Langit nampak mencerah saat anak-anak berkumpul dikantin saling berdesakan. Bangku yang sama warnanya berjejer rapi, membentuk persegi panjang kearah luar. Hal yang sama dilakukan Luna, ia duduk dibangku itu tanpa tahu harus berbuat apa. Tapi, cowok dengan dandanan rapi menariknya setelah keluar kelas tadi. Baru kenal beberapa hari, cowok itu sudah mengakrabinya. Seperti sudah kenal begitu lama, bahkan saat ditarik cowok itu Luna nggak menolak sedikitpun. Meski Vigo sudah melarangnya untuk tidak dekat dengan cowok itu, tapi dia nggak mau terlalu mengikuti. Lagi pula alasan Vigo untuk menjauhi cowok itu nggak masuk akal. “Nih, aku bawakan makan.” Angga menaruk dua mangkok bakso dimeja tepat didepan Luna. Luna menatap mangkok itu sambil mengernyitkan dahinya. Dia nggakk pernah seklaipun m

