Lisa Rustam

883 Kata
Perempuan tua itu menghela nafas berat. Pancaran matanya memandang keluar dengan kosong. "Kurasa ayahmu tidak mungkin lagi berkata seperti apa yang kau harapkan. Dia susah untuk berbicara yang dapat ditanggapi oleh pikiran Nita. Sebab kadang-kadang dia lupa siapa dirinya. Apalagi harus menceritakan semua kejadian di masa lalu. "Kak Nita, sebaiknya kakak mencari seseorang yang mampu membela perkara ini." Sela Lisa yang gelisah. Anita mengalihkan pandangan kearah Lisa. "Hal itu bisa saja aku lakukan Lisa. Tetapi bagaimana mungkin aku bisa menang jika belum tahu persoalan yang sebenarnya?" Lisa dan perempuan tua itu tercenung. "Bagaimana supaya aku dapat berbicara dengan ayah sebagai dahulu kala nek. Tolonglah aku nek." "Yah...yah, aku akan berusaha membujuk ayahmu dengan cara halus supaya dia bisa menemukan dirinya yang sebenarnya. Setelah itu baru kesempatan itu bisa kau peroleh Nita." Kata perempuan tua itu sambil manggut-manggut. "Usahakanlah nek. Usahakanlah agar ayah mau menemuiku dan berbicara soal ini. Tanpa penjelasan ayah pasti akan kutemui kehancuran. Kita semua akan lebih disiksa oleh keadaan yang sebenarnya tidak kita inginkan." "Semoga Tuhan akan memberikan pertolongan kepada kita Nita." Ucap perempuan tua itu sembari berdoa. "Sekarang hentikanlah menangismu Nita. Tidak cukup hanya dengan air matamu semua persoalan ini bisa terselesaikan." Anita menurut perintah neneknya. Air mata yang membasahi pipinya dihapus pelan. Bagaimana pedihnya hati ini, biarlah tersembunyi di bilik jantungku. Asalkan siksaan batin tidak akan datang lagi menimpa seluruh keluargaku. Cepatlah kabut suram ini berlalu sebelum kebahagiaan sejati datang membalut perasaanku. Demikian kata hati Anita sembari menghapus air matanya. *** Perasaan tenang yang sesaat sempat menyejukkan Anita, terenggut seketika diwaktu memasuki rumah ayahnya. Sepasang mata menyorot tajam dan buas. Bagaikan copot rasanya jantung Anita ketika dik sadar yang berdiri tegak itu adalah ayahnya. Nenek Katijah mencoba menutupi sorotan mata Ayah Anita dengan seulas senyuman yang pasrah. Sementara Lisa yang berdiri di sebelah ayahnya menggigil ketakutan. Sebentar-sebentar tatapan 161 matanya berpindah dari ayahnya beralih ke Anita. Lisa menangkap dalam penglihatannya jika wajah Anita pucat pias. "Rustam, mak datang." Kata nenek itu lunak. Lelaki setengah tua itu hanya tersenyum kecut. Pancaran matanya masih hampa menatap kehadiran seorang perempuan tua yang kurus kering itu. Kemudian perempuan tua itu meraih tangan Rustam dan dibimbingnya ke kamar. Anita dan Lisa mengikuti dari belakang. Nenek Ijah mengajak Rustam duduk di sisi pembaringan. dangkan Anita dan Lisa duduk di kursi berhadapan dengan mereka. Nenek Ijah kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto yang warnanya sudah kusam. Sengaja nenek Ijab membawanya dari rumah untuk mengingatkan kenangan di masa silam. "Kau masih mengenali foto ini Rus?" Kata nenek Ijah sembari memperlihatkan foto-foto itu kepada Rustam. "Siapakah ini Mak?" Tanya Rustam bengong. "Anak kecil ini adalah kau Rustam. Dan yang memangku anak kecil itu adalah mak. Sedangkan yang berdiri disebelah mak itu ayahmu. Apakah kau masih ingat masa kecilmu yang nakal Rus?" "Aku nakal mak?" Tanya Rustam seperti anak kecil yang bodoh. "Nakalnya bukan main Rus, Sering kau mencuri mangga di rumah tuan Helm mandor perkebunan karet itu. Lantas melempar kaca rumah opsir Belanda sampai ayahmu dituntut untuk mengganti." "Ya... aku masih ingat mak. Malah aku pernah membunuh opsir Belanda." "Betul...betul...ah, teruskanlah kau mengingat masa kecilmu Rus. Mak, senang sekali... senang sekali." Ucap nenek Ijah sambil terbatuk- batuk. Senyuman perempuan itu terukir di wajahnya yang telah keriput. Dia merasa senang bila Rustam dapat mengenang kembali masa lalunya. Pasti dia akan menemukan dirinya sendiri yang selama ini kabur dalam kehampaan. Dalam kecamuk pikiran yang kacau. "Coba kau lihat foto yang satunya ini Rus" Kata nenek Ijah sembari menyodorkan foto yang bergambar seorang gadis manis. "Siapakah ini Mak?" "Ini seorang gadis desa yang manis. Di masa remajanya pernah menjadi kembang di desa ini. Siapa lagi kalau bukan Yati." Kata nenek Ijah menjelaskan. "Oh cantiknya ya mak?" Sahut Rustam sambil tersenyum. Anita dan Lisa jadi ikut tersenyum seraya membuang muka. Mereka takut kalau dikira menertawakan kelakuan ayahnya yang seperti remaja masih ingusan. "Itu kan istrimu Rustam." Nenek Ijah menimpali. "Ini istriku mak? Waaah cantiknya..." Kata Rustam dengan dibarengi tawanya berderai. Perlakuan lelaki setengah tua itu telah membuat kedua anaknya jadi ikut tertawa. Namun saja tertawa Anita dan Lisa di balik sapu tangan yang menutupi bibirnya masing-masing. "Di mana dia sekarang mak?" "Sekarang dia tinggal di Jakarta." "Di Jakarta?" "Yah... Kota yang terkenal dengan tugu MONAS nya. Kau masih ingat bukan?" Rustam manggut-manggut. Nenek Ijah memperlihatkan lagi foto yang lainnya. Sepasang pengantin yang duduk di kursi penuh kebahagiaan. "Siapakah kedua pengantin ini mak?" "Kau dan Yati." "Alangkah cantiknya istriku disaat mengenakan gaun pengantin." Gumam Rustam. Nenek Ijah tersenyum lagi. "Kau masih ingat kebahagiaan yang kau rasakan waktu itu Rustam?" "Yah... yah... aku benar-benar bahagia waktu itu." Nenek Ijah menyodorkan lagi sebuah foto seorang bayi yang tidur tengkurep. Bayi itu cantik dan lucu sekali. "Beberapa tahun kemudian setelah perkawinanmu berlangsung, lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Mak waktu itu tahu betul jika rumah tanggamu begitu bahagia setelah lahirnya si kecil ini. Kemudian anakmu yang pertama kau beri nama Anita Rustam. Sejak lahirnya Anita kemajuan dalam usahamu semakin meningkat. Lantas kau boyong istri dan anakmu ke Jakarta demi karier. Dan ini fotomu bersama istri dan anakmu." Nenek Ijah memperlihatkan lagi foto lainnya. Rustam memeluk pundak istrinya sedangkan Anita berdiri di tengah-tengahnya. Rustam tersenyum melihat foto itu. "Selang dua tahun kemudian lahiriah seorang anak perempuan lagi. Lalu kau berikan nama kepada anakmu yang kedua itu Lisa Rustam. Dan ini fotonya di waktu masih bayi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN