Pertolongan Hans

1881 Kata
Lita langsung berdiri mengunci pintu, lalu berlari ke dapur untuk mencari tali yang mampu menahan bobot tubuhnya. Tetapi, tiga menit mencari dan mengacak-acak seisi dapur, ia tidak menemukan tali yang kuat dan besar. “Bukankah Ibu sering menyimpan berbagai tali untuk mengikat kayu bakar?” ujar Lita. Dari dapur Lita berlari menuju kamarnya dan kamar Leon untuk menjadikan selimut keduanya sebagai kain yang bisa menggantung tubuhnya. “Ck! Kedua selimut ini terlalu tebal!” ujarnya. Saat akan masuk ke kamar ibu dan ayahnya, Lita melihat kain pengganti gorden di jendela yang menurutnya tidak tebal dan tidak tipis juga. Ia langsung menarik kain itu lalu mengukur panjangnya dan tinggi kayu balok di langit-langit rumah yang memang tidak terlalu tinggi. “Ini cukup panjang dan cukup kuat,” ujarnya. Kemudian Lita menyusun satu bangku kayu di atas meja di ruang depan dan naik perlahan lalu melempar salah satu ujung kain ke kayu balok untuk ia ikat. Lemparan pertama gagal saat ujung kain hanya sedikit menyetuh balok. “Aku harus lompat lebih tinggi!” ujarnya. Kemudian Lita mencoba melempar kain lebih kencang dengan lompatan lebih tinggi. “Yes!” serunya saat kain yang ia lempar berhasil mengait di balok yang akan menahan bobot tubuhnya. “Ibu, Bapak, kita akan bertemu. Kak Leon, maafkan Lita karena sudah meninggalkan Kakak sendirian,” ucapnya saat mengikat kain ke lehernya. Sejak Lita menyusun kursi ke atas meja di ruang tamu yang terlihat jelas dari luar rumah karena jendela yang tidak ditutup gorden lagi, ditambah cahaya lampu dari dalam ruangan, Hans sudah ketakutan dan panik Lita akan gantung diri karena putus asa dengan musibah yang menimpanya. Ia semakin panik saat Lita melempar salah satu ujung kain yang dia pegang ke atas. “Lita, jangan bertindak bodoh! Kamu masih muda. Hidupmu masih panjang,” gumam Hans penuh kepanikan. Sedangkan Adrian, justru memuji tindakan Lita untuk mengakhiri hidupnya. “Gadis pintar,” ucapnya dengan senyum puas. Hans gelisah saat Lita mulai mengikat kain ke lehernya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia berharap akan ada tetangga yang melintas depan rumah dan melihat tindakan bodohnya lalu menolong. Tapi ia ragu akan orang yang lewat mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan suasana cukup sepi. “Pak Adrian, aku harus mencegah Lita!” ucap Hans. “Tidak! Biarkan dia mengakhiri hidupnya agar menambah penderitaan Leon!” balas Adrian, tegas. Hans menunjukkan kemarahan dengan memukul setir tanpa peduli majikannya itu akan marah atau tidak. “Kamu peduli padanya, Hans?” tanya Adrian. Hans tidak menjawab pertanyaan Adrian dan tanpa pikir panjang lagi ia keluar dari mobil saat Lita sudah menendang kursi yang menjadi pijakannya. “Hans, kembali ke tempatmu!” teriak Adrian saat melihat Hans berlari. Baru saja Adrian ingin membuka pintu untuk mencegah Hans, tapi ia urungkan saat melihat Leon yang juga berlari menuju rumahnya. “Hans, berengsek!” umpat Adrian, kesal. Melihat seorang pria keluar dari mobil dan berlari ke arah rumahnya, Leon yang sedang berjalan cepat, tentu khawatir akan ada orang jahat yang ingin mencelakai adiknya. Kekhawatirannya langsung berubah jadi ketakutan saat melihat tubuh adiknya sudah menggantung dan pria yang tadi berlari sedang berusaha mendobrak pintu depan. “Lita!!” teriak Leon lalu mempercepat larinya. Hans dan Leon kompak mendobrak pintu hingga terbuka dengan satu tendangan. Keduanya langsung masuk dan sama-sama memegangi kaki Lita agar bisa menjadi pijakannya. “Tolong ambil apa pun untuk memotong talinya!” perintah Hans pada Leon. Leon langsung berlari ke dapur tanpa melihat wajah yang menyuruhnya karena bukan waktu yang tepat untuk mengenali orang. “Kakak!” ujar Lita saat melihat Leon berlari ke arah dapur. Lita langsung menunduk untuk melihat siapa orang yang memegangi kakinya tapi, wajah orang itu tidak terlihat dari atas karena sibuk melihat Leon. Lita menggerakkan kakinya sekuat mungkin agar lepas dari pegangan Hans. “lepaskan aku!” ujarnya sambil terus menggerakkan