Kematian Firman

1923 Kata
“Percuma saja kita ke sana, karena tidak akan ada yang mengenal dia. Lita memang bertemu di sana, tapi dia bukan mahasiswa dan tidak memiliki teman di kampus. Lita bertemu saat tidak sengaja bertabrakan ketika dia sedang berjalan mencari pekerjaan.” “Lalu kita mencari ke mana lagi?” tanya Leon. “Kita pulang saja. Lita sudah kelelahan, mau istirahat. Kita lanjutkan besokb pencariannya." Leon tersenyum sambil mengusap-usap kepala adiknya. "Maaf, Kakak sampai lupa kamu sedang hamil dan mudah lelah," ucapnya lalu melangkah pulang bersama adiknya. ••••• Saat hampir tiba di rumah, Leon dan Lita dibuat terkejut dengan adanya bendera kuning terpasang kembali di depan rumah mereka, yang terlihat jelas dari kejauhan. Keduanya yakin itu bukan bendera penanda kematian ibu mereka, karena Leon sudah mencopotnya kemarin. Keduanya semakin bingung dan bertanya-tanya saat banyaknya orang yang keluar-masuk ke perkarangan rumah. “Kak, siapa yang memasang bendera kuning itu lagi?” tanya Lita. “Kakak juga tidak tahu. Tadi saat kita pergi tidak ada bendera kuning yang terpasang,” balas Leon. Pikiran buruk langsung terlintas di kepala mereka saat beberapa warga datang membawa keranda. “Bapak!” pekik keduanya bersamaan lalu berlari sekencang mungkin. “Dari mana saja kalian? Jenazah Bapak kalian sudah seharusnya dimakamkan sejak tadi!” omel salah satu tetangga di pekarangan rumah saat melihat kedatangan Leon dan Lita. “Jenazah Bapak?” tanya Leon menegaskan, khawatir ia salah mendengar. “Iya!” Leon dan Lita kembali berlari secepat kilat memasuki rumah. “Bapak!” teriak keduanya saat menubruk tubuh Firman yang sudah kaku. Seluruh tubuh Firman sudah terbungkus kain kafan, hanya wajahnya saja yang masih telihat, karena warga sengaja menunda proses mengkafani jenazah untuk menunggu kedatangan Leon dan Lita agar bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali. “Bapak, bangun, Pak!” jerit Lita sambil menggoyangkan jenazah ayahnya. Lita tidak percaya, tadi pagi ia masih merasakan belaian kasih sayang dan ditenangkan oleh sikap bijaksana pria panutannya ini, sekarang ia sudah harus melihat tubuh kakunya. “Bapak, jangan pergi. Bapak sudah janji akan temani Lita terus,” jerit Lita lagi sambil mencium tangan ayahnya yang sudah tertutup kain kafan, berharap tangan itu bergerak untuk mendiamkan jerit tangisnya dengan belaian lembut. Sekencang apa pun Lita menggoyangkan jenazah Firman, sekuat apa pun menangis dan menjerit, ia tidak akan mendapatkan lagi belain lembut di kepalanya seperti tadi pagi. “Bapak!!” teriak Leon saat jemarinya gemetar membelai dua luka menganga dan beberapa luka lecet di wajah pucat ayahnya. Leon ingin menarik kapas yang menutupi kedua lubang hidung ayahnya agar bisa kembali bernafas, tetapi ia tahu itu hanya sia-sia. Belum hilang bayang-bayang wajah ibunya saat dikafani, sekarang ia harus kembali melihat wajah ayahnya dengan kain yang sama. "Jangan tinggalkan Leon dan Lita, Pak. Kita cuma punya Bapak,” isak Leon dengan tangis melebihi seorang wanita yang sedang patah hati. Leon memeluk seerat mungkin kepala ayahnya diiringi tangis kesedihan yang santer terdengar. "Bapaaaak!!!" teriaknya sekuat tenaga. Jerit tangis Lita juga mampu mengundah isak tangis semua orang yang ada di ruangan. "Lita belum siap kalau harus kehilangan Bapak juga," jeritnya. Salah satu warga yang ikut menangis haru, mendakati Leon untuk menyudahi tangisnya. “Leon, sudah, ya, kain kafan akan ditutup agar bapakmu bisa segera dimakamkan.” Namun, bukannya menghentikan tangis dan melepas pelukannya, Leon malah semakin kuat berteriak, “Bangun, Pak!” “Leon, jangan sampai air mata kamu mengenai wajah bapakmu,” tegur Si Tetangga dengan lembut. Leon tetap mengabaikan teguran itu, karena mana mungkin ia bisa mengedalikan atau mengatur kemana air mata menetes, apalagi menghentikan tangisnya. Lita dan Leon terlalu fokus pada jenazah ayah mereka hingga tidak menyadari ada seseorang berdiri di depan jendela rumah sedang tersenyum puas, menikmati kesedihan yang terlihat indah di matannya tanpa menggunakan masker atau kacamata hitam seperti