Nindya pov Aku menatap cangkir yang kini menguarkan uap panas teh di dalamnya. Pukul sepuluh malam, terlalu larut untuk berbicara hal penting di jam seperti ini. Setelah seharian penat dengan pekerjaan, kemudian membicarakan hal kusut ini sama sekali bukan ide baik. Pandanganku tidak beralih ketika mendengar langkah Abra menuruni tangga. Kaus abu dan celana navy selutut menggantikan setelan kerjanya. Laki-laki itu membuat kopi begitu sampai di dapur. Membuatnya sendiri, tidak lagi menyuruhku seperti biasanya. Kemudian meletakkannya disamping cangkir tehku sembari mengaduknya. "Apa yang ingin kau bicarakan?” buka Abra begitu aku tetap bungkam. Banyak sekali yang ingin kubicarakan. Entah mana dulu yang harus kutanya. Yang tengah duduk di depanku ini bukan sosok Abra yang kukenal akhir

