#03

1250 Kata
Pukul 02:00 AM. Suasana di dalam dorm terasa sepi karena para anggota Boy TZ masih berada di alam mimpi mereka masing-masing. Terkecuali Junhyo. Dia terbangun belum lama ini karena ingin pergi ke kamar kecil. Tetapi saat kembali, dia malah tidak bisa tidur. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Yeonu sangat baik padanya. Yeonu bahkan tersenyum padanya. Setelah 2 tahun, itu pertama kalinya Junhyo melihat Yeonu tersenyum. Bahkan bisa mengobrol dengannya. Meski sikap Yeonu masih terbilang dingin, tetap saja Junhyo merasakan sesuatu yang hangat di hatinya. Junhyo mengambil bingkai di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur miliknya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman saat ia menatap bingkai tersebut. "Appa, Eomma ... Aku sangat bahagia," gumamnya pelan. "Ini pertama kali bagiku, setelah sekian lama ... aku benar-benar bahagia meski yang diberikannya hanya perhatian kecil," lanjutnya. Lalu Junhyo berdiri dan mengambil sebuah kotak di atas lemari pakaiannya, kotak berwarna biru itu terlihat kusam akibat debu. Junhyo terduduk sambil memangku kotak tersebut, perlahan ia membersihkan debu-debu yang menutupi warna asli kotaknya dan membuka kuncinya. Mainan. Kotak yang penuh dengan mainan buatan tangan. Sangat bagus. Junhyo mengambil sebuah mobil-mobilan kecil yang terbuat dari kayu. Masih terlihat indah meski kelihatan usianya sudah sangat lama. ]] Flashback On [[ "Juni... Lihat ini!!" teriak seorang anak laki-laki sambil menunjukan sebuah mainan kecilnya. Seorang bocah dengan nama Juni itu pun menghampirinya dan melihat apa yang dipegangnya. "Ige, mwoya hyung-ie?" tanya Juni pada anak laki-laki yang terlihat lebih tua darinya. (ige : ini, mwoya : apa). "Aku membutkan ini untukmu ... bagaimana bagus tidak?" tanyanya. Juni menganggu sambil tersenyum lebar. "Ini sangat bagus dan lucu hyung, aku menyukainya, mobil ini lucu," ucap Juni dengan senyumannya yang manis. Anak laki-laki tadi menjadi gemas dan segera memeluk Juni dengan erat. Dia memberikan mainan itu kepada Juni. "Aku ingin kamu menjaganya dengan baik." Anak laki-laki bernama Juni itu sangat senang ketika diberikan mobilan tersebut. "Kau tau kenapa aku membuatkan mu mobilan ini?" tanya nya. Juni hanya menatap nya bingung. "Karena aku sangat ingin pergi keliling dunia dengan mu dan dengan yang lain ... tapi aku rasa itu hanya sebuah mimpi," raut wajah anak laki-laki itu berubah menjadi sedih. Juni yang melihat itu pun ikut sedih. "Hyung, aku berjanji padamu akan mengabulkan mimpimu," ucap Juni dengan senyum lebarnya. Membuat bocah lelaki berambut coklat itu juga ikut tersenyum. "Yeahh, kita akan berkeliling dunia suatu hari nanti," ucap seorang anak laki-laki berambut pirang yang tiba-tiba saja datang dan merangkul keduanya. "Woaahh bagaimana kau bisa membuatnya?" tanya anak laki-laki berambut pirang itu. "Sebenarnya dengan bantuan appa hehehe," ucapnya. Seorang pria yang diperkirakan usianya masih 35-an, dengan seorang wanita yang kemungkinan di bawah usia pria itu tengah tersenyum melihat mereka. Tak lama kemudian mereka menghampiri Juni. Pria itu menggendong Juni kecilnya. "Janji ya kita akan bahagia, kita akan selalu bersama," ucap pria itu Wanita yang bersama mereka itu tersenyum dan memeluk ke-7 anak laki laki nya. ]] Flashback Off [[ Tak disadari liquid bening kini sudah membasahi pipi chubby milik lelaki imut bergigi kelinci. Junhyo sangat merindukan saudara-saudaranya. "Aku berjanji akan mencari kalian hyung," gumam Junhyo seraya menahan isakan tangisnya. Junhyo menaruh kotak itu dengan kondisi kotak yang tidak tertutup rapat seperti sebelumnya di atas meja belajar miliknya. Junhyo pergi ke kamar kecil dan membasuh wajahnya, dia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Dia segera keluar dan melihat jam. "Pukul 03:45 AM? Eumm sebaiknya aku melanjutkan tidurku," ucap Junhyo seraya naik ke atas tempat tidurnya dan menyelimuti tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan tak lama ia terlelap dalam tidurnya. --- Pukul 06:00 AM Brak Grusuk Brak Suara keributan seseorang kini tengah memenuhi ruang tamu. "Seokmin hyung, kau melihat buku ku?!!" tanya Taeyul sedikit teriak seraya terus mencari buku-bukunya. Yeonu yang mendengar itu merasa geram. "Kau berisik sekali ini masih pagi Taeyul-ah, cari perlahan," ucap Yeonu yang sudah rapi dengan pakaiannya. "Tapi hyung, apa kau tidak melihat pukul berapa sekarang?" tanya T. Yeonu pura-pura tak mendengar ucapan T, al hasil membuat adiknya menyipitkan mata kesal. Bruk "Akhh appo," ringis T ketika buku mendarat tepat di kepalanya. (Appo : sakit). "Itu buku mu, apa kau tidak ingat? Semalam kau meminjamkannya padaku," ucap Taemin. Taeyul hanya yengir kuda. Selagi yang lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, Seokmin pun sedang sibuk dengan dapur miliknya. Dia tengah membuat sarapan pagi untuk adik-adiknya. Sedangkan Junhyo? Dia masih tertidur. "Hyung kau sudah melihat Junhyo?" tanya Daeho pada Yeonu. Yeonu menoleh dan menjawab "Entah mungkin dia masih tertidur." "Biar aku yang membangunkan nya hyung," ucap Daeho dengan senyuman yang terpancar di wajah tampannya. Yeonu menganggukan kepalanya tanpa mengatakan sesuatu. Daeho segera melangkah menaiki anak tangga dan pergi menuju kamar Junhyo. Entah apa yang sedang ia rasakan, tapi perasaan Daeho sangat senang. Tuk Tuk Tuk "Biarkan aku masuk ne," ucap Daeho. Dia memutar handle pintu kamar Junhyo. Cekrek Dia melihat sekeliking kamar yang begitu rapi. Ini kah kamar Junhyo? Rapi sekali. seperti bukan kamar anak laki-laki. Daeho melihat Junhyo yang masih terbaring di atas tempat tidur. "Junhyo-ah bangunlah kau-" ucapan Daeho terhenti sesaat matanya tertuju pada sebuah kotak dan mobil mainan di atas meja belajar. "Aku seperti pernah melihat mobil mainan ini??" gumamnya pelan. Daeho mengernyitkan dahinya bingung. "Ughh," lenguh Junhyo. Daeho yang menyadari sang adik sudah mulai bangun pun menatapnya dengan tersenyum. "Hey Junhyo-ah, bangunlah kau akan telat pergi ke sekolah," ucap Daeho. Junhyo mengerjapkan mata nya berkali-kali melihat Daeho yang sedari tadi berdiri di samping tempat tidurnya. "Hyung?" ucap Junhyo bingung, kenapa Daeho berada di kamarnya? "Mandilah dan makan, hari ini sekolah bukan?" tanya Daeho. Junhyo masih tak percaya, kemarin Yeonu? Sekarang Daeho? Apakah ini mimpi? Apa dia masih berada di alam mimpi? Junhyo menepuk-nepuk pipinya. Daeho yang menyadari itu segera menahan Junhyo. "Eoh? Apa yg kau lakukan?" tanya Daeho. Benar. ini bukan mimpi, dia bahkan bisa bersentuhan langsung dengan Daeho. Junhyo tersenyum lebar. "Aku pergi mandi dulu hyung," ucap Junhyo. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan segera ke kamar mandi. Daeho yang masih penasaran dengan kotak tadi kembali mendekati kotak itu. Dia berniat memegangnya dan melihatnya lebih dekat. "Daeho ah!!! Cepat makan!!" teriak Seokmin dari bawah. Membuat aktivitas Daeho terhenti, ia segera turun karena kakak tertuanya memanggil. Sedangkan Junhyo masih bersiap di kamarnya. "Mana Junhyo?" tanya Yeonu. "Dia masih bersiap hyung, tadi dia masih tidur," jawab Daeho seraya memakan makannnya. "Yaah dia kan pemalas, jika kau tidak membangunkan nya kemungkinan dia akan bangun siang hyung," ucap Taeyul ketus seraya melahap makanannya. Yeonu meliriknya seolah tak peduli. Daeho yang mendengar itu hanya memilih untuk diam. "Seojun-ah, setelah ini antarkan Taemin dan Taeyul untuk pergi ke sekolah," ucap Seokmin. "Siap hyung, bukan kah itu sudah biasa," jawab Seojun sambil tersenyum. Tak lama kamudian Junhyo menuruni anak tangga. "Lalu Junhyo, dia juga akan diantar oleh mu kan?" tanya Daeho. Baru saja Seojun ingin menjawab pertanyaan Daeho, tetapi terpotong. "Tidak! Dia kan punya kaki, dia bisa berjalan ke sekolahnya," ketus Seokmin. "Tapi hyung sekolah mereka kan sama dan itu kan lumayan jauh," protes Daeho, membuat sedikit kenyamanan di meja makan itu hilang, Yeonu yang sudah merasa selera makannya hilang karena kesal segera bangun. "Aku kenyang," ucap Yeonu dingin. Junhyo yang mendengar itu merasa sedih, karena para hyung bertengkar karenanya. "Hyung aku berangkat ne," ucap Junhyo dengan senyuman di wajahnya, dia sedikit membungkuk untuk memberi hormat kepada para hyungnya. Setelah itu pergi keluar untuk berangkat sekolah. Yeonu yang melihat itu ingin sekali menahannya, tetapi ucapan Seokmin tidak bisa dibantah. Sekuat apapun dia membantah ucapan Seokmin akan selalu benar. Tak lama kemudian Seojun pun berangkat untuk mengantarkan Taeyul dan Taemin ke sekolah. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN