Setelah cek out, Hans tidak berniat segera ke Jakarta, tetapi ia justru kembali ke rumah Leon dan Lita.
Kembalinya Hans ke sana bukan untuk mengawasi seperti kemarin-kemarin, melainkan ingin dekat dengan adik-kakak itu, guna memastikan Lita tetap mempertahankan kehamilannya dan tidak bertindak bodoh lagi seperti tadi saat sedang sendiri. Jika ia harus menjadi saudara untuk mereka berdua pun, tidak masalah baginya. Karena memang secara pribadi, dirinya tidak punya masalah.
Selain itu, Hans juga ingin tahu, apa alasan Leon meninggalkan Yusna, jika memang benar Leon meninggalkannya, atau mungkin hanya sekedar menjauh, tetapi Yusna tidak mau. Karena ia juga menaruh curiga pada Jevian. Pasalnya yang ia tahu, satu minggu sebelum Yusna nekat bunuh diri, Tuan besarnya itu sempat menemui Leon dan ikut campur hubungan anak gadisnya.
“Leon, beberapa kali aku melihatmu bersama Yusna, dan dari semua cerita dia, yang aku tahu kamu sangat mencintainya, jadi, caraku menyelidiki tidak akan tergesah-gesah seperti Adrian. Aku harus menjadi teman dekat dan perlahan mecaritahu alasanmu meninggalkan Yusna yang menjadi awal semua musibah yang menimpa keluargamu," ucap Hans.
•••••
Saat ini Lita dan Leon sedang duduk bersama di dalam bus tujuan Jakarta. Dua kursi di belakang mereka ada Hans yang sejak mereka pergi dari rumah, selalu mengikuti dengan terus memakai topi untuk menutupi sebagian wajahnya.
Dua jam setengah perjalanan, Hans berkali-kali mengantuk, bahkan sampai termangguk, tetapi sebisa mungkin ia tahan untuk tidak tidur agar tahu di mana Leon dan Lita turun dari bus, karena ia belum tahu di mana tempat tinggal Leon di Jakarta.
Dan ketika bus yang mereka naiki sudah tiba di Terminal Kampung Rambutan, Hans langsung berdiri untuk mengikuti adik-kakak itu.
Setelah turun dari bus, Hans melihat Lita duduk istirahat di salah satu kursi, lalu Leon pergi ke toko tidak jauh dari Lita duduk untuk membeli minuman.
Tadinya mata Hans hanya fokus pada Leon, tapi saat melihat seseorang duduk tepat di samping Lita dengan gerak dan lirikan mecurigakan, matanya langsung fokus hanya pada Lita.
“Brengsekk!!” umpat Hans saat satu tangan orang asing itu perlahan membuka tas ransel Leon tanpa Lita sadari karena dia sedang fokus pada kakanya, padahal tas itu ada dalam pangkuanya.
Hans langsung berjalan menghampiri Lita dan duduk tepat di samping orang mencurigakan itu. “Keluarkan tanganmu dari tas itu!” bisik Hans, tegas.
Pria itu langsung mengeluarkan tangannya dari tas Leon, tetapi sambil menepuk bahu Lita, mulutnya mengucapkan kata yang membuat Hans tersenyum kecut.
“Mbak, hati-hati! Orang ini mau mencuri barang-barangmu. Jangan duduk dekat dia, Mbak!” ucapnya lalu pergi begitu saja.
Lita langsung menatap Hans penuh waspada dan sedikit menjauh sambil mengeratkan pelukan pada tas Leon. “Berani menyentuh barang-barangku dan kakakku, aku akan lapor polisi!” ancamnya
“Tidak, tidak! Aku tidak ingin mencuri barang-barangmu. Justru orang itu yang ingin mencuri tadi,” elak Hans.
“Dasar orang licik, sudah tertangkap basah malah menuduh orang lain,” tuduh Lita.
Hans berusaha tersenyum menanggapi tuduhan Lita, tetapi hatinya berkata, “Bagaimana bisa dia percaya aku ingin mencuri barang-barangnya? Jelas-jelas posisiku dengannya, terhalang orang tadi.”
Saat Leon kembali dengan membawa minuman di tangannya, Lita langsung berdiri untuk mengadu. “Kak, jangan dekat-dekat orang ini, tadi dia ingin mencuri barang-barang kita.”
Leon langsung melirik orang yang mengganggu adiknya. Saat melihat wajah Hans, Leon mengerutkan kening untuk mengingat-ingat wajah pria yang asing baginya itu.
Hans bingung untuk menunjukkan wajahnya atau tidak, khawatir ia mengenali dirinya sebagai sopir pribadi Yusna, meskipun mereka tidak pernah bertemu secara langsung, tetapi Hans takut Yusna sering menceritakan dirinya pada Leon.
“Bukankah kamu orang yang semalam menolong kami?” tanya Leon.