kemarin. “Suasana kali ini jauh lebih indah dari kemarin. Karena kemarin aku hanya memperhatikan momen ini dari dalam mobil. Ternyata seperti ini bahagianya tertawa di atas penderitaan orang,” gumam Adrian penuh kepuasan. “Leon, ribuan tetes air matamu tidak akan sebanding dengan setetes darah Kak Yusna yang keluar saat dia histeris menyebut namamu.” Sementara itu, di dalam mobil Hans sedang merutuki dan memaki dirinya sendiri karena sudah menyebabkan Firman mengalami kecalakaan. “Ya Tuhan … secara tidak langsung aku sudah menjadi pembunuh,” keluh Hans sambil mencengkeram kuat-kuat rambutnya. Hans memejamkan matanya, mengingat kembali kejadian menjelang siang tadi, saat mobilnya melaju di jalan dua arah tepat di belakang angkot yang Firman kendarai. Sejak awal Hans mengendarai mobil secara biasa, mengikuti laju mobil Firman, sampai tiba-tiba Adrian memerintahkan untuk menyalip mobil Firman dari kiri dengan cepat dan mendadak. Firman tentu panik disalip tiba-tiba hingga ia langsung buang setir ke kanan tanpa ia ketahui di jalur berlawanan truk besar sedang melintas. Alhasil adu banteng tidak dapat dihindari. Angkot yang Firman kendarai rusak parah di bagian depan. Firman meninggal di tempat karena tubuhnya terhimpit setir dan body mobil yang mengakibatkan luka parah di bagian d**a. Darah segar langsung keluar dari wajahnya karena pecahan kaca depan mobil. “Manusia berengsek!” umpat Hans di dalam hati saat melihat Adrian tersenyum puas melihat angkot Firman rusak parah. Hans menghela nafas untuk menahan rasa kesalnya pada Adrian lalu bertanya, “Apa kita tidak akan berhenti, Pak?” Hans berharap bisa menolong Firman atau mungkin menyelamatkan nyawanya dengan sesegera mungkin membawa ke rumah sakit. “Tidak perlu. Aku berharap dia mendapat pertolongan lambat dari orang-orang yang berkerumun,” jawab Adrian sambil tersenyum. Tiba-tiba Hans membuka mata kembali saat pintu bagian penumpang dibuka oleh majikannya. “Kita pulang sekarang, Hans!” perintah Adrian langsung. “Tidak menunggu sampai proses pemakaman selesai, Pak?” tanya Hans. “Tidak. Kesedihan mereka sekarang sudah membuat aku cukup puas.” Hans hanya bisa menggeleng keheranan dengan hilangnya rasa simpati dari seorang Adrian Harshad. Sepuluh tahun mengabdi di keluarga Harshad, tidak ada keluarganya yang bisa bertindak sekejam ini. Bahkan ia sendiri tidak menyangka pria yang sangat penyayang ini, bisa hilang rasa ibanya hanya karena kakaknya depresi yang dia sendiri tidak tahu penyebab pasti dan hanya tahu dari mulut orang lain. Hans menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas lalu mulai melaju meninggalkan rumah Leon dan Lita. “Leon, Lita, aku harap aku bisa menebus kesalahanku hari ini pada kalian,” batin Hans. ••••• Sore ini Lita sedang menatap heran test pack yang pagi kemarin ditemukan ayahnya. Bukan dua garis merah yang membuat ia heran, tetapi keberadaan test pack itu di rumahnya yang membuat ia bertanya-tanya. Ia ingat betul saat memberitahu kehamilanya pada Edo minggu lalu, benda pipih itu di simpan olehnya karena terlalu bahagia akan menjadi seorang ayah. “Kak Edo, buka pintunya!” teriak Lita di depan pintu kontrakan Edo sejak dua puluh menit lalu. Tiba-tiba dengan nafas tersengal, Adrian menghampiri Lita dari belakang dan siap menjadi Edo. “Ada apa, Sayang?” Lita langsung membalikkan badan saat mendengar suara pria yang ia pikir ada di dalam. “Kak Edo habis berlari?” tanyanya saat mendengar nafas buru-buru Edo. “Iya,” balas Edo sambil mengatur nafasnya. “Memangnya Kak Edo dari mana?” “Aku dari toko ingin pulang ke sini.” “Ah, iya, aku lupa kalau ini masih jam kerja Kak Edo. Kenapa harus pulang dengan berlari, Kak?” “Jam istirahat siang hanya sedikit, aku takut waktuku habis di jalan jika aku berjalan santai,” bohongnya padahal ia berlari karena Hans yang ditugaskan mengikuti Lita, memberitahu bahwa Lita datang ke kontrakannya, lalu ia buru-buru menaiki taksi dan turun agak jauh dari kontrakan. “Kamu kenapa tidak memberitahu dulu kalau akan datang ke sini? Bagaimana kalau aku sedang tidak ingin istirahat di sini? Mau sampai kapan kamu menunggu aku