Perempuan tua itu menghela nafas berat. Pancaran
matanya memandang keluar dengan kosong.
"Kurasa ayahmu tidak mungkin lagi berkata
seperti apa yang kau harapkan. Dia susah untuk
berbicara yang dapat ditanggapi oleh pikiran Nita.
Sebab kadang-kadang dia lupa siapa dirinya. Apalagi
harus menceritakan semua kejadian di masa lalu.
"Kak Nita, sebaiknya kakak mencari
seseorang yang mampu membela perkara ini." Sela
Lisa yang gelisah.
Anita mengalihkan pandangan kearah Lisa.
"Hal itu bisa saja aku lakukan Lisa. Tetapi
bagaimana mungkin aku bisa menang jika belum
tahu persoalan yang sebenarnya?" Lisa dan
perempuan tua itu tercenung.
"Bagaimana supaya aku dapat berbicara
dengan ayah sebagai dahulu kala nek. Tolonglah
aku nek."
"Yah...yah, aku akan berusaha membujuk
ayahmu dengan cara halus supaya dia bisa
menemukan dirinya yang sebenarnya. Setelah itu
baru kesempatan itu bisa kau peroleh Nita." Kata
perempuan tua itu sambil manggut-manggut.
"Usahakanlah nek. Usahakanlah agar ayah
mau menemuiku dan berbicara soal ini. Tanpa
penjelasan ayah pasti akan kutemui kehancuran.
Kita semua akan lebih disiksa oleh keadaan yang
sebenarnya tidak kita inginkan."
"Semoga Tuhan akan memberikan
pertolongan kepada kita Nita." Ucap perempuan
tua itu sembari berdoa.
"Sekarang hentikanlah menangismu Nita.
Tidak cukup hanya dengan air matamu semua
persoalan ini bisa terselesaikan."
Anita menurut perintah neneknya. Air mata
yang membasahi pipinya dihapus pelan. Bagaimana
pedihnya hati ini, biarlah tersembunyi di bilik
jantungku. Asalkan siksaan batin tidak akan datang
lagi menimpa seluruh keluargaku. Cepatlah kabut
suram ini berlalu sebelum kebahagiaan sejati
datang membalut perasaanku. Demikian kata hati
Anita sembari menghapus air matanya.
*** Perasaan tenang yang sesaat sempat menyejukkan
Anita, terenggut seketika diwaktu memasuki rumah
ayahnya. Sepasang mata menyorot tajam dan buas.
Bagaikan copot rasanya jantung Anita ketika dik
sadar yang berdiri tegak itu adalah ayahnya. Nenek
Katijah mencoba menutupi sorotan mata Ayah
Anita dengan seulas senyuman yang pasrah.
Sementara Lisa yang berdiri di sebelah ayahnya
menggigil ketakutan. Sebentar-sebentar tatapan 161
matanya berpindah dari ayahnya beralih ke Anita.
Lisa menangkap dalam penglihatannya jika wajah
Anita pucat pias.
"Rustam, mak datang." Kata nenek itu lunak.
Lelaki setengah tua itu hanya tersenyum
kecut. Pancaran matanya masih hampa menatap
kehadiran seorang perempuan tua yang kurus
kering itu. Kemudian perempuan tua itu meraih
tangan Rustam dan dibimbingnya ke kamar. Anita
dan Lisa mengikuti dari belakang. Nenek Ijah
mengajak Rustam duduk di sisi pembaringan.
dangkan Anita dan Lisa duduk di kursi berhadapan
dengan mereka. Nenek Ijah kemudian
mengeluarkan beberapa lembar foto yang
warnanya sudah kusam. Sengaja nenek Ijab
membawanya dari rumah untuk mengingatkan
kenangan di masa silam.
"Kau masih mengenali foto ini Rus?" Kata
nenek Ijah sembari memperlihatkan foto-foto itu
kepada Rustam.
"Siapakah ini Mak?" Tanya Rustam bengong.