“Menolong?” Hans balik bertanya agar terkesan ia belum pernah melihat Lita dan Leon sebelumnya.
“Iya. Semalam kamu membantu memegangi kaki adikku yang ingin bunuh diri.”
Beberapa detik Hans melirik ke segala arah agar terlihat berpikir. “Ah … jadi kalian adik-kakak itu?” ujarnya.
"Iya, kami orang yang semalam kamu tolong.” Leon langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hans. “Terima kasih sudah menolong kami.”
Hans membalas uluran tangan Leon dan merasa lega karena Leon tidak mengenali dirinya sebagai sopir Yusna. “Sama-sama. Aku senang bisa menolong orang lain.”
Lita masih menatap Hans dengan curiga karena awal perkenalan dengan Edo, ia jadikan pengalaman buruk bertemu orang asing hingga tidak mau langsung percaya dan bersikap baik pada orang yang baru ia kenal. Jadi, bukanya ikut berterima kasih, ia malah buru-buru menarik tangan kakaknya yang masih berjabat tangan agar menjauh dari Hans.
“Kak, jangan langsung akrab dengannya! Mungkin saja semalam dia ingin mencuri di rumah kita, tapi kebetulan aku ingin bunuh diri, jadi dia malah menolong,” tuduhnya.
Lagi, Hans dibuat tersenyum dengan tuduhan Lita. “Rumah kalian hanya terbuat dari bilik bambu dan tidak ada barang mewah di dalamnya selain televisi layar cembung, jadi apa yang mau aku curi?” garutunya membatin.
“Lita, tidak boleh bicara seperti itu pada orang yang menolong kita!” tegur Leon.
“Coba Kakak tanyakan pada dia, kenapa dia bisa tiba-tiba menolong?”
“Semalam aku kebetulan melintas di depan rumah kalian dan tidak sengaja menoleh hingga langsung melihat tubuh yang berdiri di atas kursi dengan leher terikat tali. Aku panik karena ada yang melakukan percobaan bunuh diri, jadi aku langsung berlari untuk menolong.”
Lita menarik nafas saat kebohongan Hans masuk di akalnya. Ia langsung merubah wajah kesalnya dengan senyum ramah dan tangannya terulur untuk menjabat tangan Hans. “Kalau begitu, terima kasih sudah menolongku.”
“Sama-sama,” balas Hans sambil membalas uluran tangan Lita.
Jika Lita percaya dengan mudah kebohongan Hans, Leon justru merasa aneh pada ucapannya. Pasalnya, semalam ia dengan jelas melihat Hans keluar dari mobil yang sudah dua minggu selalu terpakir di depan rumahnya, tetapi Hans bilang sedang melintas, yang berarti sedang tidak diam di tempat.
“Kenapa dia bilang melintas? Jelas-jelas mobilnya semalam hanya diam saja. Bahkan sejak aku pergi dari rumah,” pikir Leon.
“Kalau begitu, kamu juga bukan orang Jakarta asli, ya?” tanya Lita yang langsung membuyarkan lamunan Leon.
“Iya, aku pendatang baru dan belum tahu banyak tentang kota Jakarta.” Hans sengaja berbohong agar Leon dan Lita mau membantunya sebagai perantau yang butuh arahan dari orang yang lebih tahu, agar ini menjadi jalan untuk dekat dengan mereka.
“Itu berarti, kamu belum memiliki tempat tinggal di sini?” tanya Leon.
“Iya. Ini hari pertamaku tiba di Jakarta, jadi hari ini aku baru akan mencari tempat tinggal.”
“Kebetulan sekali, di dekat tempat kost-ku ada beberapa yang kosong. Mungkin kamu bisa tinggal di sana untuk sementara atau sampai kamu menemukan tempat yang lain. Biaya sewanya juga tidak terlalu mahal,” usul Leon.
“Iya. Tinggal di sana saja dan jadi temanku selama kamu belum mendapat pekerjaan, karena aku juga menganggur,” timpal Lita semangat.
Hans tentu langsung mau karena memang itu tujuannya. Ia rela tidak tinggal di rumah orang tuanya lagi dan berangkat kerja setiap hari dari kostan Leon ke rumah Adrian, asal bisa dekat dengan mereka dan memastikan Lita menjaga kandungannya dengan baik.
“Baiklah. Aku akan ikut kalian. Aku juga belum punya teman di sini,” balas Hans.
“Kalau begitu siapa namamu?” tanya Lita sambil mengulurkan tangannya lagi sebagai perkenalan.
“Namaku Hans,” balas Hans.
“Aku Arlita, panggilanku Lita.”
Leon juga ikut mengulurkan tangannya sebagai perkenalan. “Aku Leon," ucapanya saat berjabat tangan dengan Hans
“Hans, Kakakku ini calon dokter umum, jadi kalau kamu sakit, tidak perlu memikirkan biaya, langsung konsultasi saja padanya, jika penyakitmu ringan, kakakku pasti bisa mengobati,” gurau Lita yang langsung membuat Leon dan Hans tersenyum.
“Lita, sepertinya Hans tidak seumuran denganmu, jadi jangan panggil dia namanya saja,” tegur Leon.
“Memangnya berapa usiamu?” tanya Lita.
“Dua puluh delapan tahun,” balas Hans.
“Iya benar, kamu satu tahun lebih tua dari kakakku. Kalau begitu aku panggil Kak Hans saja, bagaimana?” usul Lita.
“Terserah kamu saja. Mau memanggil namaku pun, tidak masalah.”
“Itu sangat tidak sopan. Bapak-ibuku bilang, tidak boleh memanggil orang yang lebih tua hanya menggunakan namanya saja.”
“Baiklah,” balas Hans.
Ketiganya terus berbincang mengakrabkan diri dan Loen membuang rasa curiganya jauh-jauh saat merasa Hans bukan orang jahat yang patut dicurgai.
Kemudian saat tenaga Lita sudah pulih kembali, ketiganya pergi dari terminal menuju tempat tinggal Leon dengan menaiki angkutan umum yang sama.
•••••
Adrian membuka mata saat waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, itu pun karena ibunya membangunkan lima manit lalu, jika tidak mungkin ia masih tidur sampai sore nanti.
Adrian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan ia ingin langsung menemui kakaknya. Semalam ia tiba di rumah pukul dua dini hari, jadi tikut mengganggu tidur Yusna jika mendatangi saat itu juga.
Setengah jam kemudian, Adrian keluar kamar menuju kamar Yusna, tetapi langkahnya terhenti sebelum sampai ke tujuan saat Vini memanggilnya.
“Adrian, mau ke mana? Mamah menunggumu di meja makan sejak tadi,” tanya Vini lembut sambil menghampiri anaknya.
“Aku ingin ke kamar Kak Yusna.”
“Tidak mau makan dulu?”
“Nanti, Mah.” Adrian kembali melangkah menuju kamar Yusna, tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya lagi lalu menghadap ibunya. “Mah, apa kondisi Kak Yusnah sudah lebih baik setelah dirawat di rumah?”
Vini menghela nafas berat sebelum menjawab, “Mamah tidak tahu perubahan kakakmu itu lebih baik, lebih buruk, atau sama saja.”
Adrian mengerutkan kening keheranan saat melihat wajah sendu ibunya yang tiba-tiba. “Ada apa, Mah?” selidiknya.
“Di minggu pertama kakakmu pulang ke sini, dia memang sudah tidak pernah histeris lagi, bahkan sudah tiga minggu Mamah dan Papah sepakat tidak memborgol dia lagi di tempat tidur, tetapi sekarang kakakmu itu hanya diam melamun dengan tatapan kosong. Dia juga tetap tidak memberikan respon sama sekali pada siapa pun yang menjenguknya.”
Kini, giliran Adrian yang menghela nafas berat setelah mendengar cerita ibunya. “Aku ingin melihat Kak Yusna sekarang,” pamitnya.
“Tunggu!” Vini langsung menahan lengan anaknya yang mau melangkah lagi. “Bagaimana pencarianmu selama tiga bulan di Bandung? Apa sudah menemukan pria Bernama Leon?”
“Belum, Mah. Dia cukup sulit dicari karena kita tidak punya petunjuk apa pun,” bohong Adrian karena tidak mau sampai Leon masuk ke dalam kehidupan kakaknya lagi.
“Bukankah waktu itu Papah memberitahu siapa teman dekat Yusna yang tahu tentang Leon?”
“Iya. Jani, teman Kak Yusna itu hanya tahu tentang Leon di kampus dan sebagai kekasih Kak Yusna, selebihnya dia tidak tahu alamat Leon baik di Jakarta ataupun di Bandung.”
“Padahal Mamah berharap kamu bisa menemukan dia karena Mamah yakin hanya dia yang bisa membuat Kakakmu sembuh.”
“Dia penyebab Kak Yusna depresi hingga gangguan jiwa, mana mungkin dia bisa membuat Kak Yusna seperti sedia kala. Mempertemukan pria berengsek itu dengan Kak Yusna bukanlah jalan terbaik, yang ada dia pasti mentertawakan keadaan Kak Yusna sekarang.”
“Paling tidak kita bisa mengetahui penyebab pasti alasan pria bernama Leon itu meninggalkan kakakmu dan kita akan memintanya untuk menjalin hubungan lagi dengan Yusna, lalu dia bisa meninggalkan Yusna secara perlahan saat kondisi mental Yusna sudah membaik.”
“Mamah ingin kita mengemis pada pria itu?”