"Wibowo?.. Wibowo?..." gumamnya lirih.
Lelaki itu sepertinya mengingat sesuatu yang
hampir dilupakannya. Tiba-tiba dia membentak lagi.
"Jangan sebut nama b******n itu!."
Suara hentakkan itu menggetarkan jantung
Anita. Dan hampir pula menghentikan denyut
jantungnya. Suaranya hampir menyerupai geledek.
Anita tetap berusaha untuk menenangkan
perasaannya.
"Wibowo telah mati." Kata Anita datar.
"Apa??" Nada suara lelaki itu meninggi.
"Wibowo telah mati." Ulang Anita mantap.
Seketika meledaklah suara tawa lelaki itu.
Sungguh menakutkan suara tawa lelaki setengah
tua itu. Terbahak-bahdk selama dua menit hingga
sampai nafasnya hampir habis. Setelah terhenti
kelihatan menarik nafas berat. Dadanya di rasakan
sesak. Kemudian terbatuk-batuk.
"b******n itu telah mati... lalu apa maumu
datang datang kemari? menuntut aku?" Hardik
lelaki itu.
Anita menggigit bibirnya menahan gejolak
perasaannya yang tak bisa diungkapkan secara
visuil. Sebab dia tahu pula jika ayahnya tidak lagi
manusia normal. Begitupun ayahnya belum bisa
mengendali dirinya yang sesungguhnya. Lantas apa
yang akan dilakukannya? Hanya paling-paling Anita
menghela nafas panjang dan memandang ayahnya
dengan hampa.
"Katakan b*****h !" Lelaki itu menggeram
dan tanpa kompromi lagi tendangannya melayang
ke perut Anita. Gadis itu terhuyung-huyung
kebelakang. Lisa berusaha untuk menolong tetapi
keduanya jatuh ke lantai bersamaan. Rupanya tak
puas sampai disitu saja. Lelaki itu menarik tangan
Anita keluar dari rumah dan dilempar ke luar. Gadis
itu jatuh terhenyak di teras.
"Sekali lagi kau berani menginjak lantai
rumah ini, akan kubunuh!."
"Ooooooh kejam!." Rutuk Anita sembari
menangis pilu.
Sesaat kesepian yang mencekik kami. Dan
hanya terdengar suara isak tangis Anita dan Lisa.
Wajah lelaki tua itu penuh dendam dan kecewa
menatap Anita. Tetapi Anita tidak lagi perduli. Mati-
pun dia sudah rela. Namun lelaki itu tidak
melakukan tindakan lag! hanya membanting pintu
dengan keras dan sekaligus menguncinya. Detak-
detak anak kunci bagaikan geledek yang
menggelegar memecah bumi dan langit. 154
Segera Anita bangkit dan memukul gaun pintu
rumah itu berkali-kali dengan telapak tangannya
Pekikan histeris terdengar dari mulutnya penuh
penyesalan.
"Kejam! Kejaaam!."
Sebuah tangan memegang bahu Anita
lembut. Tangan itu tak lain adalah tangan Lisa yang
penuh keharuan. Tetapi Anita terus meronta seraya
menangis pilu.
"Sudahlah kak... sudahlah. Kau harus
menerima dengan penuh pengertian diri dan
ketabahan hati. Bukankah ayah kita tidak normal
pikirannya?"
Baru kemudian Anita menoleh dan
memandang wajah adiknya yang sendu. Wajah
seorang adik yang penuh kasih sayang dan
pengertian. Anita jadi sadar dan memeluk Lisa
penuh keharuan.
"Lisa... alangkah pahitnya kenyataan ini."
Gumam Anita pilu.
"Kita harus sanggup untuk menerima dengan
ikhlas kak. Mari kita kerurnah nenek. Di sana kau
dapac beristirahat dengan baik. Urung dulu maksud
tujuanmu sambil menunggu waktu yang tepat
untuk berbicara dengan ayah."
Anita menganggukkan kepalanya dengan
berat. Seberat hatinya meninggalkan rumah itu.
Kedua gadis itu berjalan menuju ke rumah
neneknya. Banyak mata tetangga yang mengawasi
mereka berlalu. Dan mata-mata mereka itu seakan-
akan mencibir diri Anita dan terkutuk. Sebetulnya
mereka tidak boleh menganggap diri Anita
demikian. Karena mereka sebetulnya tidak tahu apa
yang sebenarnya telah terjadi di dalam keluarga
Anita yang sebenarnya. Namun anggapan mereka
Anita-lah yang telah membuat ayahnya hingga
menderita gangguan jiwa. Biarlah semua mata
menghukumku dengan arti terkutuk. Asalkan saja di
mat"i Tuhan tidaklah terkutuk.
*** Anita berbaring diatas pembaringan reyot yang
terbuai dari bambu dan hanya beralaskan tikar pada
bagian tengahnya telah robek. Matanya masih
selalu berlinangan butiran air bening yang berkilau-
kilauan. Lisa duduk di tepi pembaringan juga turut
menangis. Sementara seorang perempuan tua
berwajah keriput memandangi Anita dengan penuh
belas kasih.
"Berhentilah menangis Nita." Kata
perempuan tua itu sambil terbatuk-batuk kecil.
"Ooooh nenek... mengapa semua ini harus
terjadi pada diriku?" Tanya Anita penuh keharuan.
"Tuhan telah mengaturnya cucuku. Apapun
yang telah terjadi bukanlah atas kehendak kita.
Terimalah dengan hati tabah." Tutur perempuan
tua itu sambil membelai rambut Anita penuh kasih
sayang. Elusan tangan perempuan tua itu semakin
dirasa oleh Anita menambali kepedihan hatinya.
Tangisnya semakin tersedu-sedu. Jari-jari nenek itu
memegang tanganku lantas ditempelkan di
dadanya. Denyut jantung itu seakan-akan tidak
bekerja lagi. Tetapi bisa dirasakan oleh Anita apa
yang terasa di d**a nenek itu. Anita menangis di-
haribaannya. Dan perempuan itu menyusul ikut
menangis pula.
"Selama ini kehidupan keluarga kita sangat
menderita Nita. Nenek tak bisa berbuat apa-apa
dengan kenyataan yang dialami ayahmu. Kalau saja
semua ini akan segera berakhir sebelum nenek
meninggal, alangkah gembirannya. Kemungkinan
mata nenek bisa tertutup rapat disaat
menghembuskan nafas terakhir." Ucap nenek itu
parau, tangannya yang kurus kering sekali lagi
membelai rambut Anita penuh kasih sayang.
"Kurasa semua persoalan kita semakin
memburuk nek." Sahut Anita sedih-sekali. Nenek itu
memandang wajah Anita yang kusut.
"Katakanlah apa yang telah terjadi Nita."
Tanya nenek itu,
"Minggu depan aku akan disidang mengenai
perkara mas Wibowo nek. Sudah pasti perkara ini
aktfn menyangkut juga diri ayah. Sedangkan
keadaan ayah sangat menyedihkan."
"Jadi pihak polisi telah mengetahui jejak
calon suamimu Nita."
"Yah, setelah kematiannya."
"Bagaimana polisi bisa tahu Nita?"
"Mas Wibowo ingin membunuhku disaat aku
akan melarikan diri. Bersama seorang pemuda yang
kucintai. Terjadilah kericuhan itu di terminal Cili-
litan. Mas Wibowo mengeluarkan pistolnya dan
terjadilah tembak menembak dengan petugas
keamanan. Akhirnya dia mati tertembak oleh
beberapa petugas itu. Walaupun dalam keadaan
sekarat, masih sempat menembak lenganku nek.
Dari kemasannya itu telah membongkar kejahatan
yang pernah dilakukan ole mya selama ini. Aku
takut ayah akan tertekan jiwanya semakin parah
bila saja harus tersangkut perkara ini." Tutur Anita.
"Oooooh Tuhan." Keluh perempuan tua itu.
"Maka dari itu aku datang kemari untuk
menemui ayah nek. Mungkin aku dapat berbincang-
bincang guna mengetahui persoalan yang
sebenarnya. Kalau saja aku tidak lebih dahulu
mendengar penjelasan yang sebenarnya, bisa-bisa
kami akan lebih celaka."