Nindya pov Siapa yang kurang kerjaan bertamu di jam sepuluh malam begini. Kulemparkan handuk yang kugunakan untuk mengeringkan rambut ke sofa. Sebelum kemudian merutuk kesal membuka pintu apartemen. Siap mengomel pada siapa saja yang mengacaukan waktu istirahatnya. Pukul sembilan tadi dia baru menginjakkan kaki di apartemen setelah melakukan cesar di RS tadi. Mandi, makan dan bersiap tidur, paling tidak itu yang akan segera dilakukannya sebelum kemudian denting bel apartemennya yang tidak berhenti mengacaukan rencananya. Mulutku sudah siap mengomeli siapa saja yang berdiri di balik pintu ketika sosok Abra menjulang disana. Dengan setelan kerja kemeja putih yang sudah kusut dan rambut berantakan. Tapi aku tidak mencium rokok dan alkohol yang menguar dari tubuhnya. "Apa yang kamu lakuka