kaki. Hans malah semakin kuat memegang kaki Lita agar tidak lepas sambil terus melihat ke arah pintu dapur, menunggu kedatangan Leon. Leon berlari ke ruang depan dengan pisau di tangannya lalu menyusun dua kursi agar bisa memotong kain yang terikat di leher Lita hingga akhirnya Hans dan Lita sama-sama jatuh ke lantai. Kemudian Leon melompat dari kursi dan langsung menarik tubuh adiknya yang berada dalam pelukan Hans. “Lita, apa yang kamu lakukan? Kenapa bisa bertindak sejauh ini?” omel Leon sambil memeluk adiknya seerat mungkin. Lita menangis dalam dekapan Leon tanpa bisa membantah omelan kakaknya karena takut dimarahi lebih dari ini. Hans beranjak dari berbaringnya lalu memperhatikan adik-kakak yang sedang berpelukan sekaligus mendengarkan tangis terseduh Lita. Satu tangan Hans menepuk bahu Leon untuk berkata, “Jangan tinggalkan adikmu bagaimanapun keadaannya.” Leon menoleh menatap Hans. “Iya, aku tidak akan meninggalkan adikku, dan terima kasih sudah menolong kami," ucapnya lalu kembali menciumi kepala adiknya. Hans tersenyum lalu berdiri dan melangkah keluar. Dari pekarangan rumah, Hans hanya bisa menunduk karena tidak berani melihat tatapan tajam Adrian dari balik kaca mobil yang dibuka hanya sedikit untuk memperlihatkan sebagian wajahnya. “Hans, bersiaplah menerima kemarahannya,” batin Hans sebelum membuka pintu mobil. “Kembali ke hotel sekarang!” perintah Adrian di detik pertama Hans membuka pintu. “Baik, Pak!” jawab Hans patuh lalu menghidupkan mesin mobil. Di dalam rumah …. Setelah Hans pergi, Leon masih memeluk adiknya erat-erat dan tidak bicara sepatah kata pun sampai Lita tenang dan berhenti menangis, hingga ia tidak memperdulikan kepergian Hans. “Maafkan Kakak, ya,” ucap Leon saat suara tangis Lita tidak terdengar lagi. Lita mendongakan kepala untuk menatap kakaknya. Bibirnya bergetar menahan tangis yang ingin meledak lagi. “Lita mau ikut Kakak ke Jakarta.” “Iya, Kakak akan bawa kamu ke Jakarta. Kita tinggal bersama di sana.” “Jangan benci Lita, Kak, hanya Kak Leon yang Lita punya.” Leon melepas pelukannya lalu kedua tangan melepas kain yang masih melingkari leher adiknya. “Kakak benar-benar minta maaf atas kata-kata Kakak tadi. Kakak tidak pernah membenci kamu. Jangan bertindak seperti ini lagi karena kamu akan menyiksa Kakak dengan rasa penyesalan seumur hidup jika kamu sampai bunuh diri.” “Itu karena Lita tidak bisa hidup sendiri, Kak. Lita ingin menyusul Ibu dan Bapak saja." “Bapak dan Ibu pasti marah kalau sampai kamu mengakhiri hidup dengan cara bodoh seperti ini.” “Lita sudah tidak tahu lagi harus ke mana.” Leon kembali memeluk kepala adiknya penuh rasa sayang sekaligus penyesalan dengan sikap dan tindakannya tadi. “Kita hanya tinggal berdua, Kita buat Ibu dan Bapak bangga karena kedua anaknya hidup bahagia dan sukses meskipun tanpa didikan mereka lagi. Kita jalankan nasihat Bapak dan keinginan ibu agar anak-anaknya selalu hidup rukun.” “Kakak sudah tidak marah lagi?” “Tidak. Justru Kakak ingin minta maaf karena sudah meninggalkan kamu.” Lita kembali melepas pelukannya untuk menatap Leon. “Kak, Lita tidak masalah jika harus menggugurkan kandungan ini supaya Lita bisa bantu Kakak cari uang di Jakarta.” “Jangan punya pikiran yang semakin jauh dan semakin Tuhan benci. Biarkan anak kamu tetap hidup. Kita sudah kehilangan keluarga dan kita sambut keluarga baru yang Tuhan berikan. Kelak jika dia lahir, Kakak akan menjadi orang pertama yang menyambut kedatangannya dan mainan pertama yang dia inginkan harus dari hasil kerja keras Kakak. Kakak juga akan perkenalkan Kak Yusna sebagai ibunya nanti.” “Apa Kak Yusna akan terima anak Lita yang tidak memiliki ayah, Kak?” “Pasti. Dia pasti menerima anakmu ada atau tidak ada ayahnya, karena dia suka anak kecil.” “Lita sayang Kakak.” Lita kembali memeluk Leon dan menangis haru yang dibalas ciuman sayang Leon di kepalanya. ••••• Begitu tiba di parkiran hotel, Adrian langsung keluar dari mobil dan langsung mencengkeram kerah kemeja Hans dengan penuh emosi. “Kenapa kamu menolong dia?” Hans tidak menjawab dan hanya