“Lo ya!” kata Revila marah.
Noel pasrah, mengaku salah. “Sorry gue nggak sengaja.”
Revila mengambil tisu lalu mengusap buku yang basah itu. Setelahnya dia menatap Noel yang masih berdiri dan menatapnya penuh tanya. “Lo ngapain masih di sini?” tanya Revila jengkel.
“Gue bisa ganti buku lo.”
“Nggak usah. Makasih.”
Noel membuang napas panjang. Dia lalu pergi dengan perasaan bersalah. Tidak biasanya dia seperti ini. Memang dia sering mengajak berbicara pengunjung kafe, tapi tidak pernah seperti dia mengajak ngobrol Revila. Bahkan sempat ada insiden memalukan seperti barusan.
“Kenapa, Mas?” tanya Bento melihat tampang lesu bosnya.
“Nggak sengaja nabrak meja. Buku dia jadi basah,” Noel menjawab sambil menoleh ke belakang—tepatnya ke arah Revila. “Tolong deh lo kasih makanan apa gitu. Sebagai ucapan permintaan maaf gue.”
“Iya, Mas. Ini makanan yang Mas minta.”
Noel mengambil kresek putih yang berisi tiga kotak makanan. Dia lalu berjalan keluar. Saat melewati Revila, lelaki itu menoleh. Namun Revila memilih menunduk, kembali sibuk dengan bacaannya.
“Bikin malu!” Noel terus menggerutu.
“El!”
Seruan mamanya terdengar. Noel menoleh dan melihat wanita dengan terusan putih gading dengan motif bunga-bunga itu berjalan ke arahnya. Noel membuang napas panjang.
“Di sini kamu rupanya. Kenapa tadi pagi pergi nggak pamit?” tanya Mama Noel dengan nada penuh amarah.
Gimana mau pamit orang gue kabur. Orang kaburpun harusnya sekarang menghindar, bukan malah berdiri di sini! perintah dalam kepalanya. Noel menggeleng pelan. “Buru-buru.”
“Sekarang mau ke mana?”
“Pulang.”
“Bareng mama aja.”
Seketika Noel menggeleng. Dia sedang kabur dan mana mungkin pulang secepat ini. “Noel mau balik ke kantor.”
Wanita itu menatap anaknya dengan pandangan menyelidik. Dia merasa Noel begitu hati-hati, takut dipertemukan dengan gadis yang akan dijodohkan. “Oke. Nanti mama tunggu di rumah. Kamu harus milih gadis-gadis itu!”
“Iya.”
Noel melanjutkan langkah menuju mobil. Tanpa buang waktu dia langsung tancap gas. Sambil mengemudi dia waspada takut sopir mamanya mengikuti. Saat dilihat tidak ada mobil merah di belakangnya Noel menghela napas panjang. Dia bisa tenang ke rumah Dean tanpa ketahuan.
***
“Jadi Noel tinggal di sini?”
Samar-samar Noel mendengar suara Audrey. Lelaki itu mempercepat langkah lalu melihat sepasang suami istri itu sedang makan malam bersama.
“Iya. Katanya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Kesannya dia pemilik rumah ya,” Dean menjawab.
“Temenmu itu,” ucap Audrey sambil geleng-geleng. Menurutnya sahabat Dean adalah lelaki yang aneh-aneh, kecuali Remy yang sedikit normal.
“Kayaknya ada yang ngomongin gue, nih?” Noel masuk sambil mengangkat tangan kanan, menunjukkan kresek putih yang sedang dia bawa. Dia lalu menatap sepasang suami istri yang duduk tanpa sepatah kata itu.
“Ini dia tamu terhormat,” kata Dean menyindir.
Dean menuangkan kopi buatannya ke cangkir putih. Dia mengangkat cangkir itu seolah memberi kode agar Noel ikut mengambil minuman yang tersaji. Tanpa menunggu waktu lama Noel mengambil cangkir itu dan menyeruput kopi yang rasanya begitu pahit. Noel mengernyit lalu menatap Dean tajam. Sedangkan Dean menahan tawa, puas mengerjai Noel.
“Dree. Gue boleh kan tinggal sini?” pinta Noel ke Audrey. Dari semalam hingga tadi pagi, baru sore ini dia bertemu dengan Audrey.
Audrey mengunyah makanannya sambil mengangguk. “Nggak apa-apa.”
“Kenapa lo izin ke Audrey sedangkan ke gue enggak?”
Noel meringis. Dia memang sengaja tidak meminta izin ke Dean, hanya untuk mengerjai. “Lo kan sahabat gue yang paling baik. Jadi gue udah tahu kalau lo pasti nolongin gue.”
“Peres!”
Melihat interaksi keduanya Audrey terkekeh pelan. Rasanya senang ada anggota baru di rumah yang hanya ditinggali berdua. “Emang kenapa lo mau tinggal di rumah Dean?”
“Dipaksa kawin!” jawab Dean.
Noel menggeleng tak terima. “Gue dijodohin dan gue nggak mau.”
“Sekarang lo dipaksa orangtua lo?” tebak Audrey.
“Ya. Makanya gue ke sini. Untung aja nyokap nggak tahu Dean punya rumah di sini.”
Audrey dan Dean tersenyum. Tanpa diminta pikiran mereka tertuju saat mereka akan dijodohkan. Dean lalu melirik sang istri. “Jadi inget waktu kita dijodohin ya, Sayang,” ucapnya membuat Audrey mengangguk.
Tatapan Audrey lalu tertuju ke Noel. Audrey menatap lingkar hitam di bawah mata Noel. “Kenapa lo nggak nyoba turutin kemauan orangtua lo? Mereka pasti pengen yang terbaik buat lo.”
Noel terdiam. Dia menatap jendela dapur dengan pandangan menerawang. Dia beberapa kali juga berpikiran seperti itu. Namun, dia tidak habis pikir dengan orangtuanya yang mencetuskan perjodohan.
“Gue kan bisa, Dree cari pasangan sendiri. Masa harus dijodohin.”
Dean memutar tubuh. Tangan besarnya menepuk pundak Noel hingga lelaki galau itu menoleh. “Jodoh itu nggak bisa ditebak datangnya kapan. Bisa juga jodoh karena perjodohan.”
“Gue bisa senasib kayak lo dong, De,” ucap Noel lalu menggeleng tegas. Dia masih berpegang teguh bahwa dia bisa mencari pasangan sendiri.
“Buktinya sekarang kita bahagia loh. Emang nggak mau coba jalanin?” Audrey melirik Dean lalu mengedipkan mata. Audrey berharap Noel mau menerima perjodohan itu. Bagi Audrey tidak ada salahnya dijodohkan, meskipun kesannya seperti kehidupan zaman dulu.
“Udah ah gue males bahas gitu. Nanti deh gue pikir lagi,” ucap Noel.
Noel lalu mengeluarkan makanan yang tadi dia bawa. Dia mulai membuka kotak itu satu persatu lalu memilih mengambil d**a ayam. “Gue bawa makanan. Nanti gue beli cemilan. Apaan kulkas kalian isinya sayuran doang.”
Diam-diam Dean menahan tawa. “Akhir bulan, Bro. Audrey belum sempet belanja.”
“Bilang aja lo belum ngasih duit ke Audrey,” jawab Noel. Dia lalu menatap gadis yang meminum teh hangat itu. “Dree dia emang pelit, ya.”
“Diem. Atau lo gue usir!”
Seketika Noel terdiam daripada diusir. Bisa saja sih dia menginap di sahabatnya yang lain. Namun, pilihan yang tepat hanya di rumah Dean. Kalau menginap di tempat Moren, Noel yakin sering sendirian. Atau lebih parahnya dia disuguhkan keromantiasan Moren dan gebetannya. Kalau menginap di rumah Remy, Noel tidak betah karena ada kucing di sana. Noel geli dengan hewan yang berbulu, lebih tepatnya dia takut terhadap semua binatang. Sedangkan kalau menginap di rumah Kelvin, Noel tidak betah karena rumah sahabatnya yang satu itu terkesan horor.
“El. Lo mau ke mini market?” tanya Audrey membuyarkan lamunan Noel.
“Iya.” Noel melirik ke gadis di depannya itu.
“Gue nitip cokelat ya.”
“Siap!” jawab Noel. Lelaki itu lalu menyantap makanan. Baru setelah itu dia akan membeli makanan di minimarket komplek.
***
Komplek perumahan Dean begitu sepi. Sebagian pemilik rumah adalah pebisnis. Sejak keluar rumah sampai kira-kira 500 meter, Noel tidak sekalipun berpapasan dengan orang. Ditambah rumah Dean berada di gang buntu, jalanan semakin sepi.
Srek!
Suara orang melangkah itu membuat Noel menoleh. Dia melihat gadis berkaus kuning keluar rumah sambil membawa tas kecil. Lalu pandangan mereka bertemu. Noel merasa tidak asing dengan wajah gadis itu.
“Loh lo kan yang kemarin,” kata gadis itu lalu berjalan mendekat.
Melihat lesung pipi itu membuat Noel langsung ingat. Gadis manis yang mengobrol dengannya di taman. “Rumah lo di sini?”
Rena mengangguk. Dia menoleh ke belakang lalu menunjuk ke rumah dengan gerbang berwarna hijau lumut itu. “Rumah gue yang itu. Rumah lo yang mana?”
“Rumah gue bukan di sini, sih. Gue lagi di rumah temen gue,” jawab Noel sambil melanjutkan langkah.
“Oh gitu. Pantesan gue nggak pernah lihat lo di sekitaran sini.”
Noel melirik gadis yang berjalan di sampingnya itu. Gadis itu tampak rapi dan tercium aroma parfum yang cukup menyengat. “Mau kencan?”
Senyum Rena mengembang. Dia lalu mengangguk antusias. “Iya. Tapi dia nunggu di bengkel depan. Bannya kempes.”
“Haha.” Noel tertawa. Menurutnya ada-ada saja cobaan orang yang mau kencan. “Lo yang sabar ya,” ucapnya sambil menepuk pundak Rena.
“Kalau lo sendiri mau ke mana?”
“Tuh.” Telunjuk Noel terarah ke mini market.
Rena menatap ke arah telunjuk itu lalu manggut-manggut mengerti. “Ya udah gue duluan ya.”
“Hati-hati!” teriak Noel lalu masuk ke mini market.
Rena berjalan dengan langkah ringan. Perbincangannya dengan Noel selalu membuat gadis itu tersenyum. Tiba-tiba Rena menghentikan langkah. Dia ingat dengan kartu nama lelaki itu yang belum dia beri ke kakaknya. “Ah, Rena! Kenapa pelupa sih.”
Lantas Rena menoleh, lelaki itu telah menghilang di dalam minimarket. Rena membuang napas lalu melanjutkan langkah.
Nanti harus kasih ke Kak Revila! ulangnya dalam hati.
***
“Kak Revila!”
Teriakan itu membuat mata Revila seketika terbuka. Dia mengucek mata lalu menoleh ke arah pintu. Pintu itu lalu dibuka dari luar hingga menampakkan wajah Rena dengan senyum sumringah.
“Lo dari mana? Tadi dicari mama sama papa,” kata Revila.
Rena berjalan masuk lalu berbaring di samping kakaknya. “Gue habis kencan sama Ian.”
“Terus? Soal lamaran itu gimana?”
Revila ingat kedua orangtuanya belum menyetujui Rena untuk bertunangan. Alasanya karena Rena masih sering labil. Selain itu kedua orangtua mereka juga tidak yakin Rena benar-benar mencintai Ian.
“Ian ngambek, sih. Tapi sekarang udah enggak kok,” jawab Rena dengan senyum puas. Dia lalu mengeluarkan kertas dari dalam saku baju tidurnya.
“Nih, buat lo, Kak.”
Satu alis Revila terangkat. Dia menerima uluran kertas itu lalu memperhatikan dengan saksama. “Kartu nama?” tanyanya. “Noel Permadhi?” Revila membaca tulisan yang dicetak dengan tebal itu.
“Iya, Noel. Dia baik deh orangnya.”
Revila sontak terduduk. Dia menangkap ada maksud terselubung dari adiknya itu. “Terus hubungannya sama gue?”
Senyum Rena mengembang. Dia lalu menunduk malu-malu. “Gue mau nyoblangin lo sama dia, Kak!”
Tuh kan, dugaan Revila benar. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan adiknya. Revila lalu mengembalian kartu nama itu Rena. “Nggak usah, Dek. Lo ngapain sih kayak gitu,” jawabnya lalu kembali berbaring.
Rena ikutan berbaring. Dia melirik kakaknya yang sepertinya marah itu. “Gue kan mau lo punya pasangan, Kak.”
“Tapi kan nggak kayak gitu juga,” desah Revila sebal. Dia menoleh ke adiknya, penasaran dengan Noel-Noel itu. “Dia siapa, sih? Kakak tingkat lo? atau kenalannya Ian?”
Rena menggeleng tegas. “Gue ketemu dia taman.”
“Ya ampun, Ren! Gimana kalau ternyata orang jahat?”
“Gue yakin dia bukan orang jahat. Dua kali gue ketemu dia. Kami ngobrol dan dia orangnya asyik,” jawab Rena.
Asyik menurut Rena jelas berbeda asyik menurut Revila. Kakak beradik itu beda selera. Rena lebih suka dengan suasana ramai, Revila sebaliknya. Rena senang berkumpul dengan banyak orang, Revila hanya suka berkumpul dengan segelintir orang.
“Dia keren loh, Kak.”
Kalimat Rena menarik perhatikan Revila. “Semenarik apa?” tantang Revila.
“Kulitnya kuning langsat. Rambutnya agak gondrong. Dia gampang senyum. Apalagi matanya bagus banget. Setiap ngomong matanya kayak berbinar gitu,” kata Rena sambil membayangkan Noel. Sontak Rena menoleh. Dia ingat sesuatu. “Dia humoris, Kak. Selalu bisa hidupin suasana.”
Tanggapan Revila hanya geleng-geleng. Dia memejamkan mata lalu muncul wajah lelaki menyebalkan tadi siang. Kok tiba-tiba inget dia sih? Cowok itu kan kelihatannya juga humoris. Ah tapi dia juga menyebalkan. Revila mengenyahkan pikiran itu lalu memilih tidur.