"Anak kecil ini adalah kau Rustam. Dan yang
memangku anak kecil itu adalah mak. Sedangkan
yang berdiri disebelah mak itu ayahmu. Apakah kau
masih ingat masa kecilmu yang nakal Rus?"
"Aku nakal mak?" Tanya Rustam seperti anak
kecil yang bodoh.
"Nakalnya bukan main Rus, Sering kau
mencuri mangga di rumah tuan Helm mandor
perkebunan karet itu. Lantas melempar kaca rumah
opsir Belanda sampai ayahmu dituntut untuk
mengganti."
"Ya... aku masih ingat mak. Malah aku pernah
membunuh opsir Belanda."
"Betul...betul...ah, teruskanlah kau
mengingat masa kecilmu Rus. Mak, senang sekali...
senang sekali." Ucap nenek Ijah sambil terbatuk-
batuk. Senyuman perempuan itu terukir di
wajahnya yang telah keriput. Dia merasa senang
bila Rustam dapat mengenang kembali masa
lalunya. Pasti dia akan menemukan dirinya sendiri
yang selama ini kabur dalam kehampaan. Dalam
kecamuk pikiran yang kacau.
"Coba kau lihat foto yang satunya ini Rus"
Kata nenek Ijah sembari menyodorkan foto yang
bergambar seorang gadis manis.
"Siapakah ini Mak?"
"Ini seorang gadis desa yang manis. Di masa
remajanya pernah menjadi kembang di desa ini.
Siapa lagi kalau bukan Yati." Kata nenek Ijah
menjelaskan.
"Oh cantiknya ya mak?" Sahut Rustam sambil
tersenyum.
Anita dan Lisa jadi ikut tersenyum seraya
membuang muka. Mereka takut kalau dikira
menertawakan kelakuan ayahnya yang seperti
remaja masih ingusan.
"Itu kan istrimu Rustam." Nenek Ijah
menimpali.
"Ini istriku mak? Waaah cantiknya..." Kata
Rustam dengan dibarengi tawanya berderai.
Perlakuan lelaki setengah tua itu telah membuat
kedua anaknya jadi ikut tertawa. Namun saja
tertawa Anita dan Lisa di balik sapu tangan yang
menutupi bibirnya masing-masing.
"Di mana dia sekarang mak?"
"Sekarang dia tinggal di Jakarta."
"Di Jakarta?"
"Yah... Kota yang terkenal dengan tugu
MONAS nya. Kau masih ingat bukan?"
Rustam manggut-manggut. Nenek Ijah
memperlihatkan lagi foto yang lainnya. Sepasang
pengantin yang duduk di kursi penuh kebahagiaan.
"Siapakah kedua pengantin ini mak?"
"Kau dan Yati."
"Alangkah cantiknya istriku disaat
mengenakan gaun pengantin." Gumam Rustam.
Nenek Ijah tersenyum lagi.
"Kau masih ingat kebahagiaan yang kau
rasakan waktu itu Rustam?"
"Yah... yah... aku benar-benar bahagia waktu itu."
Nenek Ijah menyodorkan lagi sebuah foto
seorang bayi yang tidur tengkurep. Bayi itu cantik
dan lucu sekali.
"Beberapa tahun kemudian setelah
perkawinanmu berlangsung, lahirlah seorang anak
perempuan yang cantik dan lucu. Mak waktu itu
tahu betul jika rumah tanggamu begitu bahagia
setelah lahirnya si kecil ini. Kemudian anakmu yang
pertama kau beri nama Anita Rustam. Sejak
lahirnya Anita kemajuan dalam usahamu semakin
meningkat. Lantas kau boyong istri dan anakmu ke
Jakarta demi karier. Dan ini fotomu bersama istri
dan anakmu." Nenek Ijah memperlihatkan lagi foto
lainnya. Rustam memeluk pundak istrinya
sedangkan Anita berdiri di tengah-tengahnya.
Rustam tersenyum melihat foto itu.
"Selang dua tahun kemudian lahiriah seorang
anak perempuan lagi. Lalu kau berikan nama
kepada anakmu yang kedua itu Lisa Rustam. Dan ini
fotonya di waktu masih bayi."