Ayah Yang Keras

901 Kata
"Wibowo?.. Wibowo?..." gumamnya lirih. Lelaki itu sepertinya mengingat sesuatu yang hampir dilupakannya. Tiba-tiba dia membentak lagi. "Jangan sebut nama b******n itu!." Suara hentakkan itu menggetarkan jantung Anita. Dan hampir pula menghentikan denyut jantungnya. Suaranya hampir menyerupai geledek. Anita tetap berusaha untuk menenangkan perasaannya. "Wibowo telah mati." Kata Anita datar. "Apa??" Nada suara lelaki itu meninggi. "Wibowo telah mati." Ulang Anita mantap. Seketika meledaklah suara tawa lelaki itu. Sungguh menakutkan suara tawa lelaki setengah tua itu. Terbahak-bahdk selama dua menit hingga sampai nafasnya hampir habis. Setelah terhenti kelihatan menarik nafas berat. Dadanya di rasakan sesak. Kemudian terbatuk-batuk. "b******n itu telah mati... lalu apa maumu datang datang kemari? menuntut aku?" Hardik lelaki itu. Anita menggigit bibirnya menahan gejolak perasaannya yang tak bisa diungkapkan secara visuil. Sebab dia tahu pula jika ayahnya tidak lagi manusia normal. Begitupun ayahnya belum bisa mengendali dirinya yang sesungguhnya. Lantas apa yang akan dilakukannya? Hanya paling-paling Anita menghela nafas panjang dan memandang ayahnya dengan hampa. "Katakan b*****h !" Lelaki itu menggeram dan tanpa kompromi lagi tendangannya melayang ke perut Anita. Gadis itu terhuyung-huyung kebelakang. Lisa berusaha untuk menolong tetapi keduanya jatuh ke lantai bersamaan. Rupanya tak puas sampai disitu saja. Lelaki itu menarik tangan Anita keluar dari rumah dan dilempar ke luar. Gadis itu jatuh terhenyak di teras. "Sekali lagi kau berani menginjak lantai rumah ini, akan kubunuh!." "Ooooooh kejam!." Rutuk Anita sembari menangis pilu. Sesaat kesepian yang mencekik kami. Dan hanya terdengar suara isak tangis Anita dan Lisa. Wajah lelaki tua itu penuh dendam dan kecewa menatap Anita. Tetapi Anita tidak lagi perduli. Mati- pun dia sudah rela. Namun lelaki itu tidak melakukan tindakan lag! hanya membanting pintu dengan keras dan sekaligus menguncinya. Detak- detak anak kunci bagaikan geledek yang menggelegar memecah bumi dan langit. 154 Segera Anita bangkit dan memukul gaun pintu rumah itu berkali-kali dengan telapak tangannya Pekikan histeris terdengar dari mulutnya penuh penyesalan. "Kejam! Kejaaam!." Sebuah tangan memegang bahu Anita lembut. Tangan itu tak lain adalah tangan Lisa yang penuh keharuan. Tetapi Anita terus meronta seraya menangis pilu. "Sudahlah kak... sudahlah. Kau harus menerima dengan penuh pengertian diri dan ketabahan hati. Bukankah ayah kita tidak normal pikirannya?" Baru kemudian Anita menoleh dan memandang wajah adiknya yang sendu. Wajah seorang adik yang penuh kasih sayang dan pengertian. Anita jadi sadar dan memeluk Lisa penuh keharuan. "Lisa... alangkah pahitnya kenyataan ini." Gumam Anita pilu. "Kita harus sanggup untuk menerima dengan ikhlas kak. Mari kita kerurnah nenek. Di sana kau dapac beristirahat dengan baik. Urung dulu maksud tujuanmu sambil menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan ayah." Anita menganggukkan kepalanya dengan berat. Seberat hatinya meninggalkan rumah itu. Kedua gadis itu berjalan menuju ke rumah neneknya. Banyak mata tetangga yang mengawasi mereka berlalu. Dan mata-mata mereka itu seakan- akan mencibir diri Anita dan terkutuk. Sebetulnya mereka tidak boleh menganggap diri Anita demikian. Karena mereka sebetulnya tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam keluarga Anita yang sebenarnya. Namun anggapan mereka Anita-lah yang telah membuat ayahnya hingga menderita gangguan jiwa. Biarlah semua mata menghukumku dengan arti terkutuk. Asalkan saja di mat"i Tuhan tidaklah terkutuk. *** Anita berbaring diatas pembaringan reyot yang terbuai dari bambu dan hanya beralaskan tikar pada bagian tengahnya telah robek. Matanya masih selalu berlinangan butiran air bening yang berkilau- kilauan. Lisa duduk di tepi pembaringan juga turut menangis. Sementara seorang perempuan tua berwajah keriput memandangi Anita dengan penuh belas kasih. "Berhentilah menangis Nita." Kata perempuan tua itu sambil terbatuk-batuk kecil. "Ooooh nenek... mengapa semua ini harus terjadi pada diriku?" Tanya Anita penuh keharuan. "Tuhan telah mengaturnya cucuku. Apapun yang telah terjadi bukanlah atas kehendak kita. Terimalah dengan hati tabah." Tutur perempuan tua itu sambil membelai rambut Anita penuh kasih sayang. Elusan tangan perempuan tua itu semakin dirasa oleh Anita menambali kepedihan hatinya. Tangisnya semakin tersedu-sedu. Jari-jari nenek itu memegang tanganku lantas ditempelkan di dadanya. Denyut jantung itu seakan-akan tidak bekerja lagi. Tetapi bisa dirasakan oleh Anita apa yang terasa di d**a nenek itu. Anita menangis di- haribaannya. Dan perempuan itu menyusul ikut menangis pula. "Selama ini kehidupan keluarga kita sangat menderita Nita. Nenek tak bisa berbuat apa-apa dengan kenyataan yang dialami ayahmu. Kalau saja semua ini akan segera berakhir sebelum nenek meninggal, alangkah gembirannya. Kemungkinan mata nenek bisa tertutup rapat disaat menghembuskan nafas terakhir." Ucap nenek itu parau, tangannya yang kurus kering sekali lagi membelai rambut Anita penuh kasih sayang. "Kurasa semua persoalan kita semakin memburuk nek." Sahut Anita sedih-sekali. Nenek itu memandang wajah Anita yang kusut. "Katakanlah apa yang telah terjadi Nita." Tanya nenek itu, "Minggu depan aku akan disidang mengenai perkara mas Wibowo nek. Sudah pasti perkara ini aktfn menyangkut juga diri ayah. Sedangkan keadaan ayah sangat menyedihkan." "Jadi pihak polisi telah mengetahui jejak calon suamimu Nita." "Yah, setelah kematiannya." "Bagaimana polisi bisa tahu Nita?" "Mas Wibowo ingin membunuhku disaat aku akan melarikan diri. Bersama seorang pemuda yang kucintai. Terjadilah kericuhan itu di terminal Cili- litan. Mas Wibowo mengeluarkan pistolnya dan terjadilah tembak menembak dengan petugas keamanan. Akhirnya dia mati tertembak oleh beberapa petugas itu. Walaupun dalam keadaan sekarat, masih sempat menembak lenganku nek. Dari kemasannya itu telah membongkar kejahatan yang pernah dilakukan ole mya selama ini. Aku takut ayah akan tertekan jiwanya semakin parah bila saja harus tersangkut perkara ini." Tutur Anita. "Oooooh Tuhan." Keluh perempuan tua itu. "Maka dari itu aku datang kemari untuk menemui ayah nek. Mungkin aku dapat berbincang- bincang guna mengetahui persoalan yang sebenarnya. Kalau saja aku tidak lebih dahulu mendengar penjelasan yang sebenarnya, bisa-bisa kami akan lebih celaka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN