, mogok berulangkah karena mesin bus itu
sudah terlalu tua. Tiap kali bus berhenti untuk
diperbaiki, rasa pening di kepala Anita berdenyut-
denyut. Dia ingin lekas sampai di terminal Bandung.
Karena dari terminal bus masih harus naik colt
omprengan untuk mencapai kampungnya. Bagi
Anita apapun yang bakal terjadi harus dihadapi
dengan perasaan tabah. Hampir sepanjang
perjalanan menuju ke kampung, ucapan Herman
senantiasa berdengung di telinganya. Kau harus
tabah. Harus tabah Anita. Rasa sebal dan ingin
muntah menumpuk di kerongkongannya. Betapa
melelahkan dan menjengkelkan selama di
perjalanan. Kalau saja Herman berada di
sampingnya mungkin saja perjalanan ini berubah
mengasyikkan.
Akhirnya dengan kejenuhan yang melelahkan
sampailah ke tempat tujuan. Anita bergegas turun
dari colt omprengan sambil menjinjing koper kecil.
Lama Anita termangu setelah colt10 omprengan itu
menjauh. Dengan sebuah andong Anita kemudian
menempuh perjalanan ke rumahnya. Sawah yang
membentang di kiri kanan jalan nampak kuning
keemasan. Gunung yang menjulang tinggi berwarna
hijau kebiruan monumen alam. Jalan-
jalan kampung yang sepi membuat perasaan jadi
tak enak. Lebih dirasakan sepi lagi oleh Anita,
selama di perjalananan kusir andong itu kebetulan
sangat pendiam. Atau mungkin merasa takut
mengajak omong-omong lantaran gadis yang naik
andong itu kelewat cantik.
10 Merk mobil angkutan umum buatan Amerika
Setelah andong memasuki kampung dimana
Anita lahir dan dibesarkan, satu dua orang
mengangguk pertanda mereka mengenalnya. Rasa
sepi yang sejak tadi dirasakan oleh Anita agak
sedikit terhibur. Namun tidaklah cukup untuk
diresapi. Semakin dekat ke rumah, semakin banyak
mata yang memperhatikan Anita. Dan lebih banyak
mulut yang saling berbisik membicarakan Anita.
Seorang perempuan setengah tua meludah didekat
andong yang melewatinya. Anita memejamkan
mata. Dia berusaha menahan goncangan perasaan
yang menggempur dadanya. Begitupun setelah
Anita mengetuk pintu rumah, kakinya gemetar.
Satu dua kali pintu rumah itu terus diketuknya.
Banyak pula tetangga kiri kanan rumahnya
memperhatikan sambil berbisik-bisik. Entah apa
pula yang mereka perbincangkan. Yang jelas mimik
merekasangat Sinis. Anita ingin cepat-cepat masuk
kedalam rumah. Untunglah pintu rumah itu segera
terbuka dan di hadapan Anita berdiri seorang gadis
berambut di-kelabang kuda.
"Lisa!." panggil Anita dengan mata berseri-
seri penuh kerinduan. Sesaat gadis itu memandang
Anita, kemudian mereka buru-buru saling
berpelukan erat.
"Kak Nita... " Gumam Lisa penuh keharuan.
"Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Anita lirih.
"Yah seperti apa yang kakak lihat. Ayo masuk kak."
Anita menuruti ajakan adiknya. Tetapi langkahnya
mendadak terhenti dan sekujur badannya dirasa
dingin ketika melihat seorang lelaki setengah tua
yang wajahnya sudah nampak keriput. Lelaki itu
baru saja keluar dari ruang tengah dengan langkah-
langkah mantap. Seolah-olah Anita menghadapi
monster yang menakutkan. Sekilas dia teringat
kepada Wibowo. Mata Anita terbelalak. Keringat
dingin membasahi sekujur tubuhnya. Nafas dan
denyut jantungnya bagai terenggut, putus rasanya.
Dan lelaki setengah tua berwajah keriput itu berdiri
tegak tak sampai dua meter di depan Anita.
Perasaan yang dialami oleh Anita tak jauh berbeda
dengan perasaan Lisa.
"Ayah..." seru Anita tertahan.
Sepasang matanya yang keriput menyipit
seketika. Tidak seperti apa yang dilihat Anita dua
tahun yang silam. Wajah ayahnya masih kelihatan
segar. Tetapi kini sudah berubah masam dan
menakutkan. Hampir-hampir Anita tidak percaya
dengan apa yang dilihatnya sekarang. Cepat Anita
ingin memeluk lelaki itu namun suara lelaki itu
terdengar menakutkan.
"Berhenti di situ..!"
"Ayah," Anita ta?jub.
"Siapa kau?!."
"Ayah... aku Anita." Suara Anita tercekam.
"Aku tak mengenalmu"
Pandangan mata lelaki itu hampa.
"Ayah!." Anita memekik.
"Pergilah jangan injak rumah ini lagi."
"Ayah aku adalah anakmu."
"Aku tidak mempunyai anak seperti kau!."
Anita langsung memeluk Lisa dan menangis
pilu di dalam pelukan adiknya itu. Ingin rasanya dia
menjerit sekuat-kuatnya. Ingin pula rasanya dia
menangis sepuas-puasnya. Betapa kejamnya
kenyataan yang telah berubah ini.
"Kak Nita...tabahkanlah hatimu." tutur Lisa.
"Ayah tidak lagi menganggapku sebagai
anaknya." Sahut Anita disela-sela isak tangisnya
yang pilu.
"Kau harus menyadari sepenuhnya jika
penyebabnya adalah kenyataan kak."
Anita melepaskan pelukannya dan menatap
ayahnya yang masih berdiri tegak di belakangnya.
Perlahan-lahan Anita merentangkan tangannya siap
memeluk ayahnya. Namun mata lelaki itu
membelalak lebar, menakutkan. Anita menurunkan
kembali tangannya perlahan-lahan. Bagai tak
mempunyai daya lagi. Dan dia mengerti semua
persoalan. Pengertian yang mengerikan dan
menakutkan.
"Ayah... aku sudah rindu sekali kepadamu."
Kata Anita dalam keluh kesah.
"Kau panggil aku ayah sedangkan aku tidak
pernah merasa mempunyai anak semacam kau!."
Bentak lelaki itu keras.
Bumi yang dipijak oleh Anita dirasa
berguncang. Tetapi Anita belum yakin bila ucapan
itu keluar dari hati sanubarinya yang tulus.
"Jangan ucapkan itu ayah." Rengek Anit* memelas.
"Sekali lagi kau berani memanggilku ayah,
aku akan menendangmu keluar!."
Lelaki setengah tua itu membentak dengan
wajah merah padam dan mata berapi-api. Tekad
Anita sudah bulat, bahwa dia rela berkorban demi
kedua orangtuanya. Bukankah sejak dahulu Anita
sudah menempuh kesemuanya itu? Dia lebih
merasa rela dipukul ayahnya dari pada Wibowo.
Maka keberanian Anita semakin bulat dan keras.
"Baiklah kalau kau tidak mau kupanggil ayah.
Dan aku menerima kenyataan bila saja tidak lagi
dianggap seorang anak. Tetapi aku datang kemari
untuk memberi tahu jika perkara Wibowo akan
disidangkan. Dan akulah yang menerima surat
panggilan dari kejaksaan untuk menjawab
persoalan." Kata Anita tegas.
Lelaki setengah tua itu mengkerutkan dahi
Pancaran matanya tidak lagi berapi-api seperti tadi.
Hampa dan kosong.