bisa menunduk karena sudah tahu pasti akan mendapatkan kemarahan seperti ini. Bugh … “Jawab! Kenapa kamu menolong dia?!” hardik Adrian setelah memukul sekuat tenaga. Hans tetap diam meskipun pukulan Adrian membuatnya jatuh terjuangkal. Bahkan ia langsung bangkit sambil mengusap darah di sudut bibirnya. “Tiga bulan aku berpura-pura mencintai gadis itu untuk menghamilinya dan membuat Leon bersedih, lalu saat apa yang terjadi melebihi ekspetasiku, malah kamu gagalkan dengan menolong dia!" “Maaf, Pak, menurutku apa yang Anda lakukan sudah sangat jauh dari apa yang dialami Nona Yusna dan sangat tidak sebanding,” balas Hans memberanikan diri. Adrian tersenyum kecut mendengar jawaban sopir pribadinya. “Tidak sebanding kamu bilang? Apa yang menurutmu tidak sebanding?” “Nona Yusna memang depresi, tapi Nona tidak kehilangan kedua orang tua, sedangkan Leon sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan jika tadi aku tidak membantu, dia pasti akan kehilangan adiknya juga.” “Kakakku memang tidak kehilangan keluarganya, tapi dia tidak mengenali siapa pun. Sekarang hidupnya hanya sendiri di kamar dengan terus-menerus menyebut nama Leon dan memintanya kembali! Sedangkan Leon masih bisa kemana pun dengan mental yang sehat. Lalu sekarang kamu bilang apa yang Kakakku alami tidak sebanding dengan penderitaan dia? Apa pantas kamu yang melihat langsung bagaimana menderitanya kakakku saat histeris, membandingkan penderitaan Leon yang tidak seberapa?” Lagi, Hans hanya bisa menunduk tanpa menjawab omelan Adrian karena di hatinya tetap beranggapan pembalasan yang Adrian lakukan sudah keterlaluan. “Kamu hanya anak tunggal yang tidak akan tahu rasa sedih dan sakitnya saat melihat saudara perempuanku berkali-kali mencoba bunuh diri dan berkali-kali teriak histeris sambil terus menyebut nama satu lelaki. Kamu tidak akan tahu paniknya aku saat melihat darah keluar dari luka sayatan di pergelangan tangan yang hampir mengering karena saudara perempuanku terus memberontak. Kamu tidak akan tahu ibanya hatiku melihat saudara perempuanku harus diborgol 24 jam di tempat tidur. Dan Kamu juga tidak tahu rasanya berkali-kali bicara, tetapi tidak direspon sekali pun oleh saudara yang sangat aku rindukan.” “Maafkan saya, Pak.” “Maafmu tidak berguna dan tidak akan membuat Lita mati bersama janinnya!” Adrian merogoh saku celananya untuk mengambil dompet, kemudian mengeluarkan puluhan lembar uang kertas pecahan seratus ribuan yang langsung ia lempar ke wajah Hans. “Urus cek out-ku di hotel ini. Dan setelah hari ini kamu tidak perlu menjadi sopir pribadiku lagi. Kamu tanyakan saja pada Papah akan menjadikanmu apa di keluargaku,” ucapnya setelah melempar uang lalu kembali menaiki mobil dan pergi begitu saja. Hans berjongkok, memunguti uang yang Adrian lemparkan sambil tersenyum kecut. “Dia pikir aku mau terus menerus menjadi sopir pribadinya,” gumamnya. Hans memang hanya baru empat bulan menjadi sopir pribadi Adrian, atau lebih tepatnya saat Adrian baru tiba kembali di Indonesia setelah menepuh pendidikan Undergraduate selama hampir tiga tahun di Oxford Universty lalu bekerja menjadi Juniorr Assiociate selama dua tahun. Sebelumnya ia adalah sopir pribadi Nyonya Vini, lalu Yusna senang bergaul dengannya dan menjadikan ia sopir pribadinya sampai Yusna tiba-tiba nekat bunuh diri dan depresi. Hans adalah anak satu-satunya dari Tarmo dan Surni. Kedua orang tuanya adalah sopir pribadi dari Tuan Jevian Harshad dan ART di keluarga Hahrshad. Sejak usia delapan belas tahun, Ibu dari Adrian dan Yusna memperkerjakan dia sebagai sopir karena ia tidak mau meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, meskipun saat itu Vini menjamin biaya kuliahnya, tapi ia menolak dan memilih membantu kedua orang tuanya mencari uang sampai saat ini dan sudah menjadi orang kepercayaan keluarga itu sama seperti ayahnya. Hans beranjak dari berlututnya setelah memunguti uang yang tadi Adrian lempar lalu melangkah ke lobi hotel untuk melakukan apa yang tadi diperintahkan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN