Kepergian Leon

1965 Kata
Lita segera menghapus air matanya saat melihat Leon sudah beberapa kali lewat depan kamarnya sambil membawa baju dan barusan kakanya itu lewat dengan pakaian yang sudah rapi. “Kak Leon mau ke mana? Apa dia mau mencari Kak Edo lagi?” gumam Lita lalu beranjak dari tempat tidurnya untuk menghampiri Leon. Saat Lita berdiri di depan Leon, kakaknya itu tidak berkata sedikit pun. Sikap ramah dan sayangnya tiba-tiba hilang sejak pemakaman Firman kemarin dan seharian ini, Lita tidak mendengar suara kakaknya sekali pun. Lita mengerti diamnya Leon karena masih dalam masa berkebung tanpa berpikir diamnya itu kerena marah dan menyalahkan dirinya. “Kakak mau ke mana? Kenapa merapikan pakaian?” Leon diam dan tidak menjawab pertanyaan Lita. Ia malah menyibukkan diri dengan memasukan pakaian ke dalam tas ransel. Dari diamnya Leon, Lita baru menyadari bahwa, kakaknya sedang marah padanya, karena memang seperti inilah cara Leon menunjukkan kemarahan, dengan menjauhi dan mengabaikan orang yang membuat dia marah. “Kakak mau kembali ke Jakarta, ya?” tanya Lita lagi. Tetapi, Leon tetap tidak menjawab pertanyaannya. “Kenapa Kakak kembali ke Jakarta sekarang, harusnya, ‘kan besok?” tanyanya lagi. Leon berdiri tanpa melirik Lita sedikit pun lalu pergi menuju kamarnya untuk mengambil barang lain yang harus dibawa. “Kak, kenapa tidak menjawab? Kakak marah, ya, sama Lita?” Lita mengikuti Leon menuju kamarnya karena tidak kunjung mendapat jawaban. “Kak, jawab Lita,” pintanya. Leon tetap sibuk melangkah dari lemari pakaian ke rak buku, dari rak buku ke tempat tidur, lalu memakai sepatu tanpa memperdulikan adiknya yang terus mengikuti. “Kak, Lita ikut Kakak ke Jakarta, ya?” pinta Lita. Leon langsung menghentikan gerakan jarinya yang sedang mengikat tali sepatu, lalu berdiri tegak menatap Lita. “Bapak dan Ibu meninggal gara-gara kamu dan kehamilanmu. Sekarang kamu mau ikut Kakak? Kamu mau buat kakak meninggal gara-gara ulahmu juga?” Ucapan Leon barusan tentu membuat Lita terkejut sekaligus tidak percaya. Kakak yang selalu lembut dan sangat mendukung dirinya. Kakak yang sejak kemarin memberi semangat saat mengetahui kehamilannya, bahkan menjadi pembela saat ia dipukuli dan dimarahi, sekarang malah berbalik menyalahkan atas semua musibah yang terjadi. “Kakak, kok, bilang gitu,” lirih Lita. “Terus Kakak harus bilang apa? Apa Kakak harus bilang terima kasih karena kehamilanmu sudah memberi musibah untuk kita?” “Kakak benci, ya, sama Lita?” “Iya, Kakak benci sama kamu! Gara-gara kamu Kakak harus kehilangan Bapak dan Ibu!" Lita langsung memeluk kakanya dan kembali menangis. “Jangan benci Lita, Kak. Hanya Kakak yang Lita punya. Kalau Kakak benci, Lita mau ke siapa lagi?” Leon mendongakkan kepalanya dan menghela nafas untuk menahan air yang memenuhi pelupuk matanya agar tidak menetes. Tangannya sekuat mungkin ia diamkan untuk tidak membalas pelukan adiknya. “Kamu tanggung perbuatan kamu sendiri. Kakak tidak mau kesusahan karena ulah kamu!” Leon menarik tangan Lita lalu melangkah keluar kamar. Lita kembali mengikuti langkah Leon ke luar kamar lalu memegangi lengan kakaknya agar berhenti memasukkan pakaian ke tas. “Jangan pergi, Kak, Lita tidak mau sendirian,” pintanya dengan terisak. Leon tetap memasukkan barang beserta pakaiannya ke tas sambil menahan tangis dan berusaha tega pada adiknya. Setelah semua barang yang ingin dibawa sudah masuk ke dalam tas, Leon menegakkan tubuhnya lalu melangkah ke luar rumah. “Kak, Lita ikut,” pintanya tanpa melepas lengan Leon. “Kamu diam di sini. Jaga rumah Bapak dan Ibu,” balas Leon sambil berusaha melepaskan pegangan adiknya. “Tidak mau, Kak. Lita mau ikut tinggal di Jakarta,” pinta Lita dengan derai tangis dan tatapan memohon. Leon tetap berusaha melangkah keluar meskipun Lita memohon sambil menangis. Jika kemarin ia selalu menghibur adiknya dan tidak membiarkan adiknya sedih, kini ia tidak bisa membendung kekecewaan lagi setelah kepergian ayahnya. Meskipun ia tahu adiknya juga tidak mengharapkan kematian orang tua mereka. “Kak, Lita mohon bawa Lita ke Jakarta. Lita tidak berani hidup sendirian di sini.” Lita berusaha mempertahankan tangan Leon yang hampir lepas dari genggamannya. “Lepasin tangan Kakak!” hadik Leon saat sudah di ambang pintu. Lita menggeleng dan menunjukkan wajah memelasnya. “Lita mau ikut, Kak.” Leon menarik nafas, mengupulkan rasa teganya untuk mengehentakkan tangan agar lepas dari genngaman Lita. Lita mundur beberapa langkah saat mendapat dorongan dari hentakan tangan Leon. Wajah memohonnya berubah jadi tatapan heran saat pertama kali mendapat sikap kasar kakaknya. “Kakak, kok, kasar sama Lita,” ucapnya sambil mengusap air matanya. “Karena kamu keras kepala!” “Lita cuma mau ikut tinggal sama Kakak.” “Kakak bilang tidak, ya, tidak!” “Hanya Kakak yang Lita punya, kalau bukan tinggal dengan Kakak, Lita mau tinggal dengan siapa lagi?” Leon melangkah pergi karena sudah tidak tega melihat tangis adiknya dan takut lemah karena tangisan itu. “Kak, Lita ikut. Lita takut tinggal sendirian,” isak Lita sambil menatap punggung kakaknya yang semakin menjauh. Perlahan Lita luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Kini ia hanya sendiri, tidak akan ada belaian seorang ayah di kepalanya untuk menenangkan. Tidak akan ada lagi pelukan dan jemari seorang kakak yang mengusap air matanya agar ia berhenti menangis, dan tidak akan ada lagi amarah seorang ibu yang menegurnya saat ia berbuat salah. Semua sudah pergi karena ulahanya. “Kak Edo berengsek!!” teriak Lita. Gara-gara pria itu kini Lita harus hidup sendiri. Gara-gara pria itu, kini hadir janin yang tidak bisa dilenyapkan, gara-gara pria itu semua musibah berawal, dan gara-gara pria itu, keluarganya pergi meninggalkan dirinya. “Mana janjimu? Kamu bilang akan merawat anak ini, Kak,” isak Lita lagi. Lagi, kesedihan yang terjadi di keluarga Leon menjadi hiburan menyenangkan bagi Andrian yang setia mengawasi. Kepergian Leon semakin membuat Adrian berpikir bahwa dia adalah pria yang tega dan semakin yakin bahwa Leon memang telah meninggalkan Yusna. “Aku heran, kenapa Kak Yusna bisa mencintai pria seperti dia, bahkan sampai tergila-gila? Adik kandungnya saja ditinggalkan sendirian, apa lagi Kak Yusna yang tidak punya ikatan darah,” gumamnya saat melihat Leon pergi. Kemudian Adrian mengalihkan tatapannya ke pintu rumah Leon untuk melihat Lita yang sedang duduk menangis. “Padahal aku berharap malam ini Leon menangisi mayat Si Bodoh itu, tapi malah dia yang menangisi kepergian Leon,” lanjutnya. Dan saat mendengar Lita meneriakki nama Edo, Adrian hanya menanggapi dengan senyum kecut. “Berterima kasihlah padaku, karena aku tidak mendekatkanmu pada kematian seperti ayahmu.” ••••• Sudah tiga jam lebih Leon duduk melamun di kursi yang ada di terminal Leuwi panjang dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sedangkan bus yang ingin ia naiki sudah ada beberapa yang datang, tapi ia abaikan. Ia duduk lama memang bukan menunggu kedatangan bus yang akan membawanya ke Jakarta, tapi karena kebimbangan hatinya pada adik yang ia tinggalkan sendirian di rumah dengan keadaan hamil muda. Jika kemarin-kemarin ia selalu mendukung adiknya untuk tidak bersedih dalam mengahadapi masalah, tapi setelah mendengar salah satu rekan ayahnya mengatakan sejak datang ke tempat kerja sampai pergi membawa mobil, ayahnya sudah banyak melamun karena memikirkan masalah di rumah yang Leon pikir ayahnya meninggal karena memikirkan kehamilan Lita dan kekhawatiran tidak adanya pria yang akan bertanggung jawab, hingga membuat ia terpaksa bersikap seperti saat ini. pikiran ingin tega pada adiknya sebagai luapan amarah dan kekecewaan sekaligus hukuman untuk kecerobohannya, tapi hati terasa berat karena memikirkan bagaimana kesusahan adiknya nanti? Bagaimana adiknya menjalani kehamilannya sendirian? Bagaimana dia mendapatkan makanan sehari-hari? Dan berbagai kekhawatirn lainnya. Leon merubah posisi duduk dengan sedikit membungkuk dan menumpukan kadua sikut pada lututnya. “Kakak harus bagaimana, Lita?” keluh Leon penuh kebingungan. Leon menunduk, menatap lantai terminal sambil berusaha mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang kesusahan Lita. Namun, bukannya lupa pada bayang-bayang adiknya, ia malah kembali teringat ucapan sekaligus janjinya empat hari lalu. “Bahkan jika suatu saat Bapak-Ibu sudah tiada, lalu Kakak sudah menikah, sedangkan kamu masih sendiri, Kakak pasti akan mengajakmu tinggal bersama Kakak. Jika pasangan Kakak tidak setuju, Kakak akan membawa anak-anak Kakak pergi lalu kita mencari tempat untuk tinggal barsama.” Leon menghentakkan kaki lalu berdiri tegak dari duduknya. “Tidak! Lita salah, jadi aku tidak bisa menepati janjiku itu,” ujarnya lalu memaksa diri melangkah menuju bus tujuan Jakarta. Leon duduk di salah satu kursi di dalam bus dan terus berusaha melupakan kesedihan adiknya sampai mobil mulai melaju. Sepuluh menit duduk menatap keluar bus, hati Leon semakin tidak tenang. Semakin menjauh bus dari terminal, pergolakan batin semakin menyiksa. “Hanya Kakak yang Lita punya, kalau bukan tinggal dengan Kakak, Lita mau tinggal dengan siapa lagi?” Leon memejamkan saat tangis permohonan Lita dan ucapannya kembali terngiang. “Jadikan dirimu contoh yang baik. Bimbing dia dalam setiap tindakannya, tegur jika dia salah, dan temani dia dalam keadaan apa pun. Jangan sampai dia merasa tidak punya keluarga.” Setetes air mata Leon keluar dari sela-sela kelopak mata yang tertutup saat nasihat terakhir ayahnya kembali terngiang. “Maafkaa Leon, Pak. Leon hampir menelantarkan Lita,” gumamnya lalu berdiri dengan mantap untuk segera turun saat itu juga dari bus. ••••• Kini, Lita hanya bisa duduk, melamun di depan pintu sambil memegangi perutnya. Matanya menatap lurus ke depan rumah, memperhatikan mobil sedan yang sudah dua Minggu terakhir selalu terparkir di depan rumah. Kalaupun pergi hanya sebentar saja dan akan kembali parkir di sana sampai malam tiba. “Entah siapa pemilik mobil itu. Seandainya waktu itu dia mau membukakan pintu untuk menolong Ibu, mungkin ibu masih hidup sekarang. Bapak juga pasti masih ada, dan Kak Leon tidak akan marah padaku,” ucap Lita dengan tatapan kosong. Perlahan Lita mengusap perutnya sambil membayangakan pertama kali bertemu dengan Edo. Kala itu ia yang sedang berlari membawa formulir pendaftaran kuliah tanpa sengaja menabrak pria yang sedang berjalan hingga semua CV di tangan pria itu berantakan. “Maaf, maaf, aku tidak sengaja,” ujar Lita panik sambil memunguti beberapa kertas yang berserakan. “Tidak apa-apa,” jawab Edo dengan tatapan terus mengarah ke wajah Lita. Dan dari pertemuan itu, Edo berkali-kali mendatanginya di kampus dengan alasan ingin kenal lebih dekat. Jika Leon bilang Lita tidak boleh mudah percaya dengan orang asing, ia juga lakukan itu. Satu minggu kenal, Edo langsung menyatakan cinta yang tidak Lita tanggapi. Lalu minggu kedua, Edo menunjukkan keseriusan dengan menunjukkan tempat kerjanya, dari situ Lita mulai menganggap Edo teman meskipun dengan banyak batasan kedekatan, tapi lambat-laun ia terbuai dan nyaman dengan segala sikap baik dan ungkapan cinta yang terus-menerus Edo katakan hingga di tepat satu bulan perkenalan mereka, Lita menyerahkan apa yang belum waktunya ia serahkan hanya kerena Edo meminta hadiah ulang tahun berupa kesetiaanya seumur hidupnya. Perlahan usapan lembut Lita di perutnya berubah jadi cengkeraman karena kembali kesal dan menyesal. “Bukan pemilik mobil itu yang salah, tapi kehadiran anak sial ini yang mendatangkan semua musibah. Anak sial ini yang sudah membuat aku sendirian. Aku membencimu, Anak berengsek. Anak pembawa sial! Anak yang sudah membuat aku kesusahan dan kesepian!” makinya. Lita kembali memukuli perutnya untuk meluapkan amarah dan kekesalan di hati. “Seharusnya kamu tidak pernah ada di sini. Seharusnya kamu menyusahkan kehidupan Si Berengsek itu, bukan aku! Seharusnya kamu ganggu ketenangan dia, bukan mengganggu ketenangan aku dan keluargaku. Kamu harus lenyap dari rahimku!” jeritnya lalu kembali menangis tersedu. Dari kejauhan, Hans merasakan kekhawatiran yang sama seperti malam di mana Lita memukuli perutnya saat di taman. Ia yakin, meminta izin untuk mencegah Lita memukuli perutnya pasti tidak akan boleh oleh Adrian. Tetap mengawasi pun, hanya membuat senam jantung baginya. “Lita, berhenti memukul janinmu. Aku janji, jika bayimu tetap hidup, aku akan bantu membesarkan dia. Dan jika kakakmu pergi tanpa kembali lagi, aku akan menjadi kakak untukmu,” batinnya. “Ibu, Bapak, Kak Leon, kembalilah, aku tidak mau sendirian,” isak Lita setelah lelah memukul. Tiba-tiba Lita menghapus jejak air matanya dengan cepat saat terlintas pikiran pendek di kepalanya. “Semua sudah pergi meninggalkan aku, jadi untuk apa aku tetap hidup bersama anak sial ini, yang ada kehidupanku akan semakin susah kedepannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN