Maket masih setengah jadi, tapi tenaga Revila dan Lory tidak bisa dipaksakan lagi. Mereka butuh istirahat sejenak daripada maket mereka semakin kacau karena terlalu memaksa. Lory dan Revila kini mulai membereskan pekerjaan mereka. “Besok ngerjain di rumah gue aja,” usul Revila. Mendengar itu Lory mengernyit bingung. “Nggak salah? Biasanya lo paling nggak suka ngerjain di rumah lo?” Seketika Revila menyentuh punggungnya yang terasa nyeri. Dia yakin besok tubuhnya pegal-pegal dan membuatnya cepat lelah. “Udah deh di rumah gue aja. Jam sembilan.” Gadis itu membawa maket dengan hati-hati lalu berjalan keluar. Lory menyusul dan berjalan di samping Revila. “Gue antar, ya.” Revila menggeleng. “Temen lo kasihan udah nungguin lo.” Tiga puluh menit yang lalu teman sekamar Lory menelepon karena