pulang? Kamu juga tidak biasanya datang ke sini saat tidak kuliah?” Lita langsung memasang wajah sedihnya karena takut Edo marah atau tidak terima dengan kabar yang akan ia sampaikan. Satu tangan Edo langsung membelai lembut pipi Lita. “Kenapa tiba-tiba sedih?” tanyanya lalu mengecup bibir Lita. "Kita bicara di dalam saja, Kak,” pinta Lita. “Baiklah.” Edo langsung merogoh saku jeansnya untuk mengambil kunci pintu lalu menuntun Lita masuk ke dalam. “Ada apa?” tanya Edo. Lita langsung membuka slingbag untuk mengambil benda pipih yang pagi tadi membuat ia terkejut ketakutan. “Ini, Kak.” Edo langsung mengambil test pack yang Lita tunjukan dengan wajah semringah bahagia. “Kamu hamil?” “Iya, Kak. Edo langsung menarik tengkuk Lita lalu menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan. “Terima kasih, Sayang,” ucapnya. “Kenapa Kak Edo bahagia sekali?” protes Lita saat Edo sudah berhenti mencium. “Kamu hamil anakku dan aku akan manjadi ayah, tentu saja aku bahagia. Memangnya kamu tidak bahagia hamil anakku?” “Tapi kita belum menikah, Kak. Bagaimana aku bisa bahagia hamil sebelum menikah?” “Jadi kamu sedih hanya karena kita belum menikah?” “Tentu saja, Kak.” Kedua tangan Edo menangkup wajah sedih Lita, lalu meyakinkan dengan tatapan matanya. “Jangan takut, aku sangat mencintaimu, aku pasti akan bertanggung jawab dan menikahimu. Aku akan menemui keluargamu secepatnya agar kita bisa segera menikah.” “Kak Edo janji?” tanya Lita bertepatan dengan mengalir satu tetes air matanya. “Tentu saja. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi saat aku menemui keluargamu nanti. Kita akan besarkan anak ini sama-sama, asal kamu menerima bagaimanapun keadaanku.” “Aku pasti menerimamu, Kak.” “Boleh aku minta satu hal?” Lita mengerutkan kening, menunjukkan wajah bingungnya. “Kak Edo mau minta apa?” “Mulai hari ini kamu harus berhenti kuliah. Aku ingin kamu fokus pada kehamilanmu dan aku tidak mau kamu stress memikirkan pelajaran. Selain itu, aku tidak mau ketika sudah menikah nanti, kamu sibuk bekerja dan mengabaikan anak kita.” “Tapi, Kak—” “Jangan khawatir tentang keuangan kita, aku pasti akan mencukupi semua kebutuhan kamu dan bayi ini dengan kerja kerasku.” Edo mengusap-perut Lita penuh kelembutan. Lita menghela nafas berat guna menimbang permintaan Edo yang bertentangan dengan harapan orang tuanya. “Bagaimana? Mau?” tanya Edo saat melihat Lita berpikir. “Hmm.” Lita menjawab sambil mengangguk ragu. Edo menarik Lita ke dalam pelukannya dan memeluk seerat mungkin agar Lita percaya segala kebohongan dalam kata-katanya tadi. “Aku sangat mencintaimu, Sayang,” ucap Edo. “Aku juga. Aku sangat mencintai Kak Edo, pria pertama yang membuat aku jatuh cinta.” Edo langsung tersenyum kecut di bahu Lita. “Terima kasih untuk kebahagiaan ini.” “Tidak hanya Kakak yang bahagia, aku juga bahagia.” “Kita memang sama-sama bahagia karena kehamilanmu, tapi kebahagianku bukan karena akan menikahimu, melainkan karena kehamilanmu semakin menyempurnakan tujuanku mendekatimu," batin Edo. Kemudian Edo melangkah maju tanpa melepas pelukannya dan terus mendorong Lita sampai telentang di tempat tidur lalu duduk di atas pahanya. “Aku menginginkanmu siang ini,” ucap Edo penuh gairah sambil membuka bajunya. “Tapi, Kak—” ucapan Lita terhenti saat Edo membelai lembut bibir bawahnya. Edo membungkuk hingga wajah mereka berdekatan. “Aku terlalu bahagia hari ini sampai aku ingin menikmatimu beberapa kali dan kamu tidak boleh pulang sebelum pukul empat nanti.” Lita tersenyum sambil mengangguk, pertanda membolehkan Edo menikmati tubuhnya karena melihat tatapan gairah Edo yang ia pikir sangat mencintainya, hingga ia lupa bahwa tadi Edo berkata waktu istirahatnya hanya sedikit. Setetes air mata Lita jatuh tepat di dua garis merah pada testpack yang ia gennggam sejak tadi. Ia menangisi kebodohannya yang terlalu percaya kata-kata Edo. Meskipun ia tahu tangis dan segala penyesalannya saat ini sudah sangat terlambat dan tidak akan bisa memperbaiki apa pun. “Kenapa aku bisa percaya dengan badjingan sepertimu, Kak?” isak Lita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN