#02

1250 Kata
Pukul 10:30 PM. Kruukk kruuuk~ Suara perut yang tengah kelaparan. Junhyo menekan-nekan perutnya agar rasa sakitnya menghilang. Ya, dia sangat lapar, sejak tadi pagi ia belum makan apapun, saat ditawari makan dengan sang kakak tadi pun dia tidak segera turun. Karena Junhyo tahu kalau kehadirannya kemungkinan akan membuat nafsu makan hyung-nya hilang. Dia berjalan ke depan cermin besar di kamarnya, maniknya tertuju pada pantulan dirinya di dalam cermin. Dirinya yang pucat dan sedikit kurus terlihat jelas akibat belum makan ditambah latihan yang ketat, terlebih lagi dia baru saja kehujanan. Meskipun begitu, para hyung-nya benar-benar tidak memperdulikanya. Apa keadaan fisiknya yang sekarang tidak terlihat oleh mereka? Atau mereka memang tidak bisa melihat itu. Karna memang sejak awal mereka tidak pernah melihat, jangan kan melihat, melirik pun rasanya tak pernah. "Huuft." Junhyo menghela nafasnya kasar dan dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan perlahan dirinya memejamkan mata yang terlihat sedikit sembab. --- "Hyung, aku tidak melihat Junhyo di meja makan tadi," ucap Daeho seraya menatap ke arah sang kakak tertua. "Kenapa memangnya? Biarkan saja dia," jawab Seokmin dengan malas. "Tapi hyung dia sepertinya belum makan sejak pagi tadi," ucap Daeho lagi. "Itu bukan urusanku, kan? Aku tidak memaksanya untuk makan atau tidak," jawab Seokmin seraya menekan-nekan tombol pada remot televisi untuk mengganti channel. "Hmm hyung, ku rasa sebaiknya jangan terlalu menyiksa anak itu, dia anak yang baik hyung," ucap Daeho. Hal itu membuat aktivitas Seokmin terhenti dan beralih menatapnya dengan tatapan tajam. "Kenapa? Kau menyukainya Daeho-ah? Dia sudah mencuci otak mu ya? Aku penasaran Detergen apa yang dipakainya?" tanya Seokmin bertubi-tubi. "Tidak hyung, jangan mengatakan itu, aku hanya merasa dia anak yang baik hyung. Tidak sepantasnya kita memperlakukan dia seperti ini terus. Terlebih dengan apa yang sudah dia lakukan pada kita, lagi pula dia magnae kita," balas Daeho dengan menatap balik wajah Seokmin yang sekarang memerah karena kesal akan dirinya yang terus-menerus membela Junhyo. (magnae: anggota tertua dalam grup) "Sudah aku sedang malas membahas ini," ucap Seokmin. Dia bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan Daeho sendirian. Daeho hanya terdiam melihat hyung nya. Dia menghela nafasnya kasar dan menyandarkan kepalanya di bahu sofa. Tatapannya tertuju pada langit-langit ruangan itu. Tak lama kemudian Yeonu keluar dari kamarnya setelah puas berhibernasi (tidur berkepanjangan). Yeonu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Ketika dirinya sedang minum maniknya tertuju pada sepiring penuh kimbab yang masih utuh. "Hmm ... Anak itu tidak makan lagi," gumam Yeonu pelan. Dia berniat membawa kimbab itu ke kamar Junhyo. Entah ada angin apa sepertinya beberapa hyung-nya mulai sedikit memperhatikannya. Tuk Tuk Tuk Suara ketukan pintu kamar terdengar saat Yeonu beberapa kali mengetuknya. "Junhyo-ah, cepat buka pintunya," ucapnya dingin. "... ." Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Tuk Tuk Tuk Yeonu mengetuk pintunya lagi setelah merasa tak ada jawaban apapun. "Kemana dia?" gumamnya yang terdengar sedikit khawatir. Yeonu perlahan memutar handle pintu itu. Clack Dia sedikit mengintip terlebih dahulu untuk memastikan kalau Junhyo ada di dalam. Dia melihat Junhyo yang tengah tertidur di bawah selimutnya yang tebal. Perlahan Yeonu melangkah masuk seraya membawakan sepiring kimbab di tangannya, dia melihat sekeliling kamar itu untuk pertama kali. Selama 2 tahun, ini pertama kali dirinya menginjakan kakinya di kamar Junhyo. Kamar yang terasa sangat sunyi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, dengan tampilan warna gradient merah, putih dan hitam serta barang-barang yang tertata rapi di tempatnya. Yeonu meletakan piring itu di atas nakas kecil yang terletak tepat di samping tempat tidur Junhyo. Dia tak sengaja melihat sebuah bingkai yang berisikan foto sebuah keluarga. Dia memegang bingkai itu untuk memperhatikannya lebih dekat. Uhuk. Batuk kecil Junhyo membuat Yeonu menoleh ke arahnya dan menaruh kembali bingkai tersebut di tempat asalnya. Yeonu perlahan mendekati sang adik. "Junhyo-ah ireonna," ucapnya dingin. (Ireonna : bangun). Junhyo tetap tak bergerak, Yeonu memperhatikan wajahnya yang terlihat pucat. Dia perlahan menaruh punggung tangannya di atas kening Junhyo. Panas, itulah yang dirasakannya. "Hey Junhyo-ah, gwaenchanayeo?" tanyanya lagi. (Gwaenchanayeo? : tidak apa apa?) Junhyo sedikit membuka matanya. "Eoh? Hyung ... Se-sedang apa di sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar karena menggigil. "Sedang apa? Tentu saja memberimu makan! Kau belum makan, kan? Lihatlah sekarang badan mu panas begini," ucap Yeonu yang mulai khawatir. "Aku tidak apa-apa hyung, aku hanya butuh istirahat," ucap Junhyo dengan senyumannya. Yeonu yang melihat senyuman sang adik merasa ingin sekali memeluk tubuh lelaki bergigi kelinci di hadapannya. Bahkan dengan wajahnya yang putih pucat dan tubuhnya yang menggigil saja dia bisa tersenyum dengan sangat manis. "Baiklah jika kau tidak ingin ke rumah sakit sebaiknya kau beristirahat, tapi sebelum itu makan lah dulu, Seokmin hyung tadi membuatkan kimbab, jadi kau harus makan," ucap Yeonu seraya duduk dengan sepiring kimbab di tangannya. Dia sadar setelah melihat Junhyo. Seokmin-hyung benar-benar membuatnya terpakaa berpuasa. Junhyo hanya menatap Yeonu tak percaya, ini kah kenyataan sekarang? Atau ini hanya sebuah mimpi yang indah? Jika ini mimpi, rasanya dia tidak ingin bangun dan ingin tetap berada di alam mimpi. Yeonu memberikan piring itu kepada Junhyo. "Ini makanlah sendiri, aku tidak bisa menyuapimu." "Go-gomawoyo Yeonu hyung," ucap Junhyo dengan ragu. Yeonu yang mendengar itu hanya tersenyum sekilas dan setelahnya dia melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Junhyo di kamarnya. (gomawoyo: terimakasih). Senyum? Yeonu hyung baru saja tersenyum padaku? - ucap Junhyo dalam hati. Perasaannya kini sangat senang, ia merasa sedang terbang ke sebuah tempat. Junhyo tersenyum dan memakan kimbab itu dengan lahap. Yeonu berjalan ke arah sofa, di sana ada Daeho yang tengah memejamkan matanya. "Hey," ucapnya seraya duduk di samping Daeho. "Eoh? Hyung? Kau belum tidur?" tanya Daeho setelah merasakan sofa bergerak akibat Yeonu. "Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau belum tidur? Sudah malam begini, yang lain pasti sudah tertidur," ucap Yeonu. Daeho hanya terdiam. "Ada masalah?" tanya Yeonu sambil menatap lurus ke arah Daeho. Sepertinya Dae memikirkan sesuatu dan kemungkinan sedikit agak penting untuknya. "Aku hanya memikirkan Junhyo," ucap Daeho, kepalanya menunduk dan ekspresinya terlihat sedikit sedih. "Waeyo?" tanya Yeonu yang merasa heran dengan perilaku lelaki yang biasanya ceria, namun sekarang malah terlihat murung seperti itu. (Waeyo : kenapa). "Entahlah hyung, belakangan ini aku jadi sering memikirkannya, aku hanya merasa takut dia kenapa-kenapa akibat perlakuan yang diberikan Seokmin-hyung," ucap Daeho. "Hm soal itu, tadi aku ke kamarnya untuk memberikan kimbab bagiannya, lalu saat aku memegang keningnya rasanya sangat panas, sepertinya dia terserang demam," ungkap lelaki berkulit putih dengan warna rambutnya yang hitam legam. "Apa? Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit hyung?" tanya Daeho yang sedikit panik. "Tenanglah, tadi aku sudah menawarinya, tapi dia tidak ingin, jadi kusuruh saja dia beristirahat dan makan," ungkap Yeonu. Daeho lagi-lagi terdiam, terlihat jelas dari ekspresinya dia tengah khawatir sekaligus menyesal. Kepalanya tertunduk menatap jari-jemarinya. "Sudah malam, sebaiknya sekarang kau tidur," ucap Yeonu lagi. "Aku ke kamar ya? jaljayo," sambungnya. Perlahan ia bangkit dari sofa dan berjalan pergi menuju ke kamarnya. (Jaljayo : selamat tidur/selamat malam). Daeho hanya melihat Yeonu tanpa mengatakan sepatah kata pun dan tak lama setelahnya dia menghela nafas dengan kasar. Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang terasa empuk dan perlahan memejamkan matanya, lalu terlelap. Setelah Junhyo selesai makan, dia berniat pergi ke dapur untuk menaruh dan mencuci piring kotor bekas makannya. Saat melewati ruang tamu, dirinya tak sengaja melihat Daeho yang tertidur di Sofa. 'Kenapa hyung tidur di sofa?' - tanyanya dalam hati. Junhyo bergegas mencuci piring kotor dan menaruhnya, dia kembali ke kamarnya dengan sedikit berlari dan membuka lemari miliknya lalu mencari sebuah selimut yang lumayan tebal. Setelah itu dia kembali menghampiri Daeho untuk segera menyelimutinya. "Good night hyung, mimpilah yang indah," ucapnya dengan tutur kata yang terdengar lembut, setelahnya dia pergi ke kamarnya dan segera tidur. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN