Mungkin sudah menjadi badhabit, ketika meminta janjian tapi datang telat. Revila termasuk orang yang menepati janji. Bahkan keseringan dia datang lebih dulu daripada seseorang yang meminta bertemu. Sayangnya tidak semua orang seperti Revila, Lory misalnya. Lelaki itu meminta bertemu jam sembilan tapi sampai jam sepuluh tidak kunjung datang.
“Udah lama ya?” Suara itu terdengar santai, tidak terdengar nada bersalah sedikitpun.
Revila mengangkat wajah melihat rambut Lory yang telah basah. “Kan janjian jam sembilan. Kenapa jam sepuluh baru dateng?” tanyanya tak suka.
“Macet, Rev.”
“Kosan lo deket sini. Jalan kaki juga sampai.”
Lory menggaruk pelipis dengan bingung. Dia lalu duduk di samping Revila dan menjawab. “Gue nginep di kosan pacar gue.”
Revila tidak kaget dengan kalimat itu. Sepertinya “inap-menginap” sudah menjadi hal wajar dikalangan orang bebas seperti Lory.
“Nih. Lo baca catetan gue. Terus lo benerin desainnya. Baru setelah itu kita bikin maketnya.”
Tumpukan kertas itu membuat Lory bergidik. Dia mengambil tupukan yang paling atas lalu membaca proposal kemarin. “Ini kan yang kemarin. Catetan lo aja lah biar nggak banyak-banyak.”
Mendengar permintaan itu Revila membuang napas panjang. “Lo juga harus baca catetan dari dosen. Udahlah pokok gue minta desainnya lo benerin. Sementara gue sama Dee mau cari bahan buat maket.”
Lory manggut-manggut. Dia membuka desain sebuah hotel dengan konsep Jawa. Sebenarnya Lory sebih senang mendesain dengan konsep moderen karena tidak begitu rumit. “Kenapa kita apes dapet tugas hotel konsep Jawa.”
“Bukan apes tapi ini tantangan. Udahlah besok gue minta desainnya udah jadi.”
Seketika Lory menegakkan tubuh. Besok? Lelaki itu tersenyum manis. Sejenis senyuman membujuk. “Lusa, deh.”
Bola mata Revila memutar. “Kali ini kenapa pagi?”
“Pacar gue.”
“Kenapa? Hamil?”
“Hei!” Seketika Lory kaget dengan ucapan Revila. Ternyata gadis pendiam seperti itu bisa berbicara blak-blakan juga. Terlebih diucapkan dengan suara kencang. “Pacar gue akhir-akhir kok ngambek, ya,” cerita Lory.
Revila menyandarkan punggung di sandaran bangku. Dia mengangkat bahu pelan. “Tanya ke pacar lo jangan tanya gue.”
“Dia cemburu ke lo, Rev.”
Sontak Revila menoleh. Cemburu? Revila menggeleng tegas. Tahu pacarnya Lory saja tidak. Bagaimana bisa pacarnya Lory cemburu? Revila geleng-geleng karena orang sulit berpikir ketika cinta lebih mengendalikan. “Aneh. Emang dia kenal gue?”
Lory mendekap proposal lalu tatapannya tertuju ke depan. Dia melihat mahasiswa yang mengenakan almamater, tanda jika itu mahasiswa baru. “Gue cerita kalau ada tugas akhir. Dia tanya gue sekelompok sama siapa. Pas gue sebut lo dia cemburu.”
“Aneh,” gumam Revila sambil geleng-geleng.
Arah pandang Lory lalu tertuju ke gadis di sampingnya. “Gue cerita kalau lo belum punya pacar. Terus dia jadi mikir yang aneh-aneh.”
“Contohnya?” Jika berurusan dengan cinta, Revila termasuk orang awam. Dia sama sekali tidak paham dengan keanehan seseorang yang berdalih karena cinta.
“Dia mikir kalau kita bakal cinlok,” jawab Lory dengan suara pelan.
Bibir Revila terbuka, tidak menyangka pacar Lory sampai berpikiran ke arah sana. Revila lantas menggeleng tegas. “Nggak mungkinlah gue cinlok sama lo,” tolaknya mentah-mentah.
“Loh, emang kenapa?”
Lory menegakkan tubuh. Dia memperhatikan Revila yang tampak bergidik itu. “Emang gue kurang ganteng, ya?”
Mau tidak mau Revila menatap lelaki di sampingnya. Lory memiliki kulit kecokelatan dan berkumis tipis. Rambutnya tertata rapi dan lelaki itu selalu wangi. Namun, kelebihan fisik tidak cukup bagi Revila. Dia suka dengan lelaki yang pintar, tahu sopan santun dan bermoral.
“Udahlah ngapain sih bahas itu,” kata Revila. Dia tidak enak jika menjawab “bukan kurang ganteng, tapi kurang pinter”. Revila tidak mau dicap sombong. Meski cap itu telah ditempel kepadanya oleh teman-temannya yang tidak setipe dengannya.
“Besok jam makan siang desain harus udah jadi.” Setelah mengucapkan itu Revila pergi meninggalkan Lory.
Sedangkan Lory masih duduk di posisinya menatap Revila. Sayang sekali, Lory tidak mendapatkan jawaban penting dari gadis itu. Padahal jika Revila menjawab “ganteng”, Lory mungkin akan berbuat lain. Seperti menembak gadis itu misalnya. Ayolah lelaki mana yang tidak menyukai Revila? Gadis itu cantik dan pintar.
“Tapi mana mau Revila sama gue,” desah Lory lalu bangkit dari posisinya. Lebih baik dia segera membenarkan desain sebelum sang pacar mengacaukan semuanya.
***
Sehari dua kali Revila dibuat sebal karena ada yang telat janjian. Tadi pagi Lory dan sore ini Dee. Sekarang, Revila ingin membeli barang-barang untuk maketnya. Daripada menunggu Dee yang tak kunjung datang, Revila langsung menuju toko alat tulis.
Kini di tas plastiknya penuh dengan kertas warna-warni, pensil warna dan beberapa keperluan untuk membuat maket. Gadis itu lalu berjalan menuju kasir. Saat itulah suara Dee baru terdengar.
“Revila!”
Revila menoleh. Dia melihat Dee dengan senyum khasnya.
“Eh kok udah belanja?” tanya Dee kaget.
“Lo dateng kelamaan. Ya udah gue belanja.”
Dee memeluk Revila sekilas. Lalu wajah Dee berubah sedih. “Sorry, Rev. Gue habis nganter makanan buat suami gue. Suami gue lembur.”
Respons Revila hanya anggukan tak berarti. Selalu suami dijadikan alasan. Kadang Revila heran, itu hanya alasan atau benar-benar terjadi.
“Eh emang belanjaannya udah selesai, ya?” tanya Dee.
“Tinggal kayu-kayuan yang belum.”
“Oh. Kita bisa beli di toko paling ujung. Mereka juga jual bunga-bungaan kecil.”
Revila berbalik dengan satu kresek besar di tangan. Dee mengikuti lalu mengarahkan ke toko paling ujung, dekat dengan basemant.
“Rev. Gue mau curhat,” kata Dee sambil berjalan.
Entahlah dua hari ini kenapa Revila dicurhati dua anggota kelompoknya. Bukannya tidak suka, hanya heran saja. Apalagi yang dicurhati pasti seputar asmara.
“Suami gue kok akhir-akhir ini berubah, ya?” tanya Dee.
Tadi pacar yang cemburuan, sekarang suami yang berubah, dalam hati Revila mengeluh. “Ya mungkin lo ada salah kali sama dia.”
“Enggak. Gue nggak buat salah kok,” jawab Dee.
Tipe egois, Revila geleng-geleng. Temannya itu bahkan belum mencoba interopeksi, tapi sudah menganggap dirinya tidak bersalah.
“Eh lo cari pernak-pernik buat desain lobi. Lo inget kan apa yang dibutuhin?” ucap Revila setelah memasuki toko dengan nuansa cream itu.
Dee meringis lalu menggeleng. “Lupa. Desainnya kan banyak. Jelas gue lupa dong.”
“Huh!” Revila membuka ponsel lalu mengirimkan gambar desain ke Dee. “Udah gue kirim, lo cari. Sementara gue cari yang lain,” ucapnya lalu berjalan pergi.
Sepertinya Dee tidak setuju dengan ide Revila. Buktinya wanita berkaus tanpa lengan itu mengikuti Revila. “Kenapa sih nggak nyari bareng-bareng? Gue kan sekalian mau curhat.”
Sontak Revila menoleh. Tadi dibuat emosi oleh Lory, sekarang Dee. Jika seperti ini terus, Revila yakin diakhir mata kuliah dia langsung darah tinggi. “Nggak keburu, Dee. Besok kita udah mulai bikin maket,” ucap Revila memohon.
Mau tidak mau Dee mengangguk. Dia sadar Revila yang banyak tahu soal tugas akhir ini. Sedangkan dirinya, tidak begitu banyak berkontribusi.
“Oke. Tapi setelah ini gue curhat, ya.”
“Iya.”
Senyum Dee mengembang. Dia lalu berjalan ke sudut lain untuk mencari bahan yang diperlukan. Selepas kepergian Dee, Revila mengurut pelipis. Dia pusing menghadapi dua temannya yang sama-sama ajaib itu.
Revila menoleh ke arah kepergian Dee. Tidak sengaja dia melihat ke luar, lelaki berkaus biru dongker berjalan dengan gadis berambut panjang. Revila buru-buru berbalik, tak ingin lelaki itu melihatnya. “Kenapa sih ketemu dia di sini?”
***
Sore ini Noel menemani Audrey belanja bulanan. Sebagai seseorang yang numpang di rumah Audrey tentu Noel ingin terlihat berguna. Bagaimanapun Dean tidak lagi hidup sendiri, jadi Noel tidak bisa bertingkah seenaknya di rumah sahabatnya itu.
“El. Lo sekarang deket sama siapa, sih?” tanya Audrey sambil memasukkan wortel ke troli.
“Sama lo, lah. Emm kira-kira lima puluh centi meter,” jawab Noel memperkirakan jaraknya dengan Audrey.
Audrey seketika terkekeh. Dia memukul lengan Noel dengan sayur bayam yang dia pegang. “Bukan itu maksud gue. Gebetan lo.”
Noel mengikuti Audrey yang berjalan menjauh itu. Sambil mendorong troli Noel menjawab. “Sayangnya gue nggak suka gebet-menggebet gitu. Itu style-nya Moren.”
Lama-lama Audrey kesal juga dengan jawaban ngaco Noel. Dia berbalik lalu mengeluarkan barang belanjaan ke atas meja kasir. “El! Lo jelas tahu maksud gue.”
Lebih dari tahu, hanya saja Noel ingin bercanda. Lelaki itu lalu berdiri di meja kasir dan menyandarkan pantatnya di sana. “Lagi nggak ada yang deket sih, Dree,” jawabnya lalu menoleh ke kasir. “Mbak mau nggak deket sama saya?”
Mbak-mbak kasir berkulit putih itu terkekeh pelan. Noel tersenyum menggoda lalu menatap Audrey yang menahan tawa.
“Kalau lo ada temen boleh lah lo kenalin ke gue,” jawab Noel.
“Serius?”
“Dua rius malah. Tapi cuma kenalan doang. Bukan ngajak hubungan serius.”
Mendengar itu Audrey geleng-geleng. Dia mengambil barang belanjaan lalu berjalan lebih dulu. Noel dengan cepat mengikuti dan mengambil alih barang belanjaan.
“Sebenarnya lo udah siap sama hubungan serius,” kata Audrey. “Buktinya lo sigap banget ambil barang belanjaan.”
“Ck! Nggak ada bedanya sama kuli panggul, ya? Sigap bawa barang milik orang.”
“Ada-ada saja.”
Mereka lalu berbelok ke arah foodcourt. Audrey memilih duduk tidak jauh dari stand soto betawi.
“Lo mau pesen apa? Biar gue yang pesenin,” kata Noel sambil meletakkan barang belanjaan ke atas meja.
“Soto betawi.”
“Oke.” Noel melesat ke stand soto betawi. Dia memesan dua posi lalu kembali ke tempat Audrey. Lelaki itu bertopang dagu melihat Audrey yang tampak kelelahan itu.
“Dee, ini pesenan lo!”
Suara itu membuat Noel menoleh. Dia tersenyum melihat Revila duduk di belakang kursinya. “Hai.”
Revila yang baru duduk seketika menoleh. Dia tersentak melihat lelaki yang dia lihat di dalam toko tadi. Buru-buru Revila mengalihkan pandang.
“Siapa, Rev?” tanya Dee penasaan.
“Bukan siapa-siapa. Udah habisin es campur lo. Terus kita pulang.”
Melihat Noel yang sibuk menggoda, Audrey jadi penasaran. Audrey memajukan tubuh lalu bertanya dengan suara rendah. “Siapa, El?”
Noel menoleh. Dia memajukan tubuh lalu menjawab. “Dia pengunjung kafe.”
“Kok dia nggak suka ngelihat lo?” tanya Audrey penasaran.
“Gue kemarin habis basahin bukunya. Kayaknya dia masih marah, deh.”
Audrey manggut-manggut. Dia menatap gadis yang duduk memunggunginya itu. Dia tidak tahu bagaimana rupa gadis itu. Namun, jika melihat wajah Noel yang berseri, sepertinya gadis itu cantik. “Gebet aja, El.”
Noel meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Suara Audrey cukup kencang. “Lo diem!”
“Gue balik dulu ya, Dee.” Revila tidak bisa berlama-lama. Bukan karena kehadiran Noel, karena dia ingin segera melanjutkan mengerjakan tugas. Gadis itu pergi tanpa melirik ke meja di dekatnya.
“Kejar, El. Mintain nomor ponselnya,” kata Audrey. “Ah tapi gue nggak yakin lo bisa dapet nomor dia.”
“Lo ngeraguin gue?”
Bagaimanapun seorang lelaki tidak boleh ditantang. Tidak boleh. Karena ketika ditantang maka dengan cara apapun para lelaki akan mencoba menakhlukkan tantangan itu.
“Tunggu sini. Gue pasti bisa dapet nomornya.” Setelah mengucapkan itu Noel berlari mengejar Revila. Lelaki itu hendak memanggil tapi lagi-lagi lupa dengan nama gadis itu. Akhirnya Noel berlari dan menarik pergelangan tangan gadis itu.
Revila tersentak. Dia menoleh dan mendapati Noel di hadapannya.
“Gue boleh minta nomor lo?” tanya Noel to the point.
Bibir Revila bergerak hendak menjawab, saat panggilan lain terdengar. “Revila